
Delia menunggu di depan ruang IGD dimana Luze sedang ditangani oleh petugas medis. Pastinya Delia sangat panik. Karena saat kejadian, tidak ada siapapun disana kecuali dirinya.
"Sebenarnya apa yang terjadi dengan tante Luze? Kenapa dia bisa terluka? Apa ada orang yang sengaja melukainya? Tapi bagaimana bisa dia mengirimiku pesan jika dia sudah tak sadarkan diri saat aku temukan?" batin Delia bertanya-tanya tanpa ada jawaban yang jelas.
"Delia!" Suara panggilan Bima membuat Delia menoleh.
"Mas Bima? Mama kamu, Mas..." Delia tak mampu bicara apapun.
"Tenang ya! Mama pasti baik-baik saja."
Delia menggeleng. Tubuhnya mulai gemetar. Dia sangat syok saat mendapati Luze yang berlumuran darah. Luka dikepalanya bisa dipastikan sangatlah parah.
Bima yang mengerti keadaan Delia segera membawa wanita itu dalam dekapannya.
"Tenang ya! Kita sekarang berdoa saja semoga mama baik-baik saja."
"Iya, Mas." Delia memejamkan mata. Berharap jika semua yang dialaminya malam ini adalah sebuah mimpi semata.
Setelah menunggu selama beberapa lama, seorang dokter menghampiri Bima dan Delia.
"Dokter, bagaimana kondisi ibu saya?" tanya Bima tak sabar.
Dokter itu menggeleng. "Kondisi ibu Anda cukup parah. Luka dikepalanya itu karena pukulan benda tumpul yang pastinya cukup berat. Nyawa ibu Anda memang tertolong, tapi sekarang pasien sedang dalam masa koma."
"Apa?! Koma, Dok?!" Bima tak percaya.
"Benar. Kami akan memindahkan pasien ke ruang ICU. Silakan urus adminitrasinya lebih dulu."
Bima mengangguk pasrah. Delia mengusap punggung kekasihnya dengan lembut.
"Mas, temani tante Luze saja. Aku akan mengurus administrasinya. Ya?"
Bima mengangguk. Saat ini ia memang perlu kehadiran seseorang yang bisa menguatkannya.
Setelah Luze sudah di pindahkan ke ruang ICU, Bima duduk menunggu di depan ruangan itu. Lalu datanglah Lily dan Dina bersamaan.
"Bima, apa yang terjadi dengan Luze?" tanya Lily yang cukup khawatir dengan kondisi menantunya.
"Oma? Tante?" Bima menyapa keduanya. Bima melirik kearah ruang ICU dimana ibunya berada.
Lily langsung menutup mulutnya tak percaya. Sedangkan Dina hanya menanggapi dengan santai.
"Siapa yang sudah melakukan ini padanya? Sungguh sesuatu yang kebetulan. Apakah ini karma untuknya?" batin Dina dengan seringai tipis di bibirnya.
Tak lama Delia datang dengan membawa dua cup kopi untuknya dan Bima.
"Lho? Oma? Tante Dina?" Delia segera menyalami kedua wanita itu.
"Delia, kamu disini Nak?" tanya Lily.
"I-iya, Oma." Delia takut jika keluarga Bima berpikiran buruk tentangnya.
"Delia yang menemukan Mama, Oma." Bima ikut menyahut. Ia tahu Delia merasa bersalah dengan kondisi Luze saat ini.
Lily menatap Delia penuh rasa syukur karena sudah menyelamatkan menantunya.
"Bim, sebaiknya kamu antar Delia pulang. Ini sudah malam. Aku takut keluarga Delia mencarinya," usul Dina.
Bima mengangguk. "Iya, Tante. Ayo Del, aku antar kamu pulang ya!"
Delia tak memiliki pilihan lain selain mengikuti saran Dina. Delia diantar Bima hingga tiba di depan rumahnya.
"Mas, keluarga kamu tidak akan berpikiran yang macam-macam kan tentangku? Maksudku mengenai kecelakaan ibumu." Sebelum keluar dari mobil Bima, Delia sempat menanyakan hal itu pada Bima.
"Sayang, jangan cemas ya! Kamu tidak bersalah! Jadi, kamu harus yakin soal itu."
"Apa kamu percaya padaku, Mas?"
Bima tersenyum. "Iya sayang. Aku percaya kok!"
Setelah mendengar jawaban Bima, Delia turun dari mobil dan segera masuk ke dalam rumah. Beruntung kondisi rumah sudah sepi. Kemungkinan Retno dan Ciputra sudah tertidur.
...****************...
Keesokan harinya,
Di kantor, Rein langsung bertanya pada Delia mengenai insiden yang menimpa Luze.
"Aku yakin kakak dijebak!" Rein langsung menyimpulkan hal itu setelah mnendengar cerita Delia.
"Hah?! Dijebak? Tapi, oleh siapa?" Delia malah tidak terpikir akan hal itu.
Rein mengedikkan bahu. "Kakak harus cari tahu!"
Delia mengangguk. "Kamu benar. Aku memang merasa ada yang tidak beres dengan apa yang menimpa tante Luze."
"Maaf, Tuan Rein. Ada polisi yang mencari mbak Delia," ucap Sinta, sekretaris Rein.
Delia dan Rein saling pandang. "Kakak temui saja dulu. Jika memang kakak tidak bersalah, kakak tidak perlu takut." Rein meyakinkan Delia untuk tetap tenang. Dan lagi pula, Delia memang tidak bersalah.
Delia menemui dua orang polisi yang memperkenalan diri mereka dengan menunjukkan lencana yang dimiliki.
"Selamat siang, Nona Dewi Mulia Agung. Kami dari kantor kepolisian sektor V ingin meminta keterangan kepada Anda terkait insiden yang menimpa Nyonya Luze Antara," ucap seorang polisi bernama Alvin.
Delia mengangguk. "Baiklah. Silakan masuk ke ruangan saya saja!" ucap Delia dengan tenang dan tegas.
"Maaf, Nona. Tapi, untuk mempermudah penyelidikan sebaiknya nona ikut dengan kami ke kantor," balas polisi bernama Alvaro.
"Apa?! Ikut dengan kalian? Apa aku tidak salah dengar? Kalian bilang kalian hanya ingin meminta keterangan saja. Kenapa harus ke kantor?"
Polisi Alvin dan Alvaro saling pandang. "Karena hanya Anda saja saksi mata pada insiden ini. Dan ini cukup aneh."
"Apa maksud kalian? Apa kalian menuduhku?"
"Kak!" Tiba-tiba Rein datang karena mendengar suara Delia yang meninggi.
"Kita ikuti saja apa maunya mereka. Kakak ikutlah dengan mereka. Jangan takut!" Rein mencoba meyakinkan Delia.
Delia menghela napas. "Baiklah. Aku akan ikut dengan kalian." Meski menjawab dengan ketus namun akhirnya Delia tak mau berdebat dengan kedua polisi itu.
...****************...
Rein menghubungi Bima dan memberitahu jika Delia dibawa ke kantor polisi untuk dimintai keterangan. Bima yang masih berada di rumah sakit segera menyusul Delia ke kantor polisi. Bima tak ingin jika polisi salah sangka terhadap Delia.
Rein mengusap wajahnya kasar setelah menelepon Bima. "Sial! Aku harus membantu kak Delia. Mana mungkin dia tega melukai tante Luze?"
Beberapa karyawan mendekati Rein. "Tuan, apa yang akan terjadi dengan nona Delia?" tanya Sinta.
Rein menatap mereka satu persatu. "Kak Delia akan baik-baik saja. Kalian jangan khawatir. Sekarang kembalilah bekerja! Tasya, kamu gantikan tugas kak Delia untuk sementara ya?"
"Iya, Tuan."
Di sisi lain, Bima tiba di rumah sakit dan meminta izin agar bisa menemui Delia. Namun petugas polisi yang ditemui Bima melarangnya untuk masuk karena masih dalam proses interogasi.
"Sebaiknya Tuan menunggu di ruang tunggu saja!" kata petugas polisi itu.
Bima mengangguk. Ia menuju ke sebuah sofa ruang tunggu yang cukup nyaman. Bima menghubungi Dina untuk memastikan jika kondisi ibunya baik-baik saja.
Di dalam ruang interogasi, Delia dicecar beberapa pertanyaan. Delia menjawab dengan tenang dan lugas. Delia tak mau disalahkan atas apa yang tidak diperbuatnya.
"Begitu ceritanya. Sekarang bolehkah saya keluar?" tanya Delia.
Delia sudah bersiap beranjak, namun polisi bernama Alvin menahannya.
"Tunggu sebentar, Nona. Jika Nyonya Luze sudah tak sadarkan diri ketika Anda datang, lantas siapa yang mengirim pesan dan meminta Anda untuk datang?"
Delia mendengus kesal. "Mana saya tahu! Bukankah itu tugas kalian untuk mencari tahu?" tantang Delia.
"Bahkan ponsel Nyonya Luze pun tidak ditemukan dimanapun!" sahut Alvaro.
"Aku tidak tahu! Kalian cobalah cari! Bukankah alat kalian sudah canggih?" Delia bertambah kesal. "Sekarang biarkan aku pergi!"
Tak punya alasan untuk menahan Delia lebih lama lagi, Alvin dan Alvaro mengizinkan Delia keluar dari ruang interogasi.
"Delia!"
"Lho? Mas Bima? Kok ada disini?" Delia bingung sekaligus senang karena kehadiran Bima. Setidaknya kekasihnya itu tidak meninggalkannya.
"Iya, tadi Rein meneleponku. Dia bilang kamu dibawa ke kantor polisi. Aku khawatir, makanya aku segera kemari."
Delia tersenyum. "Aku baik-baik saja kok, Mas. Ya sudah, sekarang antarkan aku kembali ke kantor ya!"
Bima tersenyum. "Iya. Tapi apa kamu yakin akan kembali ke kantor? Apa kamu tidak ingin kembali ke rumah saja? Kamu pasti sudah tidak fokus untuk bekerja. Lagi pula Rein punya karyawan lain yang bisa menggantikanmu."
Delia tersenyum penuh kelegaan. Ternyata kekasihnya ini sangat peduli padanya.
"Kalau boleh, aku ingin melihat keadaan mama kamu, Mas."
"Tentu saja boleh. Ayo!" Bima meraih pundak Delia dan membawanya keluar dari kantor polisi itu.
Sementara Alvin dan Alvaro sejak tadi memperhatikan interaksi dua sejoli itu.
"Sepertinya hubungan mereka sudah sangat serius," celetuk Alvaro.
"Ya mungkin saja! Yang jelas PR kita masih banyak, Varo. Ayo kita bekerja!" Alvin menepuk punggung Alvaro.
...****************...