
Bima pulang ke apartemennya dengan hati yang sangat gembira. Meski hanya sebuah sentuhan kecil, Bima sangat bahagia karena setidaknya Delia tidak semarah seperti yang ia pikirkan.
"Haaah! Delia Delia... Kau benar-benar membuatku gila. Aku harus cari tahu alasan kenapa kau mau bertunangan dengan si Daniel."
Bima meraih ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Besok pagi aku ingin informasi tentang Delia Agung ada di ruanganku. Mengerti?!"
Bima sangatlah pemaksa. Ia tidak tahu orang di seberang telepon menghela napas berat karena perintahnya yang dadakan.
Keesokan harinya, Amy sedang menyiapkan sebuah ruangan yang akan dijadikan sebagai ruangan Bima di kantor brand Lucia. Dengan semangat membara Amy sangat senang karena dengan Bima berada di kantornya, Ia bisa dengan leluasa mendekati Bima.
"Nah, sudah selesai!" seru Amy senang.
"Ada apa? Ruangan siapa ini?" Delia yang baru datang sedikit bingung dengan adanya ruang kosong yang ada disamping ruangannya.
"Delia sayang, mulai hari ini Bima akan bekerja di kantor kita. Dia adalah pengacara brand Lucia sekarang."
"A-apa?!" Delia kaget. Tentu saja kaget. Ia pikir masalahnya kemarin sudah selesai dan Bima tak perlu ikut campur masalahnya lagi.
"Papa meminta Bima untuk bekerja disini. Brand kita harus memiliki pengacara agar tidak terjadi lagi hal plagiat seperti kemarin."
Delia menggigit bibir bawahnya. Ia tidak ingin bertemu lagi dengan pria itu. Delia takut jika debaran jantungnya semakin tak terkontrol jika terus bersama Bima.
"Semoga saja Bima suka dengan ruangannya yang baru ini." Amy terus tersenyum sumringah tanpa mempedulikan Delia yang terlihat panik.
Delia memilih kembali ke ruangannya dan mulai bekerja. Ia sudah gagal mengikuti Paris Fashion Week musim ini.
Delia akan membuat rancangan baru untuk ajang mode yang lainnya. Tangannya mulai lincah menggambar desain yang sesuai dengan musim penghujan yang sedang melanda Indonesia dan beberapa negara lain.
Di tempat berbeda, Bima kembali ke pekerjaannya yang sebelumnya. Bima tidak ingin terlihat memaksakan dirinya pada Delia.
Bima sadar jika Delia tidak ingin didampingi pengacara dalam menghadapi masalahnya.
"Keras kepala sekali gadis itu!" gumam Bima.
Stella nampak senang karena kakak sepupunya itu sudah kembali ke kantor. Ternyata Bima memang tidak tahan jika harus bekerja dengan klien perusahaan. Begitulah pikir Stella.
"Bukan begitu! Aku kembali bukan karena aku menyerah. Aku hanya ingin memberikan dia waktu untuk berpikir. Apakah aku ini dibutuhkan olehnya atau tidak."
Stella makin bingung dengan jawaban Bima. "Abang sakit ya? Kok ngomongnya jadi melantur begitu?"
Bima menyingkirkan tangan Stella dari keningnya. "Aku baik-baik saja. Oh ya, dimana Allan?"
"Entahlah. Mungkin masih di jalan."
Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya Allan datang juga. Bima langsung mencecar Allan dengan tugas yang semalam diperintahkannya.
"Baru saja Tuan memberi tugas itu pada saya, bagaimana bisa saya langsung mendapatkan informasi itu? Saya menunggu kabar dari informan saya, Tuan. Tunggulah sebentar lagi. Dia akan menghubungi saya pukul sembilan pagi ini."
Bima memutar bola mata malas. "Baiklah, karena aku sedang senang, maka aku memaafkanmu."
Bima mengerlingkan mata sebelah kirinya. Membuat Allan bergidik ngeri.
Ponsel milik Allan berbunyi. Pertanda jika sang informan sudah memberikan apa yang Bima minta.
"Saya akan mengirimnya ke ponsel Tuan," ucap Allan.
Lima detik kemudian muncullah sebuah pesan di ponsel Bima. Dengan menggebu Bima segera membaca setiap informasi yang ada disana.
Ekspresi Bima berubah-ubah ketika membaca setiap data tentang Delia. Setelah selesai, Bima menghela napas berat.
"Bagaimana Tuan?" tanya Allan.
"Kau pergilah! Lanjutkan pekerjaanmu!" ucapnya lesu.
Bima menatap foto Delia yang ada di ponselnya. Ternyata Bima mengambil gambar Delia tanpa sepengetahuan gadis itu.
"Balas budi ya?" Bima mengusap dagunya.
"Hanya karena membalas budi Delia harus mengorbankan masa depannya dengan pria brengsek seperti Daniel." Bima amat kesal setelah mendapati kenyataan yang ada.
Ponsel Bima kembali bergetar. Sebuah panggilan dari Amy.
Belum sempat Bima mengucap kata 'halo', Amy sudah bertanya tanpa jeda.
"Apa yang harus kulakukan disana? Lagipula tidak ada yang menginginkanku disana."
"Papaku sudah membuat keputusan jika kau akan menjadi pengacara brand kami mulai dari sekarang."
"APA?! Kau serius?"
"Tentu saja aku serius. Baiklah, aku tunggu kedatanganmu ya!"
Bima tertegun setelah panggilan bersama Amy berakhir. Ia menepuk pipinya sendiri.
"Apakah ini mimpi? Tapi, Delia bahkan sudah menolakku mentah-mentah. Bagaimana bisa aku..."
"Hei, Bima. Mana jiwa sok beranimu itu? Bukankah kau dikenal sebagai penakluk wanita? Kau seorang casanova, masa menaklukkan seorang Delia saja tidak mampu!" Tiba-tiba terdengar suara asing di telinga Bima.
Bima mengangguk-anggukan kepalanya. "Baiklah, aku tidak akan menyerah. Aku akan menemui Daniel untuk membuatkanku sebuah kontrak kerja. Aku tidak mungkin memakai firma hukumku sendiri."
Bima beranjak dari duduknya dan keluar dari ruangannya. Tak lupa ia memberi pesan pada Stella dan Allan.
#
#
#
Tiba di Hazar Law Firm, Bima berjalan dengan bersiul gembira. Firma hukum milik keluarga Hazar ini memang terkenal sebagai firma yang menerima klien non-perorangan. Jadi, Bima harus memanfaatkan posisi Daniel untuk mencapai tujuannya, yaitu Delia.
Huft! Hanya nama Delia saja yang membuatnya bersemangat menjalani hari. Bima berjalan menuju lantai dimana ruangan Daniel berada.
Hatinya terus bersenandung. Meski begitu ia tak bisa menunjukkan kebahagiannya di depan Daniel.
Begitu tiba di lantai yang hanya milik Daniel, Bima berjalan menuju ke ruangan milik sahabatnya itu. Bima tidak melihat keberadaan sang sekretaris di ruangan itu.
"Kemana sekretaris Daniel?" gumam Bima dengan mengedarkan pandangan.
Tak ingin ambil pusing, Bima kembali berjalan menuju ke ruangan Daniel. Baru saja tangan Bima menyentuh gagang pintu, Bima mendengar suara-suara aneh dari dalam ruangan sahabatnya itu.
Tentu saja Bima sangat tahu suara aneh apa yang terdengar itu. Ia tak menyangka Daniel bisa seceroboh ini. Bagaimana jika orang lain yang datang?
Ruangan Daniel bisa di atur untuk kedap suara, tapi kenapa saat ini Daniel malah terlupa karena sudah asyik dengan nikmatnya surga dunia yang ditawarkan Selina.
"Brengsek! Ternyata kau masih belum berubah, Dan. Aku pastikan akan merebut Delia darimu. Pria sepertimu tidak pantas bersama dengan Delia," tekad Bima dalam hati.
Bima tidak jadi menemui Daniel dan memilih bertemu dengan Delia di kantornya. Bima melajukan mobilnya dengan emosi membuncah di dadanya.
Tiba di gedung MT Grup, Bima berjalan cepat menaiki anak tangga karena tidak sabar menggunakan lift. Bima berlarian menuju ke ruangan Delia. Tapi ternyata gadis itu tidak ada disana.
"Nona Delia ada di ruang produksi." Seorang staf memberi tahu Bima.
Langkahnya semakin yakin untuk merebut Delia dari tangan Daniel. Bima mengatur napas ketika tiba di depan ruang produksi.
Hanya ada Delia sendirian yang ada di ruangan itu. Bima menghampiri gadis itu.
"Oh ya, tolong nanti pakai bahan ini saja untuk..." Kalimat Delia terpotong karena baru menyadari jika bukan stafnya yang masuk melainkan Bima.
"Kau! Untuk apa kau ada di..." Kalimat Delia kembali terpotong karena Bima langsung memeluk erat Delia.
"Kau! Apa yang kau lakukan?" Delia berontak. Semakin berontak semakin erat pula dekapan Bima.
"Tolong jangan menolak! Aku tahu kau terluka..."
Mata Delia membola. Kini ia sudah tidak melawan lagi. Delia merasakan sebuah ketenangan dalam pelukan Bima. Mungkin saat ini hanya sebuah dekapan hangat yang ia butuhkan.
Bima melepaskan pelukannya. Ia menatap lekat wanita di depannya. "Putuskan hubunganmu dengan Daniel, dia tidak pantas untukmu. Dia sudah mengkhianatimu!"
Kalimat Bima begitu tegas dan lugas hingga membuat Delia tertegun tak percaya. Bahkan ketika bibir Bima menyentuh bibirnya, Delia tidak merasakan apapun.
#tbc