
Bima berlari mencari keberadaan Delia begitu tiba di taman kota. Beruntung suasana taman tidak terlalu ramai.
Matanya terus mengedar mencari sosok yang amat dirindunya itu. Senyum terulas di bibirnya ketika melihat sosok Delia yang sedang duduk di salah satu bangku taman itu.
Bima kembali berlari menghampiri Delia. Ia mengatur napas ketika tiba di depan Delia.
"Kamu sudah datang?" ucap Delia dengan mengernyit. Ia bingung melihat Bima yang terengah.
"Kamu kenapa?" tanya Delia.
"Aku berlari mencarimu. Aku sangat bahagia ketika kau meneleponku. Aku sangat ingin bertemu denganmu," balas Bima.
"Minumlah dulu!" Delia menyodorkan sebotol air mineral kearah Bima.
"Terima kasih." Bima menerima dan meneguknya.
Setelahnya mereka duduk berdua di bangku taman tapi masih saling diam.
"Hmm, terima kasih karena bersedia datang." Delia membuka percakapan.
"Tentu saja aku akan datang. Aku menunggumu untuk menghubungiku lebih dulu."
"Eh? Kenapa begitu?"
"Karena aku harus memberimu waktu untuk sendiri. Benar kan?"
Delia mengangguk. "Tapi, kurasa semuanya sudah cukup."
Delia menghela napas terlebih dulu. "Aku memang pernah kecewa terhadap pria yang adalah kakakmu. Dan aku juga kecewa padamu karena kamu tidak pernah mengatakan apapun padaku. Soal kecelakaan itu ... itu sudah berlalu. Dan aku sudah melupakannya. Mungkin memang aku tidak ditakdirkan untuk menjadi penari balet."
Bima terdiam. Ia rasa ia harus mendengarkan semua yang ingin Delia katakan lebih dulu.
"Bertahun-tahun aku menutup diri dari pria manapun. Karena aku tidak mau kecewa lagi dan lagi. Bahkan sebuah perjodohan pun tidak berhasil. Mungkin saja aku memang belum ditakdirkan untuk menggapai kebahagiaan."
Delia menjeda kalimatnya. "Saat bertemu denganmu, aku pikir aku hanya akan melakukan hubungan satu malam saja. Karena memang aku ingin membalas apa yang dilakukan oleh Daniel. Tapi ternyata ... seberapa kuat aku terus menghindari perasaan itu, nyatanya aku tidak menghapus perasaan itu terhadapmu."
Sudut bibir Bima tertarik membentuk sebuah senyuman. Ada rasa kelegaan dalam hatinya setelah mendengar penyataan Delia.
"Lalu sekarang kau ingin kita bagaimana? Jika kau tidak bisa menerima masa laluku, maka..."
"Tidak!" Delia segera mencegat kalimat Bima.
"Aku menerimanya. Aku sadar jika selama ini hatiku tertambat padamu. Meski bukan yang pertama, tapi aku ingin berjuang denganmu sampai akhir."
Tanpa bicara lagi Bima segera membawa Delia kedalam pelukannya. "Terima kasih, Delia. Terima kasih. Aku tahu semua tidak akan mudah untuk kita. Tapi, aku mohon bertahanlah di sisiku. Kau mengerti?"
Delia mengangguk dalam dekapan Bima. Malam ini rasanya terasa syahdu bagi kedua insan yang sedang dilanda asmara.
Begitu juga dengan Amy dan Arjuna. Yang sedang menonton film bersama di apartemen Arjuna.
"Kira-kira hubungan Delia dan Bima akan kembali membaik tidak ya?" tanya Amy sambil menyuap pop corn ke dalam mulutnya.
"Doakan saja yang terbaik untuk mereka. Kita sudah berusaha sebaik mungkin untuk menyatukan mereka. Jika memang mereka tidak berjodoh, mau bagaimana lagi," balas Arjuna.
Amy mengangguk paham. "Oh ya, bukankah kau bilang jika Bima membeli gedung lama milik keluargamu? Mau dia jadikan apa gedung itu?"
Arjuna mengedikkan bahunya. "Entahlah. Hanya Bima saja yang tahu apa yang akan dilakukannya. Sepanjang aku berteman dengannya ... dia adalah orang yang susah ditebak."
Amy manggut-manggut. "Semoga saja besok kita dapat kabar baik." Amy meringis menampilkan sederatan giginya kearah Arjuna.
"Amiin!" Arjuna mengacak rambut Amy dengan gemas.
"Ish, kau ini! Jangan suka mengacak rambut! Aku tidak suka!" kesal Amy.
"Tapi, aku menyukainya. Karena kau sangat menggemaskan!" Arjuna malah mencubit kedua pipi Amy lalu mendaratkan sebuah kecupan di bibir kekasihnya itu.
#
#
#
Malam itu, Bima mengantar Delia pulang hingga tiba di depan apartemen gadis itu.
"Terima kasih sudah mengantarku. Kau pulanglah!"
"Hmm, baik."
Delia melihat ada gelagat aneh yang ditunjukkan Bima.
"Ada apa?"
"Akhir pekan ini apa kau sibuk?" tanya Bima ragu.
"Kenapa memangnya?" tanya Delia balik dengan penuh makna.
"Umm, aku ingin mengajakmu bertemu dengan Oma." Bima menggaruk kepalanya. Entah kenapa bicara seperti ini dengan Delia membuatnya gugup.
"Hah? Kamu ingin mengajakku ke rumah nyonya Lily lagi?" Delia menutup mulutnya.
Bima mengangguk. "Kemarin kamu belum sempat bertemu Oma. Aku ingin kita menemuinya dan meminta restu padanya."
Bima menghela napas lega. "Syukurlah jika kamu bersedia. Baiklah, kalau begitu aku pulang dulu. Kamu beristirahatlah!" Bima berlalu dari hadapan Delia.
Delia hanya mengulas senyum melepas kepergian Bima. Delia memegangi dadanya.
"Ya Tuhan, semoga ini adalah keputusan yang tepat. Aku bersama lagi dengannya karena hatiku memang menuntun kepadanya."
#
#
#
Di kantor Delia kembali bersemangat dalam menjalani harinya. Delia ingin Lucia bisa memasuki ajang internasional yang kemarin sempat gagal ia raih. Delia harus berusaha lebih keras untuk bisa menggapai impiannya itu.
Delia memasuki ruangan Amy dan mendapati bosnya itu sedang bersama Arjuna. Mereka memang tampak seperti sedang bekerja. Tapi Delia tahu jika sepasang kekasih itu sengaja memanas-manasi Delia dengan kemesraan mereka.
"Ehem! Disini sudah terjadi office lover, tapi tidak harus juga kalian tunjukkan di depanku kan? Kalian ingin membuatku iri?" Delia bersedekap.
"Eh, Delia. Maaf maaf. Aku hanya sedang membahas soal pekerjaan dengan Arjuna. Ada apa? Apa ada sesuatu yang kau butuhkan?" ucap Amy salah tingkah.
"Umm, kalau begitu aku kembali dulu ke ruanganku. Bye Honey." Arjuna mengecup singkat bibir Amy. Membuat Delia memalingkan wajahnya.
"Bye Del." Arjuna menyapa Delia.
"Astaga, Amy! Aku tidak menyangka kau akan sebucin itu dengan Arjuna!" Delia menggelengkan kepala.
"Memangnya kau dan Bima tidak begitu?" Amy mencibir Delia.
"Hah! Iya iya deh. Terserah apa katamu saja! Tolong cek semua desain ini dan berikan tanda tanganmu. Aku akan berjuang lagi dari nol untuk bisa masuk ke Paris Fashion Week."
#
#
#
Jumat malam, Delia bersiap untuk pulang ke apartemennya. Pekerjaannya hari ini sudah selesai dan kini dirinya sedang meregangkan otot-ototnya yang tegang.
Malam ini, Delia punya janji dengan Bima untuk makan malam bersama. Sebelum keluar dari kantor, ponsel Delia berdering. Nama sang ibu tertera di layar.
"Halo, Bu."
"Delia, akhir pekan besok datanglah ke rumah. Ayah dan Ibu sangat merindukanmu, Nak."
Delia menghela napas. Akhir pekan ini Delia sudah berjanji akan pergi dengan Bima menemui Lily. Tapi Delia sendiri tidak tega menolak permintaan Retno.
"Baiklah, Bu. Besok aku akan menginap di rumah. Ibu dan ayah ingin dibawakan apa?"
"Tidak usah membawa apapun. Ibu senang kalau kamu bersedia datang."
"Baiklah."
Delia mengakhiri panggilan. Kini ia harus bicara dengan Bima jika rencananya harus gagal untuk bertemu Lily.
Delia menemui Bima di sebuah warung makan sederhana yang sudah dipesan oleh Bima. Delia tak percaya jika Bima malah memesan tempat makan warung tenda sebagai tempat makan malam mereka berdua.
Bima melambaikan tangan ke arah Delia begitu melihat gadis itu datang.
"Aku tidak percaya kamu memesan tempat di warung tenda begini, Mas." Delia masih tidak percaya jika ini adalah Bima Antara, CEO Antara Grup.
"Memang kenapa? Kamu tidak suka? Pecel lele disini sangat enak. Aku sering kemari bersama Allan. Duduklah! Aku sudah memesan makanan untukmu."
Delia tersenyum. Ternyata kekasihnya ini memiliki sisi lain yang tak terduga. Terlahir di keluarga kaya tidak membuat Bima lupa untuk membumi.
"Oh ya, soal besok. Berikan aku ide apa yang harus kita bawa untuk Oma? Biasanya wanita lebih banyak punya ide."
Ucapan Bima membuat Delia merasa menyesal karena rencana mereka harus gagal.
"Mas, maaf..."
"Ada apa?"
"Tadi ibu menelepon. Dia menyuruhku untuk pulang ke rumah besok."
Bima terdiam sejenak. Lalu setelahnya...
"Itu bagus! Kalau begitu kita ubah rencana kita. Kita akan pergi ke rumahmu."
"Eh? Apa?!" Delia membola.
"Iya, sayang. Ke rumah Oma kan bisa lain waktu. Mungkin sebaiknya aku menemui orang tuamu lebih dulu."
Delia menelan saliva. "Apa harus secepat ini?" Delia tidak yakin jika orang tuanya bisa menerima hubungannya dengan Bima. Apalagi ditambah dengan kisah masa lalu keluarganya dan keluarga Bima yang kurang baik usai kecelakaan yang menimpanya dulu.
"Sayang, kok diam?" Bima menggenggam tangan Delia.
"Aku rasa hal baik untuk apa ditutupi. Aku serius dengan hubungan ini. Aku tidak ingin kehilanganmu lagi."
Delia tersenyum. "Baiklah. Besok kita temui orang tuaku."