Labuhan Cinta Tuan Bima

Labuhan Cinta Tuan Bima
Kisah yang Sebenarnya



Delia tersadar dari lamunannya kala mendengar bunyi bel yang nyaring. Delia beranjak dari duduknya dan menuju pintu.


"Delia!" Amy langsung memeluk Delia.


"Amy? Apa yang kamu lakukan disini? Kamu tidak pergi ke kantor?" tanya Delia bingung.


"Kamu tidak serius kan mau mengundurkan diri dari MT?"


Delia tersenyum. "Surat pengunduran diriku sudah disetujui papamu."


"Papa memang egois! Kenapa dia tidak mau mendengar penjelasanmu?"


Amy berjalan menuju kamar Delia dan bermaksud merebahkan diri kasur empuk itu. Namun matanya membola ketika melihat banyaknya barang yang terkemas rapi di kardus dan koper.


"Delia! Apa-apaan ini?"


"Duduklah dulu!" Dengan tenang Delia mengajak Amy untuk duduk dan bicara.


"Aku tahu ini pasti akan membuatmu marah. Kurasa aku sudah tidak bisa lagi tinggal di apartemen ini."


"What?! Kamu serius? Apa kamu demam, Delia?" Amy menyentuh kening Delia.


Delia menggeleng. "Aku serius! Aku akan kembali ke rumah orang tuaku. Lagi pula apartemen dibeli olehmu kan?"


"Tidak! Kamu juga membelinya!" Amy terlihat kesal.


"Kamu bisa menyewakan saja nanti. Uangnya kita bagi dua, bagaimana?"


Amy masih diam dengan wajah kesalnya.


"Kita masih bisa bertemu meski aku tak lagi bekerja di MT. Aku janji tidak akan memutus komunikasi denganmu."


Mata Amy mulai berkaca-kaca. "Kenapa kau melakukan ini? Bagaimana bisa kau pergi dalam sekejap?"


"Amy, aku tidak kemana mana. Aku hanya pindah ke rumah orang tuaku. Kamu masih bisa menemuiku disana. Ya?"


Amy tak bisa menjawab lagi. Membujuk Delia seperti apapun tidak akan mengubah keputusan gadis itu.


Lalu tiba-tiba Amy teringat tentang insiden kemarin.


"Kamu belum cerita sebenarnya apa yang terjadi kemarin? Kamu pergi kemana?"


Delia menghela napas. Delia tidak bisa berbohong pada Amy. Akhirnya Delia menceritakan semuanya pada Amy.


"Tapi aku masih tidak mengerti kenapa ayah membenci Tuan Danu. Sepertinya ada kisah yang buruk di masa lalu mereka. Tapi aku tidak tahu apa itu."


Amy melongo mendengar cerita Delia. "Jadi, orang yang sudah membuat kakimu terluka itu adalah Bima? Dan sekarang ditambah masa lalu orang tua kalian kembali terkuak karena hubungan kalian."


Delia mengangguk pelan. Ia sudah pasrah dengan apa yang akan terjadi nantinya.


"Sungguh rumit, Del. Semoga kamu dan Bima akan menemukan jalan keluar yang baik untuk masalah ini."


"Terima kasih, My."


Usai menemui Delia, Amy melengos masuk ke ruangan Arjuna sambil menangis sesenggukan. Tentu saja pria itu bingung bukan kepalang melihat Amy menangis terisak.


"Sayang, kau kenapa?"


Amy memeluk Arjuna. Ia masih menangis dan tak bicara apapun.


"Kita duduk dulu ya!" Arjuna membawa Amy untuk duduk di sofa ruangannya.


Amy kembali memeluk Arjuna dan menumpahkan segala kesedihannya pada sang kekasih.


"Delia akan pindah dari apartemen. Dia mengembalikan apartemen itu padaku, huaaaaa!" Amy menangis histeris.


Arjuna ikut panik. Ia takut jika orang-orang kantor berpikir dirinya yang sudah membuat Amy menangis. Ia mengusap punggung sang kekasih dengan lembut.


"Sudah jangan menangis. Kalau ada yang melihat nanti kita akan terkena masalah." Arjuna berusaha meredakan tangis Amy.


"Tega sekali dia pergi begitu saja, Arjun!"


"Iya iya, aku tahu kamu bersedih karena Delia pergi. Tapi, kumohon biarkan dia merenungkan semuanya sendiri. Mungkin saja Delia butuh ketenangan untuk sendiri. Kita harus memahami keputusannya. Ya?"


Amy terdiam. Ia menghapus sisa air matanya. "Kamu benar! Biarkan Delia memikirkan semua masalah ini. Apa yang dihadapinya cukup berat saat ini."


Amy masih memeluk Arjuna ketika pintu ruangan itu terbuka. Sontak saja membuat kaget Amy dan Arjuna, lalu langsung melepaskan diri dan saling menjauh.


"Papa?" lirih Amy membeku di tempatnya.


"Apa yang kalian lakukan, hah?!" teriak Erko dengan tatapan menyorot tajam kearah Amy dan Arjuna.


#


#


#


Dengan memantapkan hati, Delia menekan bel di depan pintu. Tak lama setelahnya terlihat Retno membukakan pintu rumah dengan lebar.


"Delia?" Retno terlihat sumringah melihat anak gadisnya datang ke rumah. Sedetik kemudian matanya menangkap gelagat aneh Delia karena membawa koper bersamanya.


"Umm, ayo masuk dulu! Ayah, ada Delia datang!"


Retno memanggil Ciputra yang sedang berada di belakang. Kemudian mereka duduk bersama di ruang keluarga.


"Delia, kamu tidak berangkat ke kantor?" tanya Ciputra tak berbasa-basi.


"Ayah, Ibu... Mulai hari ini aku akan tinggal disini lagi, boleh kan?"


Retno dan Ciputra saling pandang.


"Tentu saja boleh! Rumah ini kan juga rumahmu!" jawab Retno dengan mengulas senyum.


"Apa terjadi sesuatu?" tanya Ciputra.


"Aku ... sudah mengundurkan diri dari pekerjaanku. Tapi, Ayah dan Ibu tenang saja. Aku akan mencari kerja di tempat lain. Aku tidak akan merepotkan kalian."


Retno meraih tangan Delia. "Sayang, jangan bicara begitu. Ibu tidak keberatan jika kamu merepotkan kami. Kamu adalah putri kami satu-satunya."


Setelahnya Retno ingat jika kemarin saat menelepon Delia, putrinya bilang jika ia sedang rapat dengan klien penting.


"Nak, apa ini karena kejadian kemarin?" tanya Retno hati-hati.


"Kemarin apa, Bu?" Ciputra ikut menyahut.


"Saat Ibu menelepon Delia, Delia bilang jika dirinya sedang rapat penting. Tapi ibu meminta Delia untuk menyusul Ayah ke kantor Antara Grup. Apa karena itu kamu kehilangan pekerjaanmu?"


"Ibu! Sungguh aku tidak apa-apa kok! Aku bisa mengatasi ini," balas Delia berusaha tetap tegar.


Ciputra tampak terdiam. Ia merasa ikut andil dalam kejadian yang menimpa putrinya. Terlebih lagi putrinya kehilangan pekerjaan dan tempat tinggal. Sungguh malang, menurutnya.


"Ayah, apa ayah sudah dengar tentang Tuan Danu yang..." Ucapan Delia dicegat Ciputra.


"Sudahlah! Jangan merasa bersalah soal mereka! Bisa saja kan dia memang sudah memiliki riwayat penyakit sebelum aku datang. Jangan menyalahkan dirimu sendiri, Delia! Apa yang terjadi dengannya sama sekali bukan kesalahan kita!"


Ciputra langsung bergegas pergi meninggalkan Delia beserta Retno.


"Maafkan sikap ayahmu ya, Nak! Ayo ibu antar ke kamarmu. Kamu pasti lelah, iya kan?"


Retno mengantar Delia menuju kamarnya. Kamar itu masih terlihat rapi karena Retno selalu membersihkannya.


"Bu, bisakah ibu ceritakan sebenarnya ada masalah antara Ayah dan Tuan Danu? Kenapa Ayah terlihat sangat membencinya?" tanya Delia ketika mereka duduk di tepi tempat tidur.


Retno tampak menghela napas sejenak.


"Bu, aku minta maaf jika kisahku dan mas Bima membuat ayah mengingat masa lalunya. Tapi aku harus tahu semua itu, Bu. Agar aku bisa menentukan apakah aku akan melanjutkan hubungan ini atau tidak."


Retno tersenyum. "Baiklah, Nak. Mungkin sudah saatnya kamu tahu soal ini. Danu Antara memiliki seorang adik perempuan bernama Dina. Ibu tidak begitu mengenalnya. Tapi yang ibu tahu kalau Dina adalah teman kecil ayahmu. Mereka tumbuh bersama sebagai seorang sahabat."


Dari cerita awal Retno, Delia mulai mengerti kemana arah kisah ini berlabuh.


"Ternyata diam-diam Dina menyukai ayahmu. Bahkan ketika ayah dan ibu menikah, Dina sempat membuat keributan hingga membuat keluarganya harus mengasingkan dia ke luar negeri."


Delia menggenggam tangan ibunya untuk sekedar memberikan kekuatan.


"Saat usiamu lima tahun, Dina kembali datang ke kehidupan kami. Dina malah semakin nekat hingga menjebak ayahmu agar berpisah dengan ibu. Tapi, ayahmu berhasil menggagalkan niat Dina. Ayahmu marah besar. Lalu, setelah itu Dina pergi entah kemana karena merasa diasingkan oleh keluarganya sendiri."


Delia menghela napas. Ia merasa jika sifat keluarga itu memanglah sama. Suka memaksa.


"Nyonya Lily yang merasa tak enak hati dengan perbuatan putrinya terus datang menemui kami agar kami bisa memaafkan kesalahan Dina. Hingga akhirnya kami berusaha berdamai dengan keluarga Antara. Tapi..." Retno menatap Delia lekat.


Delia tahu apa yang akan dibicarakan ibunya.


"Ayahmu sangat marah ketika tahu jika yang sudah mencelakaimu adalah cucu nyonya Lily, yaitu Bima Antara. Ayahmu memutuskan untuk pindah ke Jakarta dan meminta mutasi ke kantornya. Dan sejak saat itu, ayahmu tak mau lagi mendengar tentang keluarga Antara. Tapi, takdir seolah mempermainkan kami. Ternyata putri kami sendiri yang membawa kami bertemu dengan keluarga itu lagi..." Retno mendesah pelan. Lalu keluar dari kamar Delia.


Delia merasakan bola matanya memanas. Ia tak tahu kesulitan apa yang selama ini dialami oleh orang tuanya.


"Maafkan aku, Ayah, Ibu..."


Buliran bening itu membasahi pipi Delia. Dengan cepat Delia menghapusnya ketika merasakan getaran di ponselnya. Sebuah panggilan yang membuat jantungnya berdetak lebih cepat.


"Mas Bima?" lirihnya.