Labuhan Cinta Tuan Bima

Labuhan Cinta Tuan Bima
Mengambil Keputusan (2)



Seorang wanita paruh baya berusia 50 tahunan turun dari pesawat yang membawanya ke tanah air. Dialah Dina Antara. Adik dari Danu Antara yang sudah meninggalkan tanah air selama 20 tahun.


Langkahnya mantap untuk kembali ke tanah kelahirannya. Wajahnya masih terlihat meski usianya tak lagi muda.


"Nyonya Dina!" Seorang pria berusia 40 tahunan datang menyapanya dengan hormat.


"Ramon. Apa kabar?"


"Baik, Nyonya. Apa Nyonya mau langsung ke hotel atau..."


"Bagaimana kabar kakakku?"


Kedatangan Dina tak luput dari berita yang sedang trending tentang keluarga Antara. Ramon bagaikan mata dan telinga untuk Dina meski dirinya tak berada di Indonesia.


"Tuan Danu masih dirawat di ruang ICU, Nyonya. Apa Nyonya ingin menjenguknya?"


Dina menggeleng. "Tidak! Besok saja. Lagi pula ini sudah malam. Antarkan aku ke hotel saja."


"Mari Nyonya!"


Ramon membantu membawa koper milik Dina. Ramon adalah orang kepercayaan Danu yang ternyata malah menjadi mata-mata untuk Dina.


#


#


#


Bima tiba di apartemen Delia dengan sedikit terengah. Tentunya Bima sangat tidak sabar untuk bertemu dengan Delia.


Tiba di depan pintu apartemen Delia, Bima mengatur napas terlebih dulu sebelum menekan bel. Beberapa saat berlalu, Bima menekan bel. Tapi tak ada tanda-tanda jika Delia akan membuka pintu.


"Buka dong, Del!" Bima terus menekan bel hingga dirinya kesal sendiri.


Bima mencoba menghubungi Delia tapi tak pernah tersambung.


"Akh! Apa kamu benar-benar ingin kita berpisah, Delia?" Bima frustasi.


Tiba-tiba seorang petugas cleaning service menghampiri Bima.


"Maaf, Mas cari siapa?" tanya pemuda itu.


"Eh? Aku mencari penghuni unit apartemen ini." Bima menunjuk unit milik Delia.


"Oh, Mbak Delia ya, Mas?"


"Iya, benar sekali."


"Wah, Mas terlambat. Mbak Delia sudah pindah dari sini, Mas."


"Hah?!" Bima masih mematung bahkan setelah pemuda cleaning service itu pergi.


"Delia pindah? Apa dia memang ingin menghindariku?"


Bima berjalan kembali ke parkiran dengan gontai. Lalu, ia teringat dengan Amy. Bima langsung menghubungi Amy.


"Oh, Delia? Dia sudah pindah ke rumah orang tuanya. Dia juga sudah mengundurkan diri dari MT Grup. Aku harap kalian bisa menemukan solusi dari masalah kalian ini. Saranku, jika kamu memang mencintai Delia ... Berjuanglah! Aku tahu kalian saling mencintai. Tapi aku tidak bisa membantu apapun kecuali mendoakan yang terbaik untuk kalian."


Kata-kata Amy di seberang telepon membuat Bima tertegun. Bagaimana bisa ia tidak tahu banyak kejadian yang menimpa Delia beberapa hari ini?


"Maafkan aku, Del. Aku ingin bertemu dan bicara denganmu. Tapi, apa kamu masih mau bertemu denganku?" gumam Bima gusar.


Bima memutuskan untuk kembali ke rumah sakit karena tidak mendapatkan apapun di apartemen Delia. Bahkan Delia tidak menjawab panggilan darinya. Bima semakin frustasi saja.


Tiba di rumah sakit, Bima mendengar keributan di area parkiran usai ia turun dari mobil. Ia menangkap siluet yang tak asing di matanya.


"Iren? Dia berdebat dengan siapa?"


Melihat Iren seperti sedang bersitegang dengan seseorang, Bima menghampiri sekretaris ayahnya itu.


"Hei, ada apa ini?" tanya Bima sambil menatap Iren.


Pria yang bersama Iren tidak suka dengan kehadiran Bima.


"Siapa kau? Jangan ikut campur urusan orang!" ucap pria itu.


"Sudah, Riko! Sudah kubilang jika Bima tidak mau bertemu denganmu, tolong jangan memaksa lagi."


Pria bernama Riko itu mencengkram lengan Iren. "Apa katamu? Bagaimanapun juga Bima adalah anakku! Dan aku berhak mengetahui keadaannya."


"Tidak! Kamu hanya ingin memanfaatkan dia demi kepentinganmu sendiri. Aku tidak akan sudi!" seru Iren.


"Hei, lepaskan dia!" Bima maju dan melepas cengkraman tangan Riko di lengan Iren. "Jangan kasar sama perempuan! Apa kau tidak malu memperlakukan perempuan seperti ini? Sebaiknya kau pergi atau aku akan memangil security kemari!" ancam Bima.


Dengan kesal Riko meninggalkan Iren dan Bima.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Bima.


Iren mengangguk. "Terima kasih, Tuan."


"Ayo kembali ke dalam. Udara malam tidak baik untuk kesehatan."


Bima dan Iren berjalan beriringan masuk ke dalam rumah sakit. Dari kejauhan Riko mengepalkan tangannya karena kesal.


"Awas saja kau, Iren! Aku tidak akan melepaskanmu begitu saja!" batin Riko.


"Kalau boleh tahu, siapa pria tadi?" tanya Bima ketika mereka tiba di lobi rumah sakit.


"Umm, dia adalah mantan suami saya, Tuan."


"Ah, begitu ya. Maaf ya aku terlalu banyak bertanya."


Iren menundukkan wajahnya. "Tidak apa, Tuan. Justru saya yang merasa tidak enak hati dengan Tuan. Sekali lagi terima kasih."


Bima mengangguk. "Aku pergi dulu ya! Jika kau butuh bantuanku, jangan sungkan. Kamu dan Bima berhak mendapatkan keamanan dalam menjalani hari-hari kalian."


Iren mengulas senyumnya. "Iya, Tuan. Terima kasih. Semoga Tuan Danu segera pulih kembali."


Bima mengangguk kemudian berlalu. Iren tersenyum puas karena sudah ditolong oleh Bima.


"Ternyata ada untungnya juga si brengsek itu datang kemari." Iren menyeringai.


"Pasti dia baru saja menemui perempuan itu! Sialan! Aku harus bisa menyingkirkan perempuan bernama Delia dari kehidupan Tuan Bima. Tinggal selangkah lagi aku bisa mendekati Tuan Bima dan kini malah ada pengganggu."


Iren berbalik badan dan kembali ke kamar putranya. Sejak hari itu, tekad Iren makin kuat untuk bisa memiliki Bima. Ya, hari dimana Ciputra datang ke kantor Antara Grup. Ternyata Iren diam-diam menguping pembicaraan mereka. Bahkan Iren mendengar jelas pengakuan Bima yang bilang mencintai Delia, tapi Ciputra tidak memberikan restunya.


Iren tersenyum seringai ketika melihat peluang yang ada di depan mata. Ia akan menggunakan putranya untuk bisa mendekati Bima. Perlahan namun pasti, Iren sudah mulai maju satu langkah.


#


#


#


Hari ini Bima tidak bisa fokus bekerja. Pikirannya terus tertuju pada Delia. Ia harus menyelesaikan masalahnya dengan Delia sesegera mungkin.


Akhirnya Bima memutuskan untuk mengirim pesan untuk Delia. Panggilan telepon tak pernah dijawab, mungkin pesan singkat akan dibaca olehnya. Begitu pikir Bima.


"Maaf jika aku sudah menyakitimu dan ayahmu. Tapi tolong temui aku di restoran XYZ. Kita harus bicara, Delia. Aku mohon datanglah! Aku tunggu disana malam ini pukul 7."


Delia menatap nanar pesan dari Bima. Ia tak kuasa untuk membalas karena hatinya sungguh bimbang. Satu sisi adalah orang tuanya, dan sisi lain adalah orang yang ia cintai. Apakah Delia harus nekat memperjuangkan cintanya? Seperti yang ia katakan di depan Ciputra waktu itu.


Delia memejamkan mata. Ia akan memikirkan semuanya nanti saja.


"Ini masih pagi, akan kupikirkan nanti saja," gumamnya.


Waktu berlalu begitu cepat. Jarum jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Delia baru saja selesai menata makanan di meja makan.


"Wah, anak Ayah masak apa hari ini?" tanya Ciputra yang antusias melihat makanan yang menggugah selera.


Delia hanya menjawab dengan sebuah senyuman manis. Lalu mereka bertiga makan dengan lahap semua menu yang terhidang di meja.


Pukul delapan malam, Delia bercengkerama dengan Retno dan Ciputra di ruang keluarga. Lagi lagi pikiran Delia tidak tenang karena memikirkan Bima.


"Bagaimana ini? Mas Bima pasti sedang menungguku..."


Delia memejamkan mata sejenak lalu memutuskan.


"Ayah, Ibu. Aku ada urusan sebentar. Aku pergi dulu ya!" Delia beranjak dari duduknya.


"Eh? Mau kemana? Ini sudah malam, Nak." Pertanyaan Retno membuat Delia mematung sejenak.


"Ada urusan sebentar, Bu. Sebentar saja! Nanti aku kembali!"


Delia langsung keluar rumah dan berjalan keluar komplek perumahan untuk mencari ojek. Delia tak punya waktu untuk pergi ke kamar dan mengambil kunci mobil. Lebih baik ia menggunakan jasa ojek saja biar lebih cepat sampai ke restoran XYZ.


"Bang, ke resto XYZ ya!" perintah Delia setelah duduk di atas motor.


"Siap, Neng!" balas si abang ojek.


#


#


#


Delia tiba di resto XYZ hampir pukul sembilan malam. Delia berlarian mengitari restoran dan mengedarkan pandangan mencari sosok Bima.


"Maaf, Mbak. Restoran kami sebentar lagi akan tutup, apa Mbak ingin memesan sesuatu?" tanya seorang pelayan menghampiri Delia.


"Umm, saya tidak memesan makanan. Saya hanya ingin mencari seseorang saja." Delia masih celingukan.


"Para pengunjung sudah pulang, Mbak. Karena kami memang buka hanya sampai pukul 9 saja. Tapi, kalau Mbaknya mau mengecek, mungkin yang di lantai dua masih ada orang."


"Oh, begitu ya. Baiklah, Mbak. Saya kesana dulu. Terima kasih, Mbak!"


Delia langsung berlari menaiki anak tangga. Ternyata di lantai dua tempatnya sangat indah dengan pemandangan langit malam yang syahdu.


Delia kembali mengedarkan pandangan tak melihat siapapun disana.


"Aku pasti sudah terlambat..." lirih Delia dengan air mata yang mulai mengalir. "Maafkan aku, Mas Bima... Aku terlalu lama berpikir hingga kamu pergi meninggalkanku..." Delia terisak.


"Siapa yang meninggalkanmu?"


Suara yang terdengar di telinga Delia membuatnya berbalik badan. Delia bisa melihat sosok yang amat ia rindukan kini hadir di hadapannya.


"Mas Bima...?"


"Iya, ini aku. Aku tahu kamu pasti akan datang, makanya aku tetap menunggumu disini."


Tangis Delia makin kencang. Bima segera menghampiri Delia dan menyeka air mata wanita itu.


"Jangan menangis! Aku ada disini! Aku tidak akan pernah meninggalkanmu..."


Delia menghambur memeluk Bima. Ia luapkan segala kesedihannya dalam dekapan Bima.


"Jadi, maukah kau berjuang denganku?" tanya Bima hingga membuat Delia mendongakkan wajahnya.


"Tolong jawab, Delia. Jika kamu tidak ingin berjuang denganku, maka ... aku tidak akan pernah muncul lagi dikehidupanmu."


"Siapa yang bilang aku tidak mau berjuang denganmu? Aku mau kok!"


Mata Bima membola. "Kamu serius?"


"Dua rius malah!" Delia tersenyum.


Sejenak tatapan mereka saling terkunci. Delia mencoba menyelami hatinya untuk lebih menguatkan tekadnya kali ini.


Setelahnya dengan berani Delia menarik kerah baju Bima dan berjinjit untuk meraih bibir kekasihnya. Kali ini Delia yang memulai, dan Bima hanya bisa diam karena masih syok dengan tindakan Delia yang tiba-tiba.


"Mas? Kenapa diam saja?" tanya Delia.


Bima tersenyum. Dengan senang hati Bima kembali meraih wajah Delia agar mendekat padanya dan mendaratkan sebuah ciuman manis untuk gadisnya.


Malam ini adalah malam yang syahdu untuk kedua insan yang sedang berbagi rasa. Saling menyelami hati dan perasaan masing-masing.


Bima memeluk erat Delia seolah tak ingin gadisnya kembali pergi.


"Aku mencintaimu, Delia," ucap Bima setelah tautan bibir mereka terlepas.


"Aku tahu..." Delia menelusupkan wajahnya di dada Bima. Ia memeluk pria itu dengan erat dan tak ingin melepasnya lagi. Hal yang sama juga dilakukan Bima tentunya.