Labuhan Cinta Tuan Bima

Labuhan Cinta Tuan Bima
Kecurigaan Delia



Hari ini Delia bertemu dengan Bima. Meski sebenarnya Delia masih kesal dengan Bima, tapi sebisa mungkin Delia meminta penjelasan dengan hati yang tenang dan kepala dingin.


Mereka berdua duduk di sebuah kafe. Rasa kesal Delia menguap ketika melihat benda kecil di dasi Bima. Itu adalah penjepit dasi yang ia hadiahkan untuk Bima ketika dirinya berhasil menjadi presdir Antara Grup.


"Delia, kamu masih ingat Iren kan?"


Delia mengangguk. "Iya, ingat. Dia sekretaris ayahmu dan sekarang jadi sekretarismu."


"Iya, dia adalah seorang ibu tunggal. Iren memiliki satu anak lelaki yang sedang sakit."


Penjelasan Bima membuat Delia sedikit memahami posisi Bima saat itu. Delia akan mencoba mengalah kali ini.


"Ya, baiklah. Lain kali kenalkan aku dengannya ya, Mas. Aku juga ingin mengenal Iren dan anaknya," ucap Delia dengan mengulas senyum.


"Hmm pasti aku akan mengenalkanmu dengan Iren."


#


#


#


Di kantornya, Delia termenung setelah bertemu dengan Bima. Rein yang melihat gelagat aneh dari Delia akhirnya bertanya.


"Jadi, Bang Bima membatalkan janji dengan kakak karena harus mengantar sekretarisnya ke rumah sakit?" tanya Rein setelah Delia bercerita padanya.


Dulu, Delia memiliki Amy untuk bisa berkeluh kesah bersama. Sekarang mereka telah berpisah, dan Delia hanya memiliki Rein. Jadilah Delia mencurahkan hatinya kepada Rein.


"Iya, katanya anak Iren sedang sakit."


"Wah, kakak harus hati-hati kalau begini."


Delia mengernyit. "Hati-hati gimana maksud kamu?"


"Aku rasa sekretaris Bang Bima sengaja ingin memisahkan kalian."


Delia tertawa sumbang. "Jangan mengada-ada, Rein."


"Kakak ini gimana sih? Masa perempuan tidak memiliki feeling kuat terhadap pasangannya? Aku tahu abangku itu memang baik, tapi jika harus membatalkan janji hanya untuk sekretarisnya... Kurasa itu sangat aneh."


Delia mulai mencerna ucapan Rein. Sepertinya ada benarnya juga, pikirnya.


"Ya, mungkin aku akan menyelidiknya dulu," putus Delia kemudian.


#


#


#


Luze menghubungi Iren dan meminta untuk bertemu. Wanita paruh baya itu ingin tahu seperti apa perkembangan pekerjaan Iren untuknya.


"Bagaimana? Apa kamu sudah berhasil menjauhkan Bima dari perempuan itu?"


Iren tersenyum seringai. "Tentu saja, Nyonya. Tuan Bima mulai membatalkan janji temunya dengan Delia. Anda tidak perlu meragukan kemampuan saya."


Luze manggut-manggut. "Tapi, aku tidak suka jika kau memanfaatkan putraku untuk kepentinganmu sendiri."


"Maksud nyonya bagaimana?" tanya Iren berpura tak mengerti.


Iren mendengus kesal dalam hati.


"Sialan, wanita tua ini ternyata tak bisa dibodohi," batin Iren.


"Saya akan bekerja lebih baik lagi, Nyonya." Iren membungkuk hormat. Ia tak ingin kehilangan kesempatan untuk mengambil hati Luze.


Sementara Luze hanya tersenyum licik melihat Iren yang bersungguh-sungguh membantunya.


...***...


Keesokan harinya, Rein meminta Delia untuk datang ke Antara Grup. Ternyata Rein memiliki kontrak kerjasama dengan Bima.


Delia merasa ini sebuah keuntungan untuk bisa mengawasi gerak gerik Iren. Tiba di Antara Grup, Delia tanpa ragu menuju ke ruangan Bima.


Disana Delia tak menemukan siapapun, termasuk juga Iren. Delia mengedarkan pandangan.


"Mungkin Mas Bima lagi meeting, dan si Iren ini mungkin lagi ke belakang," gumam Delia.


Delia mengedarkan pandangan ke meja kerja Iren. Matanya membola ketika melihat barang berkilauan di meja Iren.


"Apa ini?" Delia mendekat dan mendapati penjepit dasi yang dirinya berikan untuk Bima ada di meja Iren.


"Kok bisa ada disini?" tanya Delia bicara sendiri.


Tak lama setelahnya Iren datang dan terkejut melihat kedatangan Delia.


"Nona? Ada apa perlu apa?" tanya Iren sok ramah.


"Apa Mas Bima ada?" Delia sengaja menyebut nama Bima dengan panggilan mesra untuk mengetahui reaksi Iren.


"Tuan Bima sedang meeting, Nona." Iren masih bersikap ramah.


"Oh ya, bukankah ini milik Mas Bima? Kenapa bisa ada di meja kamu?" tanya Delia sambil memperlihatkan penjepit dasi milik Bima.


"Ah, i-itu? Itu... Saya menemukannya terjatuh di lantai, Nona. Jadi saya ambil dan menyimpannya."


Jawaban Iren terdengar masuk akal di telinga Delia. Meski sebenarnya Iren sengaja mengambil penjepit dasi itu ketika Bima tak sengaja melepaskannya.


Tak ingin berlama-lama dengan Iren, Delia memutuskan untuk menunggu Bima di ruangannya. Iren yang kesal tak bisa mencegah Delia.


Delia merasa menang dari Iren. Ia tersenyum penuh makna sambil duduk di kursi sofa ruangan Bima.


Setelahnya Bima datang usai meeting. Bima cukup terkejut dengan kedatangan Delia.


"Apa Rein sudah mengatakannya padamu?" tanya Delia.


"Hmm, sudah. Tapi aku tidak menyangka kalau yang datang adalah kamu." Bima tersenyum bahagia.


"Rein memintaku datang, Mas."


Delia menghampiri Bima. "Dan ini..." Delia memasangkan penjepit dasi yang tadi diambilnya dari Iren.


"Lain kali jangan menghilangkan barang berharga pemberian orang lain. Mungkin bagimu tidak penting. Tapi bagi sebagian orang, itu sangatlah penting."


Delia merapikan penampilan Bima. "Nah! Begini kan bagus!"


Delia sengaja memarmerkan kemesraan di depan Iren, karena saat itu kaca ruangan Bima tidak tertutup. Delia melihat kemarahan di wajah Iren. Itu membuktikan kecurigaan Delia benar, jika Iren memiliki rasa terhadap Bima.