Labuhan Cinta Tuan Bima

Labuhan Cinta Tuan Bima
Aku Terpesona



Delia terpaksa pergi dengan Bima menemui orang yang sudah menyebabkan berada dalam masalah. Bertemu lagi dengan Bima bukanlah sesuatu hal yang mudah untuk Delia. Apalagi kini status Delia adalah tunangan sahabat Bima. Sungguh Delia merasa dunia itu begitu sempit. Kehidupannya harus terjebak dengan dua pengacara tampan yang terkenal dengan jiwa casanovanya.


Sebenarnya predikat itu tidak melekat pada Bima. Tapi karena Bima bergaul dengan Arjuna dan Daniel, menjadikannya juga ikut terseret dalam predikat itu. Bima selalu mengklaim jika dirinya bukan pemain wanita. Ia hanya membayar wanita untuk kepuasannya sendiri.


"Delia! Nona Delia!"


Suara Bima harus ia naikkan karena Delia sejak tadi hanya diam.


"Eh? Ada apa?"


"Sudah sampai. Apa kau ingin terus di dalam mobil bersamaku?" Bima menaikturunkan alis tebalnya.


Delia berdecak kesal. Ia segera membuka pintu mobil tapi ternyata Bima belum membuka pintunya.


"Buka pintunya!" titah Delia.


Bima hanya bergeming dan pura-pura tidak tahu. Suara ketus Delia sungguh tidak enak didengar oleh Bima. Makanya Bima sengaja mengerjai Delia.


"Tuan Bima yang terhormat, tolong buka pintunya!" Kini suara Delia terdengar lembut tapi terasa di buat-buat.


"Lain kali katakanlah dengan tulus, Nona. Bukankah saat kau memintaku..."


Delia tidak ingin mendengar lanjutan kalimat Bima, ia memilih segera turun. Delia mengedarkan pandangan.


Kini Delia berada di sebuah komplek perumahan yang dikatakan cukup kumuh. Delia mengernyit heran. Selama ini ia tidak tahu jika salah satu stafnya tinggal di daerah seperti ini.


"Kenapa? Apa kau tidak tahu rumahnya? Rumahnya ada di..."


Lagi-lagi Delia tidak menghiraukan Bima. Delia malah asyik berjalan sendiri dan mencari alamat rumah Marliyah. Stafnya yang sudah mengkhianatinya. Delia mendapat alamat Marliyah dari pihak HRD tentunya.


Bima menggeleng pelan dengan sikap tak acuh Delia padanya. Ia hanya bisa mengelus dadanya. Ia harus melebarkan hati karena menaklukkan Delia ternyata tidak semudah yang ia bayangkan.


Delia mengetuk pintu sebuah rumah setelah memastikan jika itu adalah rumah Marliyah. Delia langsung bertemu dengan Marliyah karena wanita itu yang membuka pintunya.


Marliyah mempersilakan Delia dan Bima masuk. Kondisi rumahnya sangat memprihatinkan. Delia melihat seorang anak kecil terbaring di kasur lantai dengan kondisi wajah yang pucat.


"Kau tidak masuk kantor selama tiga hari ini. Makanya aku..." Delia membuka percakapan.


"Aku minta maaf, Nona. Aku terpaksa melakukannya." Suara Marliyah terdengar bergetar. Padahal Delia sama sekali tidak ingin membahas soal karyanya yang dijual Marliyah ke pihak Lynx.


Delia menatap iba pada wanita 40 tahunan itu. "Dengar, jika kau butuh bantuan dariku, maka sebaiknya katakan saja. Jangan melakukan hal seperti ini. Kau sudah kuanggap seperti keluargaku sendiri. Kau tahu bagaimana rasanya saat dikhianati oleh keluarga kita sendiri?"


"Aku minta maaf, Nona. Aku menyesal. Aku butuh uang untuk pengobatan anakku." Marliyah menangis terisak di depan Delia.


Bima hanya bisa diam melihat bagaimana lembutnya sikap Delia kepada anak buahnya. Padahal ia pikir Delia akan murka pada Marliyah, karena sudah menjual karya miliknya.


"Sekarang kita bawa anakmu ke rumah sakit ya! Jangan khawatir, aku akan menanggung biayanya."


Marliyah tercengang dengan kebaikan hati Delia. Dengan dibantu Bima, akhirnya mereka membawa anal Marliyah ke sebuah rumah sakit terdekat.


Dengan sigap Delia mengurus administrasi dan membayar tagihan rumah sakit anak Marliyah. Wanita hampir paruh baya itu hanya bisa menangis karena mendapatkan balasan yang begitu tidak terduga atas perbuatannya pada Delia.


Delia memeluk Marliyah dan menenangkan wanita itu.


"Maafkan aku, Nona. Hukumlah aku jika memang Nona ingin menghukumku," isak Marliyah.


"Ada seseorang yang menyuruhku untuk memata-matai Nona."


Jawaban Marliyah membuat Delia saling pandang dengan Bima.


"Siapa orangnya?" tanya Bima.


Marliyah menggeleng pelan. "Saya tidak tahu. Orang itu terus mengirimi saya uang. Dan saya harus mengirim rancangan yang dibuat oleh Nona Delia. Dan ternyata rancangan yang cocok dengannya adalah rancangan Nona untuk Paris Fashion Week."


Delia memejamkan matanya sejenak. Ternyata Delia memiliki musuh yang tidak terlihat. Delia sendiri tidak mengetahui hal ini.


Hari sudah gelap ketika Delia dan Bima keluar dari rumah sakit. Bima sendiri bingung harus mengantar Delia kemana. Karena saat ini Delia hanya terdiam dan memandangi suasana malam melalui kaca jendela.


"Kenapa kau begitu baik padanya?" Akhirnya Bima menanyakan apa yang mengganjal di hatinya.


"Apa kau pikir aku setega itu?" jawab Delia masih memalingkan wajahnya.


"Bukan begitu. Tapi dia sudah membuatmu dalam masalah. Harusnya kita menghukumnya agar dia jera."


"Tidak ada gunanya. Toh dia hanya menuruti seseorang yang menyuruhnya."


"Apa kau punya musuh?"


Delia menggeleng. "Entahlah. Aku tidak tahu."


"Aku terpesona..."


Dua kata dari mulut Bima membuat Delia menoleh.


"Eh? Apa katamu?"


Bima menghentikan mobil karena mereka sudah tiba di depan lobi kantor.


"Aku terpesona. Dengan semuanya yang ada dalam dirimu. Sikapmu, suaramu, kelembutan hatimu, aku menyukainya..."


Mendadak wajah Delia merona mendengar penuturan Bima. Sudah sangat lama sekali sejak Delia terakhir kali mendengar kalimat indah seperti tadi.


Bima mendekat karena melihat Delia kembali melamun. Satu kecupan ia daratkan di pipi kiri Delia.


Gadis itu terkesiap karena Bima tiba-tiba menciumnya.


"Kau!"


Bima mengulangi kecupannya di pipi kanan Delia.


"Kau!" Delia meradang. Bima hanya mengulas senyum paling manisnya.


Delia langsung turun dari mobil Bima dan menuju ke ruangannya. Semua staf sudah kembali pulang. Delia memegangi dadanya yang terasa berdebar.


"Ya Tuhan, ada apa ini? Kenapa jantungku berdebar?"


#tbc