
Langkah Bima terhenti ketika seorang gadis berdiri di depannya. Keinginannya untuk mengejar gadis yang diduganya adalah gadis semalam, akhirnya urung.
"Bima! Kau Bima Antara kan?" Gadis itu tersenyum sumringah melihat keberadaan Bima disana.
"Aku Amy Anastasya, pemilik brand Lucia." Gadis yang adalah Amy itu mengulurkan tangannya.
Bima masih celingukan mencari keberadaan gadis yang sempat dilihatnya sekilas tadi.
"Bima, kau mencari siapa?" tanya Amy ikut celingukan juga.
"Bima!" Tiba-tiba Arjuna datang dengan menepuk pundak Bima.
"Ditunggu Aron disana! Dan kau juga, Nona Amy," ucap Arjuna.
"Ah iya, baiklah. Ayo Bima, kita kesana!" ajak Amy dengan senyum termanisnya.
Bima akhirnya mengurungkan niat untuk mengejar gadis yang sangat membuatnya penasaran. Hubungan satu malam? No way! Sepertinya Bima malah menginginkan lebih dari itu.
Sementara itu, Delia melangkahkan kakinya keluar dari villa keluarga Vivian. Langkahnya terhenti ketika berpapasan dengan seseorang yang dikenalinya.
"Mbak Selina?" gumam Delia.
Selina mengulas senyum dan berhadapan dengan Delia. "Nona mau kemana?" tanya Selina sok perhatian.
"Kau datang? Siapa yang mengundangmu datang kemari?" Delia balik tany dengan tangan terkepal.
"Maaf, Nona. Tapi asal Nona tahu. Tuan Daniel tidak akan bisa jauh dariku sebentar saja. Kau tahu kan seperti apa bergairahnya dia ketika bersamaku?" Selina sengaja memanas-manasi Delia.
"Sudah berapa lama kalian berhubungan?" Delia merasa penasaran dengan hubungan absurd bos dan sekretarisnya itu.
"Dua tahun," jawab Selina singkat. Membuat hati Delia bertambah sakit. Ternyata dirinyalah yang sudah menjadi duri dalam hubungan Daniel-Selina. Bukan Selina yang menjadi duri dalam hubungannya dengan Daniel.
Tanpa ingin bicara lagi, Delia segera pergi dari sana. Delia memanggil taksi dan kembali ke hotel tempatnya menginap.
Tiba di kamar hotel, Delia duduk di tepi ranjang dengan pikiran yang bercampur aduk. Mulai dari kenyataan mengenai keluarganya yang selalu bergantung pada keluarga Daniel. Lalu keluarga Daniel yang ingin balas budi dengan cara menikahkan Daniel dengan dirinya. Semuanya membuat Delia pening.
Air mata yang sejak kemarin tertahan, kini akhirnya luruh juga. Delia terlalu lemah. Ia lemah jika dihadapkan dengan permasalahan hati.
Sejak awal Delia bertekad tidak setuju dengan perjodohan ini. Tapi sikap perhatian Daniel padanya membuat Delia mulai luluh dan mulai membuka hati.
Sebenarnya Delia tidak ingin jatuh hati lagi. Kenangan pahit mengenai cinta pertamanya membuat Delia tidak ingin merasakan cinta lagi. Tapi kenapa Delia begitu lemah karena Daniel? Daniel yang dikenalnya setahun lalu, sangat berbeda dengan Daniel yang ditemuinya kemarin.
"Ayah... Ibu... Hiks hiks hiks..." Delia terisak dengan memanggil ayah dan ibunya.
Malam ini juga Delia memutuskan untuk kembali ke Indonesia. Meninggalkan kenangan pahitnya bersama Daniel, dan juga kenangan hangat bersama pria bernama Bima Antara. Entah apakah mereka akan dipertemukan kembali atau tidak, Delia tidak tahu. Yang jelas, Delia akan membentengi dirinya dengan baja agar tidak kembali terbuai dengan sebuah cinta yang semu.
Pesta pernikahan Aron dan Vivian akhirnya usai. Bima cs bersiap kembali ke negara tercintanya karena pekerjaan yang sudah menanti.
Mengetahui Delia sudah pulang lebih dulu, Amy merengek pada Daniel agar diizinkan untuk ikut pulang dengan pesawat jet pribadi milik Grup Hazar. Tentu saja Daniel tak bisa menolak. Amy tahu jika Daniel dan Delia adalah sepasang kekasih karena perjodohan.
Amy sangat senang karena bisa ikut menumpang. Apalagi ia disuguhi dengan pemandangan dari seorang Bima Antara.
Ekspresi wajah dingin Bima selalu membuat Amy penasaran. Amy sering mendengar jika Bima adalah pemain wanita. Tapi apa yang dilihatnya kini sangatlah berbeda dengan rumor yang beredar.
Dengan tanpa malunya, Amy terus menatap Bima yang duduk bersebelahan dengan Arjuna.
"Sepertinya aku sangat beruntung ya! Karena kepulangan Delia yang lebih awal, aku jadi bisa satu pesawat dengan kalian. Aku juga tidak menyangka, ternyata Aron adalah sahabat kalian. Ah, ini seperti takdir ya!" Amy terus berceloteh namun tak ada yang menanggapi.
"Siapa Delia?" tanya Bima berbisik pada Arjuna.
"Delia adalah kekasih Daniel."
"Apa?! Daniel memiliki kekasih dan dia bermain dengan sekretarisnya!" desis Bima geram.
"Santai, bro. Delia dan Daniel, mereka dijodohkan. Lebih baik kita jangan ikut campur urusan Daniel. Kau tahu sendiri kan bagaimana sikap Daniel?"
Entah kenapa Bima merasa kasihan pada gadis bernama Delia itu. Bima memilih mengistirahatkan tubuh lelahnya dengan berpura memejamkan mata agar Amy tak lagi menggodanya.
Di sisi lain, Delia telah tiba di tanah air. Delia celingukan mencari taksi. Hingga ia memilih salah satu taksi yang parkir berjejer di depan bandara.
Delia menyebutkan alamat apartemennya. Untuk saat ini, Delia tidak ingin pulang ke rumah orang tuanya. Rasanya terlalu sesak karena mereka sudah membohonginya selama.
"Permisi, Non. Apa saya boleh menyetel musik?" tanya si supir taksi.
Delia mengangguk sebagai jawaban. Lalu terdengarlah alunan musik yang dipenuhi gendang bertalu-talu. Delia hanya diam dan memandangi jalanan saja.
Hingga pada bagian refrain, Delia tertegun dengan liriknya.
"Kamu sepuluh, aku sebelas. Kamu selingkuh aku balas. Kamu sebelas, aku dua belas, kamu tak jelas, aku malas..."
Jantung Delia berpacu lebih cepat. Sepertinya lirik lagu itu sangat cocok dengan keadaan dirinya saat ini. Ia diselingkuhi dan ia membalasnya dengan hubungan satu malam. Delia tersenyum getir meratapi kondisinya.