
Cassie menemui orang tuanya di rumah utama. Emosi Cassie yang saat ini meledak-ledak tidak bisa dihadapi oleh Lena.
"Pokoknya papa dan mama harus menemui om Danu dan tante Luze. Aku tidak mau tahu!" ucap Cassie yang keadaannya sudah kacau.
"Sayang, jangan seperti ini! Sebenarnya apa yang kamu lakukan itu salah. Kamu mendatangi nenek Bima dan membuat gaduh. Itu tidak sopan! Tentu saja Bima marah."
Cassie menatap tajam Lena. "Oh, jadi aku yang salah? Dan setelah itu Bima membatalkan pertunangan itu juga salahku?"
Cassie menggeleng-gelengkan kepala. "Bima memiliki wanita lain, Ma! Dan aku tidak akan menerima itu!"
Lena hanya mengusap dada. Ternyata selama ini ia sudah salah mendidik putri bungsunya. Bukan, suaminya lah yang salah mendidik. Erwin terlalu memanjakan Cassie hingga selalu menuruti semua keinginan putrinya itu. Termasuk untuk hal-hal konyol.
"Jika Bima memang tidak mencintaimu, mungkin dia memang bukan jodohmu, Nak. Sudahlah, jangan membuang waktumu untuk mengejar hal yang sia-sia. Jangan sampai kejadian di masa lalu terulang kembali, Nak."
Cassie menatap tajam ibunya. "Jadi, Mama lebih membela Bima? Mama membela Bima yang sudah menduakan aku? Baiklah, jika mama tidak bisa membantuku. Maka, papa pasti bisa membantu. Sejak dulu mama memang tidak berguna. Mama tidak suka jika aku mendapatkan apa yang aku mau!"
Cassie berlalu pergi dari hadapan Lena. Tangannya terkepal dan akan menemui sang papa di kantornya.
"Cassie! Cassie!" Lena terduduk lemas.
"Ya Tuhan, kenapa jadi begini? Maafkan mama, Cassie. Mama hanya ingin kamu tidak terobsesi dengan sesuatu yang tidak bisa kamu miliki." Lena menangis tersedu sambil mengingat kejadian lampau.
Sebenarnya Lena agak tidak setuju jika Cassie harus dijodohkan kembali dengan putra keluarga Antara. Kejadian gagalnya perjodohan dulu hingga membuat Bisma meninggal, membuat Lena merasa bersalah. Lena berpikir jika Bisma meninggal karena perjodohan antara Bisma dan Cassie.
Lena tidak ingin kejadian yang lalu terulang kembali. Lena sudah kehilangan satu putra, karena kasus yang sama. Membuatnya takut jika bisa saja kini Cassie yang celaka.
Lena mencoba menghubungi nomor ponsel suaminya. Tapi tidak aktif. Erwin terbiasa mematikan ponsel jika sedang ada rapat dengan klien penting.
"Ya Tuhan... Apa yang harus kulakukan?" Lena terlalu lemah. Ia tidak mampu membangkang pada sang suami. Kini ia hanya berpasrah dan berdoa. Semoga semuanya akan baik-baik saja.
#
#
#
Cassie tiba di kantor ayahnya. Langkahnya yang lebar membuatnya ingin segera bertemu sang ayah.
Tiba di depan ruangan sang ayah, sekretaris Erwin bilang jika pria itu sedang rapat. Cassie tak ingin menunggu. Ia segera menuju ke ruang rapat.
Di depan ruangan itu, Cassie bertemu dengan Collin, orang kepercayaan ayahnya sekaligus yang selalu membantu Cassie untuk memata-matai Bima.
"Dimana papaku?" tanya Cassie sinis.
"Tuan sedang rapat di dalam, Nona."
"Kalau begitu, aku mau masuk!"
Collin langsung menghalangi Cassie.
"Minggir!"
"Tuan tidak bisa diganggu hingga rapat selesai. Nona silakan tunggu di ruangan Tuan saja."
Cassie menatap tajam Collin. "Kau hanya seorang pesuruh dan kau memerintahku? Tidak bisa!"
Collin mencekal lengan Cassie. "Nona, tolong jangan membuat gaduh! Apa ini mengenai Bima lagi?"
Cassie menepis tangan Collin. "Bukan urusanmu!"
"Kalau begitu tolong tunggu di ruangan Tuan!" tegas Collin sekali lagi.
"Kau!" Cassie menunjuk Collin dengan jarinya.
"Jangan sampai saya menyeret Nona kesana!"
Cassie mendengus kesal. Dengan menghentak, Cassie akhirnya berjalan menuju ruangan ayahnya.
"Mari saya antar!" Collin harus memastikan jika Cassie tidak akan berbuat gaduh di kantor ini.
Tiga puluh menit Cassie menunggu Erwin selesai rapat. Dengan wajah sumringah, Cassie menghambur memeluk Erwin yang baru saja masuk ke ruangannya.
"Papa!" Cassie memeluk Erwin.
"Sayang, kau ada disini? Kau kenapa? Apa kau habis menangis?"
Cassie mengangguk. "Pa, atur pertemuan dengan om Danu dan tante Luze. Bima juga. Aku tidak mau Bima membatalkan pertunangan kami! Tolonglah, Pa!"
Erwin memijat pelipisnya pelan. Rupanya kejadian masa lampau kembali terulang. Tapi sekarang agak berbeda. Dulu, Bisma menolak mentah-mentah perjodohan bisnis ini.
Malam ini, Erwin mengajak keluarga Antara untuk bertemu di sebuah private room resto terkenal. Bima juga hadir disana.
Bagi Bima sekaranglah saatnya ia mengakhiri semuanya.
"Aku dengar, putriku membuat kegaduhan di tempat nyonya Lily. Aku mohon maaf Danu. Cassie terlalu mencintai Bima, makanya dia bersikap begitu. Kuharap kalian bisa memaafkan sikap putriku. Sejak kakaknya meninggal, Cassie kehilangan panutan dalam hidupnya."
Kata-kata Erwin membuat Bima mengingat bagaimana kesedihannya ketika sang kakak tiada. Bima tidak pernah tahu jika Cassie juga mengalami hal yang sama.
"Sebagai seseorang yang sama-sama menyimpan luka, Om rasa kamu sangat mengerti bagaimana perasaan Cassie. Dia tidak ingin ditinggalkan lagi oleh orang yang dia sayangi. Om harap kamu bisa memahami itu, Bima."
Bima merasa tersudut. Kini semua orang menatap kearahnya. Cassie tersenyum puas memandangi Bima.
Bima melirik Danu dan Luze. Perdebatan hari kemarin masih terasa jelas di ingatannya. Bima harus mengambil sikap saat ini juga. Tak peduli bagaimana reaksi kedua orang tuanya nanti.
Bima beranjak dari duduknya. Ia menekuk kedua lututnya lalu bersimpuh di depan semua orang.
"Maafkan aku, Om Erwin, Tante Lena. Dan... Cassie."
Cassie melotot melihat Bima yang berlutut.
"Aku minta maaf karena kemarin-kemarin aku terlalu gegabah mengambil keputusan. Aku melakukan itu juga ada alasannya." Bima menatap Luze.
Ya, Bima bersedia bertunangan dengan Cassie karena desakan dari Luze, ibunya.
"Aku benar-benar minta maaf, Cassie. Kita tidak bisa melanjutkan perjodohan ini. Akulah yang salah. Aku tidak memiliki perasaan apapun terhadapmu. Aku tidak bisa menikah dengan orang yang tidak aku cintai. Bukankah kau juga begitu?"
"Aku mencintaimu, Bima!" tegas Cassie.
Bima menggeleng. "Kau harus mencari pria yang benar-benar tulus mencintaimu. Sekali lagi aku minta maaf kepada Om dan Tante."
Erwin mengepalkan tangan mendengar semua kalimat Bima. Lagi dan lagi putrinya harus mendapat penolakan dari keluarga Antara. Erwin tidak akan sejauh ini jika bukan putrinya yang meminta.
Ya, Cassie menjadi gadis yang obsesif setelah kehilangan sang kakak. Dan Erwin salah dengan selalu menuruti semua keinginan putrinya. Kini Erwin merasa tertampar. Tidak seharusnya ia merendahkan diri putrinya sendiri yang jelas-jelas sudah ditolak oleh Bima.
"Baiklah, jika itu maumu! Kita batalkan saja perjodohan ini! Dan Danu..." Erwin melirik Danu.
"Sebaiknya kita batalkan juga rencana kerjasama bisnis kita. Cukup sudah kalian terus menolak putriku! Collin!" Erwin menghubungi sang asisten yang dengan sigap masuk ke dalam ruangan.
Danu hanya diam. Kemarahannya memang memuncak. Tapi ia tak bisa tunjukkan di depan keluarga Erwin.
"Tidak seharusnya Om menjadikan putri Om sebagai alat untuk bisnis. Kami adalah anak-anak kalian. Kami butuh kasih sayang kalian, bukan hanya limpahan materi saja. Kami butuh didengar dan dimengerti."
Collin yang baru masuk ruangan terkejut dengan kalimat Bima barusan.
Erwin menghela napas dalam. "Ya ya! Kita akhiri sampai disini saja. Collin, bawa Cassie pulang!"
Erwin melangkah keluar dari ruangan diikuti Lena, sang istri. Sementara Cassie meronta ketika Collin membawa tubuhnya pergi.
"Tidak! Lepaskan aku! Aku tidak mau kita putus, Bima! Tidak! Om! Tante! Tolong Cassie! Aku ingin menikah dengan Bima!"
Teriakan Cassie akhirnya menghilang seiring dengan kepergian gadis itu dan kedua orang tuanya.
Bima masih dalam posisi berlutut di depan kedua orang tuanya.
"Kau sudah puas, hah?!" tanya Danu dengan penekanan di kalimatnya.
"Maafkan aku, Pa, Ma. Aku harap kalian mengerti! Tolong jangan lakukan ini lagi! Aku janji aku akan menuruti semua perintah Papa asal tidak memaksaku melakukan pernikahan bisnis!"
Luze menatap sendu pada putranya. Sungguh kini ia menyesali semua keinginannya yang memaksa Bima untuk segera menikah. Semua itu hanya membuat luka di hati banyak orang.
Danu menghela napas dengan berat. Kini ia tahu jika seberapa keras ia mengikat Bima, maka sekeras itu juga Bima akan melepaskannya.
"Baiklah. Papa tidak akan memaksamu lagi. Tapi, karena kau sudah mempermalukan papa di depan Erwin, maka kau harus bertanggung jawab. Papa akan membebaskanmu memilih jodohmu, dengan satu syarat."
"Apa itu, Pa?" Bima terlihat ragu tapi juga antusias. Setidaknya Danu tidak semarah yang ia bayangkan.
"Kembalilah ke perusahaan! Maka kau bebas menjalani hidupmu!"
Bima terlihat kaget. Bima harus memilih antara karir pengacaranya dan juga perusahaan papanya. Jadi, manakah yang Bima pilih?
#tbc
Genks, mampir juga di novel kawanku ini 👇👇👇