Labuhan Cinta Tuan Bima

Labuhan Cinta Tuan Bima
Ungkapan Rasa



Dengan terpaksa Delia memasak makanan untuk Bima. Delia tidak tega melihat wajah pucat Bima yang terlihat kelelahan dan kelaparan. Delia sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya dilakukan Bima seharian ini hingga melupakan untuk mengisi perutnya.


Delia berencana membuat cumi goreng tepung dan sayur capjay untuk Bima. Ia mengeluarkan bahan-bahan dari dalam lemari pendingin.


"Apa ada yang bisa aku bantu?" tanya Bima.


"Sebaiknya kau duduk saja! Aku..."


Tidak menggubris kata-kata Delia, Bima langsung mengambil alih untuk memotong sayuran.


"Aku tidak mau dianggap tidak tahu diri karena hanya menumpang makan!" Bima meringis mengulas senyum.


"Terserah Anda saja, Tuan!"


Akhirnya mereka berdua memasak bersama. Dan itu memudahkan Delia untuk menyelesaikan 2 macam masakan.


Bima menghirup aroma lezat dari dua makanan di depannya. "Aku makan ya? Kau tidak ikut makan?" tanya Bima.


"Aku sudah makan. Kau habiskan saja semuanya."


Delia memperhatikan Bima yang makan dengan lahapnya. Ingin bertanya tetang kemana saja selama ini Bima pergi. Tapi, Delia merasa tak sedekat itu dengan Bima untuk ikut campur urusannya.


"Oh ya, aku dan nona Cassie sudah berdamai."


Kalimat Delia membuat Bima menghentikan makannya. "Maksudmu?"


"Aku kan sudah bilang padamu untuk tidak memperpanjang masalah itu. Lagi pula kau ini aneh! Bisa-bisanya kau mengirimkan surat somasi ke tunanganmu sendiri!"


Bima meletakkan sendok dan garpu di tangannya. Ia meneguk air putih yang ada di meja.


"Lebih tepatnya mantan tunangan!" tegas Bima.


Delia menatap Bima heran. Seolah bisa melihat jika Delia menginginkan sebuah penjelasan, Bima pun kembali bersuara.


"Aku sudah memutuskan hubunganku dengan Cassie. Aku tidak mencintainya. Jadi, aku memutuskan untuk mengakhiri pertunangan kami!"


Delia beranjak dari duduknya dan menggebrak meja.


"Apa semua pria itu sama? Membuang begitu saja apa yang dianggapnya tidak berarti! Apa kalian pikir perempuan itu barang? Yang bisa kalian buang dan ganti dengan yang baru jika kalian sudah bosan?"


Bima tertegun mendengar pernyataan Delia. Bima ingin menjelaskan pada Delia, tapi wanita itu langsung melengos pergi masuk ke dalam kamar.


Bima mengusap wajahnya kasar. "Apa aku sudah menyakitinya? Kenapa dia begitu marah?"


#


#


#


Tengah malam, Delia terbangun dari tidurnya dan melihat Bima tertidur di sofa ruang tamu. Delia menghela napas.


"Sebenarnya apa maumu? Kenapa kau dan temanmu selalu membuatku berada di posisi sulit?" gumam Delia.


Delia menuju ke dapur dan menuangkan air ke dalam gelas. Ia meneguk seluruh isinya hingga tandas.


Delia terkejut karena melihat Bima ternyata berdiri dibelakangnya. Rupanya Bima terbangun karena mendengar suara dari dapur.


"Aku tidak tahu apa yang kau pikirkan tentangku. Tapi... Aku tidak pernah bermaksud memainkan perasaan wanita. Aku dan Cassie memang dijodohkan. Kami tidak saling cinta. Jadi, apa salahnya jika aku melakukan hal yang aku sukai? Bukankah kau sendiri yang bilang, jika aku harus melakukan hal yang aku sukai?"


"Aku menyukaimu, Delia."


Kalimat itu membuat Delia membulatkan mata.


"Sejak awal aku tidak pernah berniat menjadikanmu hanya sebagai gadis satu malamku. Aku menginginkan lebih."


Delia menelan salivanya. Ia sendiri tidak bisa berkata-kata. Ini masih tengah malam dan ia merasa ini seperti mimpi.


"Maaf jika aku mengutarakan semua ini di saat yang tidak tepat. Kau baru saja gagal menikah, dan aku baru saja membatalkan pertunanganku. Mungkin kau butuh waktu untuk berpikir. Tapi, tolong tanyakan pada hati kecilmu yang terdalam, apa benar kau tidak merasakan apapun terhadapku?"


Bima kembali ke sofa dan mengambil kunci mobilnya. Ia menghampiri Delia lagi. Bima mengecup singkat kening Delia dengan penuh cinta.


"Terima kasih atas makan malamnya. Sebaiknya aku pulang! Kau kembalilah tidur!"


Bima keluar dari apartemen Delia. Waktu sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Sebentar lagi pagi. Bima memilih untuk pergi ke kantor firma hukum miliknya. Untuk sementara ia akan kembali bekerja sebagai pengacara perceraian. Setidaknya ia harus memberi Delia waktu untuk berpikir.


#


#


#


Pagi hari di kantor MT Grup. Delia menyapa para staf yang berpapasan dengannya. Semalam usai mendengar pernyataan Bima, Delia tidak bisa memejamkan mata kembali.


Pikirannya terus terngiang-ngiang dengan semua kata-kata Bima. Delia memilih untuk menyibukkan diri dengan pekerjaan saja.


Mata Delia menyipit melihat seseorang berada di ruang kerja Bima. Delia memasuki ruangan itu.


"Lho? Arjuna? Kau ada disini? Bukankah tuan Bima sudah kembali ya? Kenapa kau yang ada disini?"


Entah sadar atau tidak ketika Delia menanyakan pertanyaan itu. Arjuna mengernyit heran mendapat pertanyaan dari Delia.


"Bagaimana kau bisa tahu jika Bima sudah kembali?" Arjuna balik bertanya.


"Eh? Ah, itu... Itu..." Delia gelagapan saat menjawab. Ia tidak mungkin bilang jika semalam Bima menemuinya. Tidak ada yang tahu tentang kedekatan mereka.


"Delia!" Panggilan Amy membuat Delia selamat dari menjawab pertanyaan Arjuna.


"Hei, tuan playboy. Kau disini lagi?" ucap Amy jengah menatap Arjuna.


"Selamat pagi, Calon Istri. Sepertinya takdir memang ingin menyatukan kita ya?" balas Arjuna dengan mengedipkan sebelah matanya.


"Haish! Menyebalkan! Ayo, Del. Kita pergi dari sini." Amy langsung menarik tangan Delia agar keluar dari ruangan Arjuna.


Delia menatap Amy menyelidik ketika mereka telah tiba di ruangan Amy.


"Calon istri? Apa aku tidak salah dengar?" Delia mendekap kedua tangannya.


"Ah, sudahlah! Si playboy itu memang sudah tidak waras!"


Delia menggelengkan kepalanya. Sepertinya ada hal lain yang Amy sembunyikan. Delia tidak akan memaksa Amy untuk bercerita.


Kini pikiran Delia malah dipenuhi pikiran, kenapa Bima malah melimpahkan pekerjaan pada Arjuna. Apakah Bima tidak ingin bertemu dengan Delia?


Padahal semalam Bima baru saja mengungkapkan perasaan yang dia rasa. Tapi sekarang malah pria itu tidak menampakkan batang hidungnya di depan Delia. Dan entah kenapa Delia malah kesal karena Bima terkesan mempermainkannya.


#tbc