
Sabtu pagi, Bima sudah bersiap dengan setelan kemeja lengan pendek dipadukan dengan celana jeans yang membuatnya terlihat tampan. Tak lupa Bima memakai parfum aroma maskulin yang pastinya akan membuat Delia terBima-bima nantinya, hehe.
Awalnya Bima merasa ragu dengan keputusannya untuk menemui keluarga Delia. Tapi ia juga berpikir ulang, cepat atau lambat ia harus meminta restu pada kedua orang tua Delia. Karena pastinya hubungannya dengan Delia bukanlah hubungan yang main-main.
Bima tiba di apartemen Delia dan menjemput gadis itu. Delia nampak anggun dengan dress selutut yang dipakainya.
"Sudah siap?" tanya Bima.
Delia mengangguk. Entah kenapa Delia juga gugup menghadapi hari ini.
Selama perjalanan, Delia hanya diam dan menatap jalanan di samping kirinya.
"Sayang, kita mau bawakan apa untuk orang tuamu?"
Bima bertanya sambil menoleh kearah Delia. Tapi sepertinya Delia masih asyik dengan lamunannya.
"Sayang..." Bima menyentuh tangan Delia hingga membuat Delia terperanjat.
"Hah?! Ada apa?"
"Apa yang kau pikirkan?"
Delia menunduk. "Tidak ada."
"Sayang, aku bertanya. Kita mau bawakan apa untuk orang tuamu?"
"Oh itu..." Delia tersenyum canggung. "Belikan saja cake atau camilan ringan."
Bima mengangguk. "Baiklah. Kita akan berhenti di toko roti langganan mamaku."
Delia menjawab dengan sebuah anggukan juga.
#
#
#
Setelah membeli buah tangan untuk Retno dan Ciputra, Bima kembali melajukan mobilnya menuju rumah Delia. Tentu saja sebelumnya Delia sudah mengabari jika dirinya akan datang.
Tiba di depan rumah berlantai dua itu, Delia segera turun dari mobil diikuti Bima. Delia mengulas senyumnya sebelum melangkah menuju pintu.
Delia menekan bel dan tak lama Retno membuka pintu untuknya.
"Delia! Kamu sudah datang, Nak?" Retno langsung memeluk Delia.
Namum sedetik kemudian Retno sadar jika Delia tidak datang sendiri.
"Eh, maaf. Del, ini siapa?" tanya Retno.
"Ah, kenalkan Bu. Ini Mas Bima."
Bima dengan mengulas senyum terbaiknya menyalami Retno dengan sopan. Ia juga mencium punggung tangan Retno.
"Saya Bima, Tante."
"Ah iya, mari silakan masuk!" Retno mempersilakan kedua tamunya untuk masuk.
Ciputra yang mendengar kedatangan putrinya begitu bersemangat untuk menyambut Delia. Namun ia tertegun sejenak karena melihat Delia datang bersama seorang pria.
"Selamat siang, Om. Saya Bima. Saya..."
"Dia pacarnya Delia, Pak." Retno menjawab dengan bersemangat.
Delia dan Bima saling pandang. Sepertinya Ibu dari Delia menyetujui hubungan putrinya dengan Bima.
"Ah, silakan duduk!" ucap Ciputra.
Meski dihantui rasa canggung yang cukup hebat, tapi sebisa mungkin Bima bersikap tenang dan berusaha membangun obrolan dengan Ciputra.
Sementara itu, Delia dan Retno menyiapkan teh dan camilan di dapur.
"Ehem! Jadi itu alasan kamu jarang pulang ke rumah?" Retno menyenggol lengan Delia.
"Apaan sih, Bu?" Delia tersipu malu.
"Sepertinya dia pria yang baik."
Delia hanya membalas dengan senyuman. Sungguh ia tak sanggup mengatakan jika Bima adalah orang yang dulu menabrak dirinya.
Delia membawa nampan berisi teh dan camilan ke ruang tamu. Bima tersenyum melihat Delia yang begitu anggun melayani tamu.
"Terima kasih, putriku," ucap Ciputra.
Sejak tadi Ciputra terus mengulas senyumnya. Ia bersyukur karena Delia akhirnya mau membuka hati untuk pria lain setelah gagal menikah dengan Daniel.
"Oh ya, ngomong-ngomong Nak Bima ini kesehariannya apa?" tanya Ciputra.
Bima melirik Delia sebagai kode jika Delia harus mendukung pernyataannya. Bima belum siap untuk mengakui jika dirinya adalah bagian dari Antara Grup. Pastinya Ciputra akan langsung tahu jika dirinya adalah putra dari Danu Antara dan cucu dari Lily, tetangga Ciputra dulu sebelum pindah ke Jakarta.
"Wah, pengacara ya?" Ciputra terlihat berbinar senang mendengar jika kekasih putrinya adalah seorang pengacara.
Bukan bermaksud matre. Tapi Ciputra hanya menginginkan jika kehidupan putrinya lebih baik dari dirinya dan Retno. Bisa mendapatkan pendamping yang mapan dan memiliki pekerjaan yang bagus tentunya impian bagi setiap orang tua.
Tak terasa waktu berlalu dengan cepat. Hingga waktu makan siang tiba, Retno mempersilakan Bima dan Delia untuk menyantap makan siang di rumahnya.
"Maaf ya, Nak Bima. Tante hanya bisa masak makanan sederhana saja." Retno merendah di depan Bima.
"Ah tidak, Tante. Saya sangat menyukai masakan sederhana. Apalagi makanan khas nusantara. Saya sangat menyukainya."
Terdengar tawa renyah di area ruang makan. Delia lega karena orang tuanya bisa menerima Bima.
Namun baru saja hal baik terjadi, hal yang tidak terduga malah terjadi ketika Bima hendak berpamitan untuk pulang.
"Maaf ya, Delia akan menginap disini dulu," gurau Retno.
"Iya, Tante. Delia pasti merindukan Om dan Tante." Bima terus mengulas senyum. "Kalau begitu saya permisi dulu, Om, Tante."
"Iya iya silakan Nak..." Ciputra lupa dengan nama pria yang adalah kekasih putrinya. Maklum, faktor U.
"Ah, Bima, Om. Bima Antara." Tanpa sadar Bima mengucap nama panjangnya sendiri.
Delia mendelik kearah Bima. Tapi sepertinya Bima tak paham dengan maksud tatapan Delia.
Hingga akhirnya mobil Bima melaju perlahan meninggalkan rumah Delia.
Ciputra nampak menatap putrinya intens. "Del, Ayah rasa kamu harus meluruskan sesuatu disini. Ayah tunggu penjelasanmu malam nanti."
Delia mengigit bibir bawahnya. Sungguh ia belum siap jika harus berkata jujur pada sang ayah. Banyak ketakutan yang menyelimuti hatinya.
#
#
#
Di perjalanan, Bima bersiul riang karena merasa sudah memenangkan hati orang tua Delia. Tak lama setelah kebahagiannya pudar karena mendapat panggilan telepon dari sang mama.
"Iya, Ma." Bima dengan cepat menjawab panggilan Luze.
"Datanglah ke rumah akhir pekan ini. Mama sangat merindukanmu."
"Baiklah, Ma. Sudah dulu ya, Ma. Aku sedang menyetir. Aku akan ke kantor untuk mengurus pekerjaan."
"Baiklah, Nak. Hati-hati di jalan ya!"
Bima mengulas senyum tipis.
"Mungkin aku harus bercerita tentang Delia juga pada Mama. Kurasa sudah saatnya aku jujur."
#
#
#
Malam harinya, Delia duduk bersama kedua orang tuanya. Delia menundukkan kepala tanda jika dirinya bisa merasakan keterkejutan dan kekecewaan di wajah sang ayah.
"Apa benar pria bernama Bima Antara itu adalah bagian dari keluarga Antara yang kami kenal? Keluarga yang sudah membuat kita harus berpindah rumah?"
Pertanyaan Ciputra membuat Delia makin membisu. Sebenarnya sekarang atau nanti semua tetap akan mengetahui kebenarannya. Dan Delia tidak akan bisa lari lagi.
"Itu benar, Ayah..."
Baik Retno maupun Ciputra sama-sama menatap putrinya tak percaya.
"Bagaimana bisa?" tanya Retno.
"Aku juga baru mengetahuinya, Bu. Dan kami sempat berpisah karena aku mengetahui latar belakang keluarganya."
Retno menggeleng pelan. Tak percaya jika putrinya sudah lama menyimpan hubungannya dengan Bima.
"Sejak kapan kalian berhubungan? Dan setelah kau tahu siapa dia, kenapa kau masih menerimanya?" tanya Ciputra lagi.
"Karena aku mencintainya. Meski masa lalu keluarga kita dengannya tidak baik, tapi itu hanya masa lalu, Yah. Aku dan Mas Bima hidup untuk masa depan, bukan untuk masa lalu. Jadi, kumohon. Tolong hargai keputusanku."
"Ayah akan menghargai keputusanmu, Nak. Tapi... Kenapa harus dia? Kenapa harus dengan keluarga Antara? Kau pikir keluarganya juga bisa menerimamu?"
"Kami akan berjuang!" tegas Delia.
Jawaban Delia membuat Ciputra dan Retno langsung beranjak dari duduknya dan meninggalkan Delia sendiri di ruang keluarga itu. Sepertinya perjuangannya bersama Bima tidak akan mudah setelah ini.