
Tak ingin berlama-lama lagi, Bima segera meraih kunci mobilnya. Mobil milik Bima sengaja ia sembunyikan di garasi milik Lily dan ditutup rapat. Sebelumnya Bima sudah memprediksi jika Cassie pasti akan mencarinya di rumah sang nenek.
Makanya Bima memilih tempat persembunyian yang lain. Bima hanya ingin menenangkan diri sejenak. Bima hanya manusia biasa yang bisa merasakan patah hati juga. Ia juga lemah jika mengalami patah hati. Sama dengan orang-orang pada umumnya.
Bima melajukan mobilnya kembali ke ibu kota. Ia ingin menemui Delia. Hatinya sudah bersemangat untuk bisa mendapatkan hati Delia. Bahkan Bima tidak ingat jika statusnya sekarang adalah tunangan Cassie. Toh mereka belum menikah. Hal apapun bisa saja terjadi.
Satu jam lebih perjalanan telah Bima tempuh. Ia segera berlarian di gedung MT Grup. Ia ingin segera bertemu Delia.
Kosong. Ruangan Delia kosong. Bima tak patah semangat. Ia berlari menuju ke ruang produksi. Mencari sosok yang amat dirindunya. Nihil.
Delia tidak ada dimanapun. Bima mengatur napasnya sejenak.
"Lho, Tuan Bima? Kok ada disini?" sapa seorang staf.
"Ah iya. Aku mencari nona Delia. Dia dimana?" tanya Bima masih ngos-ngosan.
"Oh, nona Delia? Beliau sekarang ada di store Lucia yang ada di mall ABC."
Bima mengangguk paham kemudian berlalu. Kali ini langkahnya tidak terlalu terburu-buru. Setidaknya ia sudah tahu dimana Delia berada.
Hanya butuh waktu 45 menit saja untuk tiba di tempat Delia. Waktu sudah menunjukkan pukul 2 siang. Bima bahkan belum makan apapun sejak pagi. Rasa rindu yang menggebu membuat laparnya seketika hilang.
Tiba di mall ABC, Bima berlarian mencari sosok Delia. Ia bahkan bertanya pada security yang berjaga.
"Untuk store pakaian ada di lantai 3, Tuan," jawab si security.
Bima menjawab dengan sebuah anggukan. Bima menaiki eskalator menuju lantai tiga. Dari kejauhan Bima sudah bisa melihat sosok yang ia cari. Bibirnya membuat sebuah lengkungan senyum kelegaan kala melihat Delia.
Namun baru saja akan kembali melangkah mendekat, ponsel Bima bergetar. Bima memutuskan untuk melihat siapa yang menghubunginya.
Tertera nama sang mama di layar. Tidak ingin menjadi anak durhaka, Bima pun menjawab panggilan Luze.
"Halo, Ma."
"Bima, kamu dimana? Cepat pulang ke rumah. Papa menunggumu!" Suara Luze terdengar panik.
Bima menatap Delia yang kini sudah ada di depan matanya.
"Baiklah. Bima akan segera pulang."
Bima mengurungkan niatnya untuk menemui Delia. Setidaknya ia tahu jika Delia kini tidak menjadi istri siapapun.
#
#
#
Tiba di rumah, Bima melangkah menghampiri Danu dan Luze yang menunggunya di ruang keluarga. Tatapan penuh amarah ditunjukkan oleh Danu.
"Dasar anak kurang ajar!" Sebuah tamparan langsung dilayangkan Danu untuk Bima.
Bima hanya diam. Ia sama sekali tidak mengerti kenapa ayahnya semarah itu kepadanya. Apakah karena kepergiannya selama beberapa hari ini?
"Pa, jangan sakiti Bima!" Luze membela putranya.
"Apa yang kau katakan pada nenekmu, hah?! Hingga nenekmu meminta papa untuk membatalkan perjodohanmu dengan Cassie!" Suara Danu terdengar menggelegar.
Bima menggeleng pelan. Bima tidak bisa menyalahkan Oma Lily karena hal ini. Tentu saja Oma Lily hanya ingin yang terbaik untuk cucunya.
"Apa papa tahu apa yang sudah dilakukan gadis itu di rumah Oma?" tanya Bima dengan tatapan tak kalah sengit.
"Yang Oma katakan tidaklah salah! Gadis itu mendatangi Oma dan membuat gaduh di rumah Oma. Oma sudah tua, Pa. Tentu saja Oma sangat syok karena Cassie membentaknya. Oma tidak ingin aku menikah dengan gadis yang tak punya sopan santun seperti dia!"
Bima mengepalkan tangannya. Sejak dulu dirinya tidak pernah benar. Selalu saja salah dimata Danu.
"Baiklah! Karena aku sudah membuat masalah, maka sebaiknya kita akhiri saja semuanya!"
Danu mengerutkan dahi. Apa maksud dari putranya itu?
"Apa maksudmu?!"
"Aku akan mengakhiri pertunanganku dengan Cassie. Dengan begitu, kita tidak memiliki masalah lagi bukan? Lagi pula aku tidak menginginkan perjodohan ini. Aku mencintai wanita lain. Hari ini juga aku akan membatalkan pertunanganku dengan Cassie."
Usai mengatakan isi hatinya pada Danu, Bima segera melangkahkan kakinya pergi dari rumah besar itu.
"Bima! Bima, jangan pergi! Bima!" Teriakan Luze sama sekali tidak Bima gubris.
Bagi Bima, lebih baik menjadi anak pembangkang dari pada harus dianggap selalu salah oleh sang papa.
Bima langsung mendatangi Cassie di kantornya. Sebelumnya Bima sudah menghubungi Cassie terlebih dulu.
Wajah Cassie sangat sumringah melihat kedatangan Bima. Rencananya untuk membuat Bima mendatanginya akhirnya berhasil. Namun, Cassie tidak tahu jika kedatangan Bima adalah untuk hal yang berbeda dengan harapannya.
"Bima!" Cassie menyambut Bima dengan senyum merekah.
"Cukup, Cassie! Aku tidak ingin kau terus bermain drama. Aku datang kesini untuk..."
Bima menjeda kalimatnya. Ia melepas cincin yang melingkar di jari manisnya, lalu meletakkannya di atas meja kerja Cassie.
"Aku ingin membatalkan pertunangan kita. Aku rasa aku tidak bisa melanjutkan hubungan ini. Kau sudah keterlaluan dengan mendatangi nenekku. Aku tidak menyangka kau serendah ini!"
"Bima! Apa maksudmu? Kau tidak bisa membatalkan perjodohan ini begitu saja! Ini pasti karena dia kan? Perempuan itu!" teriak Cassie.
Bima tersenyum kecut.
"Kau pikir aku tidak tahu jika selama ini kau berhubungan dengan Delia! Aku tahu semuanya, Bima! Dan kau! Kau akan menyesal karena sudah melakukan ini padaku! Akan kubuat perempuan itu menyesal karena sudah merebut milikku!"
Bima mengepalkan tangan. Ingin sekali ia menampar Cassie. Tapi Bima masih ingat jika dirinya adalah seorang pria sejati. Mana mungkin pria sejati menampar makhluk lemah seperti wanita? Meski hatinya sudah diambang kemarahan yang memuncak.
"Jangan pernah kau sakiti Delia! Atau kau akan berhadapan denganku! Ingat itu, Cassie. Dan jangan memainkan drama agar aku terus berada di sisimu. Karena aku tidak akan pernah melakukan itu!"
Bima keluar dari kantor Cassie dengan perasaan lega. Ia sudah memutuskan hubungan meski hanya sepihak. Setidaknya ia sudah berani mengungkapkan rasa di hatinya. Setelah ini tinggal menunggu reaksi dari kedua keluarga. Pastinya keluarga Cassie tidak terima dengan keputusan Bima.
Bima sudah tidak peduli. Yang terpenting saat ini adalah ia memperjuangkan apa yang menjadi perasaannya. Ia belum berjuang banyak untuk bisa meluluhkan Delia. Ia yakin orang tuanya lambat laun bisa menerima keputusannya ini.
Usai menyelesaikan segala urusannya, Bima kembali melaju menuju ke tempat tujuan semula. Ia melirik jam di tangannya. Hari sudah mulai gelap. Tentunya orang yang ia ingin temui sudah berada di rumahnya.
Bima menuju ke apartemen Delia. Senyum mengembang terus merekah di bibirnya.
Bima menekan bel pintu apartemen Delia. Ia menarik sudut bibirnya kala melihat pintu mulai terbuka.
"Tuan Bima?" Delia bingung. Delia makin bingung karena tiba-tiba Bima memeluknya.
"Delia! Aku sangat merindukan..."
Kalimat Bima terjeda karena bunyi dari perutnya. Bima baru ingat jika dirinya belum memberi makan cacing di dalam perutnya.
"Heheheh." Bima menggaruk kepalanya.
"Apa aku boleh menumpang makan di tempatmu?"
Pertanyaan Bima membuat Delia memutar bola matanya malas.
#tbc