Labuhan Cinta Tuan Bima

Labuhan Cinta Tuan Bima
Malam Pertunangan



Acara pertunangan Daniel dan Delia tetap digelar seperti yang sudah direncanakan sebelumnya. Begitu Ciputra keluar dari rumah sakit, Daniel dengan sigap menyiapkan semua acara dengan membayar EO ternama di kota.


Malam ini Delia harus siap untuk menapaki kelanjutan kisahnya dengan Daniel yang dimulai setahun lalu. Matanya menatap nanar pantulan dirinya di cermin.


Malam ini Delia begitu cantik dan anggun. Delia tidak terbiasa berdandan. Sangat berbeda dengan gadis-gadis selera Daniel seperti Selina. Memikirkan tentang hubungan yang rumit dengan Selina, Delia hanya bisa menghela napas.


"Semoga saja dengan aku melakukan ini, bisa membuat ayah dan ibu merasa senang karena sudah memenuhi wasiat kakek," batin Delia.


Ketukan di pintu kamar hotel miliknya membuat Delia segera membuka pintu. Ternyata seorang pelayan yang disuruh Daniel datang menemuinya.


"Nona, Tuan Daniel sudah menunggu."


Delia hanya mengangguk sebagai jawaban. Delia keluar dari kamar dan mengikuti langkah si pelayan wanita.


Sebelum memasuki ballroom Royale Hotel, Delia melihat Daniel sudah berdiri menunggunya. Daniel tersenyum manis ke arah Delia. Delia hanya membalas dengan senyum kecil.


"Kau cantik sekali malam ini," bisik Daniel ketika Delia sudah berdiri di sampingnya.


"Terima kasih," balas Delia singkat.


Mereka berdua berjalan memasuki pintu ballroom yang terbuka lebar. Alunan musik romantis mengiringi langkah mereka berdua.


Semua tamu bersorak bahagia melihat kedua pasangan yang sangat serasi itu. Tampan dan cantik. Meski tidak banyak yang mengenal Delia, tapi kecantikan Delia membuat orang-orang tidak tahu jika Delia hanya anak dari keluarga biasa. Ayahnya hanya seorang pensiunan pegawai negeri. Dan ibunya hanya ibu rumah tangga.


Mungkin ada yang menganggap Delia beruntung karena bisa menikahi pewaris Grup Hazar. Orang-orang hanya melihat sesuatu dari luar saja. Mereka tidak tahu seperti apa perasaan Delia saat ini.


Di sisi lain, hingga pukul tujuh malam Bima masih berkutat dengan pekerjaannya. Stella yang akan berpamitan pulang masuk ke ruangan Bima lebih dulu.


"Lho? Abang masih disini? Bukannya abang ada undangan pertunangan kak Daniel ya?" seru Stella.


Bima menepuk jidatnya sendiri. "Astaga! Aku lupa, Stell."


"Abang harus mengubah kebiasaan abang. Kalau sudah kerja pasti lupa segalanya, gimana mau cepat dapat jodoh coba?"


Lagi lagi Stella meledek Bima.


"Haish! Aku sudah terlambat, aku harus segera pergi. Daniel pasti marah padaku!"


Bima mengambil kunci mobil dan segera berlalu. Malah kini dirinya yang meninggalkan Stella sendirian di ruangannya.


"Ish, si abang!" gerutu Stella.


Benar saja, sejak tadi Arjuna sudah menghubungi Bima yang masih dalam perjalanan menuju Royale Hotel. Beruntung Bima membawa beberapa stel pakaian formal di mobilnya, Bima bisa berganti pakaian di toilet hotel saja nanti.


Begitu tiba disana, Bima mengganti stelan jasnya yang tadinya berwarna hitam kini berubah menjadi navy. Tubuh tegapnya berjalan dengan gagah melewati beberapa tamu undangan yang hadir.


"Hei, buddy! Akhirnya kau datang juga!" sapa Arjuna yang sedang duduk di meja dengan segelas wine di tangannya.


"Sorry, aku benar-benar lupa!" Bima memohon maaf.


Arjuna menggeleng pelan. "Apa sih yang tidak kau lupa? Di hari pernikahan Aron saja kau terlambat datang. Sebenarnya kau pergi kemana saat itu?" Arjuna penasaran dengan menghilangnya Bima saat itu. Padahal saat itu mereka sedang duduk dan minum bersama. Tapi Bima tiba-tiba pergi entah kemana.


Bima memilih tidak menjawab dan malah mengedarkan pandangan matanya.


"Hei, sebaiknya kau sapa Daniel dan Delia sana! Mereka ada di atas panggung. Daniel harus tahu jika kau juga datang kemari."


Bima mengangguk kemudian beranjak dari duduknya. Bima berjalan menghampiri panggung yang tidak terlalu tinggi itu.


Matanya terus menelisik gadis yang berdiri di samping Daniel. Bima merasa mengenal gadis itu.


Jantungnya berpacu lebih cepat karena ia mengenali gadis itu. Gadis yang mengajaknya bermalam bersama. Gadis yang bertukar peluh dengannya semalam suntuk. Gadis itu yang Bima cari-cari selama beberapa bulan terakhir.


Kini Bima menemukan gadis itu dan berdiri di samping Daniel, sahabatnya.


"Bima! Akhirnya kau datang juga!" Daniel menyapa dengan ekspresi yang sangat bahagia. Mereka saling berpelukan sebentar.


"Oh ya, kenalkan. Ini Bima! Dan Bim, ini Delia, calon istriku!" Daniel merangkul Delia mesra ketika memperkenalkan gadis itu pada Bima.


"Senang berkenalan denganmu, Nona!" Bima mengulurkan tangannya ke hadapan Delia.


Delia hanya menatap tangan Bima tanpa ingin menyambutnya. Delia merasa bingung dengan semua yang terjadi malam ini.


Bima menurunkan tangannya yang sama sekali tak disambut oleh Delia. Hingga akhirnya Bima memutuskan untuk turun dari atas panggung.


Bima mendekati seorang pelayan lalu mengambil segelas wine. Saat ini hatinya sedang kacau. Tiba-tiba bertemu dengan gadis satu malamnya dalam situasi yang tidak menyenangkan.


"Dasar bodoh kau, Bim!" umpat Bima pada dirinya sendiri.


Mata Bima terus menyorot tajam Delia yang ada di atas panggung. Gadis itu terlihat masih syok dengan kehadiran Bima di pesta pertunangannya.


Sejurus kemudian, Bima melihat Delia turun dari panggung. Sepertinya Delia menuju ke toilet. Bima segera mengikuti langkah Delia.


Delia mengatur napasnya yang terasa sesak dan memburu. Hatinya tak tenang karena bertemu lagi dengan Bima. Delia memukul dadanya pelan.


"Ternyata namamu Delia ya!"


Suara seseorang membuat Delia menoleh.


"Kau! Mau apa kau disini? Ini toilet wanita!" ucap Delia gugup.


"Apa kau tidak mengingatku, Nona? Atau kau hanya pura-pura lupa?" Bima semakin melangkah maju dan membuat Delia terancam.


"Jangan mendekat! Atau aku akan teriak!" ancam Delia.


Bima malah tertawa. "Kenapa kau setakut itu? Apa kau takut Daniel mengetahui hubungan kita? Kita pernah..."


"Hentikan! Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan, Tuan. Sebaiknya kau keluar!" Delia menujuk pintu keluar.


Bima kembali tertawa. Menertawakan dirinya sendiri.


"Kau berselingkuh dari Daniel dengan mengajakku berhubungan satu malam lalu memintaku melupakannya. Kau pikir aku akan melakukan itu? Tidak! Aku tidak akan melepaskanmu!"


Bima melangkah maju dan mencengkeram lengan Delia.


"Aw!" Delia memekik. "Tolong lepaskan aku!" Delia menghiba. Matanya sudah berkaca-kaca.


Bima melepaskan lengan Delia dengan kasar. Bima mengusap wajahnya. Bagaimana takdir bisa begitu mempermainkannya? Ketika sudah merasakan jatuh cinta, tapi ternyata kenyataan pahit harus ia telan.


"Tolong jangan katakan apapun pada Mas Daniel mengenai kita," lirih Delia


Bima menatap gadis di depannya. Gadis yang sudah ia renggut mahkotanya. Bimalah pemilik mahkota Delia. Harusnya ia berhak untuk memiliki Delia. Harusnya Bimalah yang bertunangan dengan Delia, bukan Daniel.


Bima mendekati Delia yang sudah meneteskan air matanya. Dengan lembut Bima mengusap air mata Delia dengan ibu jarinya.


"Aku tidak akan membiarkanmu menangis." Kata-kata Bima membuat Delia tertegun. Sentuhan lembut Bima begitu memabukkan untuknya.


Delia diam ketika jarak diantara mereka semakin terkikis. Bima melihat bibir manis itu bergetar. Bima tak tega melihatnya.


Delia pasrah. Saat ini hidupnya sudah bukan miliknya lagi. Orang-orang selalu mengontrol dirinya. Delia seakan tidak berhak hidup sesuai dengan keinginannya.


Hampir saja bibir Bima menyentuh bibir Delia jika saja tidak terdengar ketukan di pintu toilet.


"Delia! Apa kau didalam?" Rupanya itu adalah suara Daniel. Beruntung saat masuk tadi, Bima sempat mengunci pintu toilet.


Delia segera membuka mata dan menatap Bima.


"Mas Daniel? Bagaimana ini?" gumam Delia panik.


"Delia, jawab aku! Apa kau baik-baik saja?" seru Daniel masih dengan menggedor pintu.


#tbc