Labuhan Cinta Tuan Bima

Labuhan Cinta Tuan Bima
Cinta Sendiri



Tiga bulan kemudian,


Bima terbangun dari tidur 3 jamnya. Ia memang terbiasa tidur tidak terlalu lama. Entah sejak kapan ia mengalami insomnia. Semua bertambah parah setelah malam panasnya dengan gadis yang tak dikenalnya itu.


Gadis itu berhasil mengobrak-abrik hati Bima. Hati yang sedari dulu sepi, kini mulai terisi. Ia bahkan tidak berselera terhadap wanita bayaran yang biasanya ia sewa. Bima lebih baik berpuasa dan mengalihkan perhatiannya pada pekerjaan. Alhasil kini Bima hanya tidur 3 jam saja dalam sehari. Selebihnya ia gunakan untuk bekerja.


Bima mengambil ponselnya dan membaca satu catatan di tanggal ini. Ada hal yang harus ia lakukan sebelum beraktifitas. Hal yang selalu ia lakukan selama lima tahun terakhir di hari dan tanggal ini.


Usai bersiap, Bima segera menuju ke sebuah makam yang sudah cukup lama disana. Lima tahun. Ya, hari ini adalah hari dimana kakaknya meninggal dunia. Bisma meninggalkan banyak tanya untuk Bima.


Malam itu Bisma berkendara entah ingin kemana. Bima sendiri tidak pernah tahu pemikiran sang kakak. Mereka memang terkadang berselisih dan beda pendapat. Tapi, Bima tak pernah mengira jika malam itu adalah malam terakhir mereka berselisih. Mobil yang dikemudikan Bisma hilang kendali karena hujan deras dan menabrak pembatas jalan.


Bima memejamkan mata mengingat momen kehilangannya terhadap Bisma. Setiap tahun, Bima hanya bisa menatap gundukan tanah itu dengan wajah sendu.


"Maafkan aku, Kak. Semoga kau tenang disana."


Seharian ini Bima menyibukkan diri dengan pekerjaan. Akhir-akhir ini tingkat perceraian semakin meningkat. Dan itu membuat Bima kadang kewalahan menangani beberapa kasus. Jika sudah begini, Bima menyerahkan semua kepada timnya.


"Bang, aku pulang dulu ya!" Suara Stella menyadarkan Bima dari tumpukan berkas di depannya.


"Eh? Kau sudah mau pulang? Jam berapa memangnya ini?" Bima melirik jam tangannya. Sudah pukul lima sore.


"Kurasa akhir-akhir ini Abang kurang istirahat. Apa ada yang mengganggu pikiran Abang? Seharian ini abang di kantor dan tidak keluar. Biasanya kan Abang keluar menemui klien, ini malah dilimpahkan semua ke Allan. Abang bisa cerita ke aku kalau abang mau. Siapa tahu beban abang jadi berkurang."


Bima mengulas senyumnya. "Tidak perlu, Stell. Aku baik-baik saja. Sebaiknya kau pulang. Aku juga akan pulang sebentar lagi."


Stella mengerutkan dahi. "Abang mau pulang ke rumah utama?"


Bima mengangguk. "Hari ini adalah peringatan kematian kak Bisma. Aku akan menyapa papa dan mama di rumah."


Stella ikut sendu. Mungkin inilah alasan kenapa Bima akhir-akhir ini berbeda. Bima sangat kehilangan sosok sang kakak ketika Bisma meninggal dunia.


"Aku pulang ya Bang. Salam untuk Om Danu dan Tante Luze."


#


#


#


Pukul enam petang, Bima tiba di rumah utama keluarga Antara. Tentu saja Luze sangat senang karena putranya akhirnya pulang.


"Kamu menginap disini kan?" tanya Luze.


"Tergantung, Ma!" jawab Bima asal.


Luze mengerutkan dahi. "Apa maksudmu dengan tergantung?" Luze tidak suka dengan jawaban Bima. Putra bungsunya ini memang sangat sulit diatur. Selalu saja bertindak sesuka hati.


"Mama masak apa? Aku lapar!" Bima mengalihkan pembicaraan.


Luze menghela napas dalam. Lagi dan lagi ia tak bisa mengobrol santai dengan putranya sendiri.


Pukul tujuh malam, Bima dan kedua orang tuanya duduk bersama di meja makan. Tidak ada percakapan yang berlangsung selama makan malam.


Bima juga nampak menikmati makan malamnya kali ini. Hingga akhirnya Danu memecahkan kesunyian terlebih dulu.


"Akhirnya kau pulang juga. Apa kau masih ingat jika kau masih punya orang tua?" Rupanya Danu tidak bisa bersikap santai dengan Bima.


Namun takdir berkata lain, Bisma pergi untuk selamanya dan Danu memaksa Bima untuk kembali ke perusahaan. Tentu saja Bima menolaknya. Bima merasa jika dirinya hanya dijadikan pengganti kakaknya yang telah tiada. Bima tidak menginginkan hal itu. Bima ingin papanya benar-benar mengakui kehebatannya. Bukan hanya sekedar sebagai pengganti saja.


"Hari ini adalah hari peringatan meninggalnya kak Bisma yang ke lima. Apa kalian lupa?" Bima malah balik bertanya pada kedua orang tuanya.


"Bima! Jaga bicaramu!" Danu marah. Ia tidak pernah bisa memahami putranya ini.


"Untuk apa kau terus mengenangnya jika semua itu karena ulahmu!" Danu mulai menyalahkan Bima seperti biasa.


Inilah yang membuat Bima malas jika harus pulang ke rumah utama. Selalu saja mengungkit masa lalu yang ia sendiri sama sekali tidak paham.


Bima bangkit dari duduknya. "Aku datang kemari hanya untuk mengenang kepergian kak Bisma. Meski kami sering bertengkar, tapi aku menyayangi kak Bisma. Aku tahu aku sering berbuat jahat padanya, tapi itu karena aku masih terlalu labil dalam bersikap. Sekarang aku tahu, sebenarnya kalian lah yang bersikap kekanak-kanakan!"


Bima memilih pergi meninggalkan meja makan.


"Pa, kenapa selalu menyalahkan Bima atas meninggalnya Bisma?" Luze membela Bima.


"Itu memang benar! Anak itu selalu saja membuat masalah!" tekan Danu.


"Tidak, Pa! Ini bukan kesalahan Bima, tapi ini semua karena gadis itu!" pekik Luze.


Langkah kaki Bima terhenti sejenak. "Gadis itu? Siapa gadis yang dimaksud mama?" gumam Bima dalam hati.


Setelahnya Bima tetap melangkah keluar dari rumah yang sudah ditinggalkannya semenjak lulus kuliah. Bima memilih pergi menemui Arjuna yang mengundangnya ke sebuah bar.


Cahaya temaram lampu dan suara musik yang mengguncang tubuh, langsung menyapa Bima ketika masuk ke dalam sana. Bima mencari keberadaan Arjuna yang sedang meneguk wine ditemani seorang wanita.


"Kau sendiri?" tanya Bima lalu duduk disamping Arjuna.


Mengerti tentang kode dari Bima, Arjuna segera meminta wanita bayarannya untuk pergi.


"Hmm, aku sendirian sekarang setelah kau mengusir wanita bayaranku."


Bima tersenyum kecut. "Sialan kau! Dimana Daniel?"


Arjuna meneguk segelas wine lalu menawari Bima. "Daniel sedang ada urusan."


Sebenarnya Arjuna agak kaget karena Bima bersedia menemuinya di bar. Biasanya hanya dirinya saja dan Daniel yang menghabiskan malam di klub.


"Palingan urusan ranjang," cibir Bima.


"Bukan! Dia sedang menyusun rencana pernikahan dengan Delia."


"Apa?!" Mata Bima membola. "Kau serius? Daniel akan menikah dengan gadis yang dijodohkan dengannya?"


Arjuna mengangguk. "Yup! Aku tidak tahu cerita detilnya. Kau tahu kan, hanya Daniel yang bersedia membantuku setelah keluargaku bangkrut. Aku diberi pekerjaan di firma hukum miliknya. Dan sekarang aku bisa kembali bangkit."


Bima tersenyum sendu. Saat itu ia benar-benar tidak bisa membantu Arjuna karena dirinya juga harus berjuang menghidupi dirinya sendiri setelah keluar dari rumah orang tuanya. Bima benar-benar tak menerima sepeserpun uang dari ayahnya dan membangun firma hukumnya sendiri.


"Lalu, bagaimana hubungannya dengan sekretarisnya itu?" Entah kenapa Bima penasaran dengan kehidupan Daniel.


Selama ini ia terkesan cuek terhadap kehidupan para sahabatnya karena ia sibuk menata hidupnya sendiri. Bima tak mau jika hidupnya bertambah rumit dengan masalah kawannya, dan juga sebaliknya. Ia tak ingin menambah masalah untuk sahabatnya.


Arjuna hanya mengedikkan bahu. "Aku tidak mau ikut campur urusan Daniel dan para wanitanya."


Bima terdiam. Ia memilih tidak bertanya lagi dan mulai menikmati segelas wine di tangannya. Entah kenapa Bima merasa kasihan pada gadis yang bernama Delia itu. Bagaimana nasibnya nanti jika tahu Daniel sudah mengkhianatinya?