
Cassie terbangun dari tidurnya dan melihat sekelilingnya. Bayangan tentang adegan semalam mulai mengisi otaknya. Cassie menutup wajahnya dengan kedua tangan.
"Bagaimana mungkin aku dan Collin...?" Cassie menggeleng kuat. Tapi melihat kondisi kamar dan tempat tidur yang berantakan. Sangatlah kuat menjadi bukti jika semalam mereka melakukan banyak hal di kamar ini.
"Astaga! Kenapa aku bisa seliar itu?" Wajah Cassie memerah. Cassie akui jika Collin sangatlah mempesona semalam. Dia adalah pria yang sangat luar biasa.
Saat Cassie masih menyadarkan diri dari bayangan semalam, tiba-tiba ponselnya berdering. Nama sang ayah tertera di layar.
"Halo, Pa..."
"Cassie, kau sudah bangun?"
"Hmm."
"Kalau begitu bersiaplah! Sebentar lagi Collin akan menjemputmu!"
"Eh?"
"Kau harus bertanggungjawab dengan perbuatanmu!"
"Baik, Pa."
Cassie menghela napas berat. Ayahnya pasti sudah tahu kejadian semalam dimana dirinya mengacau di pesta pengangkatan Bima sebagai CEO.
"Bagaimana ini?" Cassie mencari berita tentang acara semalam di internet.
Nihil. Tidak ada apapun disana.
"Aneh!" gumam Cassie.
Tak ingin terus berlarut memikirkan kejadian semalam, Cassie beranjak dari tempat tidur dan melangkah ke kamar mandi.
"Astaga! Memangnya berapa kali aku melakukannya dengan Collin? Kenapa badanku rasanya sakit semua?" gumam Cassie dengan langkah tertatih.
Tiga puluh menit kemudian, Cassie yang baru selesai mengganti pakaian sedang merias tipis wajahnya, dikejutkan dengan bunyi bel yang nyaring.
"Hah? Apa dia sudah datang? Kenapa cepat sekali?" gumam Cassie yang kini harus menetralkan degup jantungnya. Rasanya berdebar ketika akan bertemu lagi dengan orang yang menghabiskan malam denganmu.
Cassie membuka pintu. Nampaklah sosok gagah yang selalu berpenampilan rapi itu.
"Selamat pagi, Nona!"
Entah kenapa suara Collin terdengar gugup.
"Hmm, masuklah! Aku akan mengambil tasku dulu!" ucap Cassie berusaha setenang mungkin.
Collin mengangguk dan duduk di kursi sofa yang ada di ruang tamu. Tak lama Cassie kembali dari kamar dan langsung melangkah pergi.
"Ayo berangkat!" ucap Cassie dengan suara ketusnya.
Sikap Cassie kembali dingin pada Collin. Berbeda dengan semalam yang memintanya untuk jangan pergi. Rasa-rasanya Cassie malah sudah siap untuk menendangnya jauh dari bumi.
Collin berusaha bersikap tenang saat mengendarai mobil. Sesekali ia melirik Cassie yang duduk di jok belakang. Cassie terlihat cuek dan sama sekali tak ada beban. Kehidupannya yang terbiasa di luar negeri mungkin saja akan ia terapkan disini. Cinta satu malam bukanlah hal besar jika mereka tinggal di negara barat. Meski pada kenyataannya, Cassie menyerahkan mahkotanya pada sang pengawalnya sendiri.
Tiba di rumah utama, Cassie langsung turun diikuti Collin. Terlihat jika Cassie masih kesulitan berjalan akibat ulah Collin.
Collin hanya merutuki kebodohannya yang sudah membuat Cassie kesakitan dan juga nikmat bersamaan. Collin kembali bersikap tegap ketika berhadapan dengan Erwin.
Cassie menemui Erwin dan Lena di ruang keluarga.
"Kau tahu apa yang sudah kau lakukan semalam?" tanya Erwin tanpa berbasa-basi. Erwin terkenal dengan sikap bengisnya dalam berbisnis. Tak heran para kolega akan bersikap segan terhadapnya.
"Maafkan aku, Pa, Ma..." Cassie menundukkan kepala.
"Apa kau akan terus mengejar Bima seperti itu meski kau sudah jelas-jelas ditolak olehnya?"
Cassie terdiam. Ia sungguh bingung. Perasaannya terhadap Bima mungkinlah benar hanya sebuah obsesi. Cassie tidak suka sesuatu yang harusnya menjadi miliknya justru dimiliki oleh orang lain. Apalagi orang itu adalah orang yang sama yang sudah membuatnya terluka lima tahun lalu.
"Eh? Tidak, Pa! Jangan lakukan itu!" Cassie memohon. Ia masih sangat mencintai negaranya sendiri.
"Beruntung Collin selalu bisa diandalkan. Jika saja dia tidak bergerak cepat, maka wajahmu akan berada di surat kabar dan banyak media online. Kau tahu, jaman sekarang kecanggihan teknologi bisa saja membunuhmu! Satu artikel saja maka nama baik keluarga ini bisa hancur. Ingat itu, Cassie!"
Cassie mengangguk pelan. Ia masih menundukkan kepala. Ia tak bisa berkata apapun. Rupanya berita tentangnya sudah diurus oleh Collin.
"Kapan dia melakukannya? Bukankah semalam ... kami hanya sibuk..." batin Cassie mulai bertanya-tanya. Pria bernama Collin ini memang sungguh tidak terduga.
"Papa akan membiarkanmu tetap berada disini dengan satu syarat."
Cassie menatap Erwin dengan penuh harap-harap cemas.
"Mulai detik ini kau akan diawasi 24 jam oleh Collin!"
"APA?!" Collin dan Cassie berseru bersama.
Erwin dan Lena saling pandang karena putrinya bereaksi sama dengan Collin.
"Kalian sungguh kompak!" Erwin malah tertawa terbahak.
"Collin, aku yakin kau bisa melaksanakan tugas ini dengan baik." Erwin beranjak dari ruang keluarga diikuti sang istri.
Sementara Cassie masih terdiam dan merasa sangat malu dengan Collin. Bagaimana bisa papanya memberikan syarat yang begitu berat untuknya? Bersama dengan Collin selama seharian penuh pastinya akan membuat jantung Cassie tidak baik-baik saja.
Entah sejak kapan Cassie mulai memperhitungkan bodyguardnya ini sebagai pria yang layak untuk dicintai. Collin pria yang bertanggungjawab penuh pada pekerjaan.
Cassie menggeleng. "Apa yang dia lakukan pasti hanya karena pekerjaannya. Dia mengurus semua masalahku karena itu adalah pekerjaannya. Jadi, bukan karena dia peduli padamu!" Cassie meyakinkan dirinya sendiri dalam hati.
Cassie beranjak dari sofa. "Terima kasih," ucap Cassie masih dengan mode dinginnya.
"Itu sudah jadi kewajiban saya untuk memastikan Nona baik-baik saja."
"Tuh kan benar! Dia tidak mungkin merasakan hal yang lebih padaku! Lalu semalam...?"
Cassie melenggang pergi menuju kamarnya. Collin mengikutinya di belakang.
"Semalam adalah aku yang memulai lebih dulu. Aku yang memintanya untuk tidak pergi dan menemaniku! Duh, kenapa jadi begini? Apa yang salah denganku?" Cassie masih terus berperang dengan pikirannya sendiri.
Hingga Cassie tak sadar jika langkah kakinya sudah tiba di depan anak tangga. Harusnya Cassie menaikkan kakinya untuk menapaki anak tangga, tapi karena otaknya masih fokus berpikir alhasil Cassie tak tahu jika ia telah tiba di depan tangga.
"Aduh!" Cassie tersandung dan tubuhnya terhuyung.
Beruntung Collin dengan sigap menangkap dan membawanya kedalam dekapan. Tangan Collin melingkar di pinggang Cassie. Wajah Cassie menempel di dada bidang Collin hingga Cassie dapat mendengar debaran jantung Collin yang begitu cepat.
Cassie mendongak dan mendapati wajah Collin yang memerah menatapnya.
"Co-Collin! Lepaskan!" ucap Cassie terbata.
Collin yang menyadari jika dirinya terlalu dekat dengan Cassie, segera melepaskan tangannya.
"Ma-maafkan saya, Nona!" Collin tertunduk malu.
"Sekali lagi terima kasih. Kau sudah banyak menolongku selama ini." Cassie langsung berbalik badan dan menaiki anak tangga menuju kamarnya.
"Astaga, ada apa denganku? Sungguh memalukan! Kenapa aku bisa sekonyol ini di depan Collin?" Cassie merutuki kecerobohannya sendiri.
Jantungnya berdetak dengan cepat. Baru saja semalam ia meneriakkan nama Bima, lalu sekarang kenapa ia malah berdebar berhadapan dengan pengawalnya sendiri?
"Hah, Cassie! Kau pasti sudah tidak waras!" gerutunya sambil merebahkan tubuhnya di kasur king size empuk miliknya.
B e r s a m b u n g
*Mak, Delia-Bima mana? Sabar, mereka ada kok ššMereka lagi semedi dulu biar gak bikin geregetan yang baca karena hubungan mereka yg absurd jalan ditempatš¤£š¤£