
Bima dan Delia tiba di rumah sakit dimana Luze dirawat. Delia begitu iba melihat kondisi Luze yang masih koma. Delia juga menyapa Dina dan Lily yang juga ada disana.
"Bagaimana hasilnya? Kudengar kamu dipanggil polisi, Delia." Dina bertanya dengan raut wajah cemas.
"Iya, Tante. Kami baru saja keluar dari kantor polisi. Kurasa polisi itu salah paham dengan Delia. Mereka mencurigai Delia karena hanya dia satu-satunya saksi yang menemukan Mama di tempat itu," jawab Bima.
"Tante, boleh aku melihat kondisi tante Luze?" tanya Delia sedikit takut.
"Masuklah! Luze masih belum sadarkan diri. Kondisinya masih koma."
Delia tak sanggup melihat penderitaan Luze yang kini terpejam dengan alat-alat yang menempel di tubuhnya.
"Itu berarti satu-satunya saksi yang melihat siapa pelakunya adalah Luze sendiri. Benar begitu kan, Bim?" terka Dina.
"Benar, Tante. Kita harus menunggu Mama siuman dan mengatakan siapa yang sudah melukainya."
Delia memejamkan matanya. Ia berpikir keras untuk menemukan siapa pelaku penganiayaan yang menimpa Luze.
"Apa mungkin ini perbuatan Iren?" batin Delia bertanya.
Delia ingin mengemukakan pendapatnya di depan Bima. Tapi rasanya sulit karena dirinya tidak memiliki bukti apapun keterlibatan Iren dalam hal ini.
"Sebaiknya aku mencari bukti lebih dulu. Baru aku akan menyeret ke dalam penjara!" tekad Delia dalam hati.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Iren tersenyum puas setelah mendengar kabar terbaru tentang Luze. Iren pastikan jika Luze tidak akan pernah bangun dan menjadi saksi dalam penganiayaan yang dia alami.
Iren makin gencar mendekati Bima dan bersikap tetap tenang seperti biasa.
"Ini berkas yang harus Tuan tanda tangani." Iren masuk ke ruangan Bima.
Dilihatnya Bima sedang melamun. Pastinya Bima mencemaskan kondisi Luze yang masih koma.
"Ah, iya. Terima kasih, Iren."
"Tuan, sepertinya kondisi Tuan sedang kurang sehat. Apa perlu saya ambilkan obat?" tawar Iren.
"Tidak perlu, Iren. Kamu boleh keluar!"
Iren tersenyum kecut kemudian keluar dari ruangan Bima.
"Hah, ternyata masih terlalu sulit untuk mendekatimu. Tenanglah, Iren! Kamu pasti bisa mencapai tujuanmu. Penghalang terbesar sudah musnah. Dan kini tinggal penghalang yang lain."
...****************...
Delia mencari titik kamera pengawas yang ada di dekat lokasi kejadian melalui gambar-gambar di internet. Ternyata si pelaku memang mempersiapkan semuanya dengan baik. Sama sekali tak ada kamera pengawas di sekitar area itu.
Delia merasa semuanya menemui jalan buntu. Saat sedang berkutat dengan lamunannya, tiba-tiba saja Rein masuk ke dalam ruangan Delia.
"Kak Del!"
"Rein, ada apa?"
Rein melirik kearah dua polisi yang pernah menginterogasi Delia.
"Kalian? Ada apa datang kesini?" tanya Delia.
"Kami sudah menemukan senjata yang digunakan untuk melukai nyonya Luze," ucap polisi Alvin.
"Oh ya? Baguslah. Jadi kalian akan menangkap pelakunya secepatnya kan?"
Polisi Alvin dan Alvaro saling pandang.
"Senjatanya di temukan di dalam bagasi mobil Anda, Nona Delia. Jadi, tolong ikut kami ke kantor. Karena Anda adalah tersangka utama dari kasus penganiayaan Nyonya Luze."
"APA?!" Delia dan Rein syok.
...****************...
Tanpa bantahan, Delia ikut ke kantor polisi dan kembali duduk berhadapan dengan kedua polisi Alvin dan Alvaro.
"Kalian salah tangkap! Aku tidak melukai Tante Luze!" tegas Delia berulang kali.
"Nona, tolong jangan mempersulit kasus ini! Mengaku sajalah!" ucap Alvin.
"Aku tidak akan mengakui hal yang tidak kuperbuat! Pergilah dan cari pelaku yang sebenarnya!" kesal Delia.
"Nona, barang bukti ada di mobilmu. Siapa lagi kalau bukan kau pelakunya!" tambah Alvaro.
"Atas dasar apa kalian menuduhku?" Delia tak mampu lagi menahan emosinya. Terus dituduh membuatnya lelah.
"Nona, yang kudengar hubunganmu dengan tuan Bima tidak disetujui oleh Nyonya Luze. Itu bisa saja dijadikan motif untuk Anda agar bisa melukai Nyonya Luze."
Delia menatap jengah kedua polisi yang ada di depannya. "Aku tidak akan pernah mengakui apa yang tidak aku perbuat. Keluarlah! Tinggalkan aku sendiri!"
...****************...
Kabar mengenai ditangkapnya Delia akhirnya terdengar juga di telinga orang tua Delia. Ciputra dan Retno sangat murka mendengar berita ini.
Ciputra mendatangi kantor polisi dan meminta mereka untuk membebaskan Delia. Hingga keributan pun tak terelakkan.
Pihak kepolisian menghubungi pihak Bima. Dan Dina datang ke kantor polisi untuk menenangkan Ciputra.
"Putra, jangan membuat posisi Delia menjadi sulit. Aku dan keluarga percaya jika bukan Delia pelakunya. Aku minta kamu bersabar. Bima pasti akan membebaskan Delia dari sini."
Ciputra menatap tajam Dina. "Keluarga kalian selalu saja membuat keluargaku menderita, Din. Tidak bisakah kalian berhenti mengganggu keluargaku?"
Dina hanya mengulas senyum. Kemarahan Ciputra dirasa wajar karena melihat putrinya terpenjara atas kesalahan yang tidak diperbuatnya.
"Putra, Delia dan Bima... Mereka saling mencintai. Jadi, kumohon biarkan mereka bersama. Kurasa ini adalah ujian atas hubungan mereka. Aku harap kamu memberi restu pada mereka. Aku yakin Bima akan melakukan yang terbaik untuk Delia. Bima adalah seorang pengacara."
Kata-kata Dina membuat Ciputra sedikit tenang.
"Aku ingin bertemu Delia. Apa kau bisa membantuku?" pinta Ciputra.
"Tentu saja. Aku akan bilang pada petugas yang berjaga. Kau tunggulah disini!"
...****************...
Pertemuan Delia dan Ciputra membuat suasana haru semakin terasa. Ciputra menatap putrinya yang bagai seorang pesakitan yang terpenjara di balik jeruji besi.
"Ayah, kenapa datang kemari? Aku baik-baik aja. Ayah jangan khawatir. Mas Bima pasti bisa membebaskan aku."
Delia menggenggam kedua tangan Ciputra. "Bagaimana seorang ayah bisa hidup jika putrinya ada di tempat ini? Ibu kamu terus menangis, Nak."
Delia merasa sangat bersalah pada ibunya.
"Ayah, bilang pada ibu kalau aku baik-baik saja disini. Ya?"
Ciputra mengangguk. Sekuat tenaga ia berusaha tegar agar Delia bisa menjalani ujian hidupnya kali ini.
"Putra, waktu kunjungnya sudah selesai. Ayo!" ajak Dina.
"Tante, tolong jaga keluargaku selama aku disini." Delia memeluk Dina.
Delia menggeleng. "Tidak perlu, Tante. Aku bisa jaga diri kok. Mas Bima pasti sibuk."
Sepeninggal ayahnya, Delia memutar otak agar bisa secepatnya keluar dari tempat itu.
"Aku harus menghubungi Rein. Tapi... Ponselku di sita."
Dengan membujuk penjaga yang bertugas, Delia bisa menggunakan ponselnya tapi hanya sebentar. Delia mengirim pesan pada Rein dan meminta pria itu.
"Semoga saja Rein bisa menemukan kebenarannya!" harap Delia dalam hati.
"Kembalikan lagi ponselnya!" ucap si penjaga.
"Terima kasih, Pak. Semoga keluarga bapak selalu dalam keadaan sehat."
Si penjaga ikut prihatin dengan apa yang menimpa Delia. Bisa saja benar jika Delia bukanlah pelakunya. Namun semua bukti terus mengarah padanya. Delia harus bersabar lebih lama lagi.
...****************...
Rein mulai menyusun rencana untuk memata-matai Iren. Menurut Delia, wanita itu curiga pada Iren. Karena Delia pernah memergoki Iren bicara berdua dengan Luze.
Namun sayangnya, tak ada bukti kongkrit mengenai hal itu. Hal itulah yang menyulitkan Rein.
Tak kehabisan akal, Rein menyewa seorang perawat untuk mengawasi gerak gerik Iren ketika di rumah sakit. Pastinya Bima kecil membutuhkan perhatian dari ibunya.
Hingga akhirnya...
"Tuan, Ibu Iren akan memindahkan Bima ke rumah sakit lain!" ucap perawat yang di bayar Rein.
"Apa?! Jadi, dia berniat untuk kabur? Jangan-jangan benar jika dia pelakunya! Cepat awasi dia terus. Aku akan menghubungi Bang Bima."
"Baik, Tuan."
Tanpa menunggu lama, Rein menghubungi nomor Bima.
"Halo, Rein. Ada apa?"
"Bang, apa abang tahu kalau Iren akan memindahkan Bima kecil ke rumah sakit lain?"
"Hah?! Maksudmu?"
"Apa abang masih tak paham juga? Iren berusaha kabur, Bang. Dia pasti takut perbuatannya diketahui kita. Makanya dia kabur."
Bima masih tak percaya dengan apa yang dikatakan Rein. Kondisi Luze memang sudah mulai membaik. Luze sudah mulai bisa merespon keadaan di sekelilingnya.
Hanya butuh beberapa waktu untuk segera tahu siapa dalang penyebab terlukanya Luze. Oleh sebab itu, Iren bersiap pergi agar tidak bisa ditangkap atas kejahatannya.
"Bang! Jangan diam saja!"
"Heh?! Baiklah. Kau awasi dulu, Iren. Aku akan menghubungi kantor polisi."
"Oke, Bang!"
...****************...
Iren sudah berada di bandara ketika Rein tiba bersama Bima dan beberapa orang polisi.
"Iren, menyerahlah! Apa kau tidak kasihan pada putramu?" Bima mencoba membujuk Iren.
Iren menggeleng. "Apa kita akan berakhir seperti ini, Tuan? Kenapa Tuan? Kenapa Tuan tidak bisa melihatku?" teriak Iren histeris.
"Apa maksudmu?"
"Tuan, apa kau sama sekali tidak mengingatku? Sejak dulu aku melihatmu tapi kau sama sekali tak pernah menganggap aku ada. Aku jadi begini karenamu, Tuan!" Iren menangis terisak.
Rein hanya mencebik dan menggelengkan kepala.
"Jadi, ini soal cinta bertepuk sebelah tangan? Ckckck, miris sekali!" gumam Rein.
"Aku minta maaf jika aku pernah menyakitimu, Iren. Tapi aku sama sekali tak ada maksud untuk melakukan itu. Tolong jangan lalukan ini! Setidaknya demi putramu!"
Kondisi Bima kecil yang lemah membuat Iren tak kuasa melawan egonya. Iren harus segera mengambil keputusan.
Iren mendorong tubuh Bima kecil kearah Bima dan Iren malah berlari meninggalkan putranya.
"Iren! Jangan lari! Pak, cepat kejar dia!" seru Rein yang juga ikut mengejar Iren.
Bima menangkap tubuh Bima kecil dan segera membawanya ke klinik terdekat.
Sementara itu terjadi adegan kejar mengejar antara Iren dan para polisi juga Rein.
"Iren, berhenti! Atau kami akan tembak!" seru Alvin.
Kalimat Alvin nyatanya tak membuat Iren berhenti berlari.
"Sial! Cepat sekali larinya!" keluh Rein yang mulai mengatur napasnya.
"Iren berhenti!" peringatan Alvin nyatanya tak digubria oleh Iren. Hingga akhirnya Alvin harus mengambil tindakan yaitu menembak salah satu kaki Iren.
Iren terkapar di tanah dan meraung kesakitan.
"Sudah kubilang kau harus berhenti! Kau malah tidak mau dengar! Sekarang terima akibatnya! Petugas, bawa dia!" titah Alvin pada anak buahnya.
...****************...
Kisah pelarian Iren akhirnya berakhir. Delia akhirnya bebas dan bisa kembali bersama keluarganya.
"Terima kasih banyak, Nak Rein."
Rein yang mengantar Delia kini bagai pahlawan bagi keluarga Delia.
"Ah, tidak perlu berterimakasih. Kak Delia kan memang tidak bersalah. Dan hukum akan tetap berjalan sebagai mana mestinya. Orang yang bersalah akan dihukum sesuai dengan peraturan." Rein menggaruk tengkuknya karena mengatakan hal yang tak penting di depan orang tua Delia.
"Terus Mas Bima ada dimana sekarang?" tanya Delia penasaran.
"Bang Bima sedang menemani Bima kecil di rumah sakit. Iren tega sekali pada putranya sendiri. Ia berniat kabur!"
Ciputra dan Retno merasa malas ketika mendengar nama Bima.
"Om dan Tante, tolong mulai sekarang restuilah hubungan kak Delia dan abang saya!" pinta Rein.
"Abang?!" seru Retno dan Putra bersamaan.
"Iya, Bang Bima adalah kakak saya!"
Retno dan Putra saling pandang. Ternyata pria yang mendekati putrinya tak jauh-jauh dari keluarga Antara.
Ciputra nampak menghela napasnya. "Mungkin anak kita jodohnya memang sama keluarga Antara, Bu."
Retno membalas dengan sebuah senyuman. "Iya, Ayah."
Retno menggenggam tangan Delia. "Jadi kapan kamu akan menikah dengan Nak Bima?"