
Selina masuk ke sebuah ruangan diikuti Daniel. Dikuasai oleh amarah Daniel tak ingin berbasa basi dengan Selina.
"Apa yang ingin kau katakan, hah?"
Selina menyeringai. "Tuan pikir bisa seenaknya saja membuangku setelah Tuan menikmati tubuhku!" Suara Selina menggelegar di seluruh ruangan.
"Tutup mulutmu! Kau pikir kau siapa? Kau hanya seorang j@lang yang menjual tubuhmu demi uang. Apa kau lupa siapa dirimu?" Daniel sangat geram.
"Ya! Aku memang seorang jal@ng! Dan kau yang membuatku menjadi wanita murahan! Kau yang sudah membawaku ke titik ini dan kau ingin membuangku hanya demi gadis seperti Delia. Itu tidak akan terjadi!" teriak Selina. Ia juga sangat marah karena Daniel memutuskan hubungan mereka begitu saja setelah semua yang dia lakukan untuk Daniel.
Menghilangnya mempelai pria di altar pernikahan membuat beberapa orang mulai berbisik-bisik. Ayaz akhirnya memutuskan untuk menyusul Daniel. Diikuti oleh Ceren tentunya.
Kedua orang tua Daniel ingin tahu apa yang sedang dilakukan putranya dengan sekretarisnya.
"Tuan tidak bisa pergi dariku! Karena sekarang aku mengandung anakmu!"
"APA!"
Daniel dan Selina menoleh ke arah pintu. Selina tersenyum seringai karena obrolan mereka didengar oleh orang tua Daniel.
"Daddy, ini tidak seperti yang kalian dengar! Wanita ini memang ular! Dia licik! Dia sengaja menjebakku, Dad!" bela Daniel.
Ayaz menatap Selina yang tertunduk dan bermain peran dengan sangat baik. Selina tidak akan rela kehilangan tambang emasnya begitu saja. Sejak hubungannya diketahui oleh Delia, Selina sengaja tidak meminum obat pencegah kehamilan. Ia sengaja ingin mengandung anak Daniel agar bisa mengikatnya.
Rupanya rencana Selina berjalan mulus karena Daniel yang tak suka memakai pengaman ketika berhubungan badan, akhirnya meninggalkan benih di rahimnya. Selina tersenyum penuh kemenangan dalam hati.
"Selina, apa benar kau sedang mengandung anak Daniel?" Ayaz bertanya pada Selina.
Selina hanya mengangguk pelan. Kepalanya masih tertunduk.
"Dad, jangan percaya padanya! Dia pasti hanya ingin merusak pernikahanku dengan Delia!"
PLAK!
Sebuah tamparan mendarat di pipi Daniel.
"Daddy tidak pernah mengajarkanmu untuk tidak bertanggungjawab dengan perbuatanmu. Kau pikir selama ini Daddy tidak tahu kelakuanmu diluaran sana? Daddy kecewa padamu, Daniel. Daddy pikir kau benar-benar akan berubah, tapi nyatanya kau malah menghamili sekretarismu sendiri."
Daniel memegangi pipinya yang terasa panas. Ceren hanya bisa menatap sendu putranya. Ia tak bisa membela Daniel karena memang Daniel bersalah disini.
"Tidak ada pernikahan hari ini. Daddy akan mengatakan hal ini pada keluarga Delia," putus Ayaz.
"Dad! Tidak! Aku mencintai Delia. Aku tidak ingin kehilangan dia!" Daniel menghiba pada Ayaz.
"Cinta? Kau bilang mencintai Delia tapi kau sudah mengkhianatinya! Daddy tidak percaya kau sebrengsek ini, Daniel."
Ayaz mengatur napasnya. Sungguh ia berada di puncak amarahnya. Tapi ia sadar ia tak bisa melakukannya sekarang, sementara di luar keluarga Delia sedang menunggu mereka.
"Kau harus menikahi Selina! Jadilah pria yang bertanggung jawab!" tegas Ayaz.
Tanpa Ayaz sadari, ternyata sejak tadi Delia dan kedua orang tuanya mendengar semua pembicaraan ayah dan anak itu.
Daniel menghampiri Delia yang berdiri mematung. Delia bergeming mendengar semua permintaan maaf Daniel. Semua hal terasa berputar di otaknya.
Ayaz meminta asistennya untuk membubarkan para tamu undangan yang sudah hadir. Tidak ada pernikahan yang digelar hari ini.
Delia dan keluarganya pun kembali ke rumah. Delia melepas gaun pengantin yang melekat di tubuhnya. Ciputra dan Retno belum ada yang berani bertanya pada Delia.
Meski tidak mencintai Daniel lagi, tetap saja hati Delia bagai dihantam baja. Keluarganya juga malu karena pernikahannya batal.
#
#
#
Satu hari telah berlalu. Hari ini adalah hari minggu. Setelah menginap satu malam di rumah orang tuanya, Delia memutuskan untuk kembali ke apartemennya.
Sebelum pergi, Ciputra mengajak putrinya berbincang sejenak. Ciputra juga sangat terluka dengan perlakuan Daniel pada putrinya. Tapi melihat kondisi Delia yang terlihat baik-baik saja membuatnya sedikit lega.
"Jadi, kau sudah mengetahui soal hubungan Daniel dan sekretarisnya?" tanya Ciputra perlahan.
"Iya, aku sudah tahu."
Retno menutup mulutnya tak percaya.
"Dan kamu diam saja?" tanya Ciputra lagi.
"Aku hanya berusaha menjadi anak yang baik untuk kalian."
Jawaban Delia membuat Ciputra tercengang. "Tapi kamu mengabaikan perasaanmu sendiri."
"Aku bisa apa? Aku tidak ingin melukai hati kalian dan orang tua mas Daniel. Kami sudah sepakat akan tetap menikah, lalu setelah itu bercerai setelah tiga bulan."
Ciputra mengusap dadanya. "Bagaimana bisa kalian mempermainkan pernikahan? Pernikahan adalah hal yang suci dan kalian hanya ingin main-main dengan janji pada Tuhan?"
"Kalian yang membuat kami jadi begini. Tolong jangan bahas hal ini lagi. Aku baik-baik saja! Aku akan kembali ke apartemen. Aku ingin menenangkan diri disana. Aku harap kalian mengerti. Maaf jika aku dan mas Daniel sudah mengecewakan kalian." Tanpa kata lagi Delia segera pergi meninggalkan rumah orang tuanya.
Ciputra dan Retno hanya bisa menatap sendu kepergian putri mereka. Terkadang orang tua memang menginginkan yang terbaik untuk anak-anak mereka. Tapi belum tentu apa yang terbaik menurut orang tua, adalah yang terbaik untuk anak.
Sementara itu di rumah keluarga Hazar. Sejak pernikahannya batal dengan Delia, Daniel dikurung oleh sang ayah dan selalu diawasi oleh para bodyguard agar tidak kabur.
Ayaz Hazar sudah tidak memiliki muka lagi di depan keluarga Ciputra. Sungguh ia merasa bersalah terhadap Delia. Tapi mendengar jika Delia baik-baik saja, rasanya Delia memang sudah mengetahui hubungan gelap Daniel dan Selina.
Siang ini, Ayaz mengundang Selina untuk datang ke rumah. Meski belum sepenuhnya menerima Selina sebagai wanita yang mengandung anak Daniel, tapi ia menghargai kejujuran Selina.
Ayaz pastinya akan memastikan jika memang anak yang dikandung Selina adalah benar anak biologis Daniel.
"Hari ini juga aku akan menikahkanmu dengan Daniel. Apa kau setuju?"
Tentu saja Selina tersenyum sumringah mendengar tawaran Ayaz. Namun Ayaz hanya sendiri tanpa didampingi Ceren. Ibu mana yang tidak syok mendapati kenyataan putranya menghamili wanita yang menurutnya tidak sepadan dengan keluarganya.
Ceren masih terbaring lemah di tempat tidur. Ia masih menginginkan Delia yang menjadi menantunya. Bukan wanita murahan seperti Selina. Tapi Ayaz meyakinkannya kembali,
"Nasi sudah menjadi bubur. Putra kita melakukan kesalahan, dan kita yang harus menanggungnya. Bukankah itu adalah tugas kita sebagai orang tua?"
Ceren memalingkan wajah ketika Selina menemuinya di kamar.
"Nyonya, saya janji akan jadi istri dan menantu yang baik untuk Tuan Daniel dan kalian."
Ceren memejamkan mata. Ia hanya mengangguk pelan. Hatinya masih terasa sakit dengan perbuatan Daniel.
"Panggilkan Daniel. Suruh dia bersiap-siap, dia akan menikah hari ini juga!" titah Ayaz pada asistennya.
#tbc