
Cassie sedang mondar mandir di dalam kamarnya. Hari masih pagi tapi ia sudah terbangun dan menunggu kabar dari anak buahnya yang memata-matai Delia.
Setelah kemarin bertemu dengan Delia, ada sedikit kecurigaan di hati Cassie jika Bima sedang bersama dengan Delia. Tapi ia tak mau gegabah. Ia harus membuktikan apakah benar dugaannya itu.
Ponselnya bergetar. Ia langsung mengangkat panggilan itu.
"Bagaimana?"
"Dugaan Nona salah. Tuan Bima tidak bersama nona Delia."
"Kau yakin?"
"Yakin, Nona. Apa Nona masih meragukan kapasitas saya?"
"Huft! Ya sudah! Awasi terus perempuan itu!"
Cassie mematikan sambungan telepon. Ia bergegas mengambil kunci mobil dan keluar dari kamar. Cassie bertemu dengan Lena yang bertanya ia mau kemana. Cassie tidak menjawab dan memilih berjalan cepat.
Lena hanya bisa menghela napas dan mengusap dadanya. Sejak kembali ke Indonesia, Cassie jadi semakin susah untuk diatur. Hubungan ibu dan anak juga tidak sehangat dulu lagi. Lena merasa ada yang aneh dengan sikap Cassie akhir-akhir ini.
Cassie melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Hari masih pagi, jadi jalanan cukup lengang. Jika dugaan Cassie benar, maka Bima seharusnya berada di rumah sang nenek di daerah Bandung.
Cassie menyeringai selama perjalanan. Cassie tidak akan membiarkan Bima pergi darinya seperti dulu Bisma meninggalkannya. Dulu Cassie masih terlalu muda untuk memahami semua. Ia menerima begitu saja dengan semua penolakan Bisma. Kini semua telah berubah. Cassie tidak akan menyerah semudah itu.
#
#
#
Akhirnya Cassie tiba di rumah Lily, nenek Bima. Dengan amarah yang membuncah Cassie turun dari mobil. Dilihatnya rumah klasik yang terlihat asri itu. Cassie berjalan menuju pintu.
Cassie mengetuk pintu dengan tidak sabaran. Lama kelamaan suaranya menjadi gedoran.
Marni, sang asisten rumah tangga dengan tergopoh-gopoh membuka pintu dengan menggerutu.
"Siapa sih? Ini masih pagi kok sudah gedor-gedor pintu!" kesal Marni bergumam.
Begitu pintu dibuka, Marni melihat seorang gadis cantik tinggi semampai berdiri di hadapannya.
"Maaf, Nona. Cari si..."
Belum sempat Marni bertanya lebih lanjut, Cassie langsung nyelonong masuk tanpa permisi.
"Bima! Bima, dimana kamu?" Cassie berteriak sambil berkeliling rumah itu.
Marni yang kaget sontak berbalik badan dan ingin melerai Cassie.
"Bima! Keluar kamu!"
Teriakan Cassie membuat Lily keluar dari kamarnya. Ia bingung melihat gadis muda yang membuka pintu kamar satu persatu.
"Astaga! Siapa dia?" Lily memegangi dadanya yang terasa berdebar mendengar teriakan Cassie. Beruntung Marni kini sudah bersama dengannya.
"Saya tidak tahu, Nyonya. Nona ini tiba-tiba masuk dan berteriak," jawab Marni yang juga ketakutan melihat Cassie seperti kesetanan.
"Bima! Keluar kamu, Bima!" Cassie akhirnya menghampiri Lily.
Wanita 75 tahun itu ketakutan ketika Cassie mendekatinya.
"Dimana Bima, Oma?" tanya Cassie dengan mata memerah. Sudah habis kesabarannya menghadapi penolakan Bima terhadapnya.
Lily menggeleng. Sungguh ia ketakutan sekarang.
"Ka-kamu siapa? Kenapa mencari cucuku?" Lily menguatkan hati untuk bertanya.
"Aku adalah tunangannya Bima. Aku calon istrinya. Jadi sekarang Oma beri tahu aku dimana Bima?"
Lily kembali menggeleng. "Oma tidak tahu Bima ada dimana."
"Oma, jangan membohongiku! Tante Luze bilang Bima selalu datang kemari ketika melarikan diri. Cepat katakan, dimana Bima?"
Lagi dan lagi Lily menggeleng. Ia dan Marni saling berpelukan. Dalam hati Lily menjerit.
"Ya Tuhan, bagaimana bisa Danu dan Luze menjodohkan cucuku dengan gadis seperti ini? Pantas saja Bima melarikan diri."
"Tuan Bima tidak ada disini, Nona!" Suara berat Ujang akhirnya membuat Cassie menyerah dan memilih pergi.
"Bu, bawa nyonya ke kamar. Aku akan ambilkan air untuk nyonya," perintah Ujang pada istrinya.
Marni mengangguk dan membawa Lily masuk ke dalam kamar. Usai mengambil air minum, Ujang keluar dan meminta istrinya untuk menemani Lily. Ujang akan menemui seseorang.
#
#
#
Di sebuah desa yang tak jauh dari tempat tinggal Lily, seorang pemuda baru saja terbangun dari tidurnya. Ia melangkah menuju ke kamar mandi dan membasuh wajahnya.
Hawa dingin menyergap tubuh hingga ia tak berani berlama lama di dalam kamar mandi. Ia menuju ke luar rumah dan langsung disambut dengan hamparan perkebunan yang sangat asri.
"Kang Bima sudah bangun?" sapa seorang pemuda berusia 25 tahunan pada si pria yang baru saja terbangun dari mimpi.
"Hmm." Hanya dehaman saja yang keluar dari bibirnya.
"Hari ini kita panen singkong. Jadi, nanti kita sarapan singkong rebus," ucap pemuda bernama Dadang itu. Dadang adalah putra dari Ujang dan Marni.
Bima hanya mengangguk. Ia memeluk tubuh besarnya yang masih kedinginan.
"Akang tidak terbiasa dengan udara dingin ya?" tanya Dadang. Padahal Bima sudah tinggal disini hampir seminggu.
"Iya, aku sedikit alergi dingin. Meski dulu tinggal di luar negeri tetap saja aku masih belum terbiasa dengan udara seperti ini."
"Ya sudah, kita masuk saja. Aku akan merebus singkong ini dulu."
Bima mengangguk. Ia kembali masuk ke dalam rumah. Baru kali ini Bima merasakan kedamaian hidup di desa dengan semua kesederhanaan yang ada. Bima tidak pernah mengenal Dadang sebelumnya, tapi pemuda itu sangat ramah dan pekerja keras.
Bima duduk di kursi meja makan yang sederhana. Dadang tinggal sendiri di rumah karena ayah dan ibunya bekerja di rumah Oma Lily. Bima memperhatikan Dadang yang sedang memasak singkong rebus untuknya. Selama tinggal disini, Bima memakan makanan tradisional dan asli dari alam. Bima mulai menyukai kehidupannya di desa. Tapi, apakah ia harus terus tinggal disini?
"Den! Den Bima!" Suara Mang Ujang membuyarkan lamunan Bima.
"Den Bima!"
"Ada apa, Mang?" tanya Bima yang melihat Ujang tergesa masuk ke dalam rumah.
"Itu Den. Nyonya Lily!"
"Ada apa dengan Oma?" Bima panik mendengar nama neneknya disebut.
"Ada perempuan cantik datang dan membuat gaduh di rumah. Den Bima sebaiknya temui nyonya Lily. Beliau masih syok karena perempuan tadi mengamuk."
Tanpa pikir panjang, Bima segera keluar dari rumah dan pergi mengendarai sepeda motornya menuju ke rumah sang nenek. Hatinya bergemuruh hebat. Apakah itu Cassie?
Tiba di rumah Lily, Bima segera masuk ke dalam kamar sang nenek.
"Bima!" Lily merentangkan tangan dan bersiap menerima pelukan Bima.
"Oma, maafkan Bima. Maaf..."
Lily menggeleng. Ia merangkum wajah cucunya. "Bagaimana bisa papa dan mamamu menjodohkan kamu dengan gadis seperti itu? Dia sama sekali tidak memiliki sopan santun." Lily berusaha menguatkan hatinya.
"Maafkan Bima, Oma." Bima mengecup puncak kepala Lily. Lalu merebahkan tubuh renta Lily keatas tempat tidur.
"Oma istirahat saja. Bima akan mengurus semuanya."
Bima keluar dari kamar Lily. Ia meraih ponselnya dari saku celana. Sudah hampir satu minggu ia menonaktifkan benda pipih teknologi canggih itu. Mungkin sudah saatnya sekarang Bima menyalakannya.
Bima terkejut melihat ada banyaknya panggilan yang masuk ke ponselnya. Ada banyak panggilan dari Cassie.
Bima tersenyum kecut. Lalu kembali menscroll layar ponselnya. Nama Arjuna tertera disana. Ya, sudah pasti Arjuna kerepotan karena harus mengurus pekerjaannya juga.
Matanya tiba-tiba membola melihat nama yang sangat dirindukannya.
"Delia? Delia menghubungiku? Tapi, untuk apa? Bukankah dia sudah menikah dengan Daniel?" gumamnya bingung.
Lalu ada sebuah pesan masuk yang dikirim oleh Allan, sang asisten. Mata Bima makin melebar ketika membaca pesan dari Allan.
"APA! Jadi, Delia batal menikah dengan Daniel?"
#tbc