
Tiga hari lagi pernikahan Delia dan Daniel akan digelar. Meski begitu, Delia masih sibuk untuk mengurus pekerjaannya. Bahkan dirinya sengaja tidak mengambil cuti. Baginya ini bukanlah pernikahan impiannya. Ini hanya untuk memenuhi wasiat kedua kakek dari pihak Delia maupun Daniel.
Delia membaca ulang setiap perjanjian nikah yang sudah ia buat. Mau tidak mau Daniel harus bersedia menandatanganinya. Delia tidak mau menjadi wanita lemah yang hanya bisa pasrah menerima pengkhianatan Daniel.
Dan disinilah Delia sekarang. Mengundang Daniel untuk makan siang bersama dan menyodorkan beberapa lembar berisi perjanjian pernikahan mereka.
"Del, apa kita harus melakukan ini?" tanya Daniel dengan wajah sendunya.
"Iya. Mas sendiri yang menginginkan ini bukan? Jadi, jangan salahkan aku yang hanya mewujudkannya saja."
Daniel menghela napas. Setidaknya mungkin dalam tiga bulan pernikahan mereka, Daniel akan mencoba bersikap baik pada Delia. Siapa tahu Delia akan luluh dan membatalkan perjanjian pernikahan ini.
"Baiklah. Aku menerimanya." Daniel meraih pena dan membubuhkan tanda tangannya diatas materai.
Delia tersenyum lega. "Terima kasih atas pengertian Mas Daniel. Aku akan berusaha menjadi istri yang baik untuk Mas Daniel. Kalau begitu aku permisi dulu!" Delia mengambil kembali kertas itu dan menyimpannya, lalu pergi meninggalkan Daniel dengan wajah sendunya.
Kembali ke kantor, Delia bekerja seperti biasa. Raut wajahnya nampak biasa saja. Tidak ada raut bahagia atau pun bersedih.
Hidup harus terus berjalan meski banyak hal yang harus ia hadapi termasuk ... pria yang ada di hadapannya ini. Bima Antara.
"Saya minta draft kerjasama dengan Aye Butik. Mereka bilang akan mengambil rancangan desainku esok hari," ucap Delia enteng kepada Bima. Seakan tidak ada hal yang terjadi pada mereka.
Padahal jelas sekali, semalaman Delia terus memikirkan pria itu karena apa yang sudah ia katakan kepadanya. Tanpa bicara Bima hanya menyerahkan berkas yang Delia minta.
"Terima kasih." Delia menerimanya dan berlalu. Delia berusaha melakukan profesionalitas kerja dan tidak mencampuradukkan perasaan ke dalam pekerjaannya. Meski sebenarnya ia sangat tidak bisa mengontrol hati jika bersama Bima.
Delia masuk ke ruangannya dan menutup pintu. Ia berdiri di balik pintu dan memegangi dadanya. Semua ingatan tentang semalam kembali berputar.
"Lepaskan aku!" berontak Delia.
"Aku tidak akan melepaskanmu lagi!"
Mata Delia membola. Delia sangat tahu denga pria ini. Pria pemaksa yang berhasil mengobrak-abrik perasaan Delia. Pria dengan sejuta pesona yang digandrungi kaum hawa.
"Kenapa kau selalu saja menggangguku? Aku sudah akan menikah dan kau juga sudah bertunangan."
Bima terdiam sejenak. Tidak ada kata. Tapi ia tahu, semua yang keluar dari bibir Delia hanyalah kebohongan. Bima sengaja mengikis jarak diantara mereka. Bima ingin tahu seberapa kuat gadis ini bertahan dengan membohongi hatinya sendiri.
Bima memegangi tengkuk Delia dan memegangi pinggang gadis itu agar tidak menjauh.
"Hmmmmpphhh!"
Delia masih berusaha berontak ketika Bima menyatukan bibir mereka. Tak ada balasan dari Delia. Tapi Bima terus memaksa. Memaksa Delia agar mau membalas.
Lima detik...
Sepuluh detik...
Lima belas detik...
Bima bahkan menghimpit tubuh Delia ke dinding dibalik pintu. Janjinya tidak akan melepaskan gadis ini sebelum apa yang dilakukannya dibalas oleh Delia terbukti benar.
Delia kehabisan napas. Bima melepas sejenak. Ia menatap gadis yang sudah berkaca-kaca di depannya. Bima kembali meraup manisnya bibir Delia yang sudah menjadi her0in untuknya.
Delia pasrah. Tak ada yang bisa ia lakukan selain membalas apa yang Bima lakukan padanya. Bima tersenyum karena mendapat balasan dari Delia.
I got you!
Bima melepas satu demi satu kancing kemeja Delia. Mungkin caranya kotor, tapi hanya ini yang bisa ia lakukan agar Delia tidak bisa lepas darinya.
Hingga terdengar suara isakan dari bibir yang sedang berpagut dengannya. Bima tersentak. Ia menghentikan aksinya.
"Kenapa menangis? Bukankah kamu juga menyukaiku?" Pertanyaan Bima sungguhlah terdengar bodoh.
Delia menggeleng. Masih terdengar isakan tangis disana. Posisi Bima yang sudah berada diatas Delia berubah menjadi duduk.
"Tolong jangan ganggu aku lagi," pinta Delia dengan suara seraknya.
Bima memejamkan mata. "Berapa hutang keluargamu pada keluarga Daniel? Aku akan membayarnya!"
Delia tercengang. "Ini bukan soal uang! Ini soal hati orang-orang yang kusayangi. Aku tidak ingin melihat kekecewaan di mata mereka. Tolong mengertilah!"
Bima menghela napas. Ia mencoba tidak memaksakan kehendaknya lagi.
"Kau menolakku, Delia. Untuk kesekian kalinya, kau menolakku. Baiklah. Aku tidak akan memaksa lagi." Bima bangkit dari duduknya dan pergi dari apartemen Delia.
Niatnya untuk bicara jujur tentang kecelakaan masa lalu nyatanya harus gagal. Karena cara yang ia tempuh salah. Ditambah hati Delia yang keras dan tidak ingin mengecewakan kedua orang tuanya. Bima akan menjauh mulai dari sekarang.
#
#
#
Alunan musik khas pernikahan mengalun merdu ketika Delia berjalan menuju ke tempat dimana Daniel berada. Hari ini adalah hari besar untuk kedua keluarga.
Daniel tersenyum penuh kemenangan karena akhirnya akan menikah dengan Delia. Daniel akan benar-benar berubah setelah janji yang ia ucapkan nanti.
Delia berdiri disamping Daniel. Rasa gugup mulai menghinggapi. Bahkan Delia tak mampu menatap tamu undangan yang terdiri dari keluarga dekat dan sahabat. Delia takut jika matanya menangkap siluet Bima disana.
Tapi, sepertinya sosok itu memang tidak ada disana. Hanya ada Arjuna dan Aron yang jauh-jauh datang demi menghadiri pernikahan sahabatnya. Delia sedikit bernapas lega karena Bima tak ada disana.
"Baiklah, saudara Daniel Hazar dan Dewi Mulia Agung, kita mulai acara pernikahan kalian."
Daniel mengangguk. Ia sudah siap untuk mengucap janji di depan Tuhan.
"Tunggu! Hentikan pernikahan ini!"
Suara seseorang menggema di ruangan itu. Dan pastinya semua orang menatap kearah orang yang sudah menghentikan acara sakral hari ini.
Sosok yang adalah Selina berjalan menghampiri Daniel. Daniel dengan mata merah menahan amarah menatap tajam Selina.
"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Daniel lirih tapi penuh penekanan.
"Kita harus bicara, Tuan." Selina melirik Delia sekilas.
"Apa maksudmu?" Daniel amat kesal dengan Selina.
"Ikut denganku dan kita bicara! Atau kau mau aku mempermalukanmu di depan semua orang ini?" tegas Selina.
Daniel mengangguk patuh dan berjalan mengikuti langkah Selina. Sementara Delia hanya terdiam melihat mempelai pria meninggalkannya di altar pernikahan.
#tbc