Labuhan Cinta Tuan Bima

Labuhan Cinta Tuan Bima
Terjerat dan Terjebak



Daniel dan Delia saling pandang. Di saat seperti ini mereka tidak memiliki pilihan lain selain memenuhi keinginan Ciputra yang menginginkan pertunangan Delia dan Daniel tetap terlaksana.


Meski sangat terpaksa, Delia tetap mengulas senyumnya di depan sang ayah. Usai bicara dengan Ciputra, Daniel berpamitan untuk pulang.


"Soal biaya rumah sakit, biar aku sendiri yang menanggungnya, Mas." Delia menegaskan sekali lagi, ia tak ingin bergantung lagi pada Daniel.


"Delia, anggap saja sebagai penebus kesalahanku padamu. Aku mohon terimalah. Aku akan memindahkan om Putra ke ruang VVIP."


Delia menghela napas. Ia masih bingung sebenarnya apa yang diinginkan Daniel. Delia mengangguk sebagai tanda setuju.


"Ini adalah terakhir kalinya Mas membantu keluargaku. Setelah ini tolong jangan libatkan diri Mas dalam masalah keluargaku. Kita akan tetap bertunangan dan menikah, tapi kita akan bercerai setelah tiga bulan. Mas ingat kan apa yang Mas katakan di hotel waktu itu?"


Keputusan Delia sudah final dan tidak bisa lagi di debat. Daniel memilih benar-benar pergi sebelum Delia bertambah marah padanya.


Keesokan harinya, Delia tetap berangkat ke kantor seperti biasa. Akhir-akhir ini Delia sibuk mempersiapkan rancangan yang akan didaftarkan dalam Paris Fashion Week. Sebenarnya Vivian pernah menawarkan bantuan pada Delia, tapi Delia menolaknya. Dengan alasan ia ingin berhasil karena usahanya sendiri, bukan karena bantuan orang lain.


Delia kini malah sibuk menghitung uang yang ada di tabungannya. Delia sudah bertekad untuk membayar semua hutangnya pada keluarga Daniel.


"Uang tabunganku hanya ada segini. Masih kurang banyak," gumam Delia dengan memegangi keningnya yang pening.


"Del, akhir-akhir ini kau seperti sedang banyak pikiran, ada apa?"


Kedatangan Amy membuat Delia langsung menyembunyikan buku tabungan miliknya.


"Ah, tidak apa-apa. Aku hanya sedang memikirkan tentang rancangan untuk tim Paris Fashion Week. Aku ingin terpilih masuk kesana, My."


Amy merangkul bahu sahabatnya. "Kita pasti bisa lolos kesana, Del. Aku yakin dengan kemampuanmu. Apa aku harus meminta bantuan Papa untuk ini?"


Delia menyikut Amy. "Awas saja kalau kau berani melakukan itu!"


Amy tertawa kemudian Delia pun ikut tertawa. Amy adalah kawan yang bisa menghibur dirinyadi saat sedang banyak pikiran seperti ini.


Di tempat berbeda, Bima masih sibuk berkutat dengan berkas di mejanya. Sampai ia tidak menyadari kedatangan Luze yang sedang memperhatikan putranya bekerja.


"Akhirnya mama bisa menemuimu juga, Bim."


Suara sang mama membuat Bima mendongak. "Mama?!" Bima kaget bukan kepalang. Ia tak sadar jika sekarang adalah waktunya jam makan siang.


Bima tak bisa mengelak lagi ketika Luze mengajaknya makan siang bersama. Luze bahkan sudah memesan private room agar bisa bicara leluasa dengan sang putra.


"Bim, bagaimana kerjaan kamu?" Luze memulai percakapan dengan berbasa basi lebih dulu.


"Baik, Ma." Bima menjawab dengan santai.


"Maafkan papamu ya! Jangan diambil hati."


Bima menghela napas. "No problem, Ma. Bima tidak marah kok. Bima hanya tidak ingin suasana menjadi runyam karena Bima."


"No, honey. Mama yang harus minta maaf padamu."


Bima mengangguk. "Tidak masalah, Mama tidak perlu meminta maaf."


"Hmm, Bim. Apa ... kamu masih ingat dengan Cassandra? Anaknya om Erwin dan tante Lena." Kini Luze mulai masuk ke obrolan yang menjadi tujuannya datang menemui Bima.


"Ingat, kenapa Ma?" Bima masih menjawab santai sambil menyantap makan siangnya.


"Katanya dia akan kembali ke Indonesia. Dan kamu tahu, om Erwin masih ingin melanjutkan perjodohan yang sempat gagal. Dia bilang, dia ingin menjodohkan Cassandra denganmu."


Seketika Bima menghentikan makan siangnya. "Apa maksud mama? Mama ingin aku dijodohkan dengan Cassandra menggantikan kak Bisma?"


Bima menggeleng pelan. "Apa di mata kalian aku hanyalah seorang pengganti? Apa aku tidak pernah kalian anggap sebagai anak kalian?"


"Yang dijodohkan dengan Cassandra adalah kak Bisma. Dan karena kak Bisma meninggal maka kalian melimpahkannya padaku? Tidak! Aku menolak perjodohan ini!" Bima segera beranjak dari duduknya.


"Bima!" panggil Luze.


"Jika mama datang menemuiku hanya ingin mengatakan ini, maka aku minta maaf. Aku dengan tegas menolak semua ini!"


Luze menghela napas. "Baiklah! Mama akan ikuti keinginanmu. Tapi, dengan satu syarat!"


Bima menatap Luze penuh tanya.


"Bawakan seorang gadis ke rumah sebagai calon istrimu, maka mama akan membatalkan perjodohanmu dengan Cassandra."


"Ma!" protes Bima.


"Tidak ada protes! Mama sudah bosan melihatmu terus bermain-main dan hanya sibuk dengan pekerjaan. Bawakan calon menantu untuk mama!" Luze tidak mau kalah dengan sang putra.


"Satu bulan! Mama memberimu waktu satu bulan! Jika kamu tidak bisa membawakan calon menantu untuk mama, maka kamu harus menerima perjodohan dengan Cassandra."


Bima berpikir sejenak. Rupanya sang mama memang berniat untuk menjebak dan menjeratnya dalam sebuah perjodohan. Tak ingin membuat mamanya curiga, Bima pun menyetujuinya.


"Baiklah! Aku akan membawa calon istri ke hadapan mama!"


Setelah menjawab, Bima memutuskan untuk kembali ke kantor.


Keesokannya, Bima kembali berkutat dengan pekerjaannya. Namun sejak pertemuannya kemarin dengan Luze membuat pikiran Bima tidak bisa fokus bekerja.


"Sial! Aku harus bagaimana? Kenapa mama harus mengancamku begitu sih? Aku harus mencari kemana lagi gadis itu? Aku bahkan tidak tahu namanya. Tapi aku bertekad, jika aku menemukannya, maka aku akan membawa dia ke hadapan mama sebagai calon istriku!" seru Bima.


"Calon istri? Calon istri siapa, Bang?"


Kebiasaan Stella adalah suka masuk tanpa permisi ke ruangan Bima.


"Ish, kau! Kalau masuk ketuk pintu dulu!" sungut Bima.


"Hehe, maaf Bang. Tanganku penuh dengan berkas. Ini, Bang! Klien abang semakin hari semakin bertambah banyak saja. Apakah perceraian kini menjadi hobi bagi sebagian masyarakat ya?"


Bima menjitak kepala Stella. "Mana ada yang menikah karena ingin bercerai? Letakkan saja disana! Nanti abang baca semua berkasnya!"


Stella meletakkan tumpukan berkas di meja samping meja Bima.


"Oh ya, Bang. Ini tadi ada orang suruhan kak Daniel datang kesini. Dia bawa undangan ini untuk abang."


"Undangan? Undangan apa? Letakkan saja disitu! Aku sedang sibuk!"


Stella mencebikkan bibirnya. "Dasar sok sibuk!" gumam Stella.


"Aku memang sibuk, Stell. Oh ya, ngomong-ngomong undangan apa itu?"


"Hmm, sebentar aku baca. Undangan pertunangan, Daniel Hazar dan Delia Agung. Acaranya besok malam, Bang. Pastikan abang datang ya! Tadi begitu pesan orang suruhan kak Daniel." Stella meletakkan kembali undangan itu di atas tumpukan berkas.


"Hmm, iya baik," sahut Bima masih sibuk dengan berkasnya.


"Kak Daniel saja sudah mau tunangan, abang sendiri kapan cari jodoh?"


"Berisik! Jangan menggangguku!" Bima melempar sebuah pena dan mengenai kepala Stella.


"Ouch! Abang jahat deh! Kudoakan semoga abang lama ketemu jodoh!" Stella keluar dari ruangan Bima dengan menjulurkan lidahnya.


#tbc