Labuhan Cinta Tuan Bima

Labuhan Cinta Tuan Bima
Merindukanmu Setiap Hari



Hari senin kembali menyapa. Delia sudah siap untuk memulai jadwal padatnya. Pastinya mulai hari ini semua akan berbeda. Delia tidak akan bisa lagi melihat sosok Bima yang berada di sebelah ruangannya.


Delia sadar jika dirinya dan Bima sudah terlampau jauh. Apalagi kini Bima adalah seorang CEO perusahaan besar. Makin bertambah jauh jarak diantara mereka.


Delia mulai berkutat dengan pekerjaannya. Ia tak suka bermalas-malasan karena itu akan merugikan dirinya sendiri. Ia menuju ke ruang produksi dan mulai memilih bahan untuk desain yang sudah ia cetak.


"Hooam!" Delia menguap. Rasa kantuk terkadang mulai menyerang ketika dirinya sedang bekerja.


"Permisi, Mbak Del. Ini ada titipan dari mas kurir, katanya pesanan mbak Del." Seorang office boy menyerahkan sebuah paper bag untuk Delia.


"Hah?! Pesanan? Sepertinya aku tidak memesan apapun." Meski bingung Delia tetap menerimanya.


"Kopi? Siapa yang mengirimnya?"


Delia menuju ke ruangannya dan membuka paper bag itu. Ia langsung menyeruput kopi yang dikirim untuknya.


"Hmm, baunya sangat harum." Delia mulai kembali bersemangat.


Waktu sudah menunjukkan pukul 12 siang. Orang-orang mulai pergi ke kantin untuk makan siang. Delia masih berkutat dengan pekerjaannya.


Tiba-tiba seorang OB kembali mendatanginya.


"Permisi, Mbak. Ini ada kiriman, katanya pesanan mbak Del."


Delia kembali mengernyit. Hari ini banyak sekali kejutan untuknya. Dan anehnya ia tidak tahu siapa yang mengirim.


"Tunggu dulu, Mas Parjo. Ini benar untuk saya? Soalnya saya sama sekali tidak memesan apapun. Dan kopi tadi pagi juga..."


"Ya ampun, Mbak. Masa saya bohong sama Mbak Del. Kurirnya sendiri yang bilang kalau ini pesanan Mbak Delia Agung."


Delia kembali terdiam. Ia akhirnya mengangguk dan menerima kejutan-kejutan aneh di hari ini.


"Siapa yang iseng sih?" gumam Delia tapi tetap membuka isi bungkus makanan yang terlihat menggugah selera itu.


"Hmm, ramen? Sepertinya sangat enak. Sebaiknya aku makan dulu," ucap Delia dengan penuh kebahagiaan.


"Yang namanya rejeki jangan ditolak," ucapnya lagi.


#


#


#


Sudah tiga hari Arjuna menjadi mata-mata untuk Bima. Arjuna mengawasi gerak gerik Delia dan melaporkan semuanya pada Bima. Bahkan tiap kali Delia mengeluh, Bima dengan sigap memberikan kejutan untuknya.


Mulai dari Delia mengeluh ngantuk, Bima memesankan kopi. Delia mengeluh lapar, Bima memesankan makanan. Dan ketika Delia dilanda kegundahan, Bima mengirim kue coklat dan puding agar hari Delia lebih ceria.


Arjuna sudah mulai jengah dengan tugasnya tiga hari ini. Arjuna bertambah kesal ketika Bima malah tertawa keras mendengar keluh kesahnya.


"Hahahah, terima kasih banyak, kawan. Kau tenang saja, aku akan menepati janjiku yang akan membeli gedung milik ayahmu." Bima menepuk pundak Arjuna.


Saat ini mereka sedang ada di sebuah klub malam. Bima sengaja mengundang Arjuna untuk menyudahi tugasnya.


"Kau serius akan membelinya?" tanya Arjuna tak percaya.


"Aku selalu menepati janjiku. Setelah itu kedua adikmu bisa bekerja disana setelah aku merenovasi seluruhnya."


"Thanks, Bim. Kau yang terbaik!"


"Yeah, sama-sama. Kau sudah banyak membantuku selama tiga hari ini. Semoga Delia bisa luluh denganku."


Arjuna mengedikkan bahu. "Delia bukan gadis seperti itu. Tapi, apapun itu, kudoakan yang terbaik untukmu. Oh ya, dimana kau mengenal Delia? Soalnya selama Daniel bersama dengannya kau tidak pernah tahu soal itu kan?"


Bima mengangguk. "Ceritanya panjang. Aku bahkan sudah mengenalnya sejak dia masih remaja dulu. Kalau begitu kau bersenang-senanglah. Aku pergi dulu." Bima berpamitan.


Bima memanggil satu wanita untuk menemani Arjuna malam ini. "Have fun, Bro." Bima mengedipkan sebelah matanya pada Arjuna.


Seorang wanita seksi dengan riasan tebal duduk di samping Arjuna. Dressnya yang minim membuat lekukan tubuhnya terlihat jelas oleh mata Arjuna.


Mata Arjuna terpejam merasakan tangan wanita itu mulai bergerilya dengan lincahnya.


"Kita ke kamar saja!" Arjuna menarik tangan wanita itu dan langsung membawanya ke sebuah kamar yang tentunya sudah disiapkan oleh Bima.


Arjuna mendorong kasar wanita itu hingga terjerembab diatas tempat tidur. Tubuhnya langsung mengungkung tubuh si wanita yang ia ketahui bernama Catherine.


"Lakukan tugasmu dulu, Baby. Baru kau bisa mendapatkan ini!" ucap Arjuna dengan menunjuk juniornya.


Catherine tersenyum dan mulai menukar posisi. Arjuna kini berada dibawah. Dengan lincah tangannya melepas jas dan kemeja Arjuna. Lalu melepas ikat pinggang dan membuka resleting celana Arjuna.


Dengan lihai Catherine memainkan tangan dan mulutnya di junior Arjun, membuat Arjuna mengerang nikmat. Ia menekan kepala Catherine hingga miliknya terbenam sempurna di mulut Catherine.


"Ah, sial!" Arjuna mengumpat. Bayangan Amy tiba-tiba muncul di pikirannya.


"Minggir! Hentikan!" Arjuna meminta Catherine berhenti.


Arjuna membenahi penampilannya yang sudah hampir polos. Ia membayar Catherine dan memilih pergi.


"Sialan! Kenapa wajah gadis itu malah muncul di saat aku sedang menikmati sentuhan dari wanita penghibur? Benar-benar membuatku malas untuk bercinta."


Arjuna memilih pergi dari klub dan mengendarai mobilnya membelah jalanan kota.


Sementara itu, Delia sedang membersihkan toilet di kamar mandi apartemennya. Ia yang kehabisan pembersih toilet lantas memesan layanan online apartemen.


Tak lama bel berbunyi. Delia yang masih berada di kamar mandi segera beranjak dan menuju pintu. Ia mengambil beberapa lembar uang untuk membayar si kurir.


Mata Delia terbelalak setelah membuka pintu. Bukan kurir yang datang, melainkan seorang pria yang akhir-akhir ini mengganggu pikirannya.


"Tu-tuan Bi-bima?" ucap Delia terbata.


Bima mengulas senyum termanisnya. "Selamat malam, Delia. Boleh aku masuk?"


Delia masih mematung di depan pintu. Delia baru sadar jika penampilannya saat ini sangatlah berantakan. Kaus oblong kedodoran dan celana pendek diatas paha. Rambut yang juga berantakan karena dicepol asal keatas.


Delia memejamkan mata merutuki penampilannya yang ngasal.


"Silakan masuk!"


Delia mempersilakan Bima masuk. Delia segera bergegas menuju kamar. Ia menatap dirinya di depan cermin.


Delia melepas ikatan rambutnya dan mengganti kausnya dengan hoodie yang ada di balik pintu kamarnya. Delia mengatur napasnya. Entah kenapa rasanya begitu gugup setelah lama tidak bertemu Bima.


Delia kembali ke ruang tamu dan menyapa Bima.


"Hmm, mau minum apa?" tanya Delia basa basi.


"Apa saja," jawab Bima.


Delia segera berjalan menuju dapur. Ia kembali memegangi dadanya yang bergemuruh.


"Ya Tuhan! Kenapa dia tiba-tiba datang kemari?"


"Apa aku tidak boleh datang?"


"Hah?!" Delia kaget karena Bima ternyata ada di belakangnya. Delia segera berbalik.


"Tu-tuan!"


Tanpa bicara lagi Bima langsung memeluk Delia dengan erat.


"Kau tahu, aku selalu merindukanmu, Delia. Setiap hari aku selalu merindukanmu..."


Delia hanya diam. Ia bahkan tidak membalas pelukan Bima. Harus Delia akui, jika dirinya juga merindukan Bima.


"Terima kasih. Terima kasih karena sudah datang," ucap Delia dalam hati.


B e r s a m b u n g