
Ditengah perjalanan, ia tidak bisa berpikir jernih kenapa sampai teganya Edgar melakukan hal seperti itu didepannya.
Pak Syam yang melihat Nona mudanya tersebut mengerti betapa hancur dan rapuhnya seperti apa. Pak Syam sendiri tidak mampu berbuat apapun.
Disaat matanya fokus menatap ke depan, Pak Syam tidak sengaja melihat buah mangga muda ditangannya.
"Non.." Panggil Pak Syam.
Zerlyn menoleh melihat Pak Syam melalui Visi Mirrornya "Hmmm.. Ada apa Pak?." Tanya Zerlyn.
"Anu.. Itu, ditangan Non.. Hmmm.. Maaf itu apa?." Jawab Pak Syam setengah gugup.
"Akh, ini buah mangga muda Pak, jika Pak Syam mau silahkan ambil saja." Ucapnya sambil memberikan buah mangganya.
"Ekh!! Tidak perlu Non, bapak hanya bertanya saja."
"Tidak apa apa Pak, atau nanti berikan saja sama Bik Nur mungkin dia suka." Usul Zerlyn.
"Baik Non. Hmmm.. Mau ngambil jalan pintas tidak Non?." Tawar Pak Syam.
"Memang kenapa?." Tanya Zerlyn dengan alis mengkerut bingung.
"Macet parah Non, kalau tidak sampai mansion tepat waktu nanti Non dimarahin sama Tuan." Jelas Pak Syam.
"Terserah Pak Syam saja."
Pak Syam mengangguk kemudian memutar kemudinya untuk mengambil jalur arah kiri. Jalur yang tidak terlalu jauh, namun sangat sepi dan jarang ada yang melintas.
Sisi kanan kirinya masih terdapat pepohonan hijau yang menjulang tinggi serta jalan yang terjal dan memiliki banyak tikungan tajam.
"Loh!! Pak, ko berhenti? Sudah sampai?." Tanya Zerlyn.
"Tidak Non, tapi mobil didepan menghalangi jalan." Jawab Pak Syam.
Zerlyn lantas menoleh dan mengkerut keningnya merasa curiga dan seperti tidak ada yang beres.
"Saya mau mengeceknya dulu sebentar Non." Tanpa menunggu persetujuan lebih dulu, Pak Syam beranjak keluar.
Mata itu membulat sempurna saat melihat Pak Syam perutnya mengeluarkan darah segar. Dengan langkah buru buru, Zerlyn segera keluar menemui Pak Syam.
Baru beberapa langkah, dibelakangnya tangan kekar itu menutup mulutnya lebih dulu.
Zerlyn tak mampu berontak, sesaat kedua netra itu saling memandang. Bibirnya kelu, pikirannya kacau serta tubuh yang merasakan teramat sakit menyaksikan kejadian yang tidak seharusnya ia lihat.
Dengan tenaga yang tersisa, Pak Syam mengambil ponselnya lantas menghubungi Edgar.
**
Suara tertawa menggema diruangan nuansa serba gelap menyaksikan daging segar didepannya. Mulut terkunci, tangan terikat yang memberontak meminta untuk dilepaskan.
"Hallo sayang, apa kabarmu?." Tangannya segera membuka penutup mulutnya.
"Cihh! Breng@! Mau apa kalian!." Zerlyn menatap sinis ketiga mahluk dewasa didepannya.
"Kau bertanya mau apa? Ckk!! Pertanyaan yang sangat bodoh!."
"Cepat katakan! Apa mau kalian!."
"Membunuhmu termasuk bayi dalam kandunganmu!."
Zerlyn menggeleng keras berusaha mencerna ucapan mereka yang mengatakan itu hanyalah omong kosong belaka. Namun rupanya, pikirannya meleset sesaat melihat pisau tajam ditangannya.
"Bos, lebih baik kita main main sejenak sebelum membunuhnya."
"Kau ternyata sangat pintar sekali."
Bibirnya tersenyum miring menatap bongkahan daging yang terikat tali dikursi lapuk tersebut. Kepala yang terus menggeleng kerangat dingin membanjiri pelipisnya.
SRREKK!!!!
Pisau tajam mengenai pipi mulusnya, darah keluar merembes disela sela goresan tipis memanjang namun terlihat dalam. Terbukti dengan darah itu terus mengalir tanpa henti.
Zerlyn ingin memberontak, namun ia tak mampu. Pikirannya melayang seketika teringat dengan Edgar. Bayang bayang saat bersama wanita lain didepan matanya sendiri.
Memikirkan hal itu, lebih baik dirinya mati saat ini juga. Dengan berusaha untuk tetap tenang, menikmati setiap proses apa yang akan dilakukan selanjutnya.
Terkecuali jika sampai membunuh bayi dalam kandungannya, Zerlyn tidak akan tinggal diam. Meskipun ia tau Edgar menolaknya.
Melihat mangsanya hanya diam dengan tatapan kosong kedepan, alisnya seketika mengkerut bingung. Awal yang tadinya memberontak perlahan menjadi diam membisu.
Zerlyn hanya memandang matanya sekilas, pancaran kilatan cahaya amarahnya memuncak namun tetap berusaha menahannya.
"Kalau kau diam, itu artinya apa kau ingin aku melanjutkannya?."
Lagi, Zerlyn hanya diam mematung menikmati darah yang sudah mulai membanjiri bahunya.
"Baiklah, karna kau tidak menjawabnya sejak tadi aku melanjutkannya dengan secara perlahan sayang. Setelah itu, aku akan membunuh bayi dalam kandunganmu."
SRREEKKK!!!
PPLAAKKK!!!
BBUGGHH!!
"ARRGHHH!!!."
"Hahaha!! Teruslah bersuara seperti itu sayang, aku sangat menyukainya."
Zerlyn melotot matanya menatap tajam ke arah suara itu melihat dia yang sedang tersenyum puas melihat penderitaannya.
"Bagaiamana rasanya? Apa kau menyukainya? Apa kau sudah sadar sekarang? Namun itu tidak sebanding dengan rasa sakit hatiku!."
"Oh Ya? Kalau kau memang menyukainya, ambil saja! Aku tidak sudi menjadi pesaingmu! Dari dulu kau yang menolaknya! Bukan aku!."
"Ckk!!! Kau selalu saja membantah apa yang aku ucapkan. Tapi, tidak masalah aku menyukainya meskipun itu bekasmu."
"Pesaingku? Fisik jelekmu saja tidak pantas bersanding dengannya! Hanya aku! Yah! Hanya akulah yang pantas untukknya! Bukan kau! Kau merebut segalanya, merebut apa yang sudah menjadi milikku! Sebutan apa yang pantas untukmu, bajing@! Sialan!." Tangan itu mencengkram kuat dagunya kemudian menamparnya kembali dengan keras.
PPLLAAAKKKK!!!
Sudut bibirnya robek wajahnya hampir tidak bisa dikenali akibat terlalu banyak darah disetiap inci wajah cantiknya.
"Merebut dia darimu? Cihhh!! Picik sekali pikiran kotormu! Kau berselingkuh dengan Alfred mantanmu, kau mencuri saham perusahaan DXA, lalu memilih pergi ke luar negeri menikmati kebebasanmu bersama Alfred! Setelah bangkrut kau meminta bantuan yang lain. Dan sekarang, nikmatilah proses kehancuran hidupmu!."
"Ya! Karna akulah yang pantas mendapatkannya! Bukan seperti anak haram seperti mu! Semuanya bangkrut dan kacau! Belum puas kau menghancurkan segalanya Hah!!."
"Harusnya gunakan otakmu dengan benar!."
"Tidak perlu mencerahamiku! Karna sekarang, nyawamu ada ditanganku! Setelah ini, tidak akan ada lagi yang bisa merebut dia dariku!."
"Cebat bunuh dia! Sebelum mereka datang lebih dulu!."
Zerlyn kembali memberontak sekuat tenaganya, namun usahanya sia sia. Entah memang bawaannya, ia sendiri tidak mengerti dengan tubuhnya secara tiba tiba menjadi lemah.
BLLESSSSS!!!
"ARRGHHHH!!!!."
BRAAAKKK!!!
DDORRR!!!
DDOORRRRR!!!!
"ZERLLYNNN!!!."
Matanya melotot tajam melihat istri kecilnya tersengkur dengan pisau menancap di perut buncitnya. Batin itu membenarkan jika istrinya ternyata tengah mengandung.
Dengan sigap dan cepat tangannya mencabut pisau diperutnya, membelai wajah yang berlumuran darah. Tangis pecah menyesali segala perbuatannya, benar benar sangat meyesal memperlakukan istrinya dengan buruk. Apalagi ketika ingatannya kembali teringat waktu diresto.
Air mata disertai tangan mengguncangkan tubuh lemahnya menepuk pipi itu secara pelan.
"ZERRLYNNN!! Bangun sayang, aku minta maaff!!." Isaknya dengan bahu yang bergetar hebat.
Pikirannya menjadi kalut serta otaknya tidak bisa berpikir dengan jernih. Sesaat setelah menekan urat nadi itu tidak berdetak apalagi dengan suara detak jantung dan nafasnya tidak terdengar.
"ZERRLLYNNNN!!! Please aku mohon!! Kali ini saja beri aku kesempatan sekali lagi. Aku mohon!! Aku mencintaimu, please bangunlah!! Lihat aku, aku datang untuk menyelamatkan dan menolong bayi kita. Please buka matamu, maaf kalau aku terlambat datang untukkmu."
Berkali kali bibirnya mengatakan kata maaf dan memohon untuk membuka matanya meskipun itu hanya satu detik. Namun rupanya semeseta seolah enggan memberikan satu kesempatan untuk kembali melanjutkan hidupnya.
END.
TERIMA KASIH. MOHON MAAF JIKA MEMILIKI KESALAHAN DALAM PENULISAN KATA, TYPO ATAUPUN MEMILIKI KESAMAAN NAMA.
DAN, JIKA CERITANYA GAJELAS HARAP MAKLUM INI NOVEL PERTAMAKU. DALAM PENULISANNYA MASIH BANYAK YANG PABELIT.
TERIMA KASIH.