
Bukannya pulang ke mansion, Zerlyn lebih banyak menghabiskan waktu diluar sesekali mencari kesempatan.
Zerlyn berpikir kapan lagi bisa bebas seperti ini?.
"Dimana sarapanku?." Tanya Zerlyn kepada Frans.
"Ada didalam Nona, sepertinya sedang menunggu anda apa perlu saya mengantarkannya langsung? Jika tidak nanti akan membusuk." Jawab Frans.
"Kau sepertinya sangat tidak sabaran Frans." Zerlyn tersenyum miring menatap pria tampan tengah duduk didepan komputer.
"Anda tau Nona selama ini saya sudah lama tidak sarapan daging yang segar?." Tukas Frans mengutarakan keinginannya.
"Hmmm.. Ya aku tau itu, bagaimana kau sudah mengintrogasinya?."
"Masih sama seperti kemarin dan jawaban yang sama. Saya berulang kali memberikannya kenikmatan serta berbagai pilihan tapi mulut menjijikan itu tidak pernah mengatakan apapun."
"Aku rasa dia seperti memiliki ilmu hitam Frans dan kau tau jika ciri daging seperti itu akan sangat nikmat jika kita sedikit mencicipinya?."
Frans sekilas menatap Zerlyn yang masih meggunakan seragam sekolah, menatap matanya dengan kode isyarat Frans tersenyum miring mengetahui ide konyolnya.
"Bukan ilmu hitam Nona, lebih tepatnya dukun apalagi jika ditambah dengan kopi hitam dan taburan bunga 7 rupa diatasnya."
"Disajikan diatas piring besar lalu ditaburi lelehan mayones dan sedikit toping keju."
"Wow!! Membanyangkannya saja membuat saya tidak sanggup Nona, apalagi jika.. Hmmm.. Akh!! Saya memggunakan pisau besar ini untuk mencincang dagingnya." Ujar Frans seraya mengambil pisau daging kemudian menunjukan ke arah musuhnya yang masih terikat dengan tali.
Matanya melotot tajam melihat pisau ditangan Frans, bermain sedikit dengan mengayunkannya seolah akan menebas lehernya hingga putus.
"Ditambah irisan bawang goreng serta jeruk limo, sayuran sekebon dan cabai rawitnya 5 biji."
"Jangan lupakan gorengannya Nona."
Zerlyn terkekeh tak lama ponselnya berdering, segera Zerlyn mengangkatnya dan memberikan isyarat kepada Frans untuk jangan berisik.
"Hallo?." Sapa Zerlyn.
"Hallo Zerlyn, ini mamah." Ucap Ny.Hellen disebrang telepon.
"Huhh?? Mamah??." Tanya Zerlyn bingung.
"Astaga!! Hellen Zerlyn." Jawab Ny.Hellen.
"Ekh, mamah ada apa?."
"Kau dimana sekarang? Sekolahmu sedang free kan?."
"Ekh, iya mah. Hmmm.. Zerlyn sedang pergi." Jawab Zerlyn setengah gugup.
"Pergi? Dimana? Dirumah sakit juga tadi mamah cari tidak ada? Bukannya temanmu dirawat disana?."
"Iya Mah, tapi sudah pulang ini masih dirumahnya." Jelas Zerlyn menelan slavinanya. Dalam batin itu berkata semoga Ny.Hellen tidak murka jika Zerlyn tengah berbohong.
"Dirumahnya? Jadi kau ikut pulang bersama mereka?."
"Benar Mah, maaf Zerlyn tidak meminta ijin lebih dulu. Apa mamah sudah tau?."
"Sudah tau? Maksudnya?."
"Bukannya tadi mamah mengatakan mereka?."
"Ah ya, Kau tadi pergi bersama 3 wanita kan? Dua orang seperti seumuran denganmu, dan satunya lagi wanita dewasa tangan mereka membawa begitu banyak barang."
Zerlyn mengusap wajahnya gusar kemudian menatap Frans yang juga sedang menatapnya. Lantas Frans menaikkan satu alisnya "Apa?."
Zerlyn tidak menggubrisnya lantas segera menjawab pertanyaan Ny.Hellen "Ii--ya Mah, koe mamah bisa tau?."
"Tadi mamah tidak sengaja melihatmu."
"Kenapa tidak memanggilku mah? Kalau tau gitu, Zerlyn tidak mungkin melangkah terus."
"Tidak sempat, mamah sibuk dirumah sakit mengurus serta mengecek yang lain sama papah."
"Sama papah? Papah juga ada disana?."
"Iya Zerlyn. Sekarang temui mamah di mal X yah mamah lagi ada arisan setelahnya kita belanja untuk nanti malam mamah akan memperkenalkan menantu mamah yang cantik sebagai istri dari Varessham."
"Huhh?? Memperkenalkan ke publik??." Tanya Zerlyn terkejut.
"Iya!! Biar semua kolega bisnis tau jika Edgar sudah memiliki istri, mamah tidak suka melihat wanita centil selalu saja berdekatan dengan Edgar."
"Tapi Mah--"
"Sudahlah cepatan kesini, bilang lokasinya sekarang dimana biar Pak Syam menjemput."
"Tidak perlu mah, Zerlyn bisa naik taksi."
"Hmmm.. Yasudah, cepetan Mamah menunggu."
TUTUT!!
Zerlyn mengatur nafasnya sejenak, menutup matanya lalu memijat kepala yang terasa pening.
"Apa ada masalah Nona?." Tanya Frans.
"Banyak Frans, malam ini akan ada acara dihotel X dan Ny.Hellen mengundangku menyuruh datang kehotel itu. Rasanya sangat malas sekali." Jawab Zerlyn.
"Aku tau Nona, kebetulan sekali. Tapi anda tenang saja identitas anda akan aman nanti." Ujar Frans.
"Maksudmu?." Alis Zerlyn mengkerut bingung.
"Saya bersama Fhai juga diundang, mengingat Fhai adalah hal poin penting utama dihotel tersebut. Apalagi sekarang Fhai sangat sibuk sibuknya, belum lagi harus mengahadiri rapat penting dengan perusahaan tertinggi." Jelas Frans.
"Rapat soal apa? Kenapa tidak memberitahuku sebelumnya?."
"Mungkin Fhai tidak sempat Nona, rapat membahas project dengan Varessham tentang hotel baru mereka yang dulunya sempat terpuruk akibat ulah dari serangan virus misterius. Ny.Hellen sendiri sangat sedih, emosi dan murka begitu sangat marah saat mendengar kabar hotel akan jatuh drastis. Mengingat hotel itu adalah kenangan memori tahun silam."
"Memori tahun silam?."
"Hotel yang masih mempertahankan kerjasama dengan DXA group. Mengingat perusahaan itu sudah bangkrut 10 tahun silam."
"Kau tau tentang perusahaan itu Frans?."
"Tidak, saya sendiri sudah mencari info dengan detail namun yang saya dapatkan adalah terdapat banyak anak buah LEMOS berjaga ketat digedung perusahaan tertinggi dinegara A itu."
"LEMOS? Akh, aku jadi teringat waktu Miller mengatakan hal itu Frans."
"Miller? Siapa dia?." Tanya Frans.
Frans diam sejenak untuk mencerna ucapan Zerlyn sekilas Frans merasa tidak asing dengan nama itu.
"Untuk apa mereka menjaga ketat gedung itu?."
"Maaf untuk hal itu saya tidak apa alasannya Nona."
"Lalu, apa kau sudah bertugas dengan baik?." Tanya Zerlyn membuyarkan lamunan Frans.
Frans melongo menatap Zerlyn dengan bingung "Huhh??."
Zerlyn memutar bola matanya "Sejak kapan otakmu jadi lemot."
Frans menggaruk lehernya yang tidak gatal "Hehe saya membutuhkan insfirasi baru Nona."
"Baiklah, kau cari tau tentang foto ini lalu cari nama MILLIE BERNADETTE." Tangan Zerlyn menyerahkan satu lembar foto tepat didepannya.
Frans segera mengambil foto tersebut bersamaan tangan Frans menggenggam tangan Zerlyn. Zerlyn terkejut dan melotot menatap Frans.
"Maaf Nona, jika tidak seperti ini saya susah untuk mengambilnya." Jelas Frans.
Zerlyn mengangguk memang ini adalah kesalahannya yang manaruh foto diatas dada pria itu.
"Sekarang antarkan aku ke Mall X sebelum Ny.Hellen murka dan untuk masalah itu terserah kau ingin jadikannya apa aku percayakan padamu." Perintah Zerlyn.
"Perlu saya membunuhnya langsung?." Usul Frans.
"Biasanya kau tidak pernah bertanya padaku lebih dulu. Tanpa aku menjawabnya pun kau sudah tau setiap caramu mempermainkannya."
"Nona selalu tau apa yang saya inginkan, terima kasih untuk hadiahnya."
Zerlyn tersenyum kecut "Apa itu terlalu kurang untukmu?."
"It seems so. And you already know that one fresh meat will not be enough for me." Ujar Frans.
"Alright I'll let you go this time, be happy to find and hunt your prey." Balas Zerlyn menggelengkan kepalanya pelan.
"Exactly Miss! Tonight I will have fun with them later." Frans seolah tidak sabar menunggu malam itu tiba.
"Apa kau sudah membereskan semuanya?." Tanya Zerlyn.
Frans mengangguk "Sudah selesai Nona." Kemudian mengikuti langkah Zerlyn didepan.
**
Saat dalam perjalanan, suasana itu tampak hening Frans fokus mengemudi sedangkan Zerlyn sibuk dengan ponsel jadulnya.
"Frans, apa mereka sudah selesai bertugas?." Tanya Zerlyn.
"Siapa Nona?." Jawab Frans sekilas menatap kesampingnya.
"Jasper dan Julian."
"Sudah, laporan seluruhnya tersimpan langsung dan terhubung ke ponsel milik Anda."
"Dimana mereka sekarang?."
"Fhai mengalihkan tugasnya ke hotel X sedagkan Julian fokus untuk meretas cctv serta lainnya."
"Kenapa? Bukannya Fhai sendiri yang mengatakan waktu itu jika dirinya sendiri yang akan mengalihkannya di hotel X?."
"Benar, Fhai juga merasa sedikit kesal mengingat ada beberapa meeting penting yang tidak bisa di handle oleh Della."
"Sekertarisnya?." Tebak Zerlyn.
"Ya,lebih tepatnya pengagum rahasia."
Zerlyn terkekeh "Kau mengatakan seolah tau kebenarannya."
"Tentu, Della memang cantik hanya saja terlalu ambisi ingin mendapatkan Fhai sampai rela menyerahkan tubuhnya."
"Oh ya? Lalu?." Tanya Zerlyn antusias mendengar cerita dari Frans. Apalagi Zerlyn yang memang tidak tau pribadi Fhai lebih dekat mengingat Zerlyn jarang datar ke kantor.
Meski Fhai statusnya sebagai Asisten hanya mencakup masalah kantor serta hal lain bukan tentang masalah pribadinya, hanya sekedar itu saja tidak lebih. Ditambah Frans sangat dekat dengan Fhai, jadi lebih tau kesehariannya seperti apa.
"Fhai menampar Della hingga ujung bibirnya robek serta mengeluarkan darah segar. Della murka dan marah namun kemudian nyalinya menciut saat melihat tampang Fhai berubah seperti setan. Lalu Fhai memilih pergi meninggalkan Della tanpa peduli dengan suara isak tangis serta rintihan memohon padanya." Cerita Frans dengan jelas.
"Wow!! Aku kau sedang mengarang cerita Frans? Hmmm.. Tapi lumayan ceritamu sangat menarik."
"Tidak Nona, lagipula sejak kapan saya pandai mengarang cerita? Baru kali ini bukan saya menceritakan hal pribadi tentang Fhai kepada anda? Bahkan saya melihatnya sendiri waktu datang ke kantor saat itu dan apa anda tau Nona, selanjutnya yang terjadi?."
"Huhh?? Tidak? Memang apa?."
"Hehe apa anda penasaran? Sama saya juga." Tukas Frans menyengir kuda.
Zerlyn menekuk bibirnya disaat pikirannya sangat penasaran, Frans malah mempermainkannya.
"Sejak kapan skil membawa mobilmu lemah?." Tanya Zerlyn mencibir Frans.
Frans tersenyum kecut "Nona menginginkannya? Baiklah, tapi pasangkan sabuk pengamannya lebih dulu."
"Tidak perlu! Jalankan saja perintahku Frans jangan membantah." Ujar Zerlyn jengkel.
"Maaf Nona, ini demi keselamatan anda sendiri. Nyawa anda adalah tanggung jawab saya." Jelas Frans mencoba memberinya peringatan.
"Kau mulai mengaturku hehh??." Sinis Zerlyn.
Frans memutar bola matanya "Nona, berhentilah bersikap keras kepala."
"Tenanglah Frans, aku tidak akan mati muda seperti apa yang kau pikirkan diotakmu."
"Maaf, saya tidak bisa mengikuti keinginan anda Nona jika sampai keluarga Varessham tau kepala saya akan menjadi jaminannya." Jelas Frans.
"Kau ingin jadi pembangkang sekarang Frans? Apa sudah bosan bekerja denganku?." Tanya Zerlyn.
Frans yang sudah kesal lalu menghentikan mobilnya dan melepaskan sabuk pengamannya lebih dulu. Kemudian memajukan tubuhnya menghadap Zerlyn.
Zerlyn melotot terkejut jarak keduanya begitu dekat sampai bisa mencium aroma maskulin dari leher putih Frans berasa ingin sekali Zerlyn menggigitnya.
KLIK!
"Ekh!!."
"Maaf jika saya lancang." Sesal Frans kemudian kembali melanjukan mobilnya dengan kecepetan yang sesuai Zerlyn inginkan.
πΏπΏπΏπΏ