
Frans, Bik May dibagian arah selatan, Luther Ervin dari arah barat serta Erwin dan Gallen berada paling utama.
Gallen memerintah Ervin untuk mnyerang ketika melihat musuh sedang lengah. Ervin mengangguk mengerti.
Mata mereka tetap fokus kedepan, serta mengandalkan dari petunjuk arah angin, Luther segera mengirim laporan melalui walkie Talkienya kepada Gallen.
Setelah menyetujui laporannya, Luther kembali melapor kepada Frans untuk segera menyerang.
Dengan hati hati agar anak buah Luke tidak balik menyerang mengingat musuh yang begitu banyak, pikiran dari mereka kemungkinan akan kalah telak.
Namun, Bik May secara tiba tiba segera menahan mereka disaat tangan itu sudah siap untuk menekan pelatuknya.
"Tahan tembakan!." Perintah Bik May.
"Ada apa Bibi?." Tanya Gallen lewat Walkie Talkie, ia merasa kebingungan.
"Biarkan aku memanahnya dulu, aku pokuskan ke titik utama dan barat selanjutnya terserah kalian." Perintah Bik May yang secara otomatis mengubah misi awal.
"Bibi mengubahnya?." Tanya Luther.
"Hmm.. Aku melihat dari dalam hanya segelintir, aku tidak suka!." Jawab Bik May dengan nada ketus.
"Baiklah, terserah dan selamat menikmati." Ujar Luther.
"Disaat aku memanah, Erwin, Gallen langsung menembak tapi harus dengan cara halus. Luther, Ervin jangan sampai anak buah Luke lengah, jika itu terjadi langsung tembak ditempat. Dan kau Frans, sisanya tembak dibagian dalam." Perintah Bik May.
"Apa? Aku sendirian?." Frans melongo takjub mengingat musuh didalamnya memang tak sebanding meski ia tau jumlahnya hanya segelintir.
"Bukankah itu yang Tuan inginkan?." Ejek Luther.
"Bicaralah yang baik dan benar! Jangan seperti robot." Tegur Frans jengkel.
"Ya,ya, ya Tuan.. Ekh Franscisco Maximaliano." Tekan Luther dengan menekan kata kepanjangan namanya.
"Berhenti menyebut nama kepanjanganku sialan!." Desis Frans.
Kelimanya merasa jengkel dengan perdebatan tidak penting mereka apalagi terdengar diWalkie Talkie yang terpasang ditelinga masing masing.
"Berhentilah berdebat, fokus kedepan!." Bentak Bik May geram.
Bik May segera mengambil beberapa anak panah, lalu melengkungkan busurnya dengan mata yang menyipit menatap kearah musuh.
BBLLUUSSS!!!!
BBBLLLESSS!!
Anak panah menancap sempurna dibagian perut sampai menembus punggungnya.
"Tembak!." Perintah Bik May kepada Erwin dan Gallen.
Keduanya mengangguk, sementara Luther, Ervin dan Frans mengerti dengan pelan dan tidak mengecoh musuh yang lain, mereka bermain sangat berhati hati.
DOOORR!!!!
DOORRR!!
"Tahan tembakan!." Perintah Bik May setelah dirasa anak buah Luke sudah tewas.
"Gallen dan Erwin maju kedepan, Luther, Ervin pertahankan diposisi utama jika selesai mengamankan lanjut dan periksa bagian belakang. Aku dan Frans fokus ke poin pertama." Lanjut Bik May dengan segera berdiri dari persembunyiannya.
Mereka mengerti lalu segera meleset menuju markas Luke.
Bik May dan Frans segera menuju mereka yang ditahan tepat diruang bawah tanah.
"Untuk keseluruhannya, pukul 0:8 jarum jam diangka 6 harus keluar secepatnya sebelum Luke datang kemarkas." Ujar Bik May dengan melangkah cepat.
Kelima anggotanya menganguk patuh, yang jika di artikan adalah mereka hanya memiliki waktu sekitar 5 menit di titik lokasi markas.
"Luther, kau fokus riset dan retas CCTV jangan tinggalkan jejak apapun! Sisanya, bereskan kekacauan dibeberapa titik. Setelah itu, kalian segera kembali keposisi awal waktu tersisa hanya tinggal 2 menit." Perintah Frans sesaat melirik jam tangan mewah ditangan kanannya.
"Baik Tuan kami mengerti, untuk laporannya sepertinya anak buah dari Luke ada yang sudah kabur." Ujar Ervin sesaatnya berad dibagian belakang markas.
"Sial!." Gerutu Frans.
"Luther fokuskan pekerjaan utamamu! Ervin, cek kembali dengan benar jangan sampai terkecoh dan ceroboh!." Sambung Frans.
"Bik May merasa pusing dengan area ruangan bawah tanah itu yang memiliki banyak cabang.
"Frans dimana letaknya? Cepat lacak!."
Mengetahui jika Bik May kebingungan, Luther segera memberitahukannya. Apalagi terdengar sangat jelas nada suara frustasi miliknya.
Bik May mengangguk kemudian menekan angka dengan hati hati meski tangannya bergetar hebat.
"Bik, tenang dan fokuskan pikiran Bibi saat ini semuanya akan baik baik saja." Ujar Frans.
Bik May tidak menjawab ucapan dari Frans, pikirannya fokus mengingat kata sandi dengan benar.
Tak lama, pintu terbuka lebar menampilkan Ezra, Whalter, Tyler, serta beberapa anak buah Varessham. Mereka sangat terkejut dengan kedatangannya, apalagi anak buah Varessham yang mereka pikir akan menolongnya saat ini.
Frans dengan sigap menembak rantai besi dengan kedua tangannya memegang senjata agar tidak terlalu memakan banyak waktu.
"Bukankah kalian dari ThristyBlood?." Tanya Tyler sesaat menatap Frans serta Bik May.
Keduanya mengangguk membenarkan.
"Dimana Varessham?." Tanya Tyler kembali.
"Diperjalanan." Jawab Frans yang tak ingin pikiran otak mereka sampai kecewa kepada Edgar serta nama besar Varessham.
"Apakah Edgar dan papah akan datang?." Tanya Ezra yang kondisinya sangat lemah.
"Ya! Sekarang kita pergi kita tidak memiliki banyak waktu, ikuti langkahku didepan." Jawab Bik May.
Mereka mengangguk lantas kemudian segera keluar dari markas Luke.
Ezra yang kondisinya setengah lemah tidak kuat untuk menopang tubuhnya sendiri, Tyler lantas menyuruh anak buahnya untuk segera menggendong Ezra.
Mau tak mau Ezra mengalah meski kelihatannya sangat ambigu diantara mereka.
"Kita kemana?." Tanya Tyler.
"Kau itu seperti perempuan!." Jawab Frans mencibir sinis.
Bik May segera menghubungi anak buahnya "Dimana kalian?."
"Kami sudah berkumpul diposisi awal Bik, Bibi dimana? Segera keluar Luke akan sampai disana." Ucap Luther.
"Lindungiku dari belakang." Perintah Bik May.
Anak buahnya mengerti dengan sigap kembali menyusun senjata laras panjangnya.
"Sudah Bik, kami sudah bersiap."
"Bagus!." Puji Bik May.
Tak lama setelah itu, Luke tiba dimarkasnya dan marah melihat anak buahnya banyak yang tewas serta mendengar laporan jika mangsanya sudah kabur.
Bersamaan dengan Bik May berkumpul diposisi utama menatap mereka secara intens dan lekat. Mengetahui jika raut wajah kebingungan dari Bik May, Whalter segera angkat bicara.
"Bibi, bagaimana kondisi Nona Zerlyn? Dan dimana sekarang serta Fhai, anggota inti dari ThristyBlood?." Tanya Whalter.
"Mereka berada dinegara terpisah, Zerlyn dan Fhai dinegara A Whaleter." Jawab Bik May.
"Zerlyn? Astaga!! Aku tidak menyangka jika Kak Zerlyn adalah seorang ketua mafia seperti Edgar." Ucap Ezra dengan getir.
"Istri dari Edgar itu?." Tebak Tyler yang juga merasa terkejut.
Berbeda halnya dengan anak buah Varessham sudah mengetahuinya dari awal apalagi melihat sifat Zerlyn akan sangat mudah menebaknya melalui tatapan tajam serta maut miliknya.
Tak berbeda dengan Edgar yang juga memiliki tatapan membunuh seperti itu.
"Tapi kenapa harus dengan... Siapa tadi?." Ucap Tyler kembali bertanya.
"Fhai, Fhai adalah asisten pribadinya." Jawab Frans jengkel.
"Apa??." Ezra sangat terkejut begitupun juga Tyler serta anak buah Varessham.
"Pelankan suara kalian!." Tegur Bik May.
"Tyler, bawalah Ezra dipusat A tak jauh dari lokasi ini istrhatkan dia. Jika tidak Edgar akan marah mengetahui kondisinya semakin lemah, ikutilah jalan ini nanti kau akan melihat tanda X serta mobil milik Frans." Sambung Bik May.
Bersamaan dengan Frans melempar kunci mobil miliknya "Jangan sampai semakin penyok!." Tegur Frans dengan sinis.
Tyler awalnya tidak mengerti, namun setelah berusaha mencerna ucapan Frans alhasil kepalanya menggeleng pelan.
"Maaf, apa ada persenjataan lengkap?." Tanya salah satu anak buah Varessham.
"Ambil saja sesuka kalian. Sisanya kita amankan lebih dulu lokasi ini sekarang." Jawab Bik May.
Mereka serempak mengangguk sedangkan Tyler serta beberapa persen anak buah Varessham mengikuti Tyler untuk melindungi dan berjaga jika masih ada musuh yang tersisa dibelakang mereka.