
Hatinya tidak sabar untuk menemui sahabatnya, beruntung hari ini hari Wekeend jadi bisa sebebasnya menghabiskan banyak waktu.
Langkahnya segera menuruni anak tangga dan menemui mereka yang tengah berkumpul dimeja makan.
"Zerlyn, ayo sarapan dulu." Ajak Ny.Hellen sesaat melirik penampilannya dari atas sampai bawah dengan alis mengkerut bingung.
"Saya ijin mau kerumah sakit Mah." Ujar Zerlyn yang mengetahui raut kebingungan Ny.Hellen.
"Memangnya sahabatmu itu sakit apa Zerlyn?." Tanya Tn.Elmato.
Zerlyn memutar otaknya, haruskah dirinya jujur atas penembakan itu? Atau mencari hal yang lainnya?.
"Ayolah otak .. Pleasee mikir." Batin Zerlyn.
"Zerlyn?." Tegur Ny.Hellen melihat Zerlyn tengah melamun.
"Ekh, iya Nyo.. Ekh, mamah!!." Jawab Zerlyn gugup.
Tn.Elmato menggeleng kepalanya menatap Zerlyn seperti menyembunyikan sesuatu yang Tn.Elmato sendiri tidak tau apa itu?.
"Selamat pagi Tuan, Nyonya maaf saya mengganggu sebentar." Sapa Pak Syam.
"Akh, iya Pak syam ada apa?." Tanya Ny.Hellen melihat sebuah buket bunga ditangannya.
Buket bunga besar berwarna hitam masih terlihat segar dibungkus dengan Spunbond serta ikat pita cantik berwana putih.
"Saya mau menyampaikan pesan buket bunga untuk Nona Zerlyn Nyonya." Jawab Pak Syam dengan memberikan bunga itu kepada Zerlyn.
"Dari siapa pak?." Tanya Zerlyn kebingungan melihat buket bunga warna hitam berada digenggaman tangan Pak Syam.
"Maaf Non saya tidak tau." Jawab Pak Syam.
Zerlyn membuang nafasnya kemudian menyenderkan tubuhnya disandaran kursi meja makan, menatap Pak Syam dengan lekat.
"Aku tidak memesan buket bunga dari siapapun?." Tanya Zerlyn megintimidasi.
"Maaf Non, sekali lagi saya tidak tau tadi yang datang pas memberikan buket bunga itu pria hanya saja umurnya seperti sudah dewasa. Saat saya menanyakan namanya, orangnya sudah pergi." Jelas Pak Syam.
"Pria? Pria dewasa?." Gumam Zerlyn.
"Mungkin itu sahabat lamamu Zerlyn, sudahlah hanya buket bunga saja kan? Kenapa harus dipermasalahkan?." Bela Ny.Hellen.
Kemudian menatap Pak Syam tengah berdiri mengheningkan cipta "Kenapa tidak disuruh masuk Pak?."
"Sudah Nyonya, tapi terus saja menolak yang katanya hari ini sedang sibuk mungkin lain waktu bisa bertemu kembali." Ujarnya.
"Mungkin itu pacar Kakak." Timpal Ezra terkekeh kemudian menatap Edgar yang memandang Zerlyn sulit diartikan.
Zerlyn mengangguk kemudian menyuruh Pak Syam menyimpan di atas meja makan.
"Kalau begitu saya permisi." Pamit Pak Syam.
"Hmmm."
___
"Wah!! Kak bunganya bagus sekali? Apa itu benar dari pacar kakak? Tapi, selera pacar Kakak ternyata sedikit... Hmmm berbeda." Tebak Clara menggaruk lehernya tidak gatal.
"Akh, pacar kakak sangat romantis sekali, tapi kenapa bunganya warna hitam? Apa pacar kakak sedang berduka?." Sambung Ezra.
Zerlyn diam sejenak mencerna ucapan dari Pak Syam, siapa pria dewasa tersebut? Telinganya seolah tuli dan tidak peduli dengan ocehan keduanya, kemudian memanggil Bik Nur dibelakang.
"Bik, tolong ambilkan gunting sama duck tape."
"Baik Non." Bik Nur segera berlari mengambil apa yang diminta oleh Zerlyn.
"Ini Non." Tangan Bik Nur kemudian menyimpan benda itu diatas meja.
Zerlyn segera mengambil Duck tape kemudian mengguntingnya sedikit, lantas mengelilingi ikat pita ke setiap lingkaran dengan teliti.
Hal itu membuat mereka kebingungan apa sebenarnya yang Zerlyn cari?.
"Sh@!." Umpat Zerlyn menggerutu sebal. Sangat susah mencari objeknya, Zerlyn berpikir apa itu di sengaja?.
"Zerlyn!." Tegur Ny.Hellen mendengar umpatannya.
Zerlyn hanya mendongkak sekilas, kemudian kembali mencarinya ke setiap keliling lingkaran pita tersebut. Tak lama, duck tape yang berada digenggaman tangannya segera ia tempelken diobjek yang Zerlyn sudah di temukan.
Setelah berhasil, segera Zerlyn mengambil ponsel khusus milikknya kemudian menempelkan dalam kamera.
"Kau sedang apa Zerlyn?." Tanya Tn.Elmato keheranan.
"Tidak apa apa Pah." Jawab Zerlyn kemudian kembali menyimpan ponselnya.
"Maaf pah, mah Zerlyn minta ijin hari ini untuk berangkat kerumah sakit."
"Apa mau berangkat sekarang?."
Zerlyn mengangguk membenarkan.
"Ed, antarlah istrimu sebentar, seklian kalian berdua jalan jalan keluar. Kapan lagi kan bisa seperti itu? Mau sampai kapan coba hubungan kalian seperti ini? Apalagi, mamah sudah tidak sabar menginginkan cucu." Bujuk Ny.Hellen.
"Banyak kerjaan!." Ketus Edgar muak apalagi saat Ny.Hellen mengatakan 'cucu' padanya.
"Kerja? Hari wekeend seperti ini? Apa yang kau kerjakan? Sepenting itukah sampai melupakan istrimu sendiri?." Tanya Tn.Elmato.
"Sial! Awas kau bocil!." Batin Edgar geram.
"Tidak perlu pah, Zerlyn sudah pesan ojeg." Tolak Zerlyn mencoba mengerti dan merasa tidak enak hati kepada mereka, Zerlyn tidak ingin pertengkaran kecil itu terjadi hanya karna masalah sepele.
"Ojeg?." Clara menawan tawanya dengan membungkam mulutnya sendiri menggunakan tangan.
Ny.Hellen menggeleng "Daripada naik ojeg, lebih baik diantar sama pak syam saja bagaimana?." Tawarnya.
"Apa mau diantar sama aku Kak?." Timpal Ezra.
Lagi, Zerlyn menggeleng pelan tanda menolak.
"Apa kau bisa mengendarai mobil Zerlyn?." Celetuk Tn.Elmato.
Zerlyn yang sedang minum seketika terkejut mendengar ucapan dari Tn.Elmato.
"Uhukk!! Uhukk!!."
Ny.Hellen segera memberinya pertolongan dengan mengusap punggung Zerlyn secara pelan.
"Aduh Zerlyn, pelan pelan." Tegur Ny.Hellen.
"Sialan! Gue harus jawab apa?." Batin Zerlyn dalam hatinya.
"Hmmm.. Maaf pah, Zerlyn tidak bisa membawa mobil." Lirih Zerlyn yang terpaksa berbohong.
"Cihh!! Apa seperti ini bentukan model seorang istri? Sudah katro, bodoh mana masih bocil lagi. Pah, mah dapatkan dia dari mana sih? Sangat memalukan." Desis Edgar kemudian melangkah pergi menuju ruang kerja pribadi miliknya.
"Edgar! Tutup mulutmu! Berani sekali kau mengatakan hal itu pada itstrimu sendiri Hah!." Teriak Tn.Elmato geram.
Edgar terus melangkah tidak peduli dengan teriakan dari Tn.Elmato padanya. Hati Edgar merasa menyesal menikahi Zerlyn yang menurutnya hanya menyusahkan, tidak bisa melakukan apapun. Sejenak Edgar berpikir darimana kedua orang tuanya menemukan Zerlyn? Seorang yang tidak pantas disebut sebagai istri.
Edgar yang penasaran mencari data Zerlyn sendiri, ia tidak percaya kepada Ken yang mengatakan jika info itu tidak ada. Batin Edgar berkata ini aneh, kenapa bisa?.
Tidak mau ambil pusing mengingat hal itu, Edgar membuang pikiran negatifnya jauh jauh. Dalam hatinya senantiasa tetap berdoa semoga Zerlyn bukanlah jelmaan dari setan atau iblis melainkan manusia seutuhnya.
___
Kakinya terhenti saat membaca nama RUMAH SAKIT POCONG BUNTUNG. Kemudian kembali melanjutkan langkahnya menyusuri setiap lorong demi lorong rumah sakit.
Bayangannya sekilas kembali teringat dengan kejadian di waktu pagi tadi. Kenapa hatinya sakit disaat suaminya sendiri mengatakan hal seperti itu dengan lantangnya ia berbicara sampai membuat penghuni mansion terkejut mendengar pernyataannya.
"Ya Tuhan.. Apa yang harus aku lakukan?." Batin Zerlyn merasa teriris hatinya.
Kemudian, Zerlyn mengambil ponsel yang sempat masih tertempel duck tape tadi. Lantas mngscrool layar ponselnya mencari data yang tepat dan pas sesuai dengan pengetahuannya.
Satu jam lamanya mencari dan menyesuaikan dengan sidik jari yang tertempel dalam duck tape, alis Zerlyn mengkerut tidak mengerti.
"Kenapa dengan dia lagi?." Gumam Zerlyn kebingungan.
Ingatannya kembali saat mengingat kejadian waktu digudang "Hmmm.. Apa dia mau menerorku?."
"Lyn.." Panggil Stella dengan lirih.
Zerlyn menoleh melihat Stella terbangun dari tidur panjangnya.
"Stell, gimana keadaan loe? Apa yang loe rasain sekarang?." Tanya Zerlyn.
"Gue merasa sudah lebih baik Lyn." Jawab Stella.
"Akh, syukurlah.. Sory, gue gak bisa jagain serta ngelindungi loe Stell." Sesal Zerlyn.
Stella menggeleng pelan "Sepenuhnya itu bukan salah loe Lyn, gue terlalu semangat buat nyerang mereka sok paling berani. Tapi nyatanya, gue lemah nggak kaya loe gue baru tau ternyata loe sekuat itu buat melawan mereka." Jelas Stella.
"Pemikiran loe salah, loe tau Stell yang benar benar kuat itu adalah kita yang mampu bertahan meski kalah. Membela yang benar walau tanggapannya menganggap kita salah, bukan seperti pengecut hanya mampu mengandalkan oranglain." Tegur Zerlyn.
"Ya, lebih tepatnya seperti si pantat panci Lyn gue gak nyangka dia senekat itu sama gue. Gue gak tau kesalahan apa yang gue perbuat, sampai si panci seperti ada dendam sama gue Lyn."
"Loe gak perlu mengingatnya lagi Stell buang jauh jauh pikiran tentang si panci." Ujar Zerlyn yang takut jika Stella mengalami trauma kepanjangan.
"Bagaimana sekarang Lyn? Apa si panci sudah mati?." Tanya Stella yang masih penasaran.
"Entah gue gak tau Stell?." Ujar Zerlyn seraya menggerakkan bahunya, ia sendiri belum menanyakan kabar terbaru tentangnya.
"Gue takut Lyn, takut nama baik gue jadi jelek. Gue belum tau kabar saat ini disekolah saat mengecek ponsel buat ngeliat tuh gosip terbaru, sampai saat ini belum ada? Apalagi kalau seandainya si panci itu masih hidup terus neror dan masih ada dendam lalu ngebunuh gue bagaiamana Lyn?." Tanya Stella dengan sorot mata yang penuh ketakutan.
Zerlyn merasa iba melihat raut wajah gelisahnya, Zerlyn bisa merasakan seperti apa diposisi Stella sekarang. Karna, Zerlyn juga mengalami hal yang sama, namun berusaha melawan meski Zerlyn sendiri tidak mampu membasmi seluruhnya.
Lantas segera Zerlyn merangkul Stella, mengusap pungguhnya yang bergetar serta ditelinganya Zerlyn bisa mendengar dengan jelas suara isak tangis Stella.
"Loe tenang Stell, gak akan gue biarin itu terjadi sama loe. Sekarang, loe gak usah mikirin yang gak penting apapun itu termasuk nama baik disekolah dan si panci. Gue udah menyelesaikan semua permasalahnya, lagian gue juga belum tau gimana kabarnya dia sekarang?." Jawab Zerlyn dengan jelas.
"Loe yakin Lyn dengan ucapan loe sendiri?."
"Sejak kapan sih gue bohongin loe?."
"Sering! Loe nya aja yang pikun." Bentak Stella ingatannya kembali dengan janji Zerlyn yang belum ia ceritakan padanya.
"Kapan?." Kening Zerlyn mengkerut kemudian melepas rangkulannya dan menatap Stella dengan lekat.
"Loe hutang penjelasan sama gue! Ditambah lagi dengan kejadian kemarin waktu gue ditembak, gue rasa loe bukan orang biasa."
Zerlyn tersenyum kecut sekilas ia kembali teringat dengan hutang penjelasannya kepada Stella yang belum seluruhnya ia ceritakan.
"Gue manusia kaya loe, bukan jelmaan setan ataupun iblis seperti apa yang ada dalam otak kotor loe." Tuduh Zerlyn membantah ucapannya.
"Gak mungkin! Gue gak percaya! Kalau loe bukan manusia tangguh dan berani gak mungkin loe bisa membasmi semua anak buah Alden, apalagi setau gue mereka semua itu adalah mafia."
"Gue sadar Lyn mata gue melihat semuanya, ingatan, pendengaran dan penglihatan gue masih jelas saat anak buah loe ngomong "Nyonya." Serta saat loe nembak anak buah sipanci seolah dari tampang loe tidak ada rasa penyesalan sedikitpun."
Dalam hati Zerlyn tak hentinya mengumpat serta menyumpah serapah. Benar benar membuatnya sangat muak dan dongkol, apa perlu ia menjelaskannya sekarang kepada Stella? Batin Zerlyn.
"Gue tau apa yang ada dalam pikiran loe, tapi yang harus loe tau gue gak seperti itu Lyn. Gue sahabat loe, sudah berapa lama kita sahabatan? Loe tau akan hal itu tanpa perlu gue jelaskan."
"Tapi kenapa loe masih ragu sama gue Lyn? Kalau loe ada masalah, sebisanya gue bantuin loe. Meski loe ga cerita apapun gue gak maksa, namun asal loe tau walaupun gak cerita perlahan gue tau kalau loe termasuk mafia. Gue 100% yakin dengan ucapan gue sendiri."
"Terlihat dari tampang loe yang menyembunyikan masalah loe seorang diri, seolah loe memikul beban yang begitu berat. Apalagi begitu jelas saat loe berbicara dengan lantang, keras, seperti seorang pemimpin. Gue bisa lihat semuanya Lyn!."
"Gue kecewa sama loe! Pergi loe dari sini! Gue gak butuh sahabat yang menyembunyikan identitas aslinya sama gue!." Teriak Stella menangis histeris, ia sangat ketakutan melihat wajah asli dari Zerlyn yang menurut pemikirannya adalah pembunuh. Stella takut jika sewaktu waktu dirinya akan jadi target selanjutnya.
Zerlyn terkejut saat mendengar suara Stella yang berteriak serta mengusirnya hingga membuat sang ibunda Millie langsung masuk takut terjadi hal yang tidak ia inginkan.
"Stell, dengerin penjelasan gue dulu. Gue gak seperti itu. Please loe masih mau dengerin gue kan?." Pinta Zerlyn dengan iba.
"Pergi! Gue gak butuh loe!." Teriak Stella kemudian menekan tombol dekat ranjangnya.
"Please jangan seperti ini Stell, gue mohon." Pinta Zerlyn kembali.
"Stella!! Ada apa ini?." Tanya Millie kebingungan.
"Mom, usir dia! Usir pembunuh itu!!." Pekik Stella histeris.
"Astaga!! Apa yang terjadi? Apa maksudnya Stella?."
"Usirr dia! Dia pembunuh!!." Tuduh Stella kepada Zerlyn hingga membuatnya lepas kendali dan kejang kejang.
Millie panik kemudian mengguncangkan tubuh putrinya, tak lama suster beserta dokter segera datang untuk memeriksa kondisi Stella.
___
Setelah situasinya terkendali dan tenang kembali, dokter kemudian menatap keduanya.
"Tolong!! Jangan membuat pasian panik dan ketakutan, buat pikirannya tenang jangan memberinya beban yang berat. Saya sudah menyuntikan obat penenang, mungkin akan tersadar kembali nanti malam. Saya sarankan, pasian hindari objek yang membuatnya ketakutan seperti tadi." Perintah Dokter tersebut.
"Baik Dokter, tapi putri saya baik baik saja Dok?." Tanya Millie.
"Putri ibu baik baik saja hanya mengalami trauma psikis dan mengalami ketakutan hebat. Seperti tadi yang saya sarankan hindari hal yang membuatnya ketakutan." Jawabnya dengan jelas.
"Baik Dokter terima kasih."
"Sama sama Buk, saya permisi." Pamitnya kemudian melangkah keluar.
Millie mendekati ranjang Stella kemudian mengelus rambutnya dengan lembut "Sayang, apa yang membuatmu seperti itu? Coba ceritakan sama Mom Nak."
Zerlyn yang sejak tadi berdiam diri mematung kemudian melangkah "Tante, maafkan saya.. Saya tidak seperti apa yang ada dalam pikiran Stella. Saya bukanlah pembunuh." Jelas Zerlyn.
Millie sontak menatap Zerlyn dibelakangnya "Tante sepenuhnya percaya Nak Zerlyn, mungkin psikis Stella belum stabil pikirannya masih trauma dan kacau."
"Tante benar, saya janji saya akan membantu Stella sampai sembuh seperti waktu dulu saat saya bertemu dengannya." Ujar Zerlyn berusaha menyakinkan Millie.
"Terima kasih Nak, terima kasih kamu baik sekali. Beruntung Stella mempunyai sahabat sepertimu."
Zerlyn tersenyum mengangguk "Maaf Tante, kalau boleh tau ayah Stella kemana? Dari waktu kemarin saya tidak melihatnya?."
Millie membuang nafasnya secara kasar, apa yang dikatakan Zerlyn adalah benar adanya. Ingatan itu kembali mengingatkan pada mantan suaminya yang pergi entah kemana meninggalkan dirinya beserta Stella.
πΏπΏπΏπΏ