KING MAFIA IS MY HUSBAND

KING MAFIA IS MY HUSBAND
KODE ALIEN



Sepanjang perjalanan dilorong rumah sakit, Zerlyn tak hentinya mengutuk Ken yang terus saja membuntutinya sampai dimana ruangan Stella berada.


Ceklek.


Tangan Zerlyn baru saja membuka pintu dan terkejut melihat Fhai beserta Frans yang masih setia menunggu Stella. Keduanya tengah sibuk dengan laptop serta tab ditangan mereka.


Pandangannya teralihkan saat mendengar suara pintu terbuka, Ken keheranan melihat dua pria dewasa yang masih menggunakan jas rapih.


"Fhay?." Lirih Ken mengenali salah satu diantara mereka.


Zerlyn mengedipkan matanya sebagai kode, yang entah keduanya mengerti atau tidak dengan kode dari Zerlyn.


"Hallo Ken, Anda disini? Perkenalkan ini Frans, temanku." Sapa Fhai memperkenalkan Frans disampingnya.


"Hallo Tuan, perkenalkan saya Frans." Sambut Frans dengan mengarahkan tangannya.


Ken menjabat tangan Frans "Ken." Jawab Ken dengan singkat.


"Sedang apa disini?." Tanya Ken.


"Menjaga No.. Stella Ken." Jawab Fhai hampir keceplosan memanggilnya Nona.


Ken bisa membaca pergerakan Fhai yang menurut Ken itu sedikit aneh.


"Siapanya Stella?." Tanya Ken kembali.


"Sahabat waktu orok Ken, kenapa kau bertanya seperti itu?." Jawab Zerlyn dongkol.


Ken menatap Zerlyn dengan sorot matanya "Apa anda mengenal Fhay?."


Zerlyn gelagapan sendiri, bagaimana bisa ia sampai tidak mengontrol emosinya "Mampus gue!." Batin Zerlyn mengutuk dirinya sendiri.


Mengetahui jika Zerlyn terpojok, kemudian Frans memiliki ide konyol.


"Hai Nona, perkenalkan saya Frans, dan ini Fhay." Sapa Frans sedikit kikuk apalagi Fhay berusaha menormalkan situasi canggung diruangan tersebut.


"Oh, Hay saya Zerlyn sahabatnya Stella.. Hmmm terima kasih sudah menjaga Stella dengan baik." Sambut Zerlyn berhasil membuat kode kepada mereka yang ternyata langsung cepat tanggap. Dengan seperti itu, Ken tidak akan curiga padanya.


"Apa anda yang bernama Zerlyn itu?." Tanya Millie ibunda dari Stella.


Mereka sedikit terkejut, seolah melupakan sosok wanita paruh baya yang sedang duduk didekat ranjang milik Stella.


"Ekh, hallo tante benar saya yang bernama Zerlyn, bagaimana keadaan Stella sekarang tante?." Jawab Zerlyn.


Millie langsung berdiri dari duduknya kemudian memeluk Zerlyn dengan erat.


"Terima kasih, terima kasih Nak sudah menolong Stella jika tidak langsung dibawa kerumah sakit saya tidak tau bagaimana nasib Stella kedepannya." Lirih Millie dengan sendu.


Zerlyn mengusap punggungnya yang bergetar menahan isak tangis "Tidak apa apa tante, syukur kalau Stella baik baik saja. Maaf jika saya tidak bisa menjaganya dengan baik."


Millie melepas pelukannya kemudian menatap Zerlyn dengan lekat "Tidak Nak Zerlyn, Nak Zerlyn wanita tangguh sangat hebat sekali bisa melawan mereka seorang diri sampai musuh tidak berontak kembali."


Ken mendengar hal itu sempat tertegun sesaat kemudian menatap Zerlyn dengan lekat, kecurigaannya semakin menguat.


Zerlyn menelan slavinanya dan tersenyum kecut "Ekh."


Millie tersenyum "Stella tadi sempat bangun lalu menceritakan semuanya pada saya Nak Zerlyn."


"Maaf tante, apa yang terjadi?." Tanya Ken penasaran.


"Stella tertembak Tuan, saya tidak tau apa permasalahannya dan siapa yang menembaknya tapi beruntung Nak Zerlyn segera datang menolongnya." Jawab Millie dengan jelas.


"Tertembak? Penembakan dilokasi SMA KEMBANG 7 RUPA yang beritanya mengenai siswi tewas tertembak itu?." Tebak Ken sekilas yang tak sengaja melihat kabar tersebut, namun saat akan kembali mengecek kebenarannya berita itu sudah hilang dan tidak bisa diakses.


"Anda benar Tuan, tapi setelah saya mencari informasi kembali saya tidak mendapatkan apapun. Informasi itu hilang membuat kami bingung." Cerita Millie.


"Awalnya saya ingin melaporkan kasusnya kepada kepolisian, mencari dalang kasus itu serta mencari siapa yang berani menembak putri saya. Namun kembali saya urungkan di saat ada seseorang yang sudah menangkap pembunuhnya."


"Saya tidak tau persis jelasnya seperti apa Tuan, pas saya datang ke rumah sakit putri saya sudah terbaring lemah beserta biaya rumah sakit ada yang menanggungnya."


"Lalu saya datang ke sekolahnya untuk bertanya namun kepala sekolah SMA KEMBANG 7 RUPA tidak tau mengenai penembakan tersebut. Kemudian, saya mengecek lokasi dimana penembakan itu tapi yang terjadi semuanya bersih seolah tidak ada apapun." Jelas Millie menceritakannya.


Ken kebingungan mencerna ucapan dari Millie, kenapa bisa seperti itu? Yang membuat Ken tidak habis pikir adalah sudah tau ada kejadian penembakan, namun kenapa kepala sekolahnya tidak mengetahui hal itu?.


"Tuan, tidak perlu memikirkannya saya tidak keberatan mengenai hal itu. Yang terpenting bagi saya, saya mengucapkan terima kasih untuk yang sudah menolong anak saya serta membiayayai perawatannya. Untuk pembunuh itu sendiri, saya tidak peduli lagi bagaimana nasibnya."


"Saya sangat beruntung sekali, di waktu saya pergi ketempat sekolahnya tidak ada sama sekali menggosip tentang kasus itu apalagi membicarakan nama putri saya, sebab saya takut nanti mentalnya akan down. Seluruh murid di SMA KEMBANG 7 RUPA seolah tidak tau apapun tentang kejadian tersebut."


Lagi, Ken bingung apa sebenarnya yang terjadi? Kenapa Ken tidak mengetahui berita itu? Apa dirinya ketinggalan kabar yang tengah Viral tersebut? Jika memang Viral, lantas kenapa tidak ada beritanya sama sekali?.


Disaat pikirannya melayang dan bimbang, tak lama ponselnya berdering. Ken permisi sejenak keluar untuk mengangkat telponnya.


Zerlyn membuang nafasnya lega kemudian menatap ke arah mereka, lalu tangannya memberi dua jempol dengan kode alis mengangkat yang bisa mereka artikan "Kalian hebat".


"Tante, bagaimana penjelasan dari dokter?." Tanya Zerlyn.


"Dokter tidak menjelaskan apa apa Nak, hanya memberinya perintah kalau Stella jangan sampai banyak beban pikirannya. Untuk mengenai peluru itu sendiri, dokter sudah mengeluarkannya." Jawab Millie.


Zerlyn mengangguk hatinya merasa lega mendengar kabar Stella yang baik baik saja tidak sampai mengalami pendarahan hebat meski timah panas itu sudah menembus perutnya.


Tak lama, Ken kembali masuk "Maaf Nona, saya mendapat telpon dari suami anda jika Nona harus pulang malam ini sekarang juga." Perintah Ken dengan menekan kata 'suami.'


Zerlyn sedikit geram mendengar perintah Ken yang mengatakan kata suami "Ken, katakan padanya kalau malam ini aku menginap menunggu Stella, lagipula besok sekolahku libur."


"Maaf Nona tidak bisa." Tolak Ken dengan keras.


"Nak Zerlyn rupanya sudah menikah?." Timpal Millie tersenyum hangat.


"Ekh, iya tante." Jawab Zerlyn dengan gugup.


Millie mengetahui jika Zerlyn dilanda gugup, kemudian mengalihkan pembicaraannya Millie sendiri tau dijaman sekarang pernikahan di usia remaja bukanlah hal yang tabu.


"Pulang saja Nak Zerlyn, besok bisa datang kesini lagi menengok Stella. Sekarang sudah malam tidak baik juga untuk kesehatan." Tegur Millie.


Zerlyn akhirnya mengangguk pasrah "Baiklah tante, sampai bertemu besok." Pamit Zerlyn menyalami punggung tangan Millie.


Millie mengangguk menatap wajah cantik Zerlyn yang tanpa polesan make up "Sangat baik." Gumam Millie.


"Hati hati dijalan Nak Zerlyn." Nasehat Millie.


"Baik Tante, tante juga jaga kesehatan Zerlyn titip Stella yah tante." Pinta Zerlyn.


"Pasti, tante pasti akan menjaga putri tante dengan baik." Ujar Millie.


Bersamaan dengan itu, Frans serta Fhai juga ikut berpamitan. Millie mengangguk tak lupa mengucapkan terima kasih sebanyak banyaknya kepada mereka berdua.


...___...


Zerlyn cemberut menatap Ken, gagal sudah rencananya untuk mengecek perkembangan masalah waktu pagi tadi. Niat awalnya, Zerlyn ingin berlama lama diluar bersamaan dengan Fhai serta Frans untuk membahas tentang bagaimana kelanjutannya serta menyusun strategi baru.


Dan sengaja menyuruh mereka menungguinya dirumah sakit bersamaan menjaga Stella dengan baik. Namun tak disangka, Ken malah menyuruhnya untuk pulang lebih awal.


"Ada apa Nona?." Tanya Ken menatap Visi Mirror melihat Zerlyn tengah cemberut padanya.


"Manekin menyebalkan!." Jawab Zerlyn cepat.


Ken tersenyum tipis kemudian kembali fokus kejalan membelah kota X dimalam hari.


🌿🌿🌿🌿🌿