KING MAFIA IS MY HUSBAND

KING MAFIA IS MY HUSBAND
KEAJAIBAN



"Kamu sudah mamah peringatkan! Apa kamu tuli Zerlyn?." Tegur Ny.Hellen merampas senjata ditangannya.


"Maaf Mah." Sesal Zerlyn.


"Hukuman apa yang pantas untuk seorang wanita liar sepertimu?." Sinis Edgar memandang Zerlyn dengan pikiran melayang entah memikirkan apa itu. Namun, Edgar tak menyangka jika Zerlyn bisa mengalahkan dirinya.


"Zerlyn!!!." Panggil Stella dan Clara secara bersamaan.


Keduanya berlari lantas saling memeluknya dengan erat. Sampai Zerlyn meringis dibagian perut bawahnya.


"AWw!!!."


"Hei! Jangan ceroboh, kalian tidak bisa melihat dengan jelas! Apa mata kalian sudah rabun?."


Stella tertegun sesaat mendengar suara yang baginya tidak asing "Sepertinya aku mengenal suara ini."


"Aku pemilik perusahaan Varessham Group, serta memiliki wajah tampan jadi wajar jika suaraku terkenal dimana mana." Tukas Edgar dengan percaya dirinya.


"Ckkk!! Sombong!!." Sinis Stella.


"Apa kakak baik baik saja? Terima kasih Kak sudah menyelamatkan Clara serta menemukan keluargaku kembali utuh." Tulus Clara memandang dengan lekat Zerlyn dalam dekapannya.


Zerlyn mengangguk lalu tersenyum "Tak masalah Clara, itu sudah bagian tugasku. Bagaimana kabarnya Bik Millie saat ini?."


"Mamah baik Kak Zerlyn!! Tapi, bolehkah aku terakhir kalinya bertemu dengan Alden dan Daffa?." Pinta Clara.


"Untuk apa?."


"Misi dong!! Apa kak Ezra tau dimana mereka?." Tanya Clara.


Ezra mengangguk "Tentu!!!."


"Itu bukan tempat untuk bermain!." Tegur Ken menatapnya dengan tajam.


"Hey!! Ayolah Ken, kau tau bagiamana sorot mata Clara? Kau tau akan kodenya?."


"Bagi yang tidak memiliki pengalaman akan bernasib buruk nantinya!." Tekan Ken dengan matanya menatap Zerlyn seolah sedang menyindir.


Zerlyn tersenyum sinis "Tidak akan, nanti aku akan mengajari bagaimana caranya."


"Ehemm!! Maaf Nona, perintah anda sudah saya selesaikan tinggal menunggu misi selanjutnya." Lapor Fhai dengan menatap keseluruhan diluar ruangan itu satu persatu.


Fhai dibuat salting gara gara pandangan mata yang menurut Fhai sangat sulit untuk diartikan.


"Kerja bagus Fhai, untuk semuanya kalian beristrhat saja. Sisanya biar aku yang mengurus, pulihkan stamina dan otak kalian karna beberapa hari kedepan kita ke kota B." Perintah Zerlyn.


"Rencana? Rencana apa? Kau pikir aku bakal mengijinkanmu Heh?."


"Dan apa anda lupa? Apa perlu aku mengulang kembali pertanyaan yang dulu pernah anda katakan?."


"Lupakan soal itu!."


"Ckk!! Mau bilang minta maaf saja gengsi!." Cibir Stella.


"Diam kau gagu!." Bentak Edgar.


Anak buahnya mengangguk patuh lalu berjalan keluar seraya memberi hormat kepada Tn.Elmato dan Ny.Hellen.


"Fhai apakah kau memiliki waktu? Aku ingin berbicara penting." Tukas Tn.Elmato sesaat langkah Fhai berada didepannya.


"Tentu Tuan."


"Terimakasih, ikutlah sekarang bersama kami pulang kemansion ku ada hal penting yang ingin aku bicarakan."


Zerlyn sedikit terkejut dan panik, ia takut jika Tn.Elmato mengintrogasi berbagai pertanyaan apalagi saat menatap Edgar ia bisa melihat bibirnya tersenyum penuh arti.


Edgar menatap anak buahnya dengan tajam, mengetahui kode tersebut mereka langsung beranjak pergi.


**


Ditempat lain, wanita itu mengamuk setelah mengetahui jika Zerlyn ternyata masih hidup apalagi ditambah perusahaan miliknya sedang mengalami keterpurukan secara tiba tiba.


"Arghhh!!! Baji@! Sialan!." Teriaknya dengan menghancurkan benda apapun untuk meluapkan segala kemarahannya.


BRRAAKKK!!


PPRAANGGG!!!


"Ayah!! Lakukan sesuatu! Aku tidak mau hidup seperti ini! Aku ingin dia kembali lagi padaku! Aku mencintainya Ayah!." Isak tangisnya pecah seraya berhambus memeluk sang ibunda.


"Pah! Mikir! Jangan diam saja!." Bentak Manda mencoba menenangkan didalam pelukkannya.


"Kenapa malah menyalahkan putrimu? Harusnya kau berterima kasih dan bersyukur padanya. Berkat dia, perusahaan Lemos, Wesley dan DXA bisa kita raih pundi pundi uang tapi karena ketamakanmu dan tidak becus mengurusnya sekarang perusahaan kita malah terkena masalah!."


"Apa? Bersyukur katamu? Menjual kedua putrimu kau bilang bersyukur? Dan apa telingaku tidak salah dengar kau malah menuduhku serta mengatakan jika aku tidak becus mengurusnya?."


"Hei! Manda! Buka matamu lebar lebar siapa sebenarnya yang suka tamak dan menghamburkan uang Hah! Kau atau aku? Tapi bukti yang jelas dan nyata itu ada didalam putrimu! Kau terlalu memanjaknnya!."


"Wajar aku memanjakannya! Karna dia adalah putriku satu satunya! Bukan anak haram dan pembawa sial itu!."


"Ya! Tapi pembawa sial itu adalah dia!."


PPLAAAKK!!!


Manda menampar pipi suaminya sangat geram dengan ucapan yang ia lontarkan "Jaga mulutmu!."


"Manda! Kau berani menamparku Hah!."


"Kau pikir aku takut denganmu? Cepat lakukan sesuatu! Aku tidak mau hidup miskin! Bila perlu kau mengemis kepada anak harammu katakannya padanya tanpa perlu menutupi apapun!."


"Kau gila! Apa kau tidak berpikir sebelumnya? Apa otakmu sudah tidak waras Manda?."


"Aku tidak peduli apa yang kau ucapkan! Yang aku ingin saat ini perusahaan itu kembali seperti awal! Bukan seperti ini! Kau lihat gara gara ulahmu, semuanya menjadi terbongkar termasuk status putriku sebagai model menjadi buruk!."


Manda melihat berita gosip hari ini dilayar televisi yang sedang menyiarkan acara secara live tentang perusahaannya, termasuk status putrinya menjadi tercoreng.


Tak segan segan mereka megolok olok, bahkan sampai ada yang mengatakan jika putrinya ternyata adalah seorang simpanan.


"Wesley, Lemos?." Ketir suaminya melotot tajam.


"Ya! Semua terkena imbasnya! Tapi Lemos, dia sangat licik dan pintar membantah jika Rholl tidak memiliki hubungan apapun dengan DXA serta Harvey. Terkecuali Daffa! Dia sudah tertangkap bersama Alden." Jelas Manda.


"Brengs@!." Umpatnya emosi lantas segera menghubungi anak buahnya.


"Siapa yang berani mempermainkan perusahaanku? Bawa dia dan seret kehadapanku sekarang!."


"Maaf Tuan, saya sudah melacak keberadaannya namun lagi dan lagi komputer diruangan IT sudah tidak bisa dioprasikan kembali. Sepertinya mereka sangat ahli sampai saya sendiri tidak bisa mengalahkannya."


"Shi@! Kurangkan karyawan beberapa persen sisanya biarkan tetap bekerja."


"Tapi saham perusahaan sudah tidak memiliki apapun, angkanya terus melonjak drastis. Serta info dari berbagai kolega bisnis diberbagai kota mencabut saham yang sudah ditanam serta membatalkan kontrak kerjasama apalagi ini kasusnya menyangkut putri anda. Dan perusahaan harus mengganti rugi sebesar 1,2 US$."


"Apa? Kerugian perusahaan mencapai 1,2 US$?."


"Benar Tuan. Citra perusahaan semakin buruk apalagi karyawannya berencana untuk mendemo agar secepatnya membayar gajih mereka."


"Katakan padanya aku akan membayar dalam tiga hari kedepan!."


"Baik Tuan."


"Ada apa pah? Apa benar yang kau ucapakan itu sampai perusahaan merugi milyran?." Tanya Manda penasaran.


"Ya! Aku bingung dan tidak tau harus membayar gajih karyawan dengan cara apa?." Jawabnya seraya memijat pelipisnya.


Manda diam sejenak lalu berpikir dan tak lama bibirnya tersenyum licik "Kita dekati MrZ." Usulnya.


"Maksudmu?."


"Dia perusahaan satu satunya yang berada di luar negri bukankah dulu kita pernah mengajukan kontrak dengannya?."


"Ya! Tapi dibatalkan Manda."


"Kita datang keperusahaannya langsung yang berada dicabang kota X seraya membawa putriku bersama."


"Kau berniat menjualnya lagi Manda? Kenapa tidak ke Varessham meminta bantuannya? Perusahaan ZN2 Group tidak jelas asal usulnya."


"Apa kau lupa Varessham sudah memberikan beberapa persen saham miliknya waktu itu? Dan mengatakan jika setelahnya mereka tidak menerima uluran bantuan apapun? Serta menganggap kita bukanlah bagian darinya lagi?."


Suaminya mengangguk membenarkan "Lalu bagaimana?."


"Kau kirimkan lagi surat kontrak kerjasama itu, dan jika dia berbicara mengenai informasi tentang perusahaan Harvey katakan saja yang lain jangan mengatakan hal yang jujur."


"Kau ternyata sangat pintar Manda, sekalian aku ingin bertemu. Aku penasaran seperti apa rupa aslinya? Apalagi selama bekerja, dia tidak pernah menampilkan wujud aslinya."


"Ya, begitupun aku. Bagiamana sayang, apa kau setuju?." Tanya Manda.


"Aku setuju mah, apapun akan aku lakukan asalkan aku tidak ingin miskin." Jawabnya.


Manda tersenyum hangat lantas memeluk putrinya serta mencium pucuk kepalanya dengan lembut.