KING MAFIA IS MY HUSBAND

KING MAFIA IS MY HUSBAND
SANG KETUA YANG SADIS



Sepanjang perjalanan, Zerlyn lebih banyak diam dengan pandangannya mengahadap kaca mobil. Kemudian kembali membenarkan posisi duduknya.


Fhai sejenak melirik kesampingnya, melihat Zerlyn seperti gelisah apalagi Selfbeltnya teronggok begitu saja.


"Ada apa Nona?." Tanya Fhai.


"Hmmm.. Kirimkan segera berkas kerjasama dengan perusahaan HVY." Jawab Zerlyn.


"Apa Nona menyetujui kontrak kerjasama itu?." Balas Fhai dengan menebaknya.


"Ya Fhai, kau tau sendiri apa yang aku rencanakan dan memahami isi otakku " Ujarnya.


"Baik. Itu berarti mereka tidak akan meneror saya lagi." Ucap Fhai.


"Teror? Hanya karna tidak kunjung menyutujui kontrak?." Alis Zerlyn mengkerut menatap Fhai tengah fokus mengemudi.


"Benar, bahkan Grayson tak segan untuk mengancam saya yang mengatakan perusahaan ZN2 GROUP akan terancam bangkrut jika tidak menyetujuinya segera." Cerita Fhai kembali teringat saat mendapatkan ancaman lewat emailnya.


Zerlyn tersenyum sinis "Bahkan berkas itu lebih pantas disebut sampah, dengan percaya dirinya akan mengancam perusahaan ZN2 GROUP."


"Sepertinya perkataan itu lebih tepat untuknya sendiri."


"Maksudnya?."


Fhai melirik Zerlyn sekilas, kemudian kembali menatap jalanan kota X yang tidak terlalu macet meski dihari weekend.


"Perusahaan mereka sedang tidak sehat saat ini Nona, mangkannya sudah berbulan bulan mereka menunggu berkas itu untuk menyetujuinya, sampai kembali secara menerus mengirimkan berkas yang sama ke email saya." Terang Fhai.


"Memang apa keuntungan jika ZN2 bergabung dengan perusahaan mereka?."


"Menjodohkannya mungkin." Celetuk Fhai asal.


Zerlyn menatap Fhai dengan lekat "Apa maksudmu?."


"Yang saya tau mereka memiliki satu putri, anda sudah tau siapa namanya Nona. Dan apa anda tau mereka belum mengetahui siapa pemilik asli perusahaan ZN2."


Zerlyn tersenyum devil sesaat ide konyolnya terlintas, Fhai kemudian menatap Zerlyn senejak ia berpikir apa yang akan direncanakan untukknya?.


"Nona, tolong jangan melakukan hal bodoh seperti itu." Ujar Fhai sedikit takut.


"Huhh??." Zerlyn melongo apa Fhai berpikir ia akan menjodohkannya?. Batin Zerlyn.


"Hei! Buang pikiran kotormu jauh jauh! Aku masih waras Fhai, lagian itu urusan kehidupanmu aku tidak ingin ikut campur." Jelas Zerlyn membantah isi otak Fhai yang berpikir negatif dengan ide konyolnya.


"Lalu?." Tukas Fhai bingung.


Zerlyn segera mendekatkan tubuhnya kearah Fhai kemudian membisikan sesuatu membuat Fhai merasa geli dan deguban jantungnya berdetak kencang saat berkontak fisik dengan Zerlyn.


Bukan satu atau dua kali kejadian namun sering, apalagi Fhai yang sejatinya adalah asisten. Setiap waktu, setiap saat dan setiap hari wajib harus selalu berada dekat dengannya meski itu urusan kantor.


Zerlyn memang tidak pernah membuatnya kerepotan dengan tingkah laku atau membuat masalah yang Zerlyn lakukan. Sebab Fhai tau, Zerlyn bukanlah gadis biasa ia bisa menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa perlu meminta bantuan oranglain.


Tak terkecuali saat keadaan genting dan panik. Fhai terkadang merasa gelisah saat Zerlyn harus membasmi musuhnya seorang diri, disaat Fhai berada jauh dengannya. Fhai tahu sebagai Asistan tugasnya adalah melindungi nyawa majikannya bukan malah sebaliknya.


Sekilas bayangannya teringat waktu itu, melihat Zerlyn harus kembali terluka saat Fhai telat membantu namun Zerlyn mengerti dengan kesibukan Fhai apalagi mengurus perusahaan besar seorang diri. Dalam hati Fhai mengutuk dirinya sendiri merasa bodoh dan tidak becus menjaga Nona mudanya.


Apalagi kalau seandainya Edgar mengetahui dan membongkar status diantara mereka jika Fhai adalah asistennya, maka Edgar tidak akan segan membasmi serta membunuhnya.


___


"Bagiamana Fhai? Kau setuju?." Ujar Zerlyn meminta pendapat.


"Hmmm.. Ide anda tidak terlalu buruk Nona." Tukas Fhai kemudian menghentikan mobilnya.


"Apa sudah sampai?." Tanya Zerlyn kebingungan.


Fhai menggeleng "Lampu merah."


Zerlyn menatap kedepan lalu mengangguk, kemudian membuka kaca mobil menjadi setengahnya dan terkejut saat melihat mobil mewah tepat berada disebelah mobilnya.


Sedetik kemudian, Zerlyn bersembunyi di bawah kursi meringkuk tidak jelas membuat Fhai menatapnya keheranan.


"Ada apa Nona?."


"Fhai gawat!! Kau tau mobil disampingmu?."


Fhai kemudian sekilas menatap lurus melihat mobil mewah yang Fhai sendiri tau siapa pemiliknya.


"Ya, lalu?." Ucap Fhai santai.


"Tutup kembali kacanya Fhai, bukankah kaca mobilmu tidak tembus pandang?." Tanya Zerlyn.


Fhai mengangguk membenarkan, lantas menutup kaca mobilnya hingga kembali tertutup rapat. Belum sempat Fhai membenarkan posisi duduknya, Zerlyn sudah lebih dulu mendongkak menjadi posisi keduanya saling menatap satu sama lain.


Lagi, kejadian yang tak seharusnya itu membuat keduanya saling pandang dengan jarak yang begitu dekat. Tangan Fhai masih berada dibelakang pintu mobil, tubuh Zerlyn bersandar di tangan kekar Fhai. Pipinya sudah panas hingga bisa merasakan nafas Fhai yang beraroma mint.


"Berhati hatilah Nona jika tidak, kepala anda bisa terbentur nanti." Tegur Fhai kemudian membuang nafasnya lantas kembali malajukan mobilnya.


Fhai tidak ingin lepas kendali apalagi saat melihat bibir merah alami tanpa polesan lipstik tersebut.


___


Mobil mewah yang kendarai Fhai kemudian memasuki area hutan belantara, asruk asrukan sampai nyuksruk tidak jelas.


Dari sisi samping kanan kirinya masih terdapat pepohonan hijau yang rindang, serta jalanan yang berkelok tajam harus memiliki stil mengemudi tinggi sebab jika salah maka nyawa sebagai ancamannya.


Tak berlangsung lama, mereka sudah sampai diistana megah namun dari arah luar terlihat menyeramkan. Zerlyn segera keluar bersamaan dengan Fhai berjalan dibelakangnya.


"Samping Fhai, aku tidak tau arah jalannya." Tegur Zerlyn.


"Apa Nona sudah lupa?." Tukas Fhai merasa aneh dengan ucapan Zerlyn.


"Menurut apa yang aku bicarakan, jangan membantah aku tidak akan memakanmu." Tegur Zerlyn kembali.


Fhai menurut lalu berjalan disamping Zerlyn untuk masuk lebih ke dalam istana tersebut. Para pengawal menunduk hormat melihat kedatangan mereka.


"Dimana dia?." Tanya Fhai kepada pengawalnya.


"Ada diruang bawah tanah Tuan, bersama Frans."


Fhai mengangguk kemudian berjalan menuju lift bersamaan Zerlyn mengekornya.


"Disamping Nona, saya adalah majikan anda." Tegur Fhai mengulang ucapan milik Zerlyn.


"Siap Tuan." Ujar Zerlyn terkekeh pelan.


Fhai menatap lekat Zerlyn dibelakangnya sedikit kesal dengan Nona mudanya tersebut.


Zerlyn menggerakkan bahunya acuh dan tidak peduli, lalu tubuhnya ia sandarkan ke dinding lift.


TING!


Pintu lift terbuka lalu Fhai berjalan didepan sedangkan Zerlyn terus saja berada dibelakang. Kesal tidak mendengar teguran yang sejak tadi Fhai lontarkan untukknya, segera Fhai menggenggam pergelangan tangan Zerlyn.


"Ekh!!." Ucap Zerlyn terkejut.


"Fhai lepaskan, baik aku menurut ucapanmu." Sambungnya lagi.


Fhai menghentikan langkahnya, membuang nafasnya gusar kemudian menatap Zerlyn didepan "Jangan membuat saya kesal dengan sifat anda Nona."


Zerlyn menelan slavinanya, melihat Fhai seperti sedang emosi "Hmmm.. Maaff!!." Lirihnya pelan.


"Tidak perlu minta maaf Nona, lupakan! Maaf jika saya tidak bisa mengontrol emosi dengan baik." Sesal Fhai.


"Hei!! Sampai kapan kalian berpacaran disana? Lanjutkan saja nanti dihotel." Teriak Frans melihat Fhai serta Zerlyn seperti sepasang kekasih yang dimabuk asmara apalagi saat mata Frans melihat tangan Fhai sedang menggenggamnya erat.


Keduanya mendongkak menatap Frans dengan sengit, namun Frans memasang wajahnya datar seolah tidak mengatakan hal apapun.


___


"Selamat datang Nona, hidangan daging lezat anda sudah menunggu sejak tadi." Sambut Frans.


"Tentu, silahkan Nona. Saya yakin tidak akan mengecewakan anda, mengingat daging ini masih muda apalagi tulangnya pasti akan sangat empuk."


"Begitu? Hmmm.. Sepertinya lumayan, kenapa dekil sekali?."


Frans sedikit terkekeh "Bukan dekil Nona, itu adalah bumbu gulai."


Zerlyn tersenyum samar "Kau melupakan satu hal Frans hingga bumbunya begitu kurang cantik jika dilihat sekilas."


"Apa yang Nona inginkan? Katakan saja, saya akan melakukannya."


"Ikat dia dikursi Frans. Aku tidak suka jika terlentang seperti ini." Perintah Zerlyn.


"Baik Nona dengan senang hati."


Frans kemudian memanggil anak buahnya yang berdiri tak jauh dari posisinya disertai langsung dengan inti maksudnya.


Anak buahnya mengangguk mengerti kemudian mengambil kursi lalu mengikatnya dengan kuat.


"Bawakan air sekarang! Dan siram dia!." Ujar Zerlyn dengan tegas.


Keduanya kembali mengangguk lalu mengambil air dua EMER lantas segera mengguyur mangsanya dengan air dingin.


BYUURRRR!!!


Zerlyn sedikit mundur dari posisi berdirinya, menatap Frans dengan lekat "Sejak kapan dia seperti itu?."


"Dari kemarin Nona. Saya memberinya obat tidur jika tidak, dia akan memberontak dan bisa melukai yang lain."


"Lalu siapa namanya?."


Frans menggeleng pelan "Tidak tau Nona, saya sudah bertanya ratusan kali namun tetap jawabannya masih sama."


Zerlyn diam sejenak, kemudian menatap daging segar didepannya yang sudah terbangun dari mimpi panjangnya.


"Sialan! Lepaskan!." Teriaknya dengan memberontak ikatannya.


Zerlyn berjalan mendekat "Kau ingin aku lepaskan?."


Alfred mendongkak menatap Zerlyn didepannya, mata itu terbuka lebar seolah tidak percaya "Zerlyn?." Zerlyn Annabeth Harvey?."


Kening Zerlyn mengkerut kenapa dia bisa tau tentang hidupnya "Siapa Anda!."


Asher tersenyum miring "Hahaha!! Anda ingin tau siapa saya Zerlyn? Hmm.. Bagaimana rasanya menjadi istri rahasia Edgar apakah itu menyenangkan? Oh, pasti sudah jelas mengingat Edgar adalah seorag pembunuh seperti Anda!."


"Ah, sepertinya anda sangat ngfans sekali dengan saya? Apa anda terlalu obsesi hingga tau tentang kehidupan pribadi saya secara detail."


"Anda seolah tau dengan pemikiran saya, sampai saya mengikuti anda kemanapun. Hahaha!! Saya seperti orang bodoh mengikuti orang yang sudah jelas tau akan hal itu."


"Anda mengatakannya sendiri lalu menghina diri anda yang hina! Perkataan itu saya rasa lebih cocok dan tepat untuk diri anda sendiri."


"Sepertinya tidak Zerlyn, sudah jelas yang bodoh itu anda! Tanpa anda sadari seorang mafia dari ThristyBlood mengakui dirinya sendiri dihadapan saya, membuka identitas itu secara perlahan. Yang membuat seluruh dunia akan tau hal itu!."


"Apakah anda seorang paranormal atau dukun? Bisa menebak begitu mudahnya alur kehidupan yang saya jalani? Tanpa perlu anda tau saya tidak akan ceroboh seperti anda!."


"Terserah anda ingin mengatakan yang mana intinya bagi saya, membuat anda bahagia. Tapi, perlu anda ketahui jika saya sudah mengetahui dimana letak posisi Varessham apalagi mengenai Ezra Tuan muda generasi penerusnya. Dan, hmmm.. Jangan lupakan ada Nona kecil yang misterius selalu memegang boneka aneh seperti dirinya."


Zerlyn mengepalkan tangannya dengan kuat, mencoba menahan emosi dalam dadanya.


"Begitu?." Siapa Nama anda!." Tanya Zerlyn kembali.


Alfred tersenyum kecut "Akh, sepertinya anda sangat penasaran sekali Zerlyn. Bagaimana kalau kita main main dulu sebentar?."


PLLLAAKKK!!


Zerlyn menampar Alfred dengan kuat hingga Alden tersungkur jatuh bersamaan kursi yang ia duduki.


Fhai yang melihatnya sedikit merinding mendengar suara tamparan yang keras. Mengingat kejadian demi kejadian Fhai alami bersama Zerlyn, Fhai takut akan menjadi target selanjutnya. Biarpun Fhai sudah tau bagaimana kesadisan dari Zerlyn.


Frans menyonggol perut Fhai dengan siku tangannya "Selanjutnya adalah kau Fhai."


Fhai menatap tajam Frans disampingnya "Cihh!! Kau saja!."


Frans terkekeh "Dia sangat cantik Fhai, tapi juga sadis."


"Ingatlah ada singa disampingnya jika kau berani mengusik kehidupannya."


"Aku tau, meskipun singa itu sendiri tidak peduli dan cuek merasa angkuh dengan soal masalah pribadinya padahal singa sendirilah yang menciptakannya."


"Ya, tanpa disadari bertahun tahun lamanya setelah mengubur nama ThristyBlood, akhirnya bangkit kembali."


"Apakah mereka masih mengingatnya Fhai?."


"Kenapa? Kau takut mati?."


"Tidak! Hanya saja sedikit miris melihat nona muda di Varessham yang statusnya tidak dianggap ditambah musuh dari pihak singa malah terus menyerangnya."


Fhai hanya mengangguk sebagai jawabannya, ia tau sendiri jika ucapan Frans adalah fakta.


"Kau selalu berdekatan dengannya, apalagi dengan kejadian tadi... Hmmm apa jantungmu masih aman." Goda Frans.


"Berhentilah mengoceh tidak jelas!." Tegur Fhai risih dengan ocehan Frans yang menurutnya tidak penting sama sekali.


___


"Angkat dia! Dan bawakan alat eksekusi!." Perintah Zerlyn kepada Luther.


Luther mengangguk kemudian mengangkat Alfred lebih dulu lalu tanpa bertanya Luther mengambil apa yang diminta oleh Zerlyn.


Tak lama, Luther mengambil benda eksekusi tersebut dan langsung menyerahkan kepada Zerlyn.


"Anda tidak buta dan mata anda masih melihat dengan jelas tanpa perlu bertanya apa." Desis Zerlyn mengangkat senjata itu ditangannya.


Alfred sedikit terkejut matanya melotot tajam menatap benda ditangan Zerlyn ujungnya runcing mengkilat.


"Apa mau anda Hah!! Lepasakan sialan!." Teriak Alfred setengah ketakutan.


"Tinggal bilang nama apa mulut menjijikan anda sangat sulit untuk mengatakannya?."


Alfred menggelengkan kepalanya ia bingung sendiri harus berbuat apa. Otaknya seketika merasa buntu niat hatinya ingin mencari informasi mengenai Zerlyn, malah masuk kedalam jebakannya sendiri.


"Saya mohon!!! Ampun!!." Lirih Alfred terus saja menggelengkan kepalanya.


"DIAM BODOH!." Bentak Zerlyn menatap tajam Alfred.


Alfred merasa tersentak saat mendengar ucapan Zerlyn yang begitu tegas. Sejenak Alfred berpikir ia mulai meragukan identitas Zerlyn yang mengatakan jika dalam info itu Zerlyn adalah gadis polos biasa, namun kenyataannya berbeda.


Zerlyn mendekati Alfred ingin sekali merobek mulut menjijikannya, baru tangannya sudah berada diudara Alfred lagi lagi menggelengkapan kepalanya. Membuat Zerlyn geram dan emosi lalu menatap anak buah dibelakangnya.


"Luther! Pegang kepalanya!." Perintah Zerlyn.


Luther mengangguk kemudian berdiri dibelakang Alfred dengan menekan kuat, Luther sendiri bingung apa yang akan dilakukan Zerlyn padanya. Meskipun Luther sendiri sedikit merasa gugup.


Tak sengaja, Luther menatap Frans yang posisinya tak jauh darinya. Frans terkekeh geli dengan nasib Luther, Luther lalu merubah wajahnya menjadi lebih tajam menatap Frans hingga membuatnya langsung terhenti.


Saat akan merobek pipi Alfred, ponsel jadulnya berdering. Membuat Zerlyn kesal kemudian melemparkan pisau Cutter dengan asal.


"Argghh!! Sialan!." Desis Zerlyn lalu mengambil ponsel disakunya.


"Hallo." Sapa Zerlyn.


"Argghh!! Kakak!! Kakak kemana saja? Aku hari ini mengajak kakak pergi jalan jalan, tapi sebelumnya antar Clara ke mall dulu ya ada barang yang ingin Clara beli. Calara tunggu ditaman dekat rumah sakit Oke."


Tututt!!."


"Sial!." Geram Zerlyn ingin sekali membanting ponselnya namun kembali ia urungkan.


"Fhai, antarkan aku ketaman dekat rumah sakit X, Frans Luther amankan bajing@ sialan ini jika berontak kembali, terserah kalian berdua tapi jangan sampai membuatnya mati lebih dulu." Perintah Zerlyn kemudian melangkah keluar disertai Fhai mengikutinya dari belakang.


🌿🌿🌿🌿🌿