
Langkahnya segera keluar dengan menahan air mata yang sudah merembes dipipinya, segera tangannya buru buru untuk menghapusnya. Zerlyn berusaha tetap tegar dan tegas, ia tidak ingin terlihat lemah.
Dengan meminjam mobil kepada anak buah Edgar dan tanpa ingin bertanya lebih jauh, lantas dia mengangguk kemudian memberikan kunci mobilnya.
Sekilas matanya begitu jeli melihat air mata yang sudah membasahi dipipi mulusnya.
"Tuan jahat sekali, kasihan Nona Zerlyn sampai harus menanggung sakit hati gara gara ucapan pedasnya. Apalagi Tuan sampai membandingkan dengan Nona Arlyn." Batinnya.
Rupanya seluruh anak buahnya sudah tahu mengenai pertengkaran hebat itu. Apalagi suara Edgar yang terdengar lantang dan tegas, mereka hanya mendengar dan menunduk tak ingin ikut campur.
**
Dalam perjalannya, Zerlyn membawa mobil dalam keadaan setengah sadar. Pikirannya malayang memikirkan setiap ucapan Edgar.
Mulutnya selalu berbicara tentang Arlyn dan Arlyn padahal sudah jelas jika Arlyn menolak untuk dijodohkan dan malah memilih pergi keluar negri.
Akan tetapi, hal yang begitu mengejutkan waktu acara dihotel, Arlyn datang dengan begitu banyak perubahan sampai meragkul tangan Edgar.
Edgar justu tidak melepas rangkulan tangannya, justru sepertinya Edgar sangat menikmati momen itu. Terlihat jelas raut wajahnya yang berubah dan seperti merasakan kebahagiaan dalam hatinya.
Entah itu kerinduaan karna selama bertahun tahun tidak bertemu ditambah Edgar yang sangat mencintai Arlyn.
Sampai saat mendengar kabar Arlyn yang menghilang serta keluarganya membuat Edgar dilanda kebingungan.
Antara ingin marah, emosi dan kesal mengingat keduanya akan melangsungkan pernikahan dalam jarak waktu satu minggu kedepan.
**
Matanya menatap lurus kedepan, bibir bergetar menahan isak tangisnya bersamaan dengan kepala menggeleng pelan.
"Loe kuat Lyn!! Loe pasti bisa!! Loe bukan cewek lemah!." Gumamnya.
Tak terasa selama dalam perjalanan yang menyita waktu selama 2jam menuju pusat kota, ditambah angin bertiup pelan, pepohonan yang rimbun sedikit membuat suasana hati Zerlyn tenang.
Zerlyn memarkirkan mobilnya didepan halaman mansion, lantas segera masuk dan langsung melangkah menuju kamar utama untuk mengambil beberapa barang miliknya.
Tak menunggu waktu lama, Zerlyn kembali keluar dengan menyeret koper ditangannya.
"Bi Nur, papah sama mamah kemana?." Tanya Zerlyn.
"Ada dibelakang Non, non mau pergi kemana?." Jawab Bik Nur sesaat melihat koper besar ditangnnya.
Zerlyn tersenyum hangat "Bibi, aku mau minta ijin liburan bersama temanku selama beberapa hari kebetulan sekolah dari kemarin sudah free. Aku bosan dimansion terus, lagipula aku sudah minta ijin sama suamiku." Balas Zerlyn.
"Ohh begitu Non, Bibi kira Non mau pergi jauh. Yasudah Bibi panggilkan dulu, Non tunggu disini." Ujar Bik Nur.
"Tidak perlu Bibi, Biar Zerlyn saja. Bibi lanjutkan saja pekerjaannya." Tolak Zerlyn kemudian segera melangkah kebelakang.
Bik Nur mengangguk walau dalam hatinya merasakan ada kejanggalan yang entah apa itu. Bik Nur menggeleng pelan, berusaha mengusir pikiran negatifnya dan berdoa untuk keselamatan Zerlyn.
Para maid kebingungan saat melihat Nona mudanya menyeret koper besar ditangannya. Alhasil banyak pertanyaan menyerang otak mereka.
"Mamah.. Papah!!." Teriak Zerlyn kemudian berlari mendekati mereka.
"Ada apa?." Sambungnya.
"Pah, aku minta ijin untuk selama beberapa hari Zerlyn mau pergi keluar kota bersama teman sekolahku. Bolehkan Pah, Mah?." Tanya Zerlyn yang sekilas melirik Ny.Hellen tubuhnya menjadi kurus, rambut berantakan dan sekarang memakai kursi roda.
"Mah, Zerlyn berjanji akan kembali membawa mereka." Batin Zerlyn hatinya teriris pilu.
"Keluar Kota?." Ulang Tn.Elmato.
Zerlyn mengangguk antusias "Bolehkan Pah? Zerlyn sudah minta ijin koe sama suamiku."
Tn.Elmato tersenyum, hatinya merasa menghangat sesaat Zerlyn mengucapkan kata "suami" Tn.Elmato bersyukur jika hubungan keduanya sudah membaik.
"Apa Edgar juga ikut denganmu?."
"Tidak pah, papah tau sendirikan dia selalu sibuk dengan pekerjaannya?."
"Hmmm.. Baiklah, jaga dirimu baik baik kabari papah jika sudah sampai disana."
"Baik Pah, terima kasih." Zerlyn tersenyum kemudian memeluk Tn.Elmato lantas kemudian memeluk Ny.Hellen serta mencium lembut keningnya.
"Mah, Zerlyn minta ijin yah!! Hanya beberapa hari saja. Mamah cepat sembuh kalau nanti Zerlyn sudah pulang oke? Kalau nanti mamah minta oleh olehnya, katakan saja. Nanti Zerlyn beli yang banyaaakk untuk mamah." Ucap Zerlyn sambil mengelus rambut kusutnya.
Tn.Elmato tersenyum lalu menatap Zerlyn dengan intens "Hati hati berangkatnya Zerlyn. Apa temanmu akan datang kesini?."
Zerlyn menggeleng "Tidak pah, tapi Zerlyn yang nanti kerumahnya. Yasudah, Zerlyn berangkat dulu yah pah." Pamitnya kemudian mencium tulang punggung Tn.Elmato.
"Mah, Zerlyn pamit." Kata Zerlyn seraya kembali mencium pipinya.
Tn.Elmato merasakan ada yang aneh dengan Zerlyn secara tiba tiba tersebut. Hatinya berkata seolah menolak kepergiannya, namun karena merasa iba dan tidak ingin mengekang. Dengan terpaksa Tn.Elmato mengiyakan permintaan dari Zerlyn.
Walaupun Tn.Elmato tau jika Zerlyn bisa menjaga dirinya dengan baik, tapi tetap hati nuraninya berkata lain.
Segera Zerlyn kembali menyeret kopernya bersamaan dengan pamit kepada Bik Nur serta berpamitan kepada Pak Syam, Mang Asep dan para maid lainnya.
Banyak yang merasa kehilangan walaupun hanya beberapa hari, merasa tidak rela jika Nona muda yang memiliki hati tulus itu pergi. Ditambah kehilangan Clara dan Ezra membuat Mansion akan sangat sepi tanpa adanya kehadiran mereka.
"Tuhan.. Maafkan aku, maaf karena telah membohongi mereka, maaf telah membohongi mamah, papah yang mencintaiku dengan tulus. Tapi aku, aku malah mendustakan kepercayaannya, mematahkannya begitu mudah serta mengecewakan hati mereka."
"Dengan sengaja aku melukai jiwanya, tak ada pilihan lain selain pergi dengan maksud tujuanku mencari mereka. Aku tidak mungkin berdiam diri selama satu minggu ini, mereka pasti sedang membutuhkanku sekarang." Batin Zerlyn hatinya merasa sesak nafas didadanya merasa tercekat.
Bingung dan bimbang tidak tau harus melakukan apa, entah keputusannya kali ini benar ataupun salah Zerlyn tidak peduli tekadnya sudah bulat yang terpenting baginya adalah ingin kembali membalikkan senyuman serta kebahagiaan Ny.Hellen.
Zerlyn teriris hatinya melihat perubahan Ny.Hellen yang begitu drastis, ia sendiri sangat tidak tega dengan kondisi memprihatinkannya. Walaupun resikonya nanti mereka akan membenci dirinya yang telah membohonginya, Zerlyn sudah pasrah memikirkan itu jauh jauh hari.
Termasuk mati sekalipun menyusul ibunda tercintanya, itu bahkan keingannya dari dulu. Ingin bertemu kembali dengan sang ibunda meskipun hanya dalam mimpi, Zerlyn akan menghargainya.
Baginya, itu sudah cukup dan membuat suasana hatinya bahagia. Ingin memeluk dan bercerita seperti diawal sebelumnya, tapi rasanya sangat mustahil apalagi sahabat satu satunya ikut terlibat.
Membuat Zerlyn kepalanya terasa pening seketika. Ia sendiri bingung dan pusing untuk menyimpulkan semua masalah dalam satu waktu.
Namun, dalam hati Zerlyn berdoa semoga semuanya baik baik saja. Dan berjanji akan menemukan mereka meski memakan waktu cukup lama dan berpindah negara ke negara lainnya.