KING MAFIA IS MY HUSBAND

KING MAFIA IS MY HUSBAND
ULAT BULU



Zerlyn memasuki ruangan yang sama dengan Edgar Entah sebuah kesengajaan atau memang kebetulan keduanya kembali dipertemukan.


Baru saja kakinya melangkah masuk, bibirnya tersenyum miring melihat Edgar dirangkul mesra wanita disampingnya.


Ken dan Fhai saling memandang lalu keduanya menatap Zerlyn.


"Nona." Lirih Fhai takut jika sikap Edgar melukai perasaannya.


"Tidak apa. Biarkan aku bermain sedikit." Ujar Zerlyn yang seolah mengetahui isi otak Fhai.


Fhai pasrah namun dalam hatinya berdoa semoga semuanya baik baik saja apalagi saat mata tajamnya menatap objek yang menurutnya sedikit curiga.


"Hati hati Nona." Tegur Fhai.


"Aku tau, perintahkan Frans untuk mengeceknya."


Fhai mengangguk kemudian berjalan lebih dulu didepannya.


"Ehem!! Maaf sepertinya saya sedikit terlambat." Ujar Fhai.


"Akh!! Tidak apa apa Fhai, ayo duduk dulu." Sambut Tn.Grayson sambil menjulurkan tangannya.


Namun Fhai hanya mengangguk kemudian segera duduk tanpa berniat menjabat tangannya.


Tn.Grayson berusaha tetap tersenyum ramah lalu menatap Zerlyn yang berdiri disamping Ken.


"Nak, bagaimana kabarmu?." Tanya Tn.Grayson.


"Nona, duduklah!." Perintah Fhai menatapnya tajam.


Zerlyn menggerakkan bahunya acuh lantas tersenyum miring menatap Ken.


Ken memutar bola matanya "Menurutlah, jika singa itu tidak akan menambah hukuman anda." Bisiknya.


"Hallo Zerlyn." Sapa Arlyn yang duduk disamping Edgar.


"Hallo Arlyn." Sambut Zerlyn datar.


"Apa pekerjaanmu sekarang menjadi asisten Fhai? Akh!! Sungguh sangat disayangkan, benarkan sayang? Aku kira setelah aku pergi keluar negri kau menikah dengan Edgar kau bahagia tapi ternyata.."


"Ckk!! Sungguh miris sekali nasibmu Zerlyn. Sudah merebut, sekarang selingkuh!!."


"Hmmm.. Fhai segera mulai." Perintah Zerlyn yang tidak mau merespon ucapan Arlyn yang notabenya adalah sebagai Adiknya.


Fhai mengangguk, baru saja akan memulai berbicara Arlyn lebih dulu mendahuluinya.


"Hei! Zerlyn! Untuk apa kau disini? Kau merusak suasana romantisku dengan Edgar. Lebih baik kau pergi." Usir Arlyn yang masih merangkul mesra serta menyenderkan kepalanya dibahu Edgar.


Edgar tidak bergeming ataupun berbicara mencegah, hanya menatap Zerlyn dengan tatapan yang menurutnya tidak bisa ditebak.


"Kau tau, Edgar adalah calon suamiku, tapi kau malah merebutnya dariku! Sungguh tidak tau malu!."


BBRAKKK!!


Fhai menggebrak meja dengan kasar membuat suasana itu menjadi sedikit canggung.


"Jika disini hanya untuk membahas masalah pribadi anda! Maaf saya tidak memiliki banyak waktu dan untuk masalah kontrak kerjasama saya batalkan!." Tekan Fhai.


"Apa? Tidak bisa! Kau hanya asistennya Fhai, jadi tidak berhak memutuskan secara sepihak."


"Meskipun saya hanya asistennya, tapi saya berhak mengambil keputusan."


Edgar bersama Ken hanya menonton adegan didepannya, sama halnya dengan Zerlyn sambil mencomot kentang goreng dan melipat dadanya santai.


"Ayo Fhai!! Tonjok saja Fhai!!." Seru Zerlyn terkekeh.


Keduanya saling memandang menatap Zerlyn dengan tampang santainya memasukan kentang goreng kedalam mulutnya.


"Kenapa melihatku seperti itu? Kalau mau, katakan saja!." Ketus Zerlyn melihat Ken dan Edgar menatapnya begitu serius.


"Ckk!! Sinting!." Desis Edgar.


"Itu sepertinya khusus untuk anda sendiri." Sinis Zerlyn.


Disaat fokus menyantap kentang goreng, ia melihat tatapan Fhai yang sedang mengkodenya. Zerlyn mengangguk kemudian berdehem untuk melerai perdebatan tersebut.


"Ehem!! Saya selaku Presdir dari ZN2 GROUP mengambil keputusan jika kontrak itu saya batalkan. Apa yang menurut Fhai katakan itu memang benar adanya."


Ketiganya terkejut lalu berdiri menatap Zerlyn didepannya seolah tidak percaya.


"Apa benar itu Nak?." Tanya Manda.


"Maafkan ayah dan maaf atas perilaku Arlyn padamu tadi." Sesalnya.


Zerlyn tersenyum sinis menatap ketiganya tak ingin membuang waktu, segera Zerlyn beranjak pergi namun Edgar berusaha menahannya.


"Mau kemana kau Heh!!."


"Lepas Tuan, pekerjaan saya masih banyak." Zerlyn berusaha memberontak melepas cengkraman dipergelangan tangannya.


"Tidak akan! Ikut denganku sekarang!."


"Lalu perusahaanku bagaiamana?." Tanya Zerlyn.


Ketiganya langsung menoleh ke arah Fhai, lantas Edgar tersenyum miring "Katakan saja kalau kau ingin berselingkuh dengannya."


"Jaga bicara anda Tuan!." Fhai geram dan emosi mendengar ucapan Edgar yang malah menuduhnya.


"Sembarangan!." Bentak Zerlyn.


Fhai memperhatikan sekelilingnya lantas segera mendekati mereka "Kita tidak memiliki banyak waktu."


"Apa maksudmu Tufay?." Tanya Edgar kebingungan.


Zerlyn segera menyeret Edgar bersamaan Ken menyusulnya dengan kebingungan.


"Ada apa Fhai?." Tanya Ken.


"Ikuti saja, jangan banyak tanya!." Jawab Zerlyn segera membawa mobilnya meleset jauh.


"Wow!! Anda sangat picik sekali! Kau tau aku paling benci yang namanya kebohongan!." Desis Edgar.


"Ckk!! Anda cerewet sekali." Tukas Zerlyn dongkol.


"Pakai sabuk pengamanmu bodoh!." Teriak Edgar menendang kursi kemudi.


"Hei! Kau bisa diam tidak!." Bentak Zerlyn.


"Apa yang kau katakan? Coba ulangi? Berani sekali kau membentakku!." Pekik Edgar menatap tajam.


"Stop!!!." Teriak Fhai menatap keduanya dengan tajam.


"Bisa diam sebentar?." Sambung Fhai.


"Kau siapa Hah berani memberi perintah." Sinis Edgar.


"Fhai, dimana mereka?." Tanya Zerlyn yang masih tetap fokus ke depan.


"Sial! Mereka sepertinya kembali memutar arah." Jawab Fhai mendengus kesal.


Zerlyn refleks mengerem mendadak mendengar jawaban Fhai membuatnya terkejut.


"Hahh?."


BRRUKK!!


"Hei! Apa kau tidak bisa mengemudi dengan baik?." Teriak Edgar memegang keningnya yang terbentur.


"Siapa yang kau maksud?." Ujar Ken panik sejenak ia menoleh ke belakang, namun tidak menemukan apapun.


"Tidak tau." Jawab Fhai kebingungan.


"Ckk!!!." Ken, kedepan." Perintah Edgar.


Ken mengangguk kemudian keluar dan menyuruh Zerlyn untuk duduk dibelakang. Mau tidak mau Zerlyn mengalah daripada harus beragumen dengan amukan singa.


**


Tidak terasa selama satu minggu waktu berjalan dengan cepat, begitupun Zerlyn yang tengah fokus untuk bersiap siap berangkat ke kota B.


Namun dalam hatinya sangat gelisah, sudah beberapa hari ini ia telat haid dan tanggalnya menjadi tidak teratur.


"Ya Tuhan!! Semoga tidak terjadi apapun." Batin Zerlyn dalam hatinya.


"Mau kemana kau?." Tanya Edgar melihat penampilan Zerlyn yang surah rapih menggunakan blouse dan rok hitam serta rambutnya dikuncir kuda.


Zerlyn membalikkan tubuhnya "Kota B, ikut bersama Tuan." Jawab Zerlyn.


"Oh ya? Siapa yang menyuruhmu pergi?."


"Tuan sendiri." Tukas Zerlyn.


"Kapan aku mengatakannya?." Kedua alisnya menyatu bingung.


"Tidak perlu kembali menjelaskannya, Tuan pasti sudah tau." Zerlyn kemudian menyeret tangan kekar itu untuk segera keluar.


"Selama tidak ada ijin dariku, kau tidak bisa keluar meski itu hanya satu jentik." Ancam Edgar berbisik ditelinganya.


"Tidak perlu bawel Tuan, kita akan terlambat nanti."


"Tetap berada disini Zerlyn! Apa kau tau, kejadian waktu dirumah sakit?." Tekan Edgar menatapnya tajam.


"Itu kejadian sudah lama Tuan, tidak perlu dibahas kembali. Lagian aku sudah sembuh seperti biasa anggap saja itu peringatan kecil untukku. Dan aku janji tidak akan ceroboh lagi." Jelas Zerlyn.


"Kau sangat keras kepala! Perlu pagi ini juga aku menghukummu?." Edgar tersenyum miring dengan ide licik yang bersarang diotaknya.


Zerlyn diam sesaat mencerna ucapannya, lantas kemudian segera berlari menjauhi Edgar.


"Dasar Tua mesum!." Teriak Zerlyn.


Edgar sekilas bibirnya tersenyum samar dan kepalanya menggeleng pelan. Entah apa yang ia rasakan saat ini, namun intinya hati itu selalu berdebar tidak karuan.


Apalagi mengingat momen romantis saat ia menghukum istri nakalnya tersebut.