
Matanya sangat tajam menatap ke setiap sudut, nafasnya begitu memburu. Otak serta pikirannya kacau dan sangat panas.
Serta kaki yang ia pijak berasa lengket akibat cairan merah kental menggenang dilantai berwarna putih alhasil menjadi seperti cap sirop marjan.
Umat manusia banyak yang ketakutan atas insiden itu, mereka masih meringkuk dengan bahu bergetar hebat. Meski mereka tau dengan kedatangan raja iblisnya, namun tidak sempat untuk menyambutnya.
Karna memang sepenuhnya belum mampu untuk berdiri, kaki mereka seolah masih lemas saat melihat secara live penembakan membabi buta tepat didepan mata mereka sendiri.
Mereka berpikir lebih baik melihat ++ daripada harus menonton acara penembakan apalagi mereka tidak tau siapa yang membantu menembaki musuhnya hingga tewas ditempat.
Mereka sampai mencari kanan kiri belakangnya, namun tidak kunjung mendapatkan siapa orangnya. Sangat misterius. Pikirnya.
Akan tetapi dalam hati mereka sangat beruntung ada yang membantunya disaat keadaan darurat.
Sama halnya dengan para pengawal Varessham, rupanya mereka disandra diruang bawah tanah serta sisanya dibawa kabur bersamaan dengan mobil yang membawa Clara, Ezra lebih awal.
Musuhnya seolah tau akan ada kejadian dihotel X hingga mereka dengan mudah mengacaukan pengawal dimansion dengan cara memblokir benteng pertahanannya.
**
Dengan langkah yang tergesa gesa, lalu berjalan menuju ruangan kerja pribadinya dan seketika kembali Edgar terkejut, melihat penampakan didepannya.
"Argghh!! Sialan! Rupanya mereka membawa berkas rahasia itu Ken! Serta berkas penting lainnya." Teriak Edgar marah mengacak segala kertas diatas mejanya hingga berhamburan kelantai.
Ken terkejut kemudian menatap para maid yang menunduk ketakutan "Katakan! Apa yang terjadi!." Bentak Ken.
"Ma..Af Tuan, Say--"
"KATAKAN DENGAN JELAS!." Bentak Ken kembali dengan meninggikan suaranya.
"Maaf Tuan, tadi ada yang mencoba masuk ke dalam ruangan kerja pribadi Tuan Edgar, pengawal sudah berusaha menahan dan melawan namun karena jumlah yang tidak seimbang musuh langsung menembaknya mati." Jawab Carter kepala koki mansion.
Ken diam sesaat kemudian pandangannya menoleh kebawah lantai meliwat pengawal pribadi Varessham banyak yang tewas.
"Dimana yang lain! Dan dimana River dan Tyler!."
"Ken, River tewas dan Tyler dibawa bersama mereka. Kemungkinan mereka mendesak River untuk mencari data informasi perusahaan Varessham, DeathBlood, ThristyBlood serta tentang berkas penting itu." Timpal Miller.
"Apa kau bilang? Katakan sekali lagi Hah! Berani kau bicara seperti itu? Coba kau ulangi dengan jelas dan katakan sekali lagi bodoh! Atau kepalamu yang aku penggal!." Teriak Edgar mencengkram kuat kerah kemeja Miller.
Edgar sangat terkejut mendengar jika River tewas, orang nomor dua sebagai kepercayaannya setelah Tyler.
"Edgar! Hentikan! Kita pikirkan ini baik baik! Hellen sekarang kondisinya sangat lemah, apalagi sekarang kita kehilangan Zerlyn. Jangan membuat masalah semakin rumit! Lepaskan Miller!." Tegur Tn.Elmato yang mencoba meredakan emosi Edgar.
Tn.Elmato sendiri kondisinya saat ini mengkhwatirkan, pikiran yang bingung, bimbang ditambah keadaannya sangat kacau.
"Arghh!! Sialan!." Teriak Edgar melampiaskan kemarahannya dengan membanting benda didepannya.
BRRAKKK!!
PPRAANGGG!!
Para maid semakin menunduk ketakutan, ingin berteriak ketakutan namun mereka tahan, lebih memilih melampiaskannya dengan cara menggigit bibir mereka.
Ken kemudian menatap Miller yang juga tengah ketakutan menatap Edgar seperti bukan dirinya.
"Miller, kumpulkan sisa pengawal dilantai bawah bereskan kekacauan disini dan kalian bantu sisanya!." Perintah Ken.
"Baik Tuan." Maid mengangguk kemudian melangkah pergi.
Ken lalu mendekati Tn.Elmato yang tengah duduk pasrah disofa, raut wajahnya kusut serta kepalanya terus saja menunduk sangat frustasi.
"Tuan, saya berjanji akan secepatnya menyelesaikan permasalahan ini. Tuan tidak perlu memikirkan apapun, fokuskan kepada Ny.Hellen." Pinta Ken hatinya iba melihat keadaan Tn.Elmato.
"Ya, Ken meskipun awalnya aku tidak tau akan terjadi seperti ini. Hellen sangat syok saat aku bertanya apa yang terjadi, Hellen seperti orang linglung. Sorot matanya kosong, aku berharap Hellen saat ini tidak kembali trauma seperti dulu."
"Percayakan Tuan, semuanya akan kembali baik baik saja seperti di awal. Saya tau Nyonya saat ini pasti mengkhwatirkan Ezra serta Clara, begitupun juga dengan Tuan Edgar kehilangan Tyler serta anak buah Varessham. Apalagi River sudah tewas, saya yakin musuh itu tidak sendiri."
"Apa? River tewas? Apa kau sudah meyakinkannya Ken?." Tanya Tn.Elmato.
"Belum, tapi laporan dari Miller yang saat itu sedang berada diruangan bawah tanah saya langsung percaya apalagi gurat wajahnya begitu merasakan sebuah kehilangan yang teramat."
"Ditambah Miller selalu dekat dengan River dan Tyler. Lalu dimana Tyler?."
"Dibawa keluar negri, saat ini anak buah Varessham sisanya masih dalam tahap pencarian. Namun, dipertengahan jalan mereka kehilangan jejaknya."
"Aku yakin, ini semua ada lain dibalik semuanya Ken. Mereka begitu kuat sampai anak buah Varessham yang mencapai ribuan tak mampu menanganinya."
"Takkan kubiarkan mereka lepas dariku! Aku bersumpah siapa saja yang berani mengganggu ketenangan hidupku serta Varessham akan mati ditanganku!." Sambung Edgar tangannya mengepal kuat, dendam membara dalam dadanya sangat mendalam.
"Sudah, tapi.. Mereka semuanya tewas saat musuh kembali menyerang. Dan rupanya, pertahanan telah diblokir sebelumnya." Desis Edgar sangat geram.
"Sial! KarungAjal!." Umpat Tn.Elmato.
"Dimana sikancil?." Tanya Edgar linglung disaat mengedar ke setiap mansion tidak mendapatkan Zerlyn. Edgar merasa hidupnya ada yang kurang.
"Dirumah sakit bersama Hellen. Zerlyn juga sangat syok melihat Hellen terbaring lemah, saat aku menceritakan sedikit masa lalunya kepada Zerlyn, Zerlyn seolah tidak percaya dengan apa yang aku ceritakan."
"Lalu, apa benar apa yang ucapkan oleh Zerlyn waktu itu?." Tanya Edgar sedikit curiga.
"Maksudmu yang mana Ed?." Jawab Tn.Elmato.
"Apa maksud Tuan saat Nona mengatakan Wesley, Harvey, dan Lemos?." Tebak Ken.
"Ya, kau benar Ken. Kenapa dia bisa tau dan kau masih ingat saat Miller mengatakan ThristyBlood? Grup apa itu? Apa hubungannya dengan semua ini? Lalu, apa benar Zerlyn adalah mata mata Varessham?."
Tn.Elmato menarik nafasnya kemudian menyenderkan tubuh lelahnya kesandaran sofa.
"ThristyBlood? Bukankah itu sebuah mafia terbesar dinegara A? Dan memiliki kekuasaan yang luas terutama dikota B. Selain memiliki kekuasaan, buknkah dia juga memiliki perusahaan utama di negara tersebut?." Tebak Ken.
"Ya, kau benar Ken. Tapi sayangnya, setelah aku mencari dinegara A aku tidak menemukan datanya. Banyak yang mengatakan jika ThristyBlood sudah tidak aktif di dunia mafia. Sedangkan perusahaan itu sendiri masih ada sampai sekarang, hanya saja aku tidak tau siapa pemiliknya dan yang aku tau hanya sekertarisnya saja." Cerita Tn.Elmato sekilas kembali mengingat waktu berada dinegara A. Sejenak, Tn.Elmato berpikir kemudian kembali meneruskan kalimatnya.
"Maya, Yah!! Namanya maya aku masih jelas seperti apa rupa wajahnya."
"Memiliki kekuasaan dikota B? Bukannya Lemos?." Tanya Edgar kebingungan.
"Akh, saya ingat Tuan. Saat Nona Zerlyn mengatakan anak buah Lemos yang sudah datang kembali ke negara asalnya." Jawab Ken.
"Memang siapa tadi yang mengatakan hal itu Ken?." Ucap Tn.Elmato.
"Miller." Balas Ken.
Tanpa menunggu perintah, Ken sudah tau apa yang keduanya inginkan. Ken segera memanggil Carter.
"Carter! Panggilkan Miller sekarang!."
Carter yang awalnya koki berubah propesi menjadi tukang ngepel segera mengangguk kemudian berlari ke arah belakang.
Tak lama, Miller segera datang dengan membawa sapu injuk ditangannya membuat kedua pria menatapnya kebingungan. Tak terkecuali Edgar mendelik sinis.
"Kau sedang apa Miller?." Tanya Tn.Elmato mengkerut keningnya.
"Yang mulia, maafkan saya. Saya diberi tugaskan untuk menyapu halaman belakang oleh sang baginda raja. Sesaat saya sudah menyelesaikan pekerjaan diruang bawah tanah beserta Varessham seluruhnya mereka sudah menyelesaikannya." Jawab Miiler.
"Kau itu bicara apa? Katakan yang jelas Miller! Bahasamu sangat kaku, kau tidak pantas berperan seperti itu!." Ketus Tn.Elmato.
"Aktingmu sangat buruk, sapa persis dengan Jal@ sialanmu." Cibir Ken.
TUKK!!
Miller memukul kepala Ken dengan sapu injuk, lagi dan lagi Miller bosan mendengar ucapannya yang selalu mengatakan tentang kekasih simpanannya.
"Hei!! Berani sekali kau memukul kepalaku Hah!!." Pekik Ken langsung berdiri dari duduknya menatap Miller dengan tajam.
"Kau tau kepalaku sangat berharga dibandingkan dengan isi otakmu?." Sambung Ken.
"Kalau iri, katakan saja Ken tidak perlu membawa nama deretan kekasihku. Dan kalau kau mau harusnya berbicara langsung jangan terus mengkode lalu menjelekkannya."
"Apa? Aku telingaku tidak salah mendengar? Lebih baik aku memilih Bik Nur daripada para Jal@ penyakitammu itu."
Bik Nur yang tadinya sedang fokus membersihkan mansion bersama ratusan maid sedikit mendongkakan wajahnya menatap mereka berempat.
"Ekh!!." Tukas Bik Nur sedikit terkejut.
Miller kemudian menoleh menatap Bik Nur sedang salah tingkah sendiri.
"Bik, dia orang gila! Tidak perlu Bibi mendengarkan ocehan tidak pentingnya." Pekik Miller.
"Sialan!." Desis Ken.
"Lama lama aku jodohkan kalian berdua Ken, Miller." Bentak Tn.Elmato kemudian melangkah pergi keluar mansion.
"Ide yang bagus." Timpal Edgar menyusul dibelakangnya.
Keduanya sejenak termenung kemudian saling memandang satu sama lainnya, pandangan yang cukup lama namun sangat dramatis.