KING MAFIA IS MY HUSBAND

KING MAFIA IS MY HUSBAND
CHAPTER FIFTY-EIGHT BERMAIN DI ISTANA RAJA IBLIS 3



Anak buahnya banyak yang terkejut dengan kedatangan istri mudanya, apalagi seragam sekolah masih melekat dalam tubuhnya. Lantas kemudian mereka munduk hormat, namun dalam hatinya banyak yang bertanya tanya.


"Tuan, ini tempat apa?." Tanya Zerlyn melihat umat manusia bertubuh besar dan jangkung berjejer rapih disetiap sudut. Alhasil membuat Zerlyn sedikit ketakutan.


"Markas Nona, tapi anggaplah tempat bermain." Jawab Miller.


"Markas? Markas apa?." Tanya Zerlyn kembali.


"DeathBlood. Dan hanya anda diurutan pertama yang bisa memasuki wilayah kekuasaan dari Varessham. Anda sangat beruntung Nona, mengingat Edgar akan sangat marah jika siapa saja yang berani menginjakkan kakinya di markas pribadi miliknya." Jelas Miller.


Mendengar kata DeathBlood Zerlyn kembali teringat dengan ucapan Fhai waktu itu. Dan untuk pertama kali inilah, ia bisa melihat langsung bagaimana markas pribadi seorang raja mafia.


Edgar menghentikkan langkahnya lantas menatap ketiga pria didepannya. Dengan tangan terikat rantai besi yang ditarik ke atas, alhasil tangan mereka menggantung bebas.


Lalu Edgar menoleh ke arah Zerlyn dengan tajam. Serta tangannya mengkode anak buah dibelakang untuk segera menyingkir.


Zerlyn menelan slavinanya susah payah, melihat Edgar dengan tampang iblisnya sangat menyeramkan. Meski Zerlyn terbiasa akan hal itu, tapi kali ini menurutnya berbeda.


Ya, aura yang Edgar pancarkan kesannya jauh lebih berlapis dan sangat kuat membuat Zerlyn meremas tas didepannya lalu mundur beberapa langkah.


"Jelaskan sekarang! Mana Wesley, Lemos dan Harvey." Tuntut Edgar.


"Sial! Ternyata iblis ini masih ingat dengan ucapanku dulu." Batin Zerlyn dongkol.


Sebelum Zerlyn menjawab, lantas sekilas ia menyipitkan matanya menatap seorang wanita yang juga sedang menatapnya.


"Aku merasa tidak asing dengan wajah ini?." Ucap Zerlyn dengan pikirannya melayang mencari jawaban didalam otaknya.


"Dia yang telah membawa jus racun menurut dari laporan anda Nona." Timpal Ken.


"Akh!! Ya aku ingat sekarang!!." Tukas Zerlyn kemudian melirik kearah salah satu anak buah Varessham yang sedang berjaga.


"Kau! Buka kuncinya, biarkan aku masuk." Perintah Zerlyn.


Namun anak buahnya tidak bergeming dan tetap diam ditempat. Membuat Zerlyn gemas ingin memukul kepalanya lalu kembali menoleh ke arah Edgar.


"Mau selesai apa tidak? Cepetan buka Tuan." Geram Zerlyn.


Edgar lantas mengkode anak buahnya untuk menuruti perintah dari Zerlyn. Meski ia sendiri bingung apa yang akan dilakukannya nanti.


"Daritadi dong!." Ketus Zerlyn kemudian segera masuk lantas mengambil ponselnya lebih dulu.


Wanita itu berontak melototkan matanya serta kepala yang terus menggeleng. Zerlyn sangat kesusahan akibat pergerakan dari tubuhnya.


PLLAAKKK!!!


"DIAM BODOH!." Teriak Zerlyn yang sudah kesal dan langsung menamparnya.


Suara tamparan yang keras membuat Miller meringis refleks menyentuh pipinya. "Aku tidak bisa membayangkan jika kekasihku menamparnya dengan cara seperti itu. Oh!! Pasti sangat menyakitkan."


"Apalagi sampai menebas siJoni." Sambung Ken sinis.


Miller sontak saja langsung memegangnya, ia sendiri tak bisa membanyangkan ucapan dari Ken. Mencoba rasanya Miller saja sungguh tidak sanggup.


**


Zerlyn segera keluar lantas menuju para tahanan yang digantung sudah seperti eksekusi bund@.


Dengan memperhatikan setiap wajah mereka secara teliti berjalan pelan ke depan, lalu kembali berjalan kebelakang. Begitu seterusnya.


Lantas mengambil ponsel canggihnya didalam tas untuk mencari data informasi yang pernah Walther sebutkan setiap ciri ciri anggotanya.


Berkali kali mengscrool, Zerlyn tidak menemukan laporan tersebut hingga membuatnya sangat jengkel.


Lalu pandangannya menatap mereka satu persatu dan akhirnya mau tak mau, Zerlyn langsung menlpon Luther.


"Hallo, dimana sekarang?." Tanya Zerlyn mengapitkan ponsel ditelinganya dengan pundak sebagi penahan. Lantas langsung memasangkan Earphone blututnya.


"Dinegara A Nona memantau dari jarak radius 5 Meter." Jawab Luther.


"Hahh?? Sedekat itu??." Balas Zerlyn terkejut.


"Tenang Nona, saya sudah memastikan semuanya aman." Ucap Luther.


"Hmmm.. Bisa kau kirimkan kembali ciri ciri mereka waktu dihotel saat itu?." Tanya Zerlyn sedikit memundurkan langkahnya, membuat Edgar langsung curiga.


"Maaf maksudnya yang mana Nona?." Jawab Luther.


"Ciri ciri dari musuh Lemos, Wesley, dan Harvey. Yang Whalter pernah katakan waktu dihotel." Jelas Zerlyn.


"Baik, saya kirimkan segera. Laporan kali ini masalahnya sangat serius Nona."


"Maksudmu?."


"Mereka membawa Nona Clara, Nona Stella, Tn.Muda Ezra, Whalter dan Tyler ke berbagai negara yang terpisah dan kabar dari pantauan anak buah ThristyBlood negara itu tidak terdaptar didalam peta yang jika diartikan akan sangat sulit untuk mendeteksi keberadaannya melalui sinyal internet."


"Jika misalnya berhasil menemukan dan melacak keberadaannya, hanya 4% sangat mustahil. Mengingat mereka menggunakan kekuatan berlapis. Serta keamananya bertingkat tinggi."


"Saya beserta anggota lainnya sampai dibuat pusing saat mereka membawanya ke berbagai negara terpisah satu hari selama dinegara A, lalu besoknya berpindah ke negara B. Terkadang anggota lainnya sampai kehilangan jejak dari mereka." Jelas Luther panjang lebar.


"Akh, jadi ternyata ini penyebab mereka sampai tidak bisa melacaknya sedikitpun?." Gumam Zerlyn emosi.


"Baiklah, lalukan tugasmu dengan baik jangan sampai ceroboh. Pantau terus mereka dan laporkan segera ke emailku apapun itu. Jika perlu, mintalah bantuan kepada Bik May dan katakan padanya hubungi aku nanti."


Zerlyn segera mematikan sambungan telponnya, lantas kembali menatap anak buah yang tadi menolak perintahnya.


"Hey kau! Cepat buka bajunya, kalau kau berani menolak perintahku lagi, akan ku cincang tubuhmu!." Ancaman Zerlyn dengan tangan didadanya.


Lagi, Edgar mengkode anak buahnya untuk menuruti perintah dari Zerlyn.


"Kau iblis! Wanita sialan! Tuanku akan membunuhmu! Dan akan membunuh ThristyBlood seluruhnya!." Teriak Marrie wanita tadi yang sempat Zerlyn introgasi.


"ThristyBlood?." Ulang Ken mengkerut keningnya.


"Ya! Dia adalah pemimpinnya, ketua mafia wanita paling sadis dan berkuasa dinegara A! Dia orangnya!."


Zerlyn mengepalkan tangannya geram, kemudian berjalan mendekati Marrie dengan senjata api ditangannya.


"Sekali lagi kau berani berbicara, mulut mejijikanmu yang menjadi sasaranku!." Ancam Zerlyn menatap tajam.


"Astaga!!." Pekik Miller terkejut.


"Hahhaa!! Kenapa? Apa kau marah? Tidak terima dengan ucapanku? Lalu, untuk apa kau marah maniss? Bukankah itu faktanya? Jika kau memang bukan ketua ThristyBlood, kau tidak akan tersinggung dengan perkataanku!."


PPLAAAK!!


"DIAM! DAN TUTUP MULUTMU SIALAN!." Bentak Zerlyn menampar Marrie begitu kuat sampai Marrie mengeluarkan darah segar dan langsung tersungkur menyebabkan Edgar serta lainnya mundur beberapa langkah.


"Zerlyn! Tugasmu hanya mencari informasi mereka, bukan dia!." Bentak Edgar melotot tajam.


Zerlyn tersenyum sinis "Urus bajing@ anda dengan benar Tuan!."


"Tanpa kau memberitahuku, aku tau apa tugasku!." Teriak Edgar.


"Begitu?." Zerlyn menaikkan satu alisnya mengejek Edgar didepan.


"Astaga!! Ini suami istri sekalinya bertengkar, aura iblisnya langsung keluar. Hihh!! Merinding!!." Ujar Miller melihat tatapan maut dari mata keduanya.


"Cepat katakan!." Bentak Edgar lagi dengan nafas yang sudah memburu dalam dadanya.


"Ada dua syarat yang harus kau penuhi Tuan Edgar."


"Kau berani mempermainkan aku?? Kau tau sendiri apa akibatnya Hah!." Edgar langsung menodongkan senjata api yang berada ditangan Zerlyn dan langsung mengarahkan tepat berada dikeningnya.


"Hei! Edgar! Apa kau sudah tidak waras? Dia istrimu Ed!." Teriak Miller terkejut.


"Tuan, jangan melakukan hal yang bodoh!." Tegur Ken.


"Diam kalian semua!." Bentak Edgar.


Lagi, Zerlyn hanya tersenyum sinis dan bersikap santai "Tentu tidak Tuan, aku hanya minta dua permintaan saja tidak lebih."


"Cihh!! Kau memang jelmaan iblis! Dugaanku benar, ternyara kau adalah mata mata Varessham! Puas kau sudah menghancurkan keluargaku Hah! Apa belum puas kau sampai membawa adikku?." Geram Edgar.


Zerlyn menggeleng pelan Edgar sudah berpikir buruk tentangnya serta menuduh jika dirinya musuh terbesar Varessham.


Zerlyn ingin menjelaskan jika tuduhannya itu salah, namun Zerlyn kembali berpikir percuma untuk menjelaskan kepada Edgar. Sebab, dia tidak akan mendengarkannya. Apalagi suasana hatinya sedang kacau ditambah dengan kesehatan Ny.Hellen yang semakin drop.


"Jadi benar apa yang dikatakan Marrie kau adalah ketua dari ThristyBlood? Cihh!! Aku tidak pernah menyangka menikah dengan orang yang salah! Apa yang dikatakan Arlyn itu benar, dan ucapannya baru terbukti sekarang!."


"Aku menyesal telah menikahimu! Dari awal aku sudah curiga, apalagi gerak gerik selama kau berada dimansion utama. Aku membiarkannya tapi mataku selalu mengawasimu!."


"Ditambah dengan identitas milikmu yang palsu! Kau menutupi segalanya hanya karna takut aksi licikmu diketahui olehku? Selain kau cantik, kau juga racun bagiku!." Desis Edgar meluapkan segala amarah dan kekesalannya.


"Cepat! Katakan apa maumu! Aku sudah tidak sudi melihat wajah busukmu! Aku lebih baik mencintai Arlyn sepenuhnya dan menikah dengannya. Tapi kau! Kau malah menghalangi jalanku! Segala menuduh buruk tentangku! Puas sekarang Hah!."


Zerlyn hatinya terasa tercekat dan sangat sakit ingin sekali menumpahkan segala amarah dalam dadanya. Namun lagi, Zerlyn berusaha menahannya. Ia tidak ingin terlihat lemah didepan Edgar.


Zerlyn hanya diam mematung ditempat berpikir sejenak dan mencerna setiap ucapannya. Setelah lama berpikir dan akhirnya memutuskan untuk pergi kembali ke negara asalnya.


"Saya akan pergi ke..--"


"Bagus! Itu bahkan lebih bagus! Pergi jauh dariku, dari kehidupanku! Jangan pernah kembali lagi! Dan memperlihatkan wajah munafikmu dihadapanku! Untuk masalah surat kontrak pernikahan, anggap itu sudah selesai!."


"Edgar!." Bentak Miller menatap tajam.


Miller yang sejak tadi diam mendengarkan setiap kata kata dari Edgar yang begitu menyakitkan hatinya, Miller sendiri bisa merasakan bagaimana rasanya berada diposisi Zerlyn.


Namun anehnya, Zerlyn tidak menangis ia hanya bergeming ditempat. Membuat Miller, Ken, serta anak buahnya menatap heran setegar itukah watak Zerlyn?. Pikir mereka.


Disaat Miller akan menghajar Edgar sekedar menghukumnya dan ingin menyadarkan jika ucapannya salah. Miller tau jika saat ini kondisi Edgar tidak stabil apalagi dengan kejadian baru baru ini membuat otaknya sangat kacau.


Zerlyn segera menahan tangan Miller yang sudah melayang diudara. Zerlyn menggelengkan kepalanya sebagai kode.


"Dia sudah karungUjul! Jika Nona tidak mampu membalas perkataannya, biarkan aku yang akan menghajarnya!." Tegas Miller melayangkan tinju ke udara sebagai tanda protes.


"Tidak perlu, apa yang dikatakannya adalah benar. Aku cukup sadar diri dan tau diri posisiku yang terlalu menggapai langit, sedangkan Tuan hanya menganggap ku angin. Dan faktanya sangat berbeda jauh."


"Terima kasih sudah berusaha membelaku walaupun kau sendiri tidak bisa langsung merendam amarahmu, biarkan aku pergi. Tolong aku titip mamah dengan baik." Pamit Zerlyn kemudian melangkah keluar.


"Arghh!!." Pekik Miller frustasi.


Marrie yang menonton pertengkaran mereka tersenyum puas.