
Jam berputar, tahun berganti ketahun begitupun seterusnya. Selama beberapa hari dikota B Zerlyn berhasil mengaktifkan dunia bisnisnya, itupun demi mendapatkan kekuasaannya kembali.
Hati yang cemas dan gelisah berubah menjadi kenyataan yang selama ini ia takutkan itu akhirnya terjadi. Ingin menyesal namun sudah terlambat, kini statusnya tidak jelas menggantung begitu saja.
Apalagi usianya sudah memasuki 91,25 hari. Alhasil perutnya menjadi sedikit mengembung. Tidak ingin sampai ada yang mengetahuinya, Zerlyn mengakalinya lewat baju kebesarannya.
Namun keberuntungan sepertinya masih berpihak padanya, sekolah sudah memasuki tahap akhir. Itu artinya Zerlyn tidak perlu semakin kwatir akan kondisi tubuhnya. Apalagi ditambah Morning sickness, yang terkadang tidak menentu.
Dirasa sudah pas dan sempurna, Zerlyn segera keluar namun sejenak kemudian kembali mengelus perut ratanya.
"Dulu, tubuh gue sixpack tapi sekarang.. Hmmm.." Gumam Zerlyn.
Bukan niat untuk mempersalahkan, hanya saja ia sebentar lagi akan menjadi jadong beranak satu. Memikirkan hal itu, membuat Zerlyn bibirnya sedikit meringis lantas kepalanya menggeleng pelan.
Langkah kakinya berjalan pelan menuruni anak tangga, berat beban tubuhnya sedikit terganggu.
Zerlyn berusaha tetap tersenyum hangat meski dihatinya berkata lain saat semua mata dimeja makan itu memandang kearahnya.
"Bukannya sudah selesai?." Tanya Tn.Elmato.
"Hanya tinggal akhir pah, setelahnya Free." Jawab Zerlyn.
"Makanlah sarapanmu, mau diantar atau membawa mobilmu sendiri?."
"Tidak perlu keduanya pah." Tolak Zerlyn menatap sarapan paginya tidak bersemangat.
Hatinya ingin sekali memakan yang menurut ngidamnya itu sendiri.
"Ayo dong sayang makan. Apa kau sakit? Wajahmu pucat sekali." Tukas Ny.Hellen.
"Ekh!! Iya Mah. Hmmm.. Tidak ko." Bantah Zerlyn setengah gugup.
"Mah, mungkin Kak Zerlyn memikirkan soal ujian akhirnya." Tebak Ezra.
Zerlyn merasakan tubuhnya tidak baik baik saja kemudian dia pamit sebentar untuk kebelakang. Ny.Hellen mengangguk mesti dari wajahnya sangat khwatir.
Bik Nur merasakan ada yang curiga dari Zerlyn meskipun ia berusaha menutupinya, namun naluri seorang ibu berbeda. Tanpa pikir panjang, segera Bik Nur menyusulnya.
"Astaga!! Non, apa Non sakit? Apa masuk angin?." Bik Nur panik sesaat mendengar Zerlyn muntah.
"Tidak Bibi, aku tidak apa apa jangan katakan ini kepada mamah."
Zerlyn kembali merapihkan penampilannya kemudian membalikkan tubuhnya menatap Bik Nur secara intens.
"Serius Non, Non baik baik saja? Perlu Bibi panggilkan dokter? Wajah Non pucat sekali." Usulnya.
"Mampus gue!." Batin Zerlyn.
"Aku baik baik saja Bibi." Zerlyn berusaha tetap tersenyum menghilangkan rasa aneh ditubuhnya meski ia sendiri sudah tau. Ditambah Ny.Hellen mengatakan hal yang sama.
**
Matanya menerawang jauh kedepan, memikirkan nasib anaknya entah akan seperti apa? Dia menyesal, sangat menyesali perbuatannya sendiri. Berkali kali membuang nafasnya frustasi.
"Tuhan!! Aku harus gimana?." Ucapnya dengan mata terpejam seraya menyenderkan tubuh buncitnya ke sandaran kursi taman.
Selesai ujian tahap akhir, Zerlyn memutuskan untuk pergi mencari pasokan udara segar mengisi otaknya yang dangkal.
Mata yang tadinya terpejam berubah melotot saat melihat makanan incarannya sesuai keinginan dari ngidamnya.
Zerlyn lantas berdiri dan berjalan mendekati, matanya menatap teks yang tertulis NGHEU NNHA AHH PPHIE SHANN. Kedua alisnya bertaut bingung tidak mengerti akan bahasanya.
"Neng, meni gelis pisan? Orang mana eneng teh?." Tanyannya.
"Ekh!! Sorry what language do you use?." Jawab Zerlyn.
"Aduhh Neng, punten bapak mah teu terang bahasa planet. Neng, tiasa bahasa sunda?."
Zerlyn mengeleng pelan, sebenarnya ia juga tidak mengerti apa yang dibicarakan olehnya. Kepalanya hanya manggut manggut tanda mengerti.
Tak ingin membuang waktu, Zerlyn segera membeli banyak buah mangga muda lengkap dengan bumbu rujaknya.
"Wow!! Ini yang aku mau." Matanya berbinar sesaat melihat satu kantung plastik penuh. Rasanya tidak sabar ingin segera mencobanya.
"Ekh!! Tuan." Zerlyn tersenyum lebar menampilkan deretan giginya.
"Tuan mau?.? Ini enak Tuan." Sambungnya dengan menyodorkan mangga muda sambil memakannya dengan rakus.
Kening Edgar mengkerut bingung, namun berbeda dengan Ken merasa curiga dengan gelagatnya yang aneh.
"Tidak! Lebih baik pulang sekarang! Jika melihatmu masih berkeliaran bebas, kau tau sendiri apa akibatnya." Ancam Edgar menatapnya tajam kemudian melangkah pergi.
Zerlyn segera menyusulnya dan masuk kedalam mobil, ia berpikir lebih baik mencari grtisan untuk menghemat ongkos.
Matanya menyipit dengan santainya Zerlyn masuk begitu saja.
"Mau apa kau?."
"Ikut, apa lagi?." Jawab Zerlyn acuh.
Edgar melirik jam ditangannya sebentar lagi sudah dimulai, ia bingung mencari jalan keluarnya.
"Tuan, biarkan Pak syam menjemput Nona di resto X." Usul Ken yang mengerti raut kegelisahannya.
"Hmmm.. Katakan langsung padanya Ken." Jawab Edgar yang sampai tidak memikirkannya kesana.
Ken segera menekan Walkie talkienya. "Jemput Nona Zerlyn diresto X."
"Tuan, Tuan akan meeting? Boleh aku ikut?." Tanya Zerlyn.
"Untuk apa? Lebih baik habiskan buah manggamu, apa menurutmu itu tidak masam?." Jawab Edgar meringis ngilu saat mangga muda itu masuk kedalam mulutnya.
Zerlyn menggeleng pelan lalu menyodorkan satu potongan padanya "Ini, cobalah."
"Hei! Jauhkan tanganmu!." Desis Edgar menahan pergelangan tangan Zerlyn yang akan memasukan satu potongan mangga padanya.
"Ayolahh!! Sekali ini saja." Lirih Zerlyn dengan tatapan mengiba.
Edgar mengkerut keningnya bingung, bingung dengan perubahan sikap Zerlyn secara tiba tiba. Sikap yang lembut, lebih terkesan penurut. Tidak seperti biasanya selalu membantah dan menjadi pembangkang.
Disaat Edgar tengah melamun, Zerlyn tersenyum miring kemudian dengan ide konyolnya duduknya ia lebih dekatkan disamping Edgar.
Deg!
Saat buah mangga itu masuk kedalam mulutnya, Edgar merasakan ada yang berbeda menyentuh kulitnya. Bukan rasa dari buah mangga, melainkan sesuatu yang akh entah apa? Edgar tidak bisa menjabarkannya.
Zerlyn tersenyum senang melihat Edgar menggigit buah mangga yang menurutnya sangat masam. Bibirnya terkekeh dan tersenyum lebar.
Edgar menahan pinggangnya sesaat Zerlyn akan menggeser tempat duduknya. Tak ingin membuang waktu, Edgar mengelus perut yang masih tertutup oleh seragam kebesarannya sangat berbanding jauh dari ukuran tubuh normalnya.
Namun dengan sigap Zerlyn menepis kasar pergelangan tangan Edgar dan kemudian menggeser tempatnya menjadi lebih jauh.
Secara kebetulan mobil berhenti tepat di resto X Zerlyn segera keluar bersamaan dengan Edgar dan wanita cantik merangkul dan memeluknya dengan erat.
"Hallo sayang, aku menunggumu sejak tadi." Bisiknya ditelinga Edgar namun matanya melihat Zerlyn dengan aura membunuh.
"Akh!! Jadi ini maksud alasannya untuk meeting?." Gumam Zerlyn.
Ken terkejut apalagi saat ini sedang bersama Zerlyn yang melihat langsung kejadian itu.
Zerlyn mengepalkan tangannya kuat, pikirannya menjadi bimbang dan bingung. Namun hatinya membenarkan jika itu memang bukanlah haknya untuk mengatur Edgar.
Apalagi mengingat hubungan dengan Edgar sangat tidak jelas terkadang sikapnya sangat dingin, kasar, lembut dan sekarang ditambah bermesraan bersama wanita lain didepannya.
"Nona, maafkan saya jika terlambat." Sesal Pak Syam yang belum menyadari insiden didepannya.
Edgar terkejut sontak mendorongnya dengan kasar sesaat baru menyadari kesalahan terbesarnya. Kemudian menoleh ke belakang menatap Zerlyn yang juga tengah menatapnya.
Entah tatapan apa, Edgar tidak bisa menebaknya. Zerlyn mundur beberapa langkah kemudian segera masuk ke dalam mobil bersamaan Pak syam menyusulnya.
Sedangkan wanita itu tersenyum puas melihat kehancuran Zerlyn yang sebentar lagi akan bernasib sama dengannya.
"Kau sudah menghancurkan semuanya termasuk merebut Edgar dariku! Maka terimalah kehancuranmu saat ini! Aku akan membalasmu secara perlahan, termasuk membunuh bayi dalam kandunganmu." Batinnya.