
Seperti biasanya, rutintas kesehariannya sudah menunggu Zerlyn sejak kemarin. Aktivitas yang menurutnya sangat membosankan apalagi hari ini jadwalnya begitu sangat padat.
Bergegas Zerlyn memakai seragam sekolah, menata rambut panjangnya dengan mengikat ekor kuda. Serta menyiapkan segala keperluan yang lain menurut Zerlyn sangat penting untuknya.
Baru saja keluar dan akan melangkah menuruni anak tangga, Zerlyn sudah muak dan malas. Dengan menyeret kakinya secara pelan kemudian duduk sebentar lalu kembali melanjutkan langkahnya. Begitu seterusnya sampai dilantai bawah membuat yang berada dimeja makan menunggui dirinya merasa keheranan.
"Zerlyn, apa kau tidak apa apa?." Tanya Ny.Hellen.
Zerlyn menggeleng pelan "Tidak Nyo.. Eh Mah."
Ny.Hellen tersenyum melihat kegugupan Zerlyn yang tidak pernah terbiasa menyebutnya Mamah.
"Hermano, fuiste a la escuela hoy? Puedo ir contigo?." Tanya Clara.
"Clara, gunakan bahasamu dengan benar! Zerlyn masih SMA mana mungkin Zerlyn mengerti bahasa asingmu." Tegur Tn.Elmato.
Zerlyn membuang nafasnya gusar ditambah hari ini moodnya sudah rusak ditambah dengan kedatangan jailangkung yang selalu menggunakan bahasa plutonya.
"La escuela no es un lugar para paseos o parques, te llevaré al centro comercial después de la escuela, qué quieres?." Dengan lantang dan Tegas, Zerlyn menjawabnya.
Clara melongo mendengar bahasa spayol dari Zerlyn yang sangat fasih dan lancar. Clara berpikir tidak akan kesusahan nanti jika suatu saat mengobrol santai dengan Zerlyn.
"Really? Did you not lie to me?." Ucap Clara dengan mata berbinar.
"What for? After all, since when did I lie?." Jawab Zerlyn santai.
"A, gomawo hyeongnim, hyeong-eun haggyoeseo myeoch sie jib-e wayo?." Tanya Clara kembali yang menggunakan bahasa korea.
"Ik laat het je later weten." (Nanti aku kabari lagi) Jawab Zerlyn menggunakan bahasa Belanda.
Clara akhirnya diam, ia tidak mengerti bahasa yang Zerlyn gunakan sebab Clara hanya bisa menggunakan 3 bahasa inggris, spayol, serta korea. Berkat dirinya tinggal dinegara P Clara terkadang menjadi kebiasaan baginya menggunakan bahasa luar.
"Kau bisa bahasa spayol, inggris dan belanda? Wow!! Sangat hebat sekali, belajar dari mana Zerlyn?." Tanya Tn.Elmato yang kagum dengan otak cerdasnya.
"Jangan mengatakan kalau dari yutub lagi!." Sambung Edgar mencibir.
Zerlyn memutar bola matanya "Iseng Pah, gada niat buat menggunakannya."
"Loh kenapa? Kau bisa berapa bahasa Zerlyn?." Timpal Ny.Hellen.
"5 Mah." Balas Zerlyn membuang nafasnya, merasa tidak nyaman dengan situasi tersebut. Hal yang mereka banggakan justru dalam hati Zerlyn sangat membencinya.
Zerlyn tidak menyukai pujian, apalagi menjadi orang kaya seperti sekarang. Baginya semua itu membosankan. Keinginannya hanya ingin kembali ke masa dulu merasakan hidup di kampung terpencil namun masih sangat asri.
Kehidupan yang tenang, damai tanpa ada satupun yang mengusik. Berbeda dengan sekarang musuh dari pihak Edgar selalu menerornya entah apa yang mereka inginkan darinya sampai harus menyerang terus menerus.
Kadang Zerlyn jengah dan lelah, ingin bercerita pada Edgar, selalu terbuka, dengan menumpahkan segala keluh kesah kehidupannya. Namun, selama ini Zerlyn tidak terlalu dekat dengan Edgar jangankan untuk bercerita, sekedar menyapa ataupun bertukar tanya jawaban Edgar tidak pernah melakukannya.
Edgar hanya sibuk dan sibuk dengan mengurus perusahaan, hatinya seolah mati untuk Zerlyn, seolah menganggap Zerlyn tidak ada dikehidupannya. Kadang kala, Zerlyn ingin secepatnya menyelesaikan kontrak pernikahan tersebut agar Zerlyn bisa bebas kembali seperti dulu.
___
Sepanjang perjalanan, Edgar termenung entah apa dalam isi otaknya tidak biasanya Edgar berdiam diri seribu bahasa.
"Ada apa Tuan?." Tanya Ken kebingungan melihat sikap Edgar yang tidak biasanya.
"Entahlah Ken, kau sudah mengecek informasi Zerlyn?." Jawab Edgar.
"Ah, jadi ini rupanya inti permasalahannya?." Batin Ken. Ia sendiripun terkadang dibuat penasaran dengan identitas Zerlyn itu sendiri.
"Sudah, tapi tidak menghasilkan apapun." Balas Ken.
Edgar menghela nafasnya berat dengan mata tertutup lalu menyenderkan kepalanya.
"Aku yakin Ken, dia pasti sangat berbahaya aku takut jika dia melukai kekuargaku." Lirih Edgar mengutarakan beban hatinya.
"Jika Nona berniat untuk melukai keluaraga Varessham, saya berpikir itu tidak mungkin Tuan. Mengingat dari awal pasti sudah membunuh keluarga anda ataupun menerornya." Jelas Ken.
"Benar Tuan, apalagi waktu kejadian kemarin. Ditambah dengan sorot matanya yang sama dengan anda. Saya yakin, jika ucapan Nona Clara benar adanya."
"Ucapan yang mana Ken?."
"Yang mengatakan jika Nona Zerlyn adalah mafia." Ujar Ken.
Edgar kembali mengheningkan cipta, ia sendiri bingung merangkai kata dan menyimpulkan keseluruhannya.
"Apa perlu aku matai dia Ken?." Usul Edgar.
Ken diam sejenak, Ken sendiri tidak tau harus menjawab apa? Dirinya pun bingung dengan otaknya. Sempat hening sesaat kemudian Ken segera menjawab.
"Tidak perlu Tuan, selagi Nona Zerlyn tidak sampai melakukan kesalahan terbesar yang membuat Varessham merugi dan malu dengan perbuatan yang Nona Zerlyn lakukan."
"Maksudmu?." Tanya Edgar mengkerut keningnya.
"Nona Zerlyn selama ini tidak pernah melakukan kesalahan apapun yang sampai membuat nama besar Varessham malu dengan perbuatannya, meskipun statusnya sebagai istri rahasia tapi sepertinya Nona Zerlyn tau diri Tuan." Jelas Ken.
Edgar mengangguk mengerti dengan penjelasan Ken "Lalu, apa Zerlyn mempunyai musuh diluar sana Ken?."
Ken tersenyum samar sampai Edgar tidak mengetahu hal itu, pria kaku tersebut tersenyum hanya karna ia berpikir apakah Edgar sudah mulai peduli pada Zerlyn?.
"Tidak Tuan, saya sempat mencari infonya bahwa Nona hanya memiliki satu orang teman di sekolahnya."
Edgar kembali mengangguk "Bagaimana dengan laporan berkas itu Ken?."
"Laporan yang mana Tuan?." Tanya Ken lewat Visi Mirrornya melihat Edgar sudah tidak kembali murung seperti tadi.
"Mengenai kerjasama dengan perusahaan ZN2 GROUP." Jawab Edgar.
"Sudah disetujui Tuan, nanti siang kita akan melakukan meeting dengan perusahaan tersebut di resto X." Balas Ken.
"Bersama pemiliknya?." Tanya Edgar kembali.
"Tidak, tapi dengan Asisten sekaligus sebagai sekertarisnya." Jawab Ken dengan membantahnya.
"Perusahaan sebesar itu apa dia hanya mengurusnya seorang diri? Lalu, kemana pemilik perusahaannya Ken? Apa kau pernah melihatnya?."
Ken mengkerut keningnya sejenak ia diam mencerna ucapan dari Edgar.
"Maaf Tuan, tapi ini perusahaan cabangnya bukan di negara A." Sesal Ken yang langsung memberitahukan keliruannya.
"Apa kau bilang Ken? Bukankah perusahaan kita hanya membutuhkannya di negara A?." Tanya Edgar geram.
"Waktu kemarin saya sudah menginformasikannya pada Tuan, dan Asistennya juga sudah memberitahukannya pada saya. Alasannya, perusahaan cabangnya sama halnya seperti di negara A." Jawab Ken dengan jelas.
"Cihh!! Basi! Apa perusahaan kita sudah bergabung untuk bekerja sama dengan perusahaan ZN GROUP di negara A Ken?."
"Tidak Tuan, hanya dengan cabangnya dan itupun beruntung laporan perusahaan Varessham diterima dengan baik."
Ya, Ken tau jika perusahaan ZN2 GROUP yang sebagai cabangnya adalah perusahaan terkenal yang sangat disegani.
Banyak yang ingin bekerja diperusahaan tersebut namun kembali di urungkan. Selain memiliki seleksi yang ketat, banyaknya peraturan untuk mentertibkan karyawan dan jangan tanyakan gajih yang tinggi meski bekerja selama 8 jam kerja. Serta berbagai tes sulit harus siap dijawab dengan benar.
Bergabung dengan perusahaan ZN2 GROUP adalah sebuah keberuntungan termasuk Varessham salah satunya yang terpilih.
"Ya, belum tentu disetujui Ken." Sindir Edgar.
"Positif Tuan."
"Cihh!!." Desis Edgar mencibir Ken.
🌿🌿🌿🌿🌿