
Zerlyn terus berlari tidak peduli seberapa lelah kakinya, keringat dingin mengucur deras membajiri tubuhnya.
Sesampainya didepan pintu, Zerlyn menghela nafas serta mengatur ritme jantung yang berdegub kencang. Menelan ludah secara kasar kemudian menatap jam ditangan kanannya sudah menunjukan pukul 17:1500. Yang artinya Zerlyn terlambat pulang, sejenak Zerlyn kembali teringat dengan ucapan Edgar yang akan menghukum dirinya.
"Mampus gue!." Gumam Zerlyn yang masih berdiam diri ditempat belum beranjak untuk masuk kedalam. Ia sendiri takut jika hukuman Edgar benar adanya.
"Permisi Nona, Tuan sudah menunggu anda." Ujar pengawal yang langsung menyampaikan perintah dari Edgar.
Rupaya, Edgar mengetahui jika Zerlyn masih berada diambang pintu sepertinya Zerlyn takut mengenai hukuman itu.
"Eh!." Zerlyn terkejut setengah mati melihat pengawal pribadi Varessham sudah berdiri didepannya.
"Silahkan Nona, Tuan tidak suka menunggu." Perintahnya kemudian menatap maid yang sudah berjajar rapih.
"Mari Nona, ikut dengan saya." Kata Maid itu dengan menyeret tangan Zerlyn.
"Eh, mau dibawa kemana? Lepaskan!." Pekik Zerlyn histeris.
Tak lama, Edgar tiba tiba muncul dan mendekati Zerlyn yang tengah berontak "Menurutlah, jangan nakal." Bisik Edgar.
"Ah, lepaskan sialan!." Zerlyn mendorong beberapa Maid hingga membuatnya tersungkur, tenaga Zerlyn sangat kuat hingga membuat mereka tak mampu untuk menahannya.
Edgar menahan emosi serta tangan itu mengepal dengan kuat melihat Zerlyn berlari untuk kabur. Kemudian Edgar mengkode para pengawal yang berjaga didepan pintu untuk menahan Zerlyn.
Pengawal mengerti dengan kode dari Edgar segera mereka memblokir pintu utama, menghalang dengan tubuh besar dan kekarnya.
Baru saja akan menggapai pintu, Zerlyn dibuat terkejut melihat deretan pengawal sudah berbaris rapih menghalangi pintu.
Zerlyn ingin membasmi pengawal tersebut, namun kembali ia urungkan. Zerlyn takut Edgar akan semakin curiga padanya.
Tak lama, Miller datang yang entah ada urusan apa tiba tiba saja masuk menerobos.
"Wow!! Apa ini penyambutan untukku?." Tanya Miller dengan percaya dirinya menatap pengawal yang berjajar didepan pintu.
Zerlyn mendelik sinis menatap Miller didepannya.
"Hallo Nona Zerlyn." Sapa Miller tersenyum lebar menampilkan gigi putihnya.
"Hai Tuan Miller selamat datang di istana." Sambut Zerlyn membuat Miller terkekeh gemas, reflek tangannya mencubit pipi Zerlyn.
"Tidak perlu memanggilku Tuan Nona, panggil saja aku Miller." Perintahnya dengan tersenyum.
Zerlyn memutar bola matanya menatap senyuman buaya darat dari Miller yang Zerlyn ketahui jika Miller playboy selalu tebar pesona. Zerlyn segera menepis kasar tangan Miller yang mencubit pipinya.
Miller kebingungan saat tangannya ditepis dengan kasar, mengetahui Miller kebingungan Zerlyn angkat bicara.
"Ada singa dibelakangku." Bisik Zerlyn.
Miller mengerti kemudian dengan ide jahilnya, Miller kembali mencubit kedua pipi Zerlyn. Sepertinya Miller tidak takut sedikitpun dengan amukan singa milik Edgar.
Belum reda emosinya kepada Zerlyn, kini bertambah saat melihat aksi Miller yang membuat emosi Edgar naik semakin tinggi.
"Sepertinya akan perang ketiga." Gumam Ken tanpa menydari jika Edgar sudah menatapnya dengan tajam.
Sedetik kemudian, Ken sadar seperti ada yang memperhatikan dirinya lantas beralih menatap Edgar disamping.
Ken menggerakan bahunya acuh.
"Sekali lagi kau berani menyentuhnya, tanganmu tidak akan berada ditempatnya lagi." Ujar Edgar berteriak serta memberinya ancaman kepada Miller.
Miller menoleh "Akh, ternyata kau ada disana Ed. Aku kira kau masih dikantor." Cetus Miller dengan tampang tak berdosa.
"Ck!! Basi!." Desis Edgar.
"Apa matamu sudah buta Hah?." Sambungnya lagi.
"Sepertinya tidak, aku sering memeriksakan kondisi kesehatanku sendiri Ed. Tidak sepertimu, yang hanya mementingkan urusan pekerjaan dikantor." Jelas Miiler.
Edgar mendelik sinis "Perlu aku memberitahumu tentang kesehatanku sendiri? Apa pedulimu?."
"Aku hanya takut kau terkena struk dini, dan Akh.. Aku tak menyangka jika kau sekarang menyukai wanita Ed. Ku pikir, kau seorang Ho.."
Miller terkekeh mendengar sindiran Ken untukknya "Hei, Ken sepertinya perkataan itu lebih tepatnya untukmu sendiri. Aku rasa itu sangat cocok dan pas dengan kriteria pria idaman sepertimu."
"Pas untukku? Tanpa sadar anda membalikkan sebuah fakta baru."
Miller tersenyum kecut "Lebih baik menggoda meskipun tidak ada hasilnya, itu menandakan jati diri pria laku Ken. Tidak sepertimu yang selalu datar seperti manekin, atau... Akh!! Jangan katakan kau juga ketularan si Edgar." Tebak Miller.
"Saya pria mahal tidak seperti diri anda harganya begitu murah mau saja dengan wanita manapun." Desis Ken dengan membanggakan dirinya.
Miller berjalan mendekati Ken lantas menepuk bahunya "Hei, ayolah Ken setidaknya coba sedikit nanti kau akan ketagihan sepertiku. Kalau kau tidak tau caranya tanyakan pada singa disampingmu dia paling jago menaklukan wanita."
Edgar sontak menatap Miller dengan sengit "Tau apa tentangku Hah?."
Miller tersenyum jahil dengan lantangnya Miller menjawab "Kau pernah menggoda Arlyn dan bahkan hampir menidurinya Edgar, apa kau lupa waktu itu? Tapi sayangnya, Arlyn malah meninggalkanmu dan pergi keluar negri yang ku tau ternyata kau akan menikahinya, namun malah Kakaknya yang menggantikan dirimu."
"Tutup mulutmu!." Bentak Edgar geram.
Miller hanya tersenyum lebar "Hei lihat Ken singa sedang marah." Bisik Miller kepada Ken.
"Zerlyn! Cepat masuk! Dan kalian seret Zerlyn kembali jangan biarkan dia lolos." Perintah Edgar kepada Maid yang sejak tadi menunduk ketakutan.
Maid mengangguk kemudian berjalan mendekati Zerlyn, baru saja akan kembali menyeretnya Zerlyn segera menahan.
"Tidak perlu! Aku masih ada kedua kaki untuk bisa berjalan!." Tegur Zerlyn.
Disaat santainya melangkah, Zerlyn kemudian sedikit membelokan kakinya untuk mendekati Miller.
"Berhentilah menceritakan apapun tentangnya, jika tidak mulut menjijikanmu aku robek. Kau tidak akan tau sebentar lagi mereka akan meneror duniamu, Miller." Ujar Zerlyn kemudian kembali melanjutkan langkahnya menuju lantai atas.
Miller diam sejenak kemudian menatap Edgar "Hei, Ed aku tak menyangka jika istrimu sangat garang, tatapan mata tajamnya sama halnya dengan yang kau punya. Sama persis tidak beda jauh. Dan, apa kau tau maksud perkataannya?."
Edgar hanya menatapnya sekilas, tanpa menjawab kemudian melangkah pergi.
"Ken, ada apa dengan Edgar? Apa sepanjang hidupnya belum mendapatkan mangsa?." Tanya Miiler menatap Ken dengan kebingungan.
"Berhentilah mengganggunya, Karna malam ini adalah tugas untuk menerkamnya." Jawab Ken.
Miller melotokan matanya menatap Ken seolah tidak percaya "Wow!! Malam ini? Akh.. Sepertinya aku harus mendengarkan suara eksekusi pas saat menerkam mangsanya Ken. Akan jadi seperti apa nanti? Apa akan terdengar seperti suara Bangkong katincak? Atau suara.."
"Ajol gedang." Potong Ken dengan cepat.
Miller menahan tawanya mendengar ucapan Ken yang menurut Miller prontal "Hei, kau tau tentang itu? Aku tidak menyangka jika otak manekinmu ternyata sangat polos sekali. Jangan katakan kalau.."
"Pergilah menjauh, siapkan mental dengan baik. Segera beri makan untuk para jal@ yang anda simpan diapartemen, berjaga agar ditengah permainan tidak kalah duluan." Desis Ken.
"Astaga! Ken otakmu ternyata kotor sekali, kalau kau mau aku akan memberikannya untukmu. Ini gratis, tenang saja kau tinggal datang ke apartemenku." Goda Miller menaikkan kedua alisnya.
"Hei! Sejak tadi, apa kalian belum selesai rapat? Segera pergi menjauh jangan menggangguku dengan suara kalian yang tidak jelas!." Teriak Edgar di lantai atas.
Miller mendongkak menatap Edgar tengah berdiri dengan tangan berada dipinggangnya.
"Baiklah Ed, selamat berburu mangsamu katakan padaku jika kau kehabisan ide untuk gaya. Dengan senang hati dan secara cuma cuma, aku akan memberitahukannya padamu. Aku tunggu ceritamu nanti saat kau membobol gawangmu, Ed. Selamat menikmati."
"Jangan lupakan makan yang banyak, karna bisa menguras energimu nanti." Jawab Miller dengan berteriak kemudian berlari saat mengetahui raut wajah Edgar sudah berubah menyeramkan. Tak lupa menyeret tangan Ken untuk mengikutinya.
Para pengawal yang masih berdiri didepan pintu segera menyingkir melihat Miller yang tengah menyeret tangan Ken. Bahu mereka bergidik, serta menggeleng pelan dengan kelakuan Miller.
Ken sangat geram melihat pergelangan tangannya diseret oleh Miller kemudian segera Ken menepisnya.
"Saya bukan jal@ Anda yang bisa anda seret sesuka hati." Desis Ken kemudian melangkah masuk ke dalam mobilnya diikuti oleh Miller dibelakang.
Ken keheranan melihat Miller yang tengah duduk santai disampingnya.
"Aku nebeng sampai ke apartemenku Ken." Ujar Miller yang mengetahui raut wajah kebingungannya.
Ken mendelik sinis, tak ingin beragumen lagi segera Ken menyalakan mesin mobil, kemudian meninggalkan halaman mansion.
πΏπΏπΏπΏπΏ