
Matanya mengedar ke setiap sudut rumah kontrakan yang berpetak kecil untuk masuknya saja harus melewati gang lebih dulu. Sedikit sangat susah untuk mencari lokasinya.
"Nak Zerlyn, ayo masuk ini rumah kami yang sederhana maaf jika membuat Nak Zerlyn merasa enggan." Sambut Millie merasa tidak enak hati kepada Zerlyn.
"Tidak apa apa koe tante." Ujar Zerlyn kemudian melangkahkan kakinya untuk segera masuk kedalam.
"Mulai sekarang panggilnya Bibi saja yah." Usul Millie.
"Hmmm.. Baik Tan, Ekh Bibi maksudnya." Zerlyn terkekeh kikuk.
"Lyn, rumah gue jelek yah?." Tanya Stella melihat bola mata Zerlyn terus saja memandang kontrakanya yang hanya sepetak itu.
"Tidak koe Stell, justru gue juga sama kaya loe." Jawab Zerlyn yang teringat dengan masa lalunya saat tinggal digubuk bambu.
"Serius loe? Terus waktu kemarin tentang anak buah loe? Apa itu termasuk loe orang miskin?."
Zerlyn terkejut kemudian membungkam mulut Stella menggunakan tangannya "Sttt!! Jangan berisik ogeb!."
Stella mengangguk, kemudian Zerlyn melepaskan tangannya pandangannya kemudian tertuju pada figura yang terletak di sudut dekat rak tv.
Zerlyn lantas mengambilnya dan menatap foto itu dengan lekat terutama kepada pria dewasa dan balita.
"Aku yakin pasti si tua bangka itu, tapi apa hubungannya? Tidak mungkin jika fakta itu benar terjadi." Batin Zerlyn.
"Itu leo yang waktu saya ceritakan, serta kedua balita itu adalah anak kembar bibi." Ucap Millie saat mengatahui Zerlyn menatap foto itu dengan serius.
"Ekh, maaf Bibi aku tidak sopan." Tukas Zerlyn kemudian kembali menyimpan foto itu ditempat asalnya.
"Dia pria brengs@! Pergi begitu saja dan lebih memilih wanita lain!." Celetuk Stella.
"Stella, jangan seperti itu didepan temanmu sayang. Biar bagaimanapun dia tetaplah ayahmu." Tegur Millie hatinya sedikit teriris.
"Cihh!! Ayah kata ibu? Dia tidak pantas dipanggil Ayah! Lebih pantas dipanggil sampah!." Desis Stella menahan emosi dalam dadanya.
"Stella, tenangkan dirimu mamah tidak mau kalau kamu seperti ini lagi. Mamah tidak ingin sampai kembali melihatmu ke rumah sakit Nak. Kau adalah putri mamah satu satunya, mamah cuma punya kamu."
"Aku tidak peduli! Kenapa mamah masih menyimpan foto pria breng@ itu? Apa mamah masih mengharapkan kedatangannya kembali? Atau mamah belum bisa melupakannya? Ingat mah, dia itu pemghianat! Sudah selingkuh membawa kabur kedua adikku! Sampai saat ini kabar mereka menghilang entah kemana perginya, dan mamah pasti tau akan hal itu." Pekik Stella histeris.
Millie memeluk Stella yang tengah menjerit histeris mencoba menenangkannya dengan cara mengusap punggung itu dengan pelan.
Zerlyn yang sedikit kaget melihat penderitaan mereka kemudian mendekati keduanya.
"Apa yang terjadi? Tenangkan dirimu Stell, gue ada disini buat loe."
"Tapi sayangnya, gue gak butuh loe saat ini." Ujar Stella kemudian berdiri lalu melangkah masuk kedalam kamarnya dengan cara membanting pintu itu secara kasar.
BRAAKK!!!
Millie serta Zerlyn terkejut. Millie lantas menatap Zerlyn dengan iba dan meminta maaf dengan sikap Stella. Mille menceritakan perubahan tentang sifat Stella yang akhir akhir ini berubah drastis semenjak kepergian Leo, Ayahnya.
Hingga emosi itu tidak terkontrol. Awalannya Stella mampu menahan, akan tetapi ditambah kejadian penembakan waktu itu emosinya menjadi lepas kendali.
Zerlyn tau bagaimana rapuhnya Millie saat ini, hati yang rindu kepada kedua anaknya ditambah disisi lain harus menghadapi sikap emosional Stella.
"Bibi, memang hubungannya apa Leo dengan penembakan waktu itu?." Tanya Zerlyn.
Millie membuang menghela nafasnya sejenak, Millie berpikir mungkinkah dengan seluruhnya menceritakan masa lalunya kepada Zerlyn bisa membuat pikirannya tenang? Disaat bimbang dan bingung entah keputusan apa yang harus diambil oleh Millie, sekilas Millie kembali menatap Zerlyn dengan lekat.
Akhirnya setelah dirasa yakin akan pendiriannya, Millie bersedia menceritakan masa lalunya.
"Waktu saya masih berada dirumah sakit dalam keadaan bingung karna mencari kedua anak yang baru saya lahirkan, Leo datang membawa wanita cantik merangkulnya dengan mesra didepan Stella."
"Stella yang saat itu belum mengetahui apapun, hanya menatap Leo entah memikirkan hal apa. Dan saat saya bertanya tentang siapa wanita itu, dia menjawab Nelma."
"Leo berkata akan menikahinya dalam minggu ini, dan menceraikan saya entah apa alasannya Leo sendiri tidak megatakan apapun. Namun yang saya tau wanita wajah Leo serta wanita disampingnya tidak menunjukan gurat bahagia, saya sendiri tidak tau masalah apa diantara mereka."
"Dan Leo mengatakan jika kedua bayi kembarnya sebagai jaminan dan dibawa pergi bukan dengan Leo melainkan oranglain. Leo yang menceritakan hal itu seperti tidak ada rasa penyesalan, justru bibirnya tersenyum bahagia."
FLASBACK ON.
"Kenapa Mas!! Kenapa melakukan itu? Dan apa maksudmu sebagai jaminan, Mas pikir mereka apa Hahh!! Dia bayi kita Mas. Mas sendiri yang bilang ingin mempunyai anak kembar, tapi Mas memberikannya pada orang lain? Kenapa!."
PPLAAAKK!!
"Diam jal@! Kau tau gara gara aku menikahimu, hartaku habis dan perusahaanku hampir bangkrut! Tapi beruntung kau melahirkan bayi kembar dan aku bersyukur akan itu. Karna bayi perempuanmu aku jadikan dia sebagai jaminannya."
"Dan untuk bayi laki lakimu dia bersamaku sekarang! Tidak aku ijinkan kau berani menyentuhnya untuk kedua kalinya. Jika kau melanggar, ku patahkan kedua tanganmu!."
"Kenapa mas melakukan ini? Apa salahku Mas? Selama aku menikah denganmu, aku bahkan tidak pernah sedikitpun meminta apapun itu. Aku selama ini berjuang sendirian untuk anak anak kita, tapi Mas sendiri yang menghabiskan uang itu bukan aku! Harusnya Mas sadar diri!."
Leo menatap tajam Millie "Kau bilang apa? Sadar diri? Harusnya kau jal@! Jika aku tidak menikahimu, kau sudah jadi gelandangan! Harusnya kau bersyukur karna bayi laki laki sialan itu aku yang mengurusnya! Karna aku yakin kau tidak akan becus menjaganya, yang ada nanti nasibnya seperti anak sialanmu itu!." Bentak Leo dengan menunjuk ke arah Stella.
PLAAAKKK!!
Millie menampar Leo, Millie geram dan marah "Dia anakmu Mas! Darah dagingmu! Jangan katakan jika anakmu sendiri sebagai anak sialan!."
Leo menyentuh pipinya terasa sangat panas bibirnya tersenyum sinis menatap Millie. "Ohh!! Kau sudah berani menamparku jal@! Kau salah memilih musuhmu sendiri!."
"Apa maksudmu Mas?." Millie memundurkan tubuhnya yang duduk diatas ranjang, selang infus masih tertancap dipunggung tangan serta menyembunyikan Stella dibelakang tubuhnya.
"Jika suatu saat nanti kita bertemu kembali, dan Stella dewasa bersiaplah aku akan membawanya kembali padaku dan."
"Kuceraikan kau hari ini MILLIE BERNADETTE!." Teriak Leo dengan lantang kemudian keluar bersamaan dengan Nelma.
"Mas!! Tunggu Mas, tolong jangan ceraikan aku mas.. Aku minta maaf kalau selama ini aku ada salah!! Aku mohon mas!!." Pekik Millie segera turun dari ranjangnya meski tubuhnya masih terasa lemah.
Nelma sedikit terkejut dengan aksi nekat Millie yang bersujud dibawah kaki Leo. Leo kesal dan emosi segera menendang kepala Millie sampai tersungkur dan kepalanya terbentur ranjang besi.
BRRUKKK!!
"MAMAHHHH!!!." Teriak Stella histeris melihat kondisi Millie kepalanya berdarah serta kembali mengalami pendarahan hebat.
Stella terus mengguncangkan tubuh Millie, dan tak hentinya terus menangis takut Millie akan pergi selamanya meninggalkan dirinya.
FLASBACK OFF.
Zerlyn mengatur nafasnya mendengar cerita Millie membuat dadanya seakan sesak. Apalagi saat mengatakan jika wanita itu adalah Nelma.
Zerlyn berpikir itu tidak mungkin, dan ingin membantah keras ucapan Millie. Dan tepat otaknya kembali mencerna saat Millie mengatakan nama kepanjangannya membuat Zerlyn begitu penasaran.
Apa hubungannya Millie dengan Nelma? Dan perusahaan DXA?. Batin Zerlyn.
**
Millie menumpahkan segala emosi dan beban yang selama ini ia pendam selama bertahun lamanya. Bercerita keluh kesahnya kepada Zerlyn membuat Millie merasakan ketenangan.
Apalagi saat tangan halus nan lembut itu memeluk tubuh Millie untuk sekedar menenangkan serta menguatkan dirinya.
"Bibi, jangan menangis lagi lupakanlah semuanya. Kembali menata hidup Bibi yang baru jika Stella trauma dengan Leo, makan turuti apa kemauannya. Bahagiakan Stella sebisanya bibi meski dengan cara sederhana dan semampunya."
Millie melepas pelukannya dan mengangguk "Terima kasih Nak, setelah Bibi menceritakan semuanya Bibi merasa tenang."
Zerlyn tersenyum "Boleh tau siapa nama kedua anak Bibi?."
"Leonard serta Velina." Jawab Millie.
"Baiklah Bibi, boleh jika Zerlyn membantu mencari mereka?." Tawar Zerlyn.
Millie menatap Zerlyn seolah tidak percaya "Boleh Nak, tapi apa kamu yakin?."
Zerlyn mengangguk "Benar Bibi tapi, boleh kalau aku meminta foto mereka untuk memastikan kembali?."
"Baik, tunggu sebentar." Millie kemudian berdiri dan melangkah menuju kamarnya.
Tak lama, Millie kembali datang lalu menyerhakan satu lembar foto kepada Zerlyn. Zerlyn lantas menerimanya.
"Bibi, sekalian Zerlyn pamit tolong nanti kabarin kalau Stella sudah lebih baik."
"Baik. Hati hati dijalan Zerlyn."
Zerlyn mengangguk lalu mencium punggung tangan Millie.
πΏπΏπΏπΏ