KING MAFIA IS MY HUSBAND

KING MAFIA IS MY HUSBAND
CHAPTER FIFTY-SEVEN BERMAIN DI ISTANA RAJA IBLIS 2



Pintu ruangan tiba tiba terbuka tanpa permisi, Edgar segera duduk menyilangkan kakinya sedangkan dua bodyguard berjaga diluar pintu.


Miller yang awalnya sibuk dengan berkas yang menumpuk segera mendongkak terkejut saat melihat Edgar sudah duduk nangkring diatas sofa mahalnya.


Miller lantas langsung bangkit dari kursi kebesarannya, setelah itu duduk disofa tepat disebelah Edgar.


"Hallo Ed, ada keperluan apa kau kemari?." Tanya Miller kemudian menatap Ken sedang berdiri bersamaan Zerlyn dibelakangnya.


"Hey, Nona duduklah kau bukan bodyguard seperti Betty didepanmu." Tukas Miller bibirnya mendelik sinis menatap Ken.


"Tadi aku melihat kekasihmu jalan bersama pria yang lebih kaya darimu." Tukas Ken.


"Oh ya?? Wow!! Suatu kebanggaan seorang manekin beralih fropesi menjadi detektip." Puji Miller terkekeh. Meski ia sendiri tau jika kekasih dari Miller hanya sekedar pem@@ saja.


"Ken, sepertinya dia butuh asupan gizi berupa mayones dan dengan toping dua telur yang banyak." Cibir Edgar.


Ken tersenyum samar, seolah tau apa yang Edgar ucapkan dan jika diartikan itu adalah sebagai kode.


TOK!TOK!TOK!


"Masuk!."


"Permisi Tuan, ini Coffe yang anda pesan." Ujar Yuna sekertaris Miller lalu segera meletakkan Coffenya di atas meja.


"Hmmm.. Pergilah!!." Perintah Miller mengkode lewat tangannya tanda mengusir.


Baru saja kakinya akan melangkah keluar, Yuna tidak sengaja melihat Zerlyn yang tengah berdiri menyenderkan tubuhnya di pinggiran meja.


Yuna menatapnya sinis apalagi gadis yang masih menggunakan seragam Sma itu hanya menatapnya datar. Yuna berpikir, kenapa anak yang masih bersekolah itu bisa bebas masuk begitu saja?.


"Ada apa Yuna?." Tanya Miller.


"Ekh, tidak ada Tuan.. Saya permisi." Jawab Yuna kemudian melangkah keluar.


Selepas kepergian Yuna, suasana itu hening sejenak kemudian Miller membuka suaranya lebih dulu.


"Ed, bagimana dengan kasus dan informasi tentang Ezra dsn Clara?." Tanya Miller menatap Edgar dengan lekat.


Edgar menarik nafasnya kemudian membuangnya dengan frustasi "Aku tidak tau, kabar mereka sangat sulit dideteksi. Seluruh anggota dan anak buah Varessham serta kepercayaanku di luar negri sudah aku kerahkan. Tapi hasilnya tetap tidak ada." Jawab Edgar memijat kepalanya yang terasa pening.


"Ini sangat aneh!! Lalu, bagaimana dengan kabar anak buah yang kau penjarakan waktu itu di markas pribadimu?."


"Ada!! Tapi, aku tidak tau ciri dari mereka." Sesal Edgar.


"Bukankah kau datang kemari serta membawa istrimu dengan maksud tujuan itu?." Bisik Miller.


"Hmmm.. Bersamamu!!." Ajak Edgar.


"Tak masalah, asalkan ada permainannya sedikit." Ucap Miller menaikkan satu alisnya.


Edgar tersenyum sinis kemudian menatap Zerlyn sedang berjinjit untuk mengambil satu berkas dirak buku. Padahal, setau Edgar tinggi tubuhnya mencapai 170.


"Hei kancil! Kau sedang apa Hah?!." Tanya Edgar.


"Aku hanya memgambil satu berkas Tuan, apa tidak boleh?." Jawab Zerlyn kemudian membaca sampulnya dan pas dengan apa yang selama ini dia cari.


"Simpan kembali! Apa kau tidak tau sopan santun? Apa kau tidak memiliki hak seperti itu? Gunanya apa kau sampai bersekolah?." Perintah Edgar menatap tajam.


"Ed, pelankan suaramu dia itu istrimu!." Tegur Miller mengingatkannya.


"Tuan, boleh saya pinjam sebentar? Maaf sebelumnya kalau saya tidak sopan. Tapi kalau tidak juga, tidak masalah saya akan menyimpannya kembali." Ucap Zerlyn.


"Nona, bahasamu sangat kaku sekali panggil saja namaku. Kau boleh menggunakan buku itu sesukamu, tidak perlu sungkan. Ambil saja."


"Akh, baiklah. Tapi, sebelumnya apa boleh aku bertanya?."


"Hmm.. Silahkan, ingin bertanya soal apa Nona?."


"Ini berkas tentang perusahaan DXA mengenai kontrak kerjasama saat tahun 97?." Tanya Zerlyn dengan membuka berkas itu kepada Miller.


"Tapi kenapa dalam berkas ini tanda tangannya atas nama NELMA ELISA MAHENDRA dan tertulis jika perusahaan itu dibeli oleh Grayson diperusahaan A?."


"Nelma adalah pemilik perusahaan DXA dan saat akan jatuh bangkrut, Grayson langsung membeli saham perusahaannya hanya sebesar 50% itu yang saya tau Nona."


"Apa Nona mengerti tentang perusahaan? Tentang Bisnis?." Sambung Ken yang curiga dengan gerak gerik dari Zerlyn.


Zerlyn sedikit terkejut kemudian kembali berusaha menormalkan wajah paniknya.


"Tidak Ken, aku hanya bertanya saja. Apa menurutmu itu masalah?." Tanya Zerlyn.


"Tentu Nona, dan sepertinya anda menyembunyikan sesuatu dari suami anda sendiri." Jawab Ken.


"Menyembunyikan? Maksudmu menyembunyikan apa? Kau tau Ken, aku bahkan masih bersekolah dan kau sudah tau jika Tuan selalu berkata bahwa aku bodoh?."


"Ckk!! Kau melampiaskan amarahmu padaku? Apa kau berniat balas dendam?." Timpal Edgar geram.


Zerlyn menggeleng "Tidak Tuan, bukan begitu!!." Bantah Zerlyn.


BRAKKK!!


Miller memukul meja dengan kuat mencoba melerai perdebatan ketiganya, apalagi posisi Zerlyn yang sudah terpojok. Edgar seolah tidak pernah puas untuk menghukum istrinya tersebut.


"Ed! Sudahlah kita berangkat sekarang! Mau sampai kapan kalian berdebat yang tidak penting?." Tanya Miller.


"Berangkat? Berangkat kemana?." Balas Zerlyn kebingungan dengan menatap ketiga pria dewasa didepannya.


"Mari Nona, ikut saja denganku." Ajak Miller kemudian melangkah mendekat dan menggenggam pergelangan tangannya.


Edgar geram dan emosi segera menepis kasar tangan Miller "Jika sampai kau berani menyentuhnya, kupastikan kedua tanganmu tidak berada ditempatnya!." Ancam Edgar lalu menarik kasar Zerlyn disamping.


"Wow!!! Sepertinya ada api membara." Ejek Miller terkekeh puas setelah mengerjai Edgar.


"Berhentilah bermain bermain sebelum merasakan permainan yang sesungguhnya." Desis Ken lalu menyusul Edgar.


Miller menggerakkan bahunya acuh lantas segera berlari menyusul mereka.


**


Sepanjang perjalanannya, Zerlyn termenung menatap keluar menatap kota X. Tak lama pemandangannya terputus dan terganti dengan banyaknya pohon tinggi yang menjulang disetiap sisi kanan kiri serta sampingnya.


Zerlyn sedikit panik bertepatan saat mobil memasuki hutan belantara. Refleks Zerlyn menoleh kesamping melihat Edgar hanya duduk santai seolah sudah biasa baginya.


Tak berlangsung lama, mobil memasuki area mansion mewah ketakutan berganti dengan kekaguman. Tak hentinya Zerlyn terus menatap keindahan didepan matanya. Yang awalnya Zerlyn berpikir, Edgar akan menculiknya, akan tetapi pikirannya ternyata salah.


"Turun!." Perintah Edgar membuyarkan lamunan Zerlyn.


Zerlyn terkejut, kemudian turun dari mobilnya. Pandangan matanya berputar 180 menatap ke segala arah mansion.


"Waw!! Indah sekalih!!." Puji Zerlyn terkekeh dengan tas gendong didepannya.


"Ed, apa kau yakin bawa istrimu kesini?." Tanya Miller yang sudah jalan lebih dulu didepannya.


"Hmmm.. Aku tau apa yang harus aku lakukan, kau tenang saja Miller." Jawab Edgar.


"Aku merasa tidak yakin Ed apalagi istrimu itu masih bersekolah, mana mungkin dia paham tentang seperti itu?." Tanya Miller kembali dengan segudang keraguan di hatinya.


"Kau meragukanku? Apa kau sudah lupa dengan beberapa kejadian dihotel? Dan kau sendiri yang mengulang kembali pertanyaannya waktu itu." Tegur Edgar.


"Maksudmu? Pertanyaan yang mana Ed?." Alis Miller mengkerut bingung.


"Aku yakin jika kau tidak bodoh dan tidak lupa dengan ucapanmu sendiri." Cibir Edgar sinis.


"Baiklah terserah kau saja, tapi jangan sampai kau melukai istrimu sendiri."


"Kau sudah tau watakku seperti apa, tidak perlu mengatakan sampai ratusan kalinya. Dan kau pun sudah tau dengan jawabannya tanpa perlu aku mengucapkannya langsung."


Miiler menarik nafasnya dan menggelengkan kepala tidak habis pikir dengan jalan Edgar yang sangat nekat.