
Zerlyn baru saja sampai digerbang mansion tepat pukul 5 sore lebih itu artinya ia sudah telat. Segera ia mengambil langkah seribu takut jika sampai Ny.Hellen memarahinya.
Sesaatnya di depan pintu, Ny.Hellen sudah memperhatikannya dengan pandangan yang tak bisa Zerlyn tebak.
"Kamu kemana saja Zerlyn?."
"Mmm.. Maaf Nyonya, saya keluar sebentar." Ujar Zerlyn menunduk dengan suara yang terdengar lirih.
"Menemui siapa?." Tanya Ny.Hellen kembali dengan sorot mata mengintimidasi.
"Hanya teman Nyonya." Jawab Zerlyn gugup.
"Mah, biarkan saja mungkin Kak Zerlyn suntuk berdiam diri terus." Bela Ezra.
"Hei Kak, besok ikut ya, kita jalan jalan sebagai tanda ucapan terima kasihku." Sambung Ezra disertai ajakannya kepada Zerlyn.
"Kemana dan ucapan terima kasih untuk apa?." Tanya Zerlyn dengan mendongkakkan wajahnya memperlihatkan Ezra sepertinya sedang berbahagia terlihat dari pancaran senyum di bibirnya. Berbeda jauh dengan Edgar hanya memasang tampang datar.
"Kebandara menjemput Clara, besok kamu ikut Zerlyn, untuk sekolah kamu sudah saya urus." Timpal Tn.Elamto.
"Kamu beristrhat saja sekarang, besok pagi harus segera bersiap siap." Sambung Ny.Hellen.
"Baik Nyonya." Zerlyn segera pamit kemudian melangkahkan kakinya menuju lantai atas.
Dengan wajah lesu yang harus menaiki anak tangga sebanyak 100 lebih, kadang ingin lewat lift namun Edgar melarangnya.
___
Sesaatnya dilantai atas, Zerlyn menatap ruangan yang sangat luas dengan dinding bercat serba hitam. Kadang Zerlyn tangannya gatal ingin sekali merombak atau menggantinya dengan warna pink.
Zerlyn berpikir, apanya yang istimewa dari warna hitam? Yang ada kesan dalam benaknya terlihat aneh, seperti ia melihat sebuah kuburan sangat menyeramkan.
Dan Zerlyn berpikir apa si Edgar itu adalah sosok misterius seperti hidupnya? Ataukah kehidupannya penuh dengan kegelapan seperti statusnya yang sebagai dunia bawah? Secara tidak sadar Zerlyn menyindir dirinya sendiri.
Zerlyn segera melangkahkan kakinya menuju kamar mandi membasuh tubuh serta otaknya yang sejak tadi berasa panas.
"Ahh.. Segarnya!!!." Zerlyn bersenandung ria bernyanyi lagu yang entah apa itu, dengan tangannya menggosok seluruh tubuhnya menggunakan sabun.
Ditengah asyiknya guyuran shower serta bersenandung, tiba tiba pintu kamar mandi terdengar ada yang mengetuk dengan suara ketukan yang keras.
Zerlyn diam sejenak kemudian berteriak "Siapa!!."
"Kau itu mandi atau semedi?." Tanya Edgar terus saja menggedor pintu dengan lebih keras.
"Khotbah Tuan!!." Teriak Zerlyn.
"Ck!!! Cepatan Bocil atau aku dobrak pintunya!." Ancam Edgar.
"Sebantar Tuan!!."
Edgar tersenyum miring saat mendengar suara gemericik air yang menandakan Zerlyn tengah membasuh tubuhnya, ide otak jahilnya melintas begitu saja.
Dan tanpa aba aba, Edgar mendobrak pintu kamar mandi hingga membuat Zerlyn kaget serta terkejut buru buru ia menyambar handuknya.
BRAAAKKK!!!!
"ARRGHHH!!!." Tuan!!." Pekik Zerlyn histeris.
Edgar menelan slavinanya sekilas ia melihat tubuh polos istrinya yang mulus, hingga membuat adik kecilnya berontak. Kemudian Edgar mendekati Zerlyn sedang sibuk memakai handuk serta posisi Zerlyn membelakangi Edgar.
"Ahh, kau wangi sekali." Edgar tanpa sadar memeluk Zerlyn dari belakang menghirup aroma segar rambutnya yang masih basah dan bau shamponya begitu memabukkan.
Zerlyon berontak yang terkejut dengan perlakuan Edgar padanya, segera Zerlyn menginjak kaki Edgar begitu keras sampai menyebabkan Edgar berteriak kesakitan.
"Argghh!!! Dasar bocil sialan!." Pekik Edgar melihat Zerlyn sudah berlari keluar kamar mandi dengan mengambil langkah seribu.
Sekilas, Edgar berpikir apakah ini resikonya jika memiliki istri yang sepertinya pintar bela diri? Edgar dapat merasakan gerak gerik awas dari kode tubuh Zerlyn saat tadi ia memeluknya dari arah belakang. Serta bisa merasakan pergerakan yang cepat seperti menganggap Egdar adalah musuhnya.
Kekuatan Zerlyn tidak sebanding dengannya, membuat Edgar tidak bisa terhindar dari serangan maut milik Zerlyn yang tiba tiba.
Awalnya Edgar berniat ingin menjahili Zerlyn, namun malah dirinya yang terdampak sialnya. Edgar masih mendesis kesatikan memegang kakinya setengah membiru.
"Awass!! Saja kau bocil!." Geram Edgar dengan dendam membara ingin segera menghukum istri kecilnya tersebut.
___
Edgar keluar kamar mandi setengah pincang dengan menyeret kakinya, sejenak Edgar melihat Zerlyn tengah sibuk dengan ponsel jadulnya.
"Woy! Bocil!." Panggil Edgar mendekati Zerlyn tengah duduk di atas kapret berbulu.
Zerlyn kemudian mendongkak menatap Edgar tengah mnyeret kakinya serta bibir itu mendesis seperti menahan kesakitan.
Dengan panik Zerlyn menahan langkahnya lantas kemudian menuntun Edgar untuk duduk ditepi ranjang miliknya.
"Tuan, Tuan kenapa?." Tanya Zerlyn belum sadar akan tindakannya tadi.
"Kau masih bertanya kenapa? Lihat kakiku!." Jawab Edgar membentak Zerlyn dengan menujuk ke arah kakinya.
Zerlyn segera mengecek kaki milik Edgar, dan benar saja kakinya sedikit membiru. Zerlyn terkejut sekilas dirinya kembali teringat saat kejadian waktu dikamar mandi, Zerlyn berpikir perasaan ia menginjaknya tidak terlalu keras tapi kenapa bisa menyebabkan sampai membiru?. Batin Zerlyn.
Edgar bisa melihat raut wajah kepanikan dari Zerlyn dan melihat langkahnya setengah berlari entah sedang mencari apa?. Pikir Edgar.
Tak lama, Edgar kembali melihat Zerlyn tengah membawa benda ditangannya dan segera mendekati dirinya.
Dengan cekatan, Zerlyn mengobati serta mengurut kaki Edgar sebisanya. Membuat Edgar berteriak sampai menyebabkan suara teriakannya terdengar seisi mansion.
"Argghh!!! Woy bocil! Singkarkan tangan sialanmu! Ini sakit sekali." Pekik Edgar.
"Sudah selesai Tuan." Ucap Zerlyn bersamaan pintu kamarnya terbuka lebar.
Keduanya terlonjak kaget kemudian menatap mereka yang tengah berdiri dipintu dengan raut wajah terlihat ambigu.
"Ada apa ini? Apa yang terjadi?." Tanya Ny.Hellen.
"Apa kalian sedang melakukan itu?." Tebak Tn.Elmato sedikit menggoda mereka.
"Ah, sepertinya kalian sudah tidak sabar? Ed, ingat! Kak Zerlyn masih bersekolah tunggu beberapa bulan lagi sampai lulus." Timpal Ezra.
"Apa Tuan muda baik baik saja?." Sambung para pengawalnya terlihat kwhatir melihat Edgar berawajah pucat.
"Sabarlah Ed, Nona Zerlyn masih perawan pasti membobol gawangnya agak sedikit kesusahan." Celetuk Miller tiba tiba datang begitu saja membuat mereka menatap ke arahnya.
Zerlyn berasa malu ingin rasanya ia menghilang ke planet pluto, wajahnya sudah panas sejak tadi.
"Heii!! Diam kalian semua! Dan keluar sekarang!." Teriak Edgar dengan suara lantangnya yang mengkode mengusir mereka.
"Ed, katakan pada papahmu jika sudah berhasil Ngaduk semennya." Tukas Tn.Elmato.
"Buatkan cucu yang banyak." Timpal Ny.Hellen kemudian keduanya beranjak pergi dan kembali menutup pintu.
Selepas kepergian mereka, keduanya saling diam suasananya berubah menjadi hening. Kemudian Zerlyn berdiri untuk menyimpan p3knya.
"Tuan, bagaimana kakinya? Apa masih sakit?." Tanya Zerlyn dengan hati hati, takut jika singa itu ngamuk.
"Kelihatannya?." Ketus Edgar dengan merebahkan tubuhnya untuk menjemput alam mimpi.
Zerlyn membuang nafas secara kasar, lantas menyambar selimut tebal yang teronggok di bawah kaki Edgar. Dengan segara Zerlyn menyelimutinya sampai sebatas dada.
Edgar melotot melihat aksi nekat Zerlyn yang sudah berani padanya.
"Mau apa kau?." Tanya Edgar melihat wajah Zerlyn yang begitu dekat dengannya.
"Menyelemuti Tuan, apalagi?." Jawab Zerlyn santai.
Edgar tersenyum smrik kemudian menahan tangan Zerlyn. Zerlyn terkejut melihat tangannya digenggam kuat oleh Edgar.
Kemudian Edgar membalikan tubuh Zerlyn hingga tubuhnya terpental diatas ranjang miliknya. Segera Edgar menindih tubuh Zerlyn, otaknya kemudian kembali teringat dengan dendam untuk menghukum atas tindakan Zerlyn sampai membuat kakinya terluka.
Zerlyn melotot terkejut melihat Edgar berada diatas tubuhnya. Otaknya berkelana, Zerlyn begitu takut saat mengetahui wajah tampan Edgar berubah menjadi menyeramkan.
"Tuan .. Tuan mau apa?." Tanya Zerlyn keringat dingin keluar dari keningnya.
Edgar kemudian mendekatkan wajahnya sampai jarak mereka hanya tinggal beberapa senti saja. Zerlyn panik, degub jantungnya berdetak kencang. Apa Edgar ingin meminta haknya? Ini tidak boleh Zerlyn biarkan, mengingat ia tidak mau jadi janda diusia muda. Batin Zerlyn.
"Menghukum sibocil yang nakal." Bisik Edgar ditelinga Zerlyn. Refleks Zerlyn sedikit merinding mendengar bisikan tersebut apalagi suara Edgar yang terasa berat.
"Apa maksudnya Tuan? Lepaskan!!." Teriak Zerlyn yang akan berontak, namun Edgar sudah mengunci pergelangan tangannya.
"Apa kau sudah lupa, kau yang menyebabkan kakiku terluka? Dan sekarang inilah hukuman yang tepat untukmu." Jelas Edgar dengan sorot mata yang tajam.
Zerlyn sedikit terkejut "Oh, jadi Tuan ingin balas dendam begitu? Bukannya tadi sudah saya obati dan meminta maaf? Kita sudah impas Tuan!." Ujar Zerlyn geram.
Edgar tersenyum miring "Impas? Itu bukan impas namanya."
"Lalu Tuan maunya apa sekarang? Tolong lepaskannya saya Tuan cabul!." Pekik Zerlyn membalas tatapnnya lebih tajam.
Edgar kembali tersenyum devil saat melihat tatapan membunuh dari Zerlyn. Penasaran akan tentang kebenaran Zerlyn, membuat Edgar semakin menumpuk. Edgar tidak bisa melakukan apapun mengingat mencari data informasinya saja sudah sangat kesusahan.
Ditambah semenjak menjadi istri rahasianya, hampir tidak ada satupun masalah yang menimpa Edgar akibat kecerobohan ataupun kesalahan yang dimiliki Zerlyn. Hanya saja Zerlyn sering melakukan kesalahan yang menurut Edgar itu hanya terkecil menurut versinya.
"Kau bertanya apa mauku?." Tanya Edgar mengulang kembali pertanyaan Zerlyn.
"Jangan banyak bicara! Katakan lang--"
Ucapan kalimatnya terputus saat Edgar membungkam mulut Zerlyn menggunakan bibirnya. Edgar sendiri sangat geram dan sedikit emosi kepada Zerlyn yang seolah tidak ada kata takut sedikitpun.
Edgar mengetahui jika Zerlyn tidak pernah terbiasa dengan gerakan yang Edgar berikan padanya sampai Zerlyn kehabisan nafas untuk mengimbangi setiap langkah Egdar.
Edgar segera melepas pergelangan tangan Zerlyn dan kabur untuk masuk ke dalam kamar mandi tak lupa menguncinya. Jantung Edgar berdetak tak karuan melihat wajah Zerlyn berubah menyeramkan bak iblis.
Tatapannya sangat tajam, mata itu melotot ke arah Edgar seperti sudah siap untuk mengeksekusinya. Padahal, Zerlyn tidak berbeda jauh dengannya Edgar pun memiliki ciri yang sama. Namun Edgar seolah melupakan akan hal itu yang terdapat dalam jiwa serta dirinya.
Entah dilanda kepanikan atau ketakutan, sampai nyali Edgar menciut seketika. Edgar berkali kali membuang nafasnya gusar, pikirannya kembali kacau bayangan itu sepenuhnya tak bisa lepas dari wajah iblis milik Zerlyn yang menyeramkan.
πΏπΏπΏπΏπΏ