
Tak terasa selama satu minggu setelah kejadian naas itu, semuanya kembali normal tak terkecuali Edgar dan Ny.Hellen yang semakin depresi.
Beberapa bodyguard serta orang kepercayaannya diberbagai negara sudah dikerahkan dan membantu untuk mencarinya. Namun lagi dan lagi tak ada hasil apapun.
Semuanya menghilang bak ditelan bumi, tidak ada jejak mereka sedikitpun bahkan sekedar melacak pun sangat kesulitan, mengingat musuhnya begitu pintar dan seolah sudah sangat ahli dibidang hacker.
Apalagi soal keamanannya yang sangat ketat dan terlindungi bahkan menggunakan beberapa lapisan pelindung.
Jika berani menembus sampai batas dan berhasil meretas keamanannya, bukan hasil yang didapat melainkan sistim mesin komputer akan mati dan rusak.
Tn.Elmato terkadang dibuat pusing, sudah berbagai cara dilakukannya. Apalagi sang istri Ny.Hellen merengek setiap hari menanyakan kabar tentang Ezra serta Clara. Tak hentinya Ny.Hellen terus menangis dengan menyebut nama keduanya.
Tn.Elmato sangat frustasi, terlebih lagi Edgar sampai tidak bisa berpikir jernih. Pekerjaannya menjadi terbengkalai, emosinya seringkali naik drastis. Raut wajahnya kembali dingin, datar dan cuek.
Zerlyn melihat Edgar sangat tersentuh hatinya, sampai berusaha membujuknya agar tetap semangat hidup. Meskipun Zerlyn tau, jika sikap Edgar akhir akhir ini lebih suka kasar padanya.
Ken yang sebagai asistennya sampai sibuk sendiri dikantor mengurus perusahaan Varessham bahkan tidak mempunyai waktu sedikitpun. Tn.Elmato segera mengetahui saat Ken melaporkan jika saat ini perusahaannya sedang tidak baik baik saja.
Tn.Elmato marah kemudian segera menegur Edgar agar tidak kembali melalaikan urusan pekerjaannya. Edgar akhirnya mau tak mau menuruti keinginan dari Tn.Elmato.
**
Zerlyn melangkahkan kakinya untuk menuruni anak tangga sesaatnya diujung tangga terakhir, Zerlyn melihat Ny.Hellen sedang melamun dengan tangan yang memainkan sendok dan gapru diatas piring.
"Mah, makan dong sudah berapa hari ini mamah belum makan." Tukas Tn.Elmato hatinya sangat teriris melihat perubahan tubuh istrinya tersebut.
"Tidak! Mamah tidak mau! Mamah ingin Ezra dan Clara kembali kesini. Apa papah tau, kapan mereka pulang?." Ujar Ny.Hellen membuat suasana dimeja makan itu menjadi sunyi.
Maid dibelakangnya merasakan hal sama terutama Bik Nur yang tau bagaimana posisi dan perasaan Ny.Hellen saat ini.
Pengawal Pribadi yang tak jauh posisinya juga bisa merasakan bagaimana penderitaannya. Dalam hatinya, sangat menyesal dan tidak becus bekerja. Hanya mencari Ezra serta Clara saja sampai membuatnya kesulitan.
Tn.Elmato tak mampu berucap, bibirnya sangat kelu dan sulit untuk berkata lagi. Hanya mampu menyembunyikan wajah sendunya dengan kepala menunduk.
Zerlyn kemudian mendekat dan merangkul pundak Ny.Hellen "Mah, mamah makan dulu yah. Mau Zerlyn suapi?." Tawar Zerlyn berusaha membujuknya.
Ny.Hellen menggeleng pelan. Zerlyn tak berputus asa "Kalau mamah tidak mau makan, bagiamana dengan Ezra dan Clara disana? Pasti sedih melihat mamah tercintanya sampai mogok makan berhari hari."
Lagi, Ny.Hellen menggeleng "Apa kau tau dimana Ezra dan Clara sekarang Zerlyn? Apa kau bisa membawanya kembali?." Pinta Ny.Hellen dengan suara seraknya.
Zerlyn membuang nafasnya gusar, kemudian tangannya menyentuh rambut Ny.Hellen yang tergerai tak beraturan, sangat tidak terurus, wajah pucat, bibir kering, mata sayu dan kosong.
Sejenak Zerlyn berpikir lebih baik ia kehilangan nyawanya demi Ny.Hellen untuk bisa bertemu kembali dengan mereka. Mungkin inilah jalan satu satunya. Pikir Zerlyn tanpa mau berpikir lebih panjang lagi.
Meskipun ia sendiri tau resiko yang diambil langkahnya entah itu salah ataupun benar, Zerlyn tidak memperdulikannya lagi.
Apalagi saat mengingat acara berita Tv yang menanyangkan soal tentangnya dengan Edgar waktu dihotel. Zerlyn sampai dibuat pusing, akhirnya menghapus seluruh berita yang tidak penting tersebut.
"Hmmm.. Zerlyn janji akan membawa mereka kembali lagi, tapi ada syaratnya." Ucap Zerlyn seraya tangan itu tetap mengusap lembut rambutnya.
"Benarkah? Apa syaratnya?." Tanya Ny.Hellen dengan antusias.
"Mamah harus makan dulu." Jawab Zerlyn tersenyum tipis melihat wajah cerah Ny.Hellen.
"Tapi, kau tidak sedang berbohong Zerlyn?." Tanya Ny.Hellen lagi.
Tangan Ny.Hellen sejenak menahan pergelangan tangan Zerlyn yang akan menyuapinya "Apa kau tau dimana mereka saat ini?."
Zerlyn tersenyum lalu menggelengkan kepalanya "Tidak tau mah, mamah sekarang makan dulu yah."
"Tidak! Aku ingin kau menjawabnya dimana mereka sekarang, baru aku nurut dan mau makan!." Tolak Ny.Hellen.
Zerlyn kembali membuang nafasnya kemudian menatap Ny.Hellen dengan intens, rasa iba dan sayang menyelimuti hati terdalamnya.
Rasa yang begitu besar bahkan tidak bisa diucapkan dengan kata, itulah kenapa alasan hati Zerlyn akhirnya bisa luluh hanya dengan tatapan mata Ny.Hellen yang seolah seperti merasakan ada aura kasih seorang ibu.
"Berikan waktu sebentar lagi, tapi sebelumnya bolehkah jika suatu nanti Zerlyn pergi jauh?." Pintanya.
Mereka yang mendengar Zerlyn berkata seperti itu tidak mengerti apa maksud dan tujuannya. Terutama Edgar langsung mengepalkan tangannya.
"Hei Kancil!." Tegur Edgar geram.
Zerlyn hanya sekilas melirik Edgar lalu kemudian menjulurkan lidahnya.
"Beraninya kau! Untuk apa kau sekolah lagi Heh, bukankah sudah selesai?." Edgar menatap Zerlyn dengan lekat ditambah saat matanya baru sadar jika Zerlyn sedang mengenakan baju seragam sekolahnya.
"Idih!! Diam diam Tuan Edgar kepo juga." Cibir Zerlyn.
Miller menahan tawanya "Fftt!!! Apakah ini namanya sedang jatuh cinta?."
"Aku terpesona!!." Sambung Zerlyn sedikit terkekeh.
Edgar menatap Miller tajam. Namun, Miller malah semakin melebarkan giginya untuk tertawa lepas.
"Mahh, Zerlyn berangkat dulu yah!!." Pamit Zerlyn mencium pucuk kepalanya lantas menyilami tulung punggung tangan Tn.Elmato.
"Hati hati Zerlyn." Nasehat Tn.Elmato.
Zerlyn mengangguk kemudian melangkah pergi disusul Edgar dibelakangnya.
"Kau mau bolos atau benar ingin pergi ketempat sekolahmu Hah." Tanya Edgar.
"Tempat dugem Tuan." Jawab Zerlyn santai.
"Jawaban yang sangat benar Nona, bagaimana jika malam ini kita pergi?." Goda Miller menaikkan satu alisnya.
Zerlyn tersenyum sinis melihat Miller sekilas sikapnya seperti Frans malah tidak berbeda jauh. Lantas kepalanya menggeleng pelan, dengan mata menatap Edgar sekilas.
"Ayo!!." Ajak Zerlyn mengedipkan satu matanya.
Edgar geram mendengar ucapan Zerlyn, emosinya kembali meningkat "Kau sudah tau kemarahanku seperti apa! Jika kau sampai berani dan melewati batasanmu, kau tau sendiri apa akibatnya!." Ancam Edgar kemudian melangkah pergi keluar pintu utama.
Zerlyn diam mematung ditempat, lantas Miller menepuk bahunya pelan "Nona, tenanglah Edgar jika sifat bawaan iblisnya keluar dia memang seperti itu. Tapi itu tidak lama, nanti juga akan kembali seperti semula."
"Ekh!! Ya, lagipula tadi aku cuma bercanda." Ujar Zerlyn lantas pergi meninggalkan Miller yang sedang memasang tampang frustasi.
"Belum juga dayung disambut, ekh keburu hiu yang nyantok." Gumam Miller.
πΏπΏπΏπΏ