KING MAFIA IS MY HUSBAND

KING MAFIA IS MY HUSBAND
INDAHNYA KEBERSAMAAN



KANADA (AMERIKA UTARA).


Bibir itu tersenyum miring menatap pria tua didepannya. River, yang notabenya memiliki sifat tidak ingin main main atau membuang banyak waktu langsung menghabisi seluruh anak buah dari Jordan.


Termasuk dengan menangkap Jordan bagi River sangatlah mudah. River terrsenyum puas melihat Jordan tekapar tidak berdaya dengan mulutnya berkali kali memuntahkan darah segar.


River segera menghubungi Zerlyn yang menurutnya masih berada dinegara SOMALILAND (SOMALIA).


"Hallo Nona Zerlyn." Sapa River.


"Ya?."


"Saya sudah menyelesaikan tugasnya, bila perlu Saya bawakan kepalanya untuk anda. Bagaimana? Apa anda setuju? Ini sekedar mengucapakan terima kasihku karna Nona sudah mau kembali percaya dan menugaskan saya untuk berburu mangsa lagi." Jelas River.


"Tidak perlu! Datang segera ke negara A kita berkumpul kembali untuk menyusun strategi baru. Kau dimana sekarang? Bisa bahasanya jangan kaku seperti itu?."


"Akh, baiklah!! Saya mau masih dinegara Kanada Nona, saya akan menyelesaikan mainanku lebih dulu setelah itu saya berangkat."


"Terserah!." Ketus Zerlyn langsung mematikan sambungan telponnya.


River menggeleng pelan menatap layar ponselnya "Seandainya kamu bukan istri si Edgar, aku lebih dulu merebutmu waktu itu. Kau pasti akan merasakan kebahagiaan denganku sekarang."


Anak buah dibelakangnya yang melihat aksi River menciumi layar ponsel hanya geleng geleng dengan sifat bucin dan lebay nya.


**


AUSTRALIA.


Mereka saat ini kembali berkumpul dimarkas pribadi ThristyBlood. Zerlyn berkali kali menghembuskan nafas frustasinya, sangat pusing dengan situasi sekarang.


Ditambah dengan cerita dari Bik May sesaat setelah melihat anak buah Varessham.


"Besok, kita langsung ketitik lokasi hutan untuk masalah penempatannya kita bagi kelompok."


"Tapi sebelum itu, kau Luther apa sudah mengecek dimana titik terakhir posisi Clara dan Stella?." Sambung Zerlyn.


"Tidak menentu Nona, mengingat hutan disana sangatlah luas dan lebat alhasil sinyal tidak bisa merespon." Jelas Luther.


Zerlyn sedikit kecewa mendegar penjelasan Luther, lantas ia menoleh ke arah Frans yang sedang megoprasikan komputernya.


"Bagaimana dinegara lainnya? Seluruh tempat sudah kau cek CCTVnya?." Zerlyn berdiri kemudian mendekat ke arah Frans untuk melihat data data informasinya.


"Maaf Nona, saya tidak menemukan keberadaan Hunter, Wesley dan Lemos. Tetapi menurut saya, jika memang benar keberadaan Nona Clara dan Stella dihutan, itu sangat tidak memungkinkan bisa jadi itu hanyalah sebuah jebakan." Ujar Frans mengeluarkan beban dalam pikirannya.


"Apa yang diucapkan Frans ada benarnya, bukankah kau adalah seorang... Kenapa kau tidak mengeceknya Zerlyn?." Usul Bik May.


Zerlyn mengangguk kemudian mengusir Frans untuk berdiri, Zerlyn segera duduk mengopraksikan komputer melacak keberadaan ketiga penguasa tersebut.


"Fhai, Frans, bantu aku untuk menyerang balik virus cinta kiriman dari mereka. Luther, Whalter dan sisanya lacak keberadaan Clara dan Stella setelah mereka berhasil aku lumpuhkan." Perintah Zerlyn.


Mereka mengangguk mengerti, lalu segera menjalankan perintah dari Zerlyn. Ruangan yang hanya berisi beberapa komputer berlayar besar terpampang dengan jelas.


Anak buah ThristyBlood sangat serius ditambah Zerlyn dengan tegasnya bersuara segera secepatnya mendapatkan bocoran informasi itu disaat Zerlyn dan lainnya berhasil membobol keamanannya.


"Ckk!! Payah!." Cibir Zerlyn sinis.


"Tutup kembali dan hapus situs lainnya jangan tinggalkan jejak apapun."


"Bagaimana?."


"Informasi itu benar Nona, tetapi hanya ada Stella bersama dua pria, sekilas sepertinya sangat mirip." Whalter lantas menampilkan video cuplikannya kepada Zerlyn.


Zerlyn terkejut melihat video tersebut, emosinya kembali meningkat apalagi dengan dua pria itu Zerlyn mengenalnya.


"Apakah itu..--"


"Ya! Dialah orangnya!." Sarkas Zerlyn.


"Tunjukan posisi gudang itu dan ada berapa pengawal disana?."


"Mereka berjauhan dan bersembunyi dibalik pohon, diatas dan jarak sekitar 1200 meter. Ciri mereka memakai pakaian hitam serta penutup wajah."


"Jika kita menyerang mereka lebih baik mengambil posisi dibagian selatan itu akan pas langsung dengan objek gudang. Sedangkan lainnya mengambil posisi bagian barat, tak lupa harus bisa memanjat." Jelas Whalter.


Fhai sekilas melirik ke arah Frans yang sedang bersandar dimeja komputer serta tangan itu melipat didadanya.


Merasa ada yang memperhatikan, Frans lantas melirik Fhai ternyata ia juga tengah menatapnya dengan bibir tersenyum miring.


"Lebih baik aku menjadi coseplay kelalawar daripada monyet." Ujar Frans menekan kata monyet dengan mata menatap Fhai sinis.


"Kau mengatakannya pada dirimu sendiri, bahkan aku tidak mengatakan apapun. Sejak tadi aku diam, tapi sepertinya kau sangat ge.er sekali jika ku perhatikan Frans." Cibir Fhai.


"Ckk!! Ge.er? Kau tau Fhai, di negara A saja semua wanita melirikku dan tentu saja ingin berkencan denganku. Tapi dengan tegasnya justru aku menolaknya."


"Bahkan Nenekku juga tidak akan mau jika berkencan denganmu, apalagi saat melihat wajahmu yang ada langsung menamparnya."


Frans terkekeh geli "Pesonaku tidak akan luntur meski nenekmu masih cantik Fhai."


"Cihh!! Belum apa apa juga kau sudah tewas disisi ranjang wanita jala@ yang kau temukan Frans. Aku sangat miris melihat kondisimu waktu itu, belum has@ yang tersalurkan, malah kalah duluan. Bagaimana rasanya? Pasti sangat kecewa bukan?." Ejek Bik May.


"Memalukan." Desis Zerlyn.


Sontak semuanya mentertawakan Frans, terutama Luther yang tertawa lepas. Sebab, Luther memang sudah mengetahuinya apalagi melihat dengan jelas terpampang dilayar tab miliknya.


"Bik, jangan membuka kartuku!." Geram Frans menatap tajam kearah Bik May.


Frans saat ini sangat malu, terutama Luther. Luther hanya menggerakan bahunya acuh melihat tatapan maut dari Frans.


"Luther! Hapus video yang tersambung ditab milikmu." Perintah Frans.


Belum sempat Luther berbicara, Fhai segera merebut tab yang berada digenggaman tangan Luther.


"Oh ya? Aku sangat penasaran sekali." Ujar Fhai segera memulai videonya dan sengaja tersambungkan langsung lewat layar komputer.


KLIK!


"Hei! Kau biad@ sekali Fhai!." Bentak Frans kemudian merebut tab itu dan langsung menghapusnya.


Namun terlanjur, semuanya sudah melihat dengan jelas bagaimana isi video itu. Sontak suara gelak tawa pecah diruangan tersebut, tak hentinya mereka mengolok serta mengejek Frans.


Zerlyn menggelengkan kepalanya pelan lantas sejenak ia keluar untuk mencari udara segar. Matanya menatap langit gelap bertabur bintang, sangat indah.


Sejenak, Zerlyn merindukan Tn.Elmato, Ny.Hellen dan Edgar. Pikirannya kembali melayang memikirkan bagaimana nantinya jika Edgar akan marah besar padanya?.


Membanyangkan hal itu, tentu saja membuat Zerlyn gusar dan membuang nafasnya secara kasar. Lantas tangannya mengambil ponsel didalam kantung celana pendek yang ia gunakan.


"Hallo Bik Nur?." Sapa Zerlyn.


"Ekh, Non. Non kemana saja?." Tanya Bik Nur disebrang telpon.


"Ada ko Bik, bagaiamana kabarnya mamah saat ini?." Jawab Zerlyn.


"Tidak ada perubahannya sama sekali Non. Yang ada tubuh Nyonya semakin kurus. Setiap malam Nyonya sering mengigau menyebut nama Non, Non Clara serta Tuan Ezra." Jelas Bik Nur.


"Titip Mamah ya Bik dengan baik, Zerlyn janji secepatnya akan pulang. Jangan katakan apapun tentang keberadaanku saat ini, itu bisa membahayakan nyawa mamah." Pinta Zerlyn.


"Baik Non, Non jaga diri baik baik disana Bibi doakan yang terbaik buat kesehatan Non, semoga Tuhan melindungi Non."


"Terima kasih Bik, selamat malam maaf Zerlyn mengganggu waktunya."


"Tidak Non, justru bibi sangat senang mendengar suara Non lagi. Pikiran Bibi sangat takut kalau terjadi sesuatu yang tidak Bibi inginkan."


Zerlyn tersenyum tipis, ia merasakan ada sosok yang berbeda didalam diri Bik Nur. Seperti merasakan kasih sayang seorang mamah, hangatnya pelukan mamah yang Zerlyn rindukan selama bertahun tahun lamanya.


"Yasudah Bik, Zerlyn tutup telponnya."


"Baik Non."


TUTUT!!


Membuang nafasnya frustasi, lalu menghembuskannya secara kasar.


"Tuhan!! Semoga semuanya baik baik saja. Semoga apa yang aku lakukan tidaklah salah, lindungi mamahku sampai aku tiba didepannya. Janjiku ingin aku salurkan, meski taruhannya adalah nyawaku sendiri." Batin Zerlyn.