
Dalam hatinya mengutuk keras, Zerlyn mengalami keterlambatan membuat Nona cantik itu cemberut menatap ke arahnya.
"Hmmm.. Maaf Clara, aku telat." Sesal Zerlyn dengan lirih.
Clara tidak menjawab, wajahnya menatap lurus kedepan. Hatinya benar benar sangat kesal, Clara menunggu Zerlyn selama 1jam. Apalagi cuacanya sedang panas, sepanas dadanya.
Zerlyn diam sejenak mencari cara agar Clara tidak kembali marah padanya. "Hmmm.. Bagaimana kalau aku yang traktir belanjaannya."
Clara langsung saja menatap Zerlyn dengan mata berbinar terang "Apa kakak tidak bohong?." Ujar Clara.
Zerlyn menggeleng "Untuk apa?."
"Apapun itu, kakak benar mau mentraktirku?." Ulang Clara seolah merasa tidak percaya.
Zerlyn kembali mengangguk membenarkan.
"Asiiikkk!!!." Ayo kita berangkat!." Ajak Clara sambil berdiri.
"Kau sendirian? Dimana Ezra?." Tanya Zerlyn kebingungan.
"Akhir ini Ezra sibuk dengan tugas kuliahnya Kak." Jawab Clara lalu memasuki mobilnya.
"Berarti sejak tadi menjemputku, kau yang membawa mobilnya? Apa Mamah tidak memarahimu?." Ujar Zerlyn sedikit terkejut mengingat Clara adalah gadis yang masih belia.
"Tidak kakak, kakak tenang saja oke." Clara kemudian menghidupkan mesin mobil, namun segera ditahan oleh Zerlyn.
"Kenapa?." Tanya Clara kebingungan.
"Biar aku saja yang membawanya." Jawab Zerlyn kemudian keluar memutarkan langkahnya untuk mengemudi.
"Clara, tunggu apa lagi?." Sambung Zerlyn menatap Clara masih bergeming ditempat.
"Ekh, iya Kak."
___
Clara berkeli kali menatap Zerlyn disampingnya dengan kagum, cara mengemudinya begitu elegan dan santai. Mata tajam fokus kedepan serta tangan lentik dan putih memegang stir.
"Kenapa?." Tanya Zerlyn tanpa menoleh kesampingnya.
"Kakak hebat!! Baru kali ini loh, Clara bisa melihat cara mengemudi yang santai seperti Kak Ken." Jawab Clara.
"Ken?." Tanya Zerlyn lagi yang kebingungan.
Clara mengangguk "Iya, waktu itu Clara minta dianter sama Kak Ken ke toko buku dekat dengan kampus Ezra sekalian membeli yang lainnya."
Zerlyn berdehem sejenak, Zerlyn bisa menebak dari gaya bicara Clara seperti menyukai Ken. Ya, meskipun Zerlyn tau Ken setara ketampannanya dengan Edgar memiliki sifat dan karakter yang sama.
Acuh, cuek, tegas ditambah memiliki postur tubuh tinggi membuat siapapun melihatnya akan jatuh hati termasuk seperti Clara. Hanya saja Ken tidak pernah ambil pusing.
Tak berselang lama, mereka sampai ditempat tujuan. Clara yang sudah tidak sabar segera menyeret Zerlyn menuju toko yang selama ini menjadi incarannya, apalagi mendengar bahwa belanjaanya akan ditarktir oleh Zerlyn membuat Clara begitu semangat.
Clara terus saja mengitari setiap toko ke toko lainnya seolah kaki itu tidak ada kata lelah sedikitpun.
Setelah puas, kemudian Clara menuju kasir dengan membawa setumpuk deretan gaun mahal yang sedang tren saat ini.
Kasir sampai kwalahan menghitung jumlah keseluruhan sampai dibantu dengan sesama rekan kerjanya.
"Total keseluruhannya lima ratus juta Nona." Ucap Kasir.
Clara menelan slavinanya begitu terkejut saat mendengar ucapan dari kasirnya, Clara mengangguk lalu memanggil Zerlyn yang sedang duduk manis sambil tangan itu sibuk dengan ponsel jadulnya.
"Kak Zerlyn." Panggil Clara.
Zerlyn mendongkak kemudian berjalan mendekati Clara "Apa? Sudah selesai belanjanya?."
"Sudah Kak, total keseluruhannya lima ratus juta." Jelas Clara.
Zerlyn mengangguk, kemudian mengeluarkan Citigroup Chairman Card miliknya. Sebuah Kartu yang khusus digunakan pemilik saham tertinggi di negara A.
Clara melotot tajam menatap kartu ditangan Zerlyn pasalnya itu bukanlah kartu biasa, sebab hanya orang terpilih yang bisa memilikinya.
Begitupun juga dengan kasir yang baru pertama kali memegang kartu mahal ditangannya "Wahh!! Siapa kedua gadis ini? Sepertinya bukan orang biasa." Gumamnya dalam hati.
___
Bibir itu tak hentinya tersenyum bahagia, seharian sangat puas berbelanja, makan direstoran mahal, sampai dimanjakan dengan salon kecantikan yang harganya berjumlah fantastis.
"Kakak terima kasih, kakak sangat baik padaku." Ujar Clara yang memang baru pertama kali inilah Clara merasa dimanjakan oleh Zerlyn.
"Hmmm.. Bagaimana apa kau senang hari ini?." Tanya Zerlyn tanpa menoleh kesampingnya, Zerlyn pokus untuk tetap mengemudi.
Clara mengangguk antusias "Senang banget!!." Jawabnya dengan kepala manja menyenderkan dibahu Zerlyn.
"Ehemmm!! Clara bisa diam sejenak? Aku tidak fokus mengemudi." Tegur Zerlyn.
"Hehehe.. Baiklah."
"Akh, Shi@!." Umpat Zerlyn memukul stirnya, kesal malah harus terjebak macet panjang.
Clara sedikit terkejut mendengar umpatan kasar dari bibir sexy Zerlyn. "Ada apa Kakak?."
"Kita terjebak Macet, apalagi sekarang sudah sore bisa bisa nanti mamah marah besar." Jelas Zerlyn kemudian memutarkan kemudinya.
Clara sekilas menatap Zerlyn disampingnya "Sudah kakak, hanya saja kakak yang belum."
Zerlyn tersenyum kecut memang itu adalah kebiasaannya, ia sendiri merasa risih dan tidak nyaman jika menggunakan benda seperti itu.
"Tidak perlu. Sekarang, rilekkan tubuhmu jangan tegang, jangan memikirkan hal apapun."
Lagi lagi Clara hanya mengangguk menurut. Namun tatapannya tidak pernah lepas memandang wajah tenang Zerlyn. Entah merasa kagum atau hal lainnya yang ada dalam hati Clara.
**
Clara yang awalnya melihat pemandangan ke arah luar sedikit terkejut pasalnya ia sendiri tidak tahu sedang berada dimana. Namun udaranya masih terlihat sejuk dan asri, Clara yang baru mengetahui hal itu sangat takjub ditambah angin sepoy menyapu area wajahnya membuat Clara merasa terbuai.
Meski dalam hati kecilnya merasa sedikit takut sebab sejak tadi Clara tidak melihat mobil satupun yang melintas jalan tersebut. Ingin bertanya namun kembali Clara simpan pertanyaan itu dalam benaknya, Clara takut jika Zerlyn tidak menyukai watak gadis bawel seperti dirinya.
Clara yang tahu soal itu, bisa dengan mudah menebaknya lewat wajah jutek milik Zerlyn, meski cantik tanpa polesan makeup sedikitpun namun tetap terlihat apalagi Zerlyn seperti memiliki sifat tegas, galak, cuek tidak berbeda jauh dengan Edgar. Batin Clara itu sendiri.
Zerlyn tiba tiba menghentikan laju mobilnya membuat Clara kembali menatap Zerlyn dengan kebingungan.
"Apa sudah sampai Kakak?."
Zerlyn menggeleng pelan "Belum."
"Lalu?."
"Lihat kedepan." Tukas Clara dengan menunjukan ada beberapa mobil yang menghalangi jalannya.
Clara terkejut dan seketika pupil matanya melebar "Siapa mereka Kak?."
Zerlyn menggeleng pelan "Tidak tau."
"Apa Kakak tidak takut?." Kening Clara mengkerut menatap Zerlyn disampingnya dengan tampang santai sambil menyenderkan tubuhnya kesandaran kursi.
"Untuk apa? Sama sama makan Nasi." Ujarnya.
KLIK!
Pintu, serta kaca mobil yang tadinya terbuka lantas Zerlyn menguncinya secara otomatis bersamaan dengan sosok pria pemilik dari mobil itu berjalan mendekati mereka.
TOK!TOK!TOK!
Pria itu mengetuk kaca mobilnya membuat tubuh Clara bergetar ketakutan "Kakak, aku takut!!!." Lirihnya.
Zerlyn lalu menegakkan tubuhnya, menghadap Clara disamping dengan tangan mengelus punggungnya "Jangan takut, ada aku disini."
Clara lantas memeluk Zerlyn dengan erat, Zerlyn berusaha menenangkannya lebih dulu sebelum membasmi keseluruhannya. Zerlyn sendiri tidak tau siapa mereka, hanya saja endingnya ia sudah menebaknya sendiri seperti apa.
Zerlyn lantas mengambil ponsel miliknya untuk menghubungi Fhai, namun sialnya Fhai tidak mengangkat telponnya. Zerlyn kembali melakukan ulang sampai berkali kali, namun jawabannya tetap sama.
"Sialan! Kemana dia? Hmmm.. Apa sedang kencan dengan pacarnya?." Gumam Zerlyn pelan, agar Clara tidak mendengar suaranya.
Karna kesal tak kunjung merespon apalagi situasi yang sangat genting ditambah pria itu terus saja mengetuk kaca mobil bak pengemis, segera Zerlyn menghubungi Frans dan berhasil Frans langsung mengangkat telponnya.
"Hallo Nona." Sapa Frans.
"Apa kau sedang tidak kencan dengan kekasihmu?." Tanya Zerlyn yang hatinya masih terasa dongkol.
Frans terkekeh sedikit, sepertinya Frans tahu jika Zerlyn sedang kesal "Saya tidak memiliki kekasih Nona, nasib jomblo hanya menunggu tahanan cinta."
"Cihhh!! Apa sekarang kau sedang membalikkan sebuah fakta, atau mempermainkan dirimu sendiri?." Tegur Zerlyn memutar bola matanya.
"Saya hanya mencoba memperbaikinya Nona, tapi sepertinya sudah terlambat. Apalagi Nona sudah mengetahui hal itu, sungguh membuat saya malu sekali." Ujarnya.
"Malu? Seorang casanova sepertimu memiliki rasa malu? Astaga!! Apa yang terjadi padamu? Jangan katakan jika keinginanmu hari ini ingin berkencan dengan para jal@mu Frans?." Tanya Zerlyn kembali.
"Jangan mengatakan hal itu dengan keras Nona, lagipula saya selalu setiap hari melakukannya. Tidak pernah absen sedikitpun."
"Huhh?? Apa hal itu membuat harga dirimu anjlok dan tidak laku lagi Frans?."
"Nona sudah tau dengan jawabannya tanpa perlu mengatakan seperti itu dengan jelas."
"Lupakan! Sekarang, fokuskan layar laptop milikmu ke jalan kota XX llihat dan lacak mobil mereka." Perintah Zerlyn.
Clara yang tadinya berada di pelukan Zerlyn kemudian mendongkak lalu menjauhkan tubuhnya tanpa disadari oleh Zerlyn. Clara tidak mengerti dengan arah pembicaraannya, hanya dalam otakknya Clara berpikir dan meyakinkan pendiriannya bahwa itu tidak salah lagi.
Sekilas, Clara menjadi teringat dengan masa lalu pembunuhan waktu dulu membuatnya menjadi gelisah, takut, kenapa semuanya menjadi seperti ini? Kenapa semuanya begitu sama? Batin Clara.
"Apa anda sekarang sedang dikejar kejar debt colector Nona?."
"Hmmm.. Ya! Mereka sepertinya tidak pernah bosan mengangguku!."
"Baik, perlu saya panggilkan bantuan inti?."
"Tidak perlu, dimana Fhai?."
"Dia kelelahan Nona, tertidur setelah puas bermain dengan jal@ngnya."
Zerlyn tersenyum sinis mendengar ucapan yang terlontar ditelponnya.
πΏπΏπΏπΏπΏ