KING MAFIA IS MY HUSBAND

KING MAFIA IS MY HUSBAND
SANGGUPKAH BERTAHAN MESKI DIDERA RASA SAKIT



Saat ini Zerlyn berada didalam toilet berusaha menahan sesak dalam dadanya. Ingin mengeluarkan segala beban pikiran lewat air mata, namun Zerlyn kembali berusaha menahannya.


Ia tidak ingin lemah, prinsipnya sudah Zerlyn tanamkan pada dirinya sendiri jika ia adalah gadis kuat, gadis mandiri berusaha tegar dan berusaha semuanya baik baik saja.


Dengan cara membasuh wajahnya menggunakan air dingin mencoba mendinginkan otaknya yang panas serta dada bergemuruh menahan amarah.


Mengatur nafasnya sejanak, kemudian tubuhnya kembali disandarkan ke dinding toilet, membuka pesan berharap Stella membalasnya. Namun setelah dicek, masih belum ada respon darinya.


Zerlyn sedikit khawatir, lantas segera membereskan penampilannya dan kemudian berlalu keluar untuk menuju rumah sakit. Beruntung hari ini sekolah sudah Free semenjak kemarin mengadakan ujian.


"Zerlyn." Panggil Buk Yena.


"Ekh, iya Buk?." Zerlyn sedikit terkejut melihat Buk Yena berlari sambil memanggilnya.


"Kau mau kerumah sakit menemui Stella?." Ucap Buk Yena tanpa basa basi.


"Kok ibu bisa tau?." Tanya Zerlyn.


"Anak yang lain juga tadi kerumah sakit cuma ibu belum sempat soalnya hari ini ada kepentingan mendadak. Jadi, ibu tolong nitip ini yah dan berikan kepada Stella katakan salam dari ibu Yena dan katakan padanya jika Ibu belum bisa datang menjenguk." Jawab Buk Yena dengan menyerahkan beberapa kantong plastik kepada Zerlyn.


"Baik Buk, nanti saya sampaikan kalau begitu Zerlyn pamit sekarang."


Buk Yena mengangguk bibirnya tersenyum menatap kepergian Zerlyn yang sebagai siswi berotak cerdas nilai ujiannya selalu mendapatkan nilai 100. Buk Yena ingin sekali mengumumkannya, namun Zerlyn selalu menolak keras entah apa alasannya.


**


Sepanjang lorong rumah sakit, Zerlyn memperhatikan sekelilingnya dan tidak mendapati Jasper apa Alden sudah kembali pulang? Pikir Zerlyn.


Segera Zerlyn mengetuk pintunya lebih dulu.


TOK!TOK!TOK!


"Masuk!."


CEKLEK!!!


"Selamat pagi tante." Sapa Zerlyn melihat Millie masih setia menemani Stella disampingnya.


"Pagi juga Nak Zerlyn." Sambut Miliie memeluknya hangat.


"Tidak pergi kesekolahmu?." Sambungnya.


"Free tante, ini ada titipan dari Buk Yena guru SMA KEMBANG 7 RUPA untuk Stella serta salam dari beliau dan menyampaikan jika Buk Yena belum bisa datang." Jelas Zerlyn langsung menyampaikan pesannya.


"Waalaikumsalam. Akh, tidak apa apa Nak Zerlyn tolong nanti sampaikan salam balik dari Ibu Millie yah." Ucap Mille seraya mengambil bingkisan ditangan Zerlyn.


Zerlyn mengangguk "Bagimana kabarnya Stella tante?."


"Sudah lebih baik, hari ini Stella bisa diijinkan pulang." Jawab Millie dengan bibir tersenyum merekah.


"Serius tante?." Tanya Zerlyn.


Millie mengangguk membenarkan. Lantas Zerlyn segera mendekat ke arah Stella.


"Stell, gue kangen sama loe sorry kalau selama ini gue ga bisa nemenin loe seharian." Sesal Zerlyn.


"Tidak apa apa Lyn, gue ngerti kesibukan loe."


"Emang loe tau?." Tanya Zerlyn.


Stella menggerakan bahunya acuh.


"Pasti loe senang dong hari ini?."


"Senangnya?." Kening Stella mengkerut bingung.


"Loe pulang ogeb!! Gue ikut anterin yah boleh? Boleh kan tante?."


"Boleh Nak Zerlyn, tapi maaf rumah kami hanya sederhana. Untuk bisa masuk kerumah sakit ini saja, saya sangat bersyukur sekali beruntungnya biaya sudah ada yang menanggung seluruhnya meskipun saya sendiri tidak tau siapa orangnya. Ingin sekali saya menyampaikan rasa terima kasih yang sebesarnya."


"Tante, untuk masalah seperti itu tidak perlu tante pikirkan mau rumah jelek, bagus tidak masalah untukku. Mengenai biaya rumah sakit, tante jangan pusing sampai memikirkan siapa orangnya. Yang terpenting Stella saat ini bisa selamat."


"Saya tau Nak Zerlyn, tapi mengingat biaya rumah sakit sampai 500juta itu bukanlah uang sedikit. Apalagi ekonomi saya saat ini sedang kesulitan."


"Mungkin Tuhan sedang berbaik hati kepada Tante, tante masih ingat dengan perkataan tante waktu itu? Nah, sekarang ini buktinya."


"Ya, kamu benar meski saya tidak bisa bertemu dengannya. Tapi doa yang terbaik untukknya selalu saya berikan, tentang segala kelancaran hidup yang dijalaninya semoga tidak menderita seperti saya."


Zerlyn tersenyum lalu merangkul Millie kepelukannya, hatinya begitu menghangat. Sekilas Zerlyn jadi rindu pelukan sang ibunda walaupun ia sendiri tidak tau keberadaannya ada dimana, serta dalam hati itu mengaminkan doa Millie.


**


Millie mengangguk antusias lantas segera membereskannya seperti selimut, bantal, guling, kasur serta yang lainnya.


Sementara Zerlyn membantu Stella untuk berdiri dan keluar lebih dulu.


"Akh, Lyn akhirnya gue bisa bebas menghirup udara segar selama beberapa minggu gue ngerasa kaya dipenjara." Ucap Stella matanya mengedar kesekliling rumah sakit.


"Nanti gue ajakin loe kesuatu tempat deh, siapa tau loe suka sekalian membebaskan otak ngebul loe biar lebih fress." Usul Zerlyn menaikkan satu alisnya.


"Wahh!! Serius loe?." Tanya Stella dengan antusias.


Zerlyn mengangguk membenarkan "Asal, loenya harus benar benar sembuh baru gue mau ngajakin loe kemanapun yang loe mau. Ke planet pluto juga gue fine."


"Argghh!! Thngakyu Lyn!! Loe sehabat gue yang terbaik sory waktu kemarin gue sempat emosi sama loe." Sesal Stella lantas memeluk Zerlyn.


"It's Okay!!." Jawab Zerlyn membalas pelukannya.


"Sudah selesai?." Tanya Millie terharu melihat kedekatan mereka.


Keduanya menoleh, lantas melepas pelukannya Zerlyn merasa iba melihat begitu banyaknya benda yang dibawa oleh Millie.


"Tante, biar saya bantu membawanya." Tawar Zerlyn.


"Akh, tidak usah Nak. Ini tidak berat kok." Tolak Millie dengan halus meski hatinya memang membutuhkan uluran bantuan, namun sangat gengsi untuk mengatakannya. Mengingat Zerlyn sudah banyak membantu, membuat Millie merasa enggan padanya.


"Tidak apa apa koe tante, Zerlyn bawa tas yang ini saja yah?." Usul Zerlyn menunjuk ke arah tas berwarna biru seperti untuk menyimpan selimut dan baju.


Millie akhirnya hanya bisa pasrah dan mengangguk "Terima kasih Nak, maaf kalau saya banyak merepotkan."


"Tidak tante, ayo sekarang kita berangkat." Zerlyn segera mengambil tas yang teronggok dibawah kemudian tangan kirinya merangkul Stella.


Mereka berjalan beriringan sambil sesekali dihiasi canda tawa meski candaan itu terdengar receh.


Bersamaan dengan sosok pria jangkung dan tampan memperhatikan tingkah mereka bertiga dari kejauhan. Sekilas matanya menyipit melihat gadis yang masih berseragam SMA seperti tidak asing.


Karena penasaran dan ingin memastikan jika penglihatannya tidak buram akibat diumurnya yang sudah setengah aki aki namun setangah tua segera mencari informasi lewat recep tionis.


"Tuan besar? Apa ada hal yang ingin disampaikan?." Tanya Lela yang bernametag dibaju seragam dengan raut bingung.


"Siapa mereka?."


Lela sedikit melongo mendengar ucapan Tuan besar sang pemilik rumah sakit terbesar dikota X itu.


"Maaf, maksudnya siapa Tuan?." Tanya Lela kembali dengan hati hati.


"3 Wanita satu diantaranya memakai seragam SMA, serta ditangannya membawa banyak barang apa mereka diusir? Apa mereka tidak sanggup untuk membanyar biayanya?."


Lela diam sejenak mencerna ucapannya, sekilas pikirannya teringat waktu kejadian saat itu.


FLASBACK ON:


"Berapa total keselurahan biaya rumah sakitnya?."


"untuk satu hari bisa mencapai 5juta tergantung dari kondisi pasien."


"Berapa hari dia dirawat?."


"Maaf untuk itu saya belum memastikannya, tetap berdoa yang terbaik semoga secepatnya teman anda bisa pulih kembali."


"Lalu, berapa biaya untuk keseluruhannya?."


"Akh, sekali lagi saya minta maaf mengenai hal itu saya tidak tau Dek."


"Bagaimana kalau saya bayar 500juta? Apa itu cukup?."


Lela melotot tajam menatap siswi cantik yang masih mengenakan seragam sma seolah tidak percaya dengan ucapan yang dilontarkannya. Apalagi statusnya masih pelajar, tidak memungkinkan memiliki uang sebanyak itu.


Mengetahui raut wajah kebingungannya, segera ia mengambil cek didalam dompetnya kemudian meminjam patlot untuk menuliskan nominal angkanya.


"Ini, saya sudah lunaskan seluruhnya berikan fasilitas terbaik untuk teman saya. Jika tidak, saya akan menutup rumah sakit ini."


FLASBACK OF.


Mendengar cerita Lela, membuatnya sedikit geram pikirannya menjadi kalut dan bingung. Niat awalnya ingin mengecek rumah sakit miliknya malah berujung seperti ini.


🌿🌿🌿🌿