KING MAFIA IS MY HUSBAND

KING MAFIA IS MY HUSBAND
TIDAK MENYANGKA



Zerlyn terkejut mendengar suara Stella dari arah belakangnya, apalagi dengan posisi Zerlyn yang membuat Stella melongo tidak percaya. Zerlyn sudah menebaknya pasti diotak Stella akan berpikir yang aneh tentang dirinya.


Stella segera menghampiri Zerlyn belum sempat ia berbicara, Edgar lebih dulu mendahuluinya.


"Pulang sekarang! Akan ada hukuman yang sudah menantimu." Bisik Edgar kemudian melangkah pergi.


"Anjirrtt!! Gila itu siapa Lyn?? Simpanan loe? Om loe? Atau selingkuhan loe?." Tebak Stella.


Zerlyn memukul bahu Stella dengan kasar sampai bibirnya terdengar meringis kesakitan.


PLAAKK!!!


"AWw!! Tenaga loe boleh juga lin buat bantu ema gue buat giling adonan." Celetuk Stella asal.


Zerlyn tidak menanggapi gurauannya, namun mengalihkan pembicaraan.


"Gue duluan Stell." Pamit Zerlyn.


"Eh, tungguin gue Lyn loe mau kemana? Jelasin dulu sama gue." Teriak Stella melihat langkah Zerlyn tampak terburu buru.


"Woy! Zerlyn!." Ulang Stella dengan kembali berteriak.


Zerlyn tidak memperdulikan teriakan Stella, langkahnya terus saja berjalan dengan cepat.


"Argghh!! Sialan si Zerlyn, awas aja kalau ketemu gak akan gue biarin loe kabur lagi dari gue." Gumam Stella dongkol.


___


Langkahnya tampak tergesa gesa sampai tidak menyadari mobil Edgar masih berdiam diri ditempat.


"Ken, mau kemana dia?." Tanya Edgar kebingungan melihat bayangan Zerlyn menaiki ojeg seperti sedang dikejar target.


"Perlu saya ikuti?." Usul Ken kemudian.


"Hemmm." Jawab Edgar dilanda penasaran.


Akhirnya Ken mengikuti ojeg yang ditumpangi Zerlyn sampai akhirnya berhenti diperusahaan ZN2 GROUP.


"Ngapain dia kesini Ken? Bukankah itu perusahaan yang Fhai miliki?." Edgar mengkerut keningnya sesaat melihat dari kejauhan langkah Zerlyn masuk kedalam perusahaan dan pikirannya kembali teringat waktu membahas kontrak kerjasama dengan Fhai. Dalam hatinya Edgar sedikit geram apa hubungannya Zerlyn dengan Fhai?.


Ken mengetahui gurat wajah Edgar yang terlihat ambigu, antara kecewa, penasaran dan... Hemmm sedikit cemburu. Batin Ken.


Kemudian, Ken mengambil ponselnya mengetik beberapa pesan seteleh terkirim ia kembali menyimpan disaku jasnya.


"Biar orang suruhan saya untuk mengikuti apa yang Nona Zerlyn lakukan didalam Tuan, kita harus kembali ke perusahaan sebentar lagi akan ada rapat penting." Ujar Ken mengingatkan.


Edgar membuang nafasnya frustasi kemudian mengangguk mengerti.


Pikirannya masih bergelanyut memikirkan apa yang akan dilakukannya didalam? Mengingat perusahaan itu bukanlah perusahaan biasa, tidak bisa sembarangan orang dengan mudah masuk begitu saja.


"Fokuskan pikiran anda Tuan, jangan memikirkan Nona Zerlyn percayakan semuanya akan baik baik saja." Tegur Ken mengetahui raut kwatirnya.


"Kau tau Ken, itu perusahaan terbesar sama halnya dengan perusahaan Varessham. Tapi kenapa sibocil itu bisa masuk dengan mudah apalagi dia masih mengenakan seragam SMA? Kenapa pengawal hanya berdiam diri tidak mengusirnya? Dan kau tau Ken, pengawal malah menunduk hormat padanya." Geram Edgar mengutarakan apa yang menjadi beban dalam otaknya.


Ken berdiam sejenak mencerna ucapan Edgar dan sedetik kemudian Ken membenarkannya. Ken sendiri baru menyadari hal itu.


"Kita hanya bergantung pada mereka Tuan, setelah mendapatkan informasi tentang Nona Zerlyn dan berharap bisa sedikit mengetahui tentang Nona. Selanjutnya terserah anda ingin melakukan apa, sesuai dengan rencana anda." Usul Ken.


Edgar tersenyum devil mendengar ucapan Ken yang mengatakan 'rencana.'


"Sedikit ada permainan yang akan aku berikan nanti, sepertinya sangat menyenangkan untuk menghukum sibocil itu Ken."


Ken sekilas melirik Visi Mirrornya melihat Edgar tersenyum tipis namun terlihat lebih menyeramkan disertai sorot matanya tak bisa Ken artikan.


"Jangan ceoboh Tuan, kita ikuti permainan Nona Zerlyn seperti apa. Saya harap Tuan bisa sampai bersabar sedikit, jangan mengikuti ego anda sendiri."


Edgar mendelik sinis kepada Ken yang selalu menceramahinya "Hei! Bodoh! Aku tau apa yang aku pikirkan! Tanpa perlu kau mengingatkannya! Berhentilah mencermahiku terus, telingaku panas mendengar kau terus saja berbicara yang tidak penting!." Pekik Edgar menaikan suaranya menjadi lebih keras dan terdengar tegas.


Ken menggerakan bahunya acuh "Hanya sekedar mengingatkan."


"Cihh!! Lama lama kau seperti siTufai kau bekerja saja dengannya akan lebih pantas si penceramah bersatu bersama siKhotbah." Ujar Edgar.


Ken tersenyum tipis sangat lucu mendengar suara Edgar menahan emosinya dan ditelinga Ken ia menyimpulkan jika Edgar seperti wanita yang sedang merengek manja.


"Tufai? Maksudnya siapa Tuan?." Kening Ken mengkerut.


"Fhai!." Balas Edgar singkat.


"Jika saya bekerja dan bergabung dengannya, bagaimana dengan Anda Tuan?." Pancing Ken.


"Kau tidak akan bodoh dengan jawaban apa yang aku berikan untukmu Ken! Ku tau otakmu cerdas dan tidak akan mengambil keputusan yang membuatku marah berhentilah mengoceh omong kosong dan tidak penting seperti perempuan! Perhatikan jalan dengan benar, jika sekali lagi menceramahiku ku potong gajihmu!." Jelas Edgar disertai dengan ancaman untuk Ken.


Ken mengangguk patuh, Ken berpikir baru kali ini Edgar berbicara panjang lebar padanya ia merasa bahagia bisa mendengar suara Edgar seperti itu yang Ken artikan jika Edgar hatinya dalam baik baik saja.


"Huhh!! Aku membuang banyak tenaga dan menguras bibir suciku untuk berbicara yang tidak penting padamu!." Ketus Edgar kembali mendengus sebal.


Ken menggeleng pelan "Ah, baru saja aku mengatakan hal itu." Batinnya.


___


Zerlyn segera masuk ke dalam lift dan menekan tombol 65 lantai paling atas. Hal itu tak luput dari perhatian seorang dibelakangnya.


TING!


Pintu lift terbuka, Zerlyn bergegas menuju ruangan presdir dan mendorong pintu tanpa permisi.


"Fhai." Panggil Zerlyn melihat Fhai tengah berkutat dengan layar laptop beserta berkas yang menumpuk dimeja kerjanya. Zerlyn meringis melihatnya merasa kasihan kepada Fhai seharusnya dirinyalah yang bertanggung jawab bukan Fhai.


Fhai mendongkak menatap Zerlyn yang malah terbengong manatapnya, kemudian berdiri dan mendekati Zerlyn.


"Nona?." Panggil Fhai.


Namun Zerlyn masih terbengong berdiam diri tanpa menjawab panggilan Fhai, sepertinya Zerlyn sepenuhnya belum sadar jika Fhai sudah berada didepannya.


"Hallo Nona?." Panggil Fhai kembali dengan menepuk bahu Zerlyn pelan.


Zerlyn terlonjak kaget menatap Fhai yang jaraknya begitu dekat dengannya.


"Eh!!." Ujar Zerlyn kemudian mundur sedikit, Zerlyn begitu canggung menatap penampilan Fhai yang menurutnya hari ini terasa berbeda dimatanya. Hmm... Terlihat sangat tampan.


Langkahnya terus mundur sampai tidak menyadari kakinya tersandung meja dan beruntung Fhai segera menarik tangan Zerlyn jika terlambat sedikit, Zerlyn akan terjatuh.


Fhai sepertinya menarik Zerlyn terlalu kuat hingga Zerlyn menubruk dada bidangnya, refleks Fhai merangkul pinggang Zerlyn agar tidak terjatuh kembali.


Keduanya saling memandang, jantung Zerlyn berdetak kencang begitupun juga dengan Fhai. Dengan jarak yang terlalu dekat, Zerlyn bisa mencium aroma maskulin dari tubuh Fhai hingga membuat Zerlyn berasa ingin terus didekatnya.


"Maafkan saya Nona."


Zerlyn mengetahui dari wajah Fhai yang menyesali perbuatannya "Ah, tidak apa apa Fhai. Hmm... Bagaimana masalah tentang itu? Kau akan memberitahukannya langsung padaku?."


Fhai mendongkak lalu mengangguk kemudian mengambil laptotnya dan duduk di sofa bersamaan dengan Zerlyn.


Tangan Fhai mengotak atik laptopnya kemudian setelah beberapa menit mencarinya, Fhai segera memberikan rekaman yang sewaktu pas dirinya membahas kontrak kerjasama dengan Varessham.


Dalam rekaman itu Fhai melaporkan langsung kepada Zerlyn atas tindakan ucapan Edgar yang bisa saja menyinggung perasaannya. Bukan maksud Fhai mengadu, hanya ingin mendapat pendapat penilaian Zerlyn untuk kontrak kerjasama kedepannya seperti apa? Sebab Fhai bergantung kepada Zerlyn yang sebagai petinggi perusahaan alias pemilik perusahaan tersebut.


Belum sempat Fhai memutar rekaman, pintunya terdengar ada yang mengetuk.


TOK!TOK!TOK


"Masuk!." Teriak Fhai.


Pintu terbuka menampilkan sosok Ob mengantar dua Coffe kemudian berjalan mendekat.


"Permisi, ini Coffenya Tuan, Nona." Tangan Ob itu kemudian menyimpannya di atas meja.


Fhai kehernana dengan mengkerutkan keningnya, Fhai merasa tidak memesan Coffe apalagi Ob tersebut seperti baru. Sebelumnya Fhai tidak pernah melihatnya apalagi perusahaan saat ini tidak menerima lowongan untuk dibeberapa bagian.


"Saya tidak memesan Coffe hari ini?." Tegas Fhai menatapnya dengan tajam.


Ob tersebut menunduk ketakutan "Ah, maafkan saya Tuan tapi sekertaris anda yang sudah memesan lewat saya."


Fhai kemudian berdiri menelisik Ob tersebut dengan teliti, Ob itu menunduk ketakutkan serta badannya bergetar hebat melihat tatapan maut milik Fhai.


Berkali kali menelan ludahnya kasar, ia berpikir Fhai tidak akan setegas dan segalak itu. Sekilas Ob tersebut melihat Zerlyn tampaknya Zerlyn hanya acuh dan menatap layar laptot dengan serius.


Pikirannya Ob itu sangat kacau, bingung dan bimbang ia menduga akan mendapat perbuatan tak senonoh namun kembali ia tepis. Ob tidak mendapatkan informasi apapun apalagi melihat adegan seperti itu.


"Siapa nama Anda!." Tegur Fhai dengan sorot mata mengintimidasi.


"Saya... Sa-ya.."


"Katakan dengan jelas!." Bentak Fhai.


Ob tersebut tubuhnya kembali bergetar dengan hebat, keringat dinginnya keluar dari keningnya.


Beruntung Della bagian sekertaris, segara masuk sesaat terdengar jelas perdebatan diruangan presdir yang kebetulan pintu tersebut terbuka setengah.


"Permisi Tuan, maaf saya menganggu waktunya sebentar. Memang saya yang menyuruhnya untuk mengantar coffe keruangan Anda. Saya merasa anda membutuhkannya, apalagi pekerjaan anda akhir akhir ini sangat sibuk sekali, jika anda tidak menyukainya biarkan Florence membawanya kembali." Jelas Della sedikit mencuri pandang ke arah Fhai, bibir merah merekahnya tersenyum genit.


Dalam hati Della tak hentinya memuja ketampanan Fhai ingin sekali Della memilikinya, namun Fhai yang bersikap selalu datar bak patung sangat susah untuk Della dekati.


"Florence, ambil kembali Coffenya dan buang di wastafel pantry." Perintah Della menatap Florence disamping yang menunduk ketakutan.


Belum sempat berjalan untuk mengambil Coffe itu kembali, Zerlyn menahannya.


"Tidak perlu! Tadi siapa nama Anda?." Tanya Zerlyn menatap ke arah mereka berdua.


"Florence Nona." Jawab Florence yang dalam hatinya berdumel dongkol tidak Tuannya, Nona mudanya juga sama memiliki sifat tegas dan galak.


Zerlyn mengangguk kemudian menatap Della "Siapa Nama Anda?."


"Hmmm.. Saya Della Adeline Nona." Balas Della.


"Saya tidak butuh nama kepanjangan Anda, tidak penting bagi saya!." Desis Zerlyn kemudian berjalan mendekat.


"Kau keluar!." Perintah Zerlyn kepada Della dengan tajam.


Della melotot tajam menatap Zerlyn, baru pertama kali inilah Della berurusan dengan Zerlyn. Della berpikir siapa sebenarnya bocah yang masih mengenakan seragam sma tersebut yang selalu keluar masuk dengan bebas.


Meski Della tau siapa Zerlyn namun Della menepisnya dengan kasar, yang ia pikirkan apa Zerlyn kekasih gelapnya? Memikirkan hal itu Della sedikit cemburu, apalagi Della sangat menyukai Fhai.


Della memandang penampilan Zerlyn, menilainya dari atas sampai bawah yang sudah jelas jika Della pemenangnya sebagai kategori kecantikan. Zerlyn yang masih sekolah tidak ada apa apanya dibandingkan dengan Della. Begitu pikirnya.


Della kemudian berjalan melangkah keluar dengan perasaan yang kesal dan dongkol.


___


Tinggalah kini diruangan itu menyikasakan Fhai, Zerlyn beserta Florence.


Zerlyn berjalan perlahan dan mendekati Florence, Florence mengetahui hal itu pikirannya menjadi tidak karuan dan gugup. Tangan yang masih memegang nampan tampak begertar dan berkeringat dingin.


"Tegakkan kepalamu!." Tegur Zerlyn.


Florence menegakkan kepalanya namun dengan mata yang tertutup, tidak sanggup menatap Zerlyn didepannya.


"Anda ob baru disini?." Tanya Zerlyn menilai penampilan Florence dengan teliti begitupun juga dengan Fhai.


Zerlyn sekilas menatap Fhai dan Fhai mengangguk memikirkan hal yang sama dengan Zerlyn.


"Benar Nona." Jawab Florence.


"Pergi sekarang! Dan ambil kembali Coffe murahan Anda!." Perintah Fhai bersamaan dengan bentakan untuk Florence.


"Ba..ik Tuan."


Dengan cepat, Florence mengambil Coffe diatas meja yang secara bersamaan laptop milik Fhai masih menyala, entah Zerlyn sengaja atau lupa untuk menutupnya kembali.


Florence dengan jelas bisa melihat layar laptop sekilas. Tak ingin aksinya ketahuan, segera Florence bergegas pergi.


"Permisi Tuan, Nona." Pamit Florence.


Baru saja diambang pintu, Fhai berteriak "Jangan pernah lagi anda menginjakkan kaki disini, keluar sekarang sebelum saya memotong kedua kaki anda."


Florence melotot mendengar ancaman Fhai yang sangat menakutkan untukknya. Kemudian Florence bergegas melangkah dengan cepat tanpa menjawab ucapan Fhai. Florence sendiri sudah merasa takut, mengingat ia sejenak berpikir apakah Fhai serta Zerlyn mengetahui siapa dirinya?.


Bersamaan dengan itu, Della yang juga ternyata mendengar suara Fhai begitu tegas namun terkesan dingin. Della merasa ketakutan dan bergidik ngeri. Ingin memfokuskan dengan mengsibukan ke layar komputer didepannya, tetapi gagal penegasan dari suara Fhai masih terdengar jelas seolah tidak mau pergi.


___


Sesaat kepergian Florence, suasana hening sejenak kemudian Zerlyn melirik Fhai dengan lekat "Kau mengerti apa yang aku pikirkan Fhai?."


Fhai mengangguk "Akan saya lakukan sesuai keinginan Nona yang menurut anda itu menyenangkan."


Zerlyn tersenyum kecut Fhai seolah tau apa yang ia inginkan "Tenang, aku akan membantumu sudah lama juga tangan suciku tidak bermain Fhai."


Fhai tersenyum miring menatap Zerlyn begitu antusias jika mendengar kata 'permainan' yang menurut Zerlyn membuatnya sangat bahagia.


🌿🌿🌿🌿🌿