
Suara penonton menggema mentertawakan panampilan Zerlyn diatas panggung menyamakan dirinya dengan si cupu pantat panci. Merasa heran saat melihat Zerlyn tampilannya sangat kuno, bahkan sampai tidak ada yang mengenali dirinya.
Hingga suara tertawa itu terhenti saat mendengar suara Zerlyn tengah menjawab pertanyaan ke pertanyaan yang lain dengan lancar dan cepat. Apalagi, disaat Mc memberikan soal yang sangat sulit harus menggunakan rumus dan berhitung terlebih dahulu. Hanya dengan mengetuk jari jemari untuk berhitung Zerlyn dengan mudah menebaknya, tinggal berkonsentrasi sejenak lalu menjawabnya dengan cepat. Hal itu tak luput dari perhatian kamera.
Tak lupa, Zerlyn membawakan pidato khas berbahasa inggrisnya dengan lancar. Aura bak pemimpin petinggi terpancar dalam dirinya, pembawaan dalam berbicara sangat tegas, santai namun terasa pas penyampaian setiap ucapan yang Zerlyn lontarkan. Tidak berbelit ataupun gugup.
Dari segi bicara yang beroktaf tinggi membuat para pendengar berdecak kagum, bahasa inggris yang Zerlyn gunakan sangat fasih seperti sudah sangat ahli dibidangnya.
Mengetahui hal itu, membuat Zerlyn benar benar risih. Tak ingin kelepasan, Zerlyn segera memutuskan pidato tersebut dengan cepat ditambah kamera yang terus memotret dirinya membuat Zerlyn sangat enggan dan malas.
Mata yang tadinya awas ke sudut gedung aula, segera ia putuskan mengingat objek yang terhalang sorot lampu dari kamera membuat mata Zerlyn sedikit menyipit akibat terlalu silau. Refleks tangannya mengudara untuk menutupi sebelah matanya.
"Okay, maybe that's all I can convey. The rest I apologize if there are wrong words in the delivery. Once again I apologize and thank you."
Suara tepuk tangan kembali menggema digedung aula, acara itu tampak meriah apalagi melihat nada suara Zerlyn yang terkesan dingin saat menutup pidatonya.
Sontak dibuat penasaran dengan sosok Zerlyn sebenaranya, tidak mungkin jika seorang siswi Sma bisa menyelesaikan semuanya dengan mudah.
Apalagi saat menjawab rumus, angka, nominal, mendengarnya saja membuat otak mereka ngbalnk tapi tidak berlaku bagi Zerlyn dengan santai dan mata yang terpejam untuk berkonsentrsi penuh. Gaya kakinya saling bertumpu, dengan balpoin ditangan mengetuknya asal. Dari raut wajahnya terlihat sangat bosan dan ingin segera berlalu.
Dan disaat Mc tengah membacakan siapa pemenangnya, membuat penonton gelisah. Dalam hati mereka tak hentinya terus berdoa yang terbaik.
Tak lama, Mc menyampaikan jika pemenangnya adalah sekolah Favorit mereka KEMBANG 7 RUPA sorak tepuk tangan kembali riuh, piala besar serta hadiah uang tunai sudah siap untuk diberikan kepada Zerlyn.
Dengan sigap, Zerlyn segera naik kembali ke panggung dan mengambil piala serta papan simbolis. Para guru mengucapakan selamat padanya, serta tidak lupa kamera selalu mengambil posisi terdepan.
Tak ingin berlama, Zerlyn segera pamit dengan alasan ada kepentingan yang lainnya. Awalnya guru tidak mengijinkan karna terlalu sayang jika dilewatkan sebab masih ingin berfoto dengan Zerlyn si cupu.
Dengan berbagai ribuan alasan konyol dan terdengar aneh, akhirnya Zerlyn bisa terlepas dengan acara yang membuatnya jengah. Bersamaan itu, Stella sahabatnya ingin menyampaikan selamat kepada Zerlyn namun terlambat disaat Zerlyn sudah tidak berada ditempat.
"Huhh!! Menyebalkan! Ngapain juga sih penampilan dia kaya cupu?." Gerutu Stella menghentakkan kakinya dengan kesal.
___
Zerlyn saat ini tengah berada di gedung tertinggi lantai paling atas untuk melanjutkan misinya, jika tidak lautan manusia digedung aula bisa mengakibatkan semuanya tewas.
"Hallo Fhai, bagaimana semuanya?." Tanya Zerlyn disaat menaiki Lift dan menekan tombol 45.
"Soal apa Nona?." Tanya Fhai kebingungan.
"Identitas serta penempatan gedung." Jawab Zerlyn kemudian segera melangkah pelan takut jika aksinya sampai diketahui pengawal dari Varessham.
"Masalah identitas, tidak ada yang perlu di ragukan. Penyamaran Nona sudah memuaskan, tapi sepertinya ada yang kurang." Sesal Fhai.
"Apa?." Kening Zerlyn mengkerut, ketakutan itu berhasil kembali melanda pikirannya.
"Kalau jadi badut, akan lebih bagus Nona." Ujar Fhai sedikit tertekeh.
"Candamu tidak lucu Fhai!." Tegur Zerlyn sedikit geram, disaat hati dan pikirannya gusar Fhai malah mengajaknya bercanda. Spontan membuat Zerlyn setengah dongkol.
"Ah, sedikit saja Nona jangan terlalu kaku." Sahut Fhai.
"Serius Fhai! Jika tidak aku menembak kepalamu!." Ancam Zerlyn didepan cctv yang otomatis tersambung kelayar komputer.
"Hmmm.. Baiklah." Fhai bisa melihat Zerlyn yang masih berdiam diri di lorong gedung.
"Nomor berapa Fhai, bagaimana penjagaan disana?." Tanya Zerlyn kemudian berjalan mengendap perlahan. Meski banyak cctv disetiap sudut, tak membuat nyalinya gentar.
"Semuanya aman, tinggal lurus lalu belok ke arah kanan. Nanti akan ada pintu dinomor 502." Jelas Fhai dengan tangan mengecek layar komputer satu persatu setiap lorong dan sudut.
Zerlyn segera berjalan cepat sesuai arahan dari Fhai, namun sialnya disaat akan mendekati pintu tersebut secara mengejutkan pria bertubuh jangkung memergoki aksinya.
"Kau sedang apa disini Nona." Suara berat itu mengagetkan Zerlyn.
Zerlyn terkejut lalu mengarahkan senjata tepat didepan pria asing yang Zerlyn sendiri tidak mengenalinya, bersamaan dengan Fhai ia pun juga terkejut. Berkali kali Fhai mengumpat, hal itu jelas terdengar ditelinga Zerlyn yang masih menggunakan Walkie Talkie.
Pria aneh itu tertawa meski ucapan Zerlyn tidak ada yang lucu. Membuat emosi Zerlyn meningkat.
"KATAKAN! SIAPA KALIAN!." Bentak Zerlyn yang berbicara dengan suara tinggi.
"Apa itu penting untukmu Nona ZERLYN ANNABETH HARVEY?." Ucapnya dengan menekan nama kepanjangan dari Zerlyn.
Zerlyn sekali lagi dibuat terkejut bagaimana pria tua jelek itu bisa mengetahui nama asli serta marganya? Sedangkan Zerlyn sudah lama tidak menggunakan Harvey kembali.
"Cihh!! Kau membuang waktuku! Cepat katakan!."
Pria itu tersenyum sinis kemudian melirik kearah samping anak buahnya untuk menghajar Zerlyn. Fhai dibuat panik, segera ia memberitahukan orang suruhannya untuk membantu Zerlyn.
Fhai tidak ingin jika Nona muda dikeluarga Varessham itu terluka, jika sampai itu terjadi Fhai tidak bisa membayangkan bagaimana ngerinya disaat pisau tajam membelah lehernya hingga terpisah.
Zerlyn tersenyum kecut melihat musuhnya bertambah banyak sedangkan dirinya hanya seorang diri, dengan langkahnya mundur perlahan kemudian bersiap menghajar mereka.
Pikirannya begitu meleset, dikira lorong itu sepi namun nyatanya mereka sangat pandai menyembunyikan diri.
"Maju pengecut!." Teriak Zerlyn menantang anak buahnya yang berjumlah lima orang dengan senjata api yang lengkap.
"Selain kau masih berstatus pelajar, Nyali Anda patut diacungi jempol Nona Zerlyn Varessham." Pria tua jelek tersebut tersenyum miring menatap Zerlyn yang tengah bersiap menghajar anak buahnya.
Zerlyn diam sejenak, dengan emosi dan nafasnya sudah berada diatas kepala. Pikirannya dibuat penasaran, mengapa ia bisa tau tentang dirinya yang sekarang tinggal di istana Varessham?.
"Apa kau ingin tau siapa saya Nona? Dan apa ingin kau tau jika saya sudah mengetahui kalau anda adalah seorang istri rahasia dari Varessham? Tapi sayangnya, suami anda tengah bersenang senang dengan wanita lain di luar negri." Tawa pria itu kembali terdengar seolah mengejek Zerlyn.
"Dan anda disini berdiri seorang diri, melawan musuh terkuat dari Varessham dan terkait tentang masa lalu Anda Nona? Sungguh sangat disayangkan sekalih. Mengingat, gadis sepertimu sangat cantik tapi si Edgar itu malah mengabaikan istri kecilnya." Lanjutnya yang membuat otak Zerlyn dibuat bingung dan pusing.
Ingin mengacuhkan ucapan konyol dari bibir pria tua itu, namun usahanya sia sia. Sekilas, Zerlyn kembali teringat dengan kalimat Fhai yang lontarkan padanya dulu. Disaat otaknya masih mencerna ucapan dari pria tua tersebut, Zerlyn malah lengah dan tak bisa menghindar hingga membuatnya emosi.
PLAAKKK!!!
Pria tersebut menampar pipi Zerlyn hingga membuatnya mundur beberapa langkah, sudut bibirnya robek dan mengeluarkan darah segar. Tangan Zerlyn bergetar lalu mengusap ujung bibirnya.
Pipi Zerlyn berubah menjadi merah dengan bekas tamparan yang masih membekas. Sangat panas, seperti isi dalam otaknya.
Dan untuk pertama kali inilah, ada yang berani menampar dirinya. Meski Edgar sering membentak dan memarahi Zerlyn, Tapi tidak pernah sekalipun berbuat kasar.
"Breng@!." Umpat Zerlyn mengepalkan tangannya dengan kuat, membuat suasana di ujung lorong itu sedikit menyeramkan dari aura Zerlyn yang tatapannya ingin membunuh pria tua didepan Zerlyn.
Bibir pria tersebut tersenyum sinis kemudian melirik anak buahnya. Dengan sigap, satu persatu mereka menyerang Zerlyn.
Perkelahian itu tertonton live didepan komputer milik Fhai, Fhai segera mengriset cctv dan meretas seluruhnya jangan sampai ia lengah sedikitpun.
Zerlyn berkali kali menangkis pukulan dari lawan, dan berkali kali dirinya harus jatuh hingga senjata apinya terlempar yang posisinya sangat jauh dengan Zerlyn.
Zerlyn sedikit kwalahan pandangannya menengok kanan kiri, ternyata anak buahnya sudah mengepung Zerlyn. Posisinya saat ini berada di tengah tengah mereka.
Nafasnya tercekat dan memburu, keringat deras membanjiri seragam miliknya. Dibeberapa titik terdapat lebam membiru serta luka terbuka di ujung pergelangan tangannya akibat terus mengahajar anak buah yang berotot kekar.
Disaat memfokuskan, Zerlyn menutup matanya memasang telinga dengan baik persekian detik ia menunduk dengan posisi kedua lutut bertumpu lantai.
Pria tua yang sejak tadi menonton adegan demi adegan kembali tertawa bahagia. Pikirannya, Zerlyn menyerah dan kalah namun ternyata dugaannya salah.
DORR!!!
DORRRRR!!
Fhai segera datang menghabisi mereka, sedangkan sang pemimpin sudah lenyap dan kabur. Fhai segera menyuruh orang suruhannya untuk mengejar pria tua tersebut.
πΏπΏπΏπΏπΏ