
...APARTEMEN BUJANG LAPUK....
Zerlyn segera menekan beberapa kata sandi dengan bebas Zerlyn bisa keluar masuk apartemen milik Fhai. Fhai tak mempermasalahkan hal itu, mengingat Zerlyn jugalah yang selalu menolong serta memberikan fasilitas lengkap padanya.
Termasuk mobil pribadi dan apartemen. Pernah Zerlyn menawarkan manison mewah, namun Fhai menolak. Baginya, apartemen sudah cukup untukknya.
Fhai sendiri terkadang merasa enggan jika Zerlyn selalu menawarkan apapun itu padanya, bahkan kepada Frans serta anak buah anggota ThristyBlood.
Selalu mengeluarkan uang ratusan triluanan demi mereka. Dan Zerlyn akan marah jika mereka menolak pemberian darinya.
Terkadang Fhai bahagia memiliki Zerlyn yang notabenya bersikap sangat peduli dan memiliki hati yang baik.
**
Dengan menyeret kopernya untuk masuk kedalam, Zerlyn sekilas menatap apartemen luas dan mewah yang memiliki fasilitas lengkap. Apartemen pemberian darinya masih tertata dengan rapih tidak ada yang berubah seinci pun.
Tidak ada debu yang menempel disetiap rak, meja, dan berbagai furniture lainnya. Fhai memang memiliki sifat yang resik, rapih, bersih dan sangat benci jika dalam apartemennya berantakan.
Meskipun Fhai tinggal sendirian, Fhai sudah terbiasa melakukan pekerjaan rumah tangga, pintar dalam segala hal dan selalu tepat waktu saat memasuki jam kantor kerja.
CEKLEK!!!
Zerlyn tersenyum miring dan menggelengkan kepalanya melihat Frans tengah serius menatap komputer sampai tidak menyadari kedatangannya.
Frans, pria tampan yang hidupnya bebas dan liar terkadang pergi ke club, bermain sesuka hati. Dan seperti kelinci berlompat atau berpindah pindah tempat tinggal.
Tak heran, dunianya menjadi luas diluaran sana selain pekerjaan yang sangat pintar dalam ahli komputer dan berotak cerdas. Frans sendiri sebenarnya sangat malas jika berurusan dengan namanya kantor.
"Ehem!!!."
Frans yang terlonjak kaget kemudian menoleh ke belakangnya dan melihat Zerlyn tengah melipat tangan di dadanya.
"Nona? Maafkan saya jika tidak menyambut kedatangan anda didepan pintu." Sesal Frans dengan menunduk hormat.
"Hey! Kau kaku sekali, lupakan dan duduk kembali." Pinta Zerlyn.
"Maaf Nona saya tidak tau anda disini, maaf jika Nona menunggu lama." Sesal Frans kembali.
"Bukankah sudah ku katakan, jangan kaku padaku!." Geram Zerlyn menatap tajam Frans.
"Hmmm.. Maaf No--"
"Panggil Namaku!." Sela Zerlyn kemudian duduk disofa dengan tangan yang masih menyeret koper.
Frans melotot tajam melihat koper besar ditangannya "Nona, Nona akan pergi? Kemana? Apa Nona akan meninggalkan saya bersama Fhai?."
Zerlyn memutar bola matanya "Dimana Fhai? Panggil dia kemari." Perintahnya.
Frans mengangguk kemudian segera keluar. Zerlyn berdiri untuk melihat layar besar komputer menampilkan kegiatan anak buah ThristyBlood yang memantau musuhnya.
Zerlyn tersenyum puas atas kerja keras anak buahnya, walaupun hanya berjumlah 20 orang sedangkan musuhnya sampai ratusan.
Bahkan mereka rela berpindah negara ke negara lainnya hanya demi memantau dan menyelamatkan mereka.
Tak sulit memang, sebab Zerlyn sudah menyiapkan kebutuhan apa yang mereka inginkan termasuk jet pribadi, mobil, motor melalaui orang kepercayaan ke tiganya dinegara A.
Fhai terkejut melihat kedatangan Zerlyn yang secara tiba tiba apalagi melihat koper besar miliknya.
"Kau sudah datang Fhai?." Tanya Zerlyn yang masih menatap layar komputer mengecek datanya secara satu persatu.
"Benar Nona, maaf tadi saya.. Hmmm.. Lagi..--" Jawab Fhai yang sedikit ragu untuk mengucapkannya.
"Aku sudah tau dengan apa yang ingin kau katakan Fhai." Ujar Zerlyn yang memang sekilas melihat Fhai seperti baru selesai dengan aktivitas mandinya.
"Maaf Nona." Sesal Fhai sedangkan Frans menelan ludahnya secara kasar.
Zerlyn menggeleng pelan dan tersenyum kecut, kemudian berbalik menatap keduanya dengan kepala menunduk.
"Sudahlah, anggap aku teman kalian jangan seperti atasan dan bawahan." Perintah Zerlyn kemudian duduk kembali.
"Hey!! Duduklah!." Sambung Zerlyn.
Keduanya menurut lalu duduk didepannya.
BRAAKKK!!
Zerlyn menggebrak meja dengan keras membuatnya terlonjak kaget.
"Sudah kutakan jangan kaku padaku! Menurutkah sebelum aku mencincang tubuh kalian!." Ancam Zerlyn.
Frans mengusap dadanya seraya membuang nafasnya "Hufftt!! Gila serem banget lihat wajah iblisnya." Gumam Frans.
"Nona, apa Nona akan pergi?." Tanya Fhai.
"Ya!! Si iblis itu sudah mengusirku Fhai, sekarang aku tidak ada hubungan apapun lagi dengannya. Biarkan dia bersenang senang dengan jal@ngnya!."" Jawab Zerlyn dengan jengkel.
"Maksud Nona apa kontrak itu sudah selesai?." Tebak Frans terkejut.
"Hmmm.. Padahal yang kutau jangka waktunya masih lama, dan aku tidak peduli jika aku jadi janda muda yang terpenting kehormatanku masih terjaga sampai sekarang." Jelas Zerlyn.
"Apa ada masalah Nona?." Tanya Fhai menatap intens raut wajah Zerlyn yang sekilas terlihat kusut dan muram.
"Termasuk ThristyBlood?." Tebak Fhai.
"Benar, aku ingin menjelaskannya tapi rasanya itu percuma. Apalagi keadaanya sangat kacau, Ny.Hellen kondisinya juga semakin parah. Setiap hari selalu memanggil nama Clara dan Ezra."
"Aku beralasan akan pergi keluar kota selama beberapa hari, dan mereka belum tau alasan yang sebenarnya. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana nanti murkanya seperti apa jika mereka mengetahui bahwa aku berbohong." Ucap Zerlyn menceritakan keluh kesahnya.
Fhai membuang nafasnya entah apa yang ia pikirkan "Saya rasa itu jalan yang salah Nona." Tegur Fhai.
"Aku tau Fhai. Sebelum kita pergi, apakah pekerjaan dikota B serta dikantor selesai?." Tanya Zerlyn.
"Urusan kantor selesai Nona, sedangkan kota B kerugiannya saja hampir mencapai T jika pembangunan tahapnya belum diselesaikan. Sayangnya berkas rahasia itu lebih dulu dicuri oleh mereka."
"Siapa?."
"Rival."
"Biar aku tebak, dia pasti penguasa dikota B itu?."
Fhai mengangguk membenarkan "Tapi yang anehnya, setelah saya keperusahaan miliknya, mereka sudah pergi satu minggu yang lalu."
Zerlyn mengkerut bingung "Untuk apa kau datang keperusahaannya? Satu minggu yang lalu? Bukankah bertepatan dengan insiden dihotel?."
"Meeting Nona, bahkan sekertarisnya pun tidak tau mereka pergi kemana? Hanya menitipkan perusahaan itu kepada kerabat terdekatnya." Sambung Frans.
"Apa yang kau katakan waktu itu benar jika mereka terlibat?."
"Sudah saya katakan dari sebelumnya Nona. Hanya demi ambisi menghancurkan Varessham serta project itu mereka sampai menuduh anda melalui Marrie dan Arlyn."
"Hahh??? Kau tau dari mana Fhai?."
"Sebelum Nona menikah, Arlynlah yang lebih dulu mengatakan hal buruk tentang anda. Sedangkan Marrie anak buah dari Lemos yang sudah saya jelaskan sebelumnya, pasti perlahan akan membongkar identitas anda."
"Apalagi sekarang, Marrie ditahan dimarkas pribadi Edgar ditengah tengah hutan." Sambung Frans.
"Ya!! Aku tau, aku baru tadi pagi pergi ke markasnya bersama Edgar. Dia sendiri yang memaksaku untuk mencari data informasi anak buah dari Lemos, Wesley, serta Harvey yang pernah Luther katakan padaku."
"Lalu, apa Nona sudah mengatakannya?."
Zerlyn menggeleng pelan "Hanya saja Marrie sudah mengetahui identitas asliku serta mengetahui jika aku adalah ketua dari ThristyBlood. Dan mengatakan jika Tuanku, Lemos akan membunuh seluruh anggota ThristyBlood."
"Rholl?." Tebak Frans menatap Zerlyn disampingnya.
"Hmmm.. Ya!! Dan termasuk Varessham. Sebab, jika mereka tau kalau Varessham dan ThristyBlood bersatu, kekuatan mereka akan lemah."
"Jadi, apa itu kelemahannya? Sudah tau jika ThristyBlood dan Varessham memiliki kekuasaan tertinggi kenapa masih mencari masalah?." Ujar Frans menggelengkan kepalanya pelan.
"Bahkan sangat mudah bagiku untuk menghancurkan atau mempermainkan perusahaan kecil seperti itu." Ucap Zerlyn tersenyum sinis.
"Kenapa tidak melakukannya Nona? Bermain sedikit sepertinya sangat menyenangkan bukan?." Usul Frans.
"Tidak! Aku tidak setuju, jika aku bermain lebih dulu otomatis mereka pasti akan menyerang."
"Lebih baik menyerang lebih dulu lalu menghancurkannya." Usul Fhai tersenyum devil.
"Kau seolah tau apa yang ada diotakku Fhai. Katakan bagaimana kondisi mereka sekarang, dari mulai anak buah ThristyBlood dan Varessham berada dinegara mana saja?." Tanya Zerlyn.
Fhai berdiri lalu mengambil peta, kertas, pensil dan jangka yang dekat dengan komputer kemudian kembali duduk disampingnya bersamaan dengan Frans.
"Kita inisalkan nama negaranya saja, Clara serta Stella berada di negara S. Tyler dan Whalter berada di negara K. Dan Ezra serta sisanya dinegara A." Jawab Fhai dengan menunjukkan beberapa negara tersebut dalam peta.
Zerlyn melihat peta tua yang sudah berumur ratusan ditangan Fhai serta mendengar penjelasannya dengan fokus.
"Kenapa harus terpisah dan berjauhan? Apalagi negara itu tidak termasuk dalam peta? Berapa jumlah anak buah Varessham? Dan siapa Tyler?."
"Agar mereka bisa melancarkan aksinya dengan mudah untuk masalah jumlah anak buahnya mungkin sekitar 100 orang lebih. Sedangkan Tyler adalah tangan kanan didunia bawah Edgar." Jelas Fhai.
"Pasti kita akan kesulitan mengingat mereka terpisah dari jarak yang tak bisa dijangkau dengan waktu mudah dan akan kesulitan dalam perjalanannya. Mengingat kita harus memiliki kekuasaan diberbagai negara termasuk negara S." Ujar Frans.
"Yah kau benar, sayangnya aku hanya memiliki kekuasaan dinegara A serta kota B." Sesal Zerlyn.
"Kita masih ada Bik May di negara A bukankah Bik May pernah mengatakan dan bercerita tentang RIVER LEE?.
"Yang memiliki kekuasaan di berbagai negara itu?." Tebak Zerlyn.
"Hmmm benar kita bisa hubunginya sekarang jika Nona inginkan." Usul Fhai.
"Nanti saja, sekalian aku ingin bertemu dengannya. Apa kau tau mereka dari perusahaan mana saja Fhai?."
"Tidak Nona?." Ucap Fhai.
"Jadi?." Alis Zerlyn mengkerut bingung menatap kanan kirinya.
"Apa kalian hanya memantau mereka saja? Begitu?."
Keduanya sama sama mengangguk membenarkan.
"Frans cepat hubungi Luther." Perintah Zerlyn yang dongkol ia berpikir bisa bisanya Fhai dan Frans melupakan hal seperti itu.