KING MAFIA IS MY HUSBAND

KING MAFIA IS MY HUSBAND
BIDADARI BUSUK BAB DUA PULUH TIGA



Selang selama satu jam berkendara, akhirnya telah sampai di bandara. Zerlyn segera keluar melepas pantatnya yang terasa pegal, sekilas ia melihat Miller beserta Ezra tengah berdiri santai menunggu tuan putri.


"Dimana mereka?." Tanya Edgar.


"Sebentar lagi pesawatnya mendarat Ed, tunggulah sedikit lagi." Jawab Miller.


Sementara itu Zerlyn tengah sibuk menatap sekelilingnya dengan teliti memperlihatkan objek tertentu. Hal itu membuat Ezra menyiptkan mata melihat sorot mata Zerlyn yang menurut Ezra itu sedikit aneh.


"Kak Zerlyn melihat apa?." Tanya Ezra keheranan.


"Tidak ada." Jawab Zerlyn singkat dengan sekali mengecek jam ditangannya. Kemudian melangkah pergi tanpa berpamitan kepada mereka.


"Kak Zerlyn mau kemana?." Tanya Ezra.


Zerlyn terdiam sejenak, dirinya merasa hanya Ezralah yang seolah selalu peduli menanyakan hal apapun itu terkadang pertanyaan aneh sekalipun serta selalu membela dirinya.


"Toilet." Jawab Zerlyn singkat dengan kembali melanjutkan langkahnya.


Sesaatnya ditoilet, Zerlyn membuang nafasnya kemudian menyenderkan kepala di dinding. Memijat kepala yang terasa pening dan berdenyut.


"Tuhan.. Semoga semuanya baik baik saja." Gumam Zerlyn.


___


Zerlyn berjalan keluar dari toilet lantas pandangannya menatap sosok gadis cantik dengan poni didepan serta rambut lurus panjangnya tergerai indah.


Dari raut wajah yang terlihat nyaris sempurna, tidak tampak senyuman sedikitpun hanya tatatapan datar dan kosong seperti memendam seribu luka dalam hatinya.


Hal itu tak luput dari sorot mata Zerlyn yang tengah asyik menatapnya hingga tanpa sadar gadis tersebut sudah berada didepan.


"Hola señorita Zerlyn." (Hallo Nona Zerlyn). Sapa Clara menatapnya dengan tatapan datar tanpa ekspresi.


Zerlyn terkejut, kemudian memundurkan sedikit langkahnya. Inilah yang tidak ia sukai pada Clara gadis itu selalu menggunakan bahasa planet pluto, meski Zerlyn mengerti akan ucapannya namun ia sendiri sangat malas untuk menggunakannya.


"Clara, gunakan bahasa indonesiamu." Tegur Ezra mengingatkannya.


Clara tidak menggubris teguran Ezra padanya, Clara terus menatap Zerlyn dengan lekat seolah dalam diri Clara merasakan aura pada Zerlyn yang tidak biasa.


"Oh, Hai Clara apa kabarmu?." Sambut Zerlyn.


Clara tersenyum samar, rupanya Zerlyn tidak bisa Clara remehkan begitu saja.


"Estoy bien señorita Zerlyn." (Aku baik Nona Zerlyn).


"Jangan panggil aku Nona, panggil saja namaku." Usul Zerlyn kemudian.


"Me siento mal señorita, considerando que hay un apuesto príncipe que definitivamente me regañará más tarde." Tolak Clara sekilas menatap Edgar disampingnya.


Miller beserta Ezra sedikit pusing mendengar bahasa yang Clara gunakan, keduanya sama sama tidak mengerti dengan ucapannya.


"Hei! Kau itu bicara apa?." Tukas Miller menuntut penjelasan.


Zerlyn tersenyum kecut menatap Clara, sama halnya dengan Clara juga tengah tersenyum yang Zerlyn sendiri sulit mengartikannya.


Lantas, sekilas Zerlyn menatap Ezra serta Miller wajahnya terlihat frustasi lalu Zerlyn tersenyum mengejek ke arah Miller.


"Apa seperti ini seorang putra Ceo dari perusahaan ternama? Tapi kenapa tidak mengerti bahasa spayol?."


Miller menatap Zerlyn, kemudian bibirnya sedikit terkekeh "Hei Nona, bukannya aku tidak mengerti hanya saja otakku tidak bisa mencerna setiap perkataannya."


"Hei Ed, apa kau bisa mengartikan bahasanya?." Sambung Miller menyenggol perut Edgar.


Edgar sejenak mengkerut keningnya bukannya Edgar tidak memahami, hanya saja ia sedang malas berbicara yang tidak penting.


Kemudian ia menatap Ken, Ken yang mengetahui kode tersebut menghela nafasnya panjang kemudian segera mengartikan bahasa tersebut.


Ken merutuki nasibnya, kenapa sial seperti ini?.


"Aku rasa tidak enak Nona, mengingat ada pangeran tampan yang pasti akan memarahiku nanti." Jelas Ken.


"Ah, seperti ini kan kedengarannya enak." Ujar Ezra.


"Bisa kita berangkat sekarang? Aku tidak sabar untuk menemui mereka." Ajak Clara menggunakan bahasa indonesia meski sepenuhnya belum lancar.


"Oke, Clara mau ikut bersama siapa?." Tanya Ezra.


"Ikutlah bersamaku, kau nanti bisa mendapatkan kenyamanan denganku dan apapun yang kau mau, tinggal bilang saja." Tawar Miller menaikkan kedua alisnya dengan serta menggoda Clara.


"Tentu aku ikut bersama Nona Zerlyn dan pangeran tampanku." Mata Clara menunjuk ke arah Ken. Ken yang mengetahui hal itu acuh seolah tidak menganggap Clara ada.


Miller membuang nafasnya "Apa ketampananku sekarang berkurang?." Gumam Miller lantas langsung masuk ke dalam mobil bersamaan dengan Ezra disusul mereka yang sudah lebih dulu melajukan mobilnya.


___


Clara merasa bahagia bisa berdekatan dengan Ken yang tengah fokus mengemudi. Sejak tadi, Clara terus menatap terkadang sesekali mencuri pandangan ke arah wajah tampan Ken.


Ken tahu akan hal itu, namun berpura pura tidak mengetahuinya. Pandangannya tetap fokus ke depan tanpa menghiraukan Clara yang duduk disampingnya.


"Ehem Nona Zerlyn boleh aku bertanya." Ucap Clara.


"Ya?." Jawab Zerlyn singkat.


"Nona tau, sejak awal aku sangat tertarik tentang kepribadian anda Nona. Clara merasa ada hal yang berbeda dalam diri anda." Jelas Clara.


"Gunakan bahasa yang benar!." Tegur Zerlyn yang membuat Clara sedikit tersentil, gaya bahasa bicaranya begitu sangat tajam.


Clara menelan ludahnya "Hmmm.. Baiklah, bagaimana kalau aku memanggilnya Kak Zerlyn saja?." Usul Clara.


"Serah!." Ketus Zerlyn yang sedikit terganggu dengan sifat cerewetnya.


Clara mendengus sebal, bibirnya sekilas tampak cemberut membuat Edgar yang melihatnya sedikit tersenyum samar mendengar perdebatan mereka. Apalagi saat Zerlyn yang menjawab pertanyaan demi pertanyaan hanya membalasnya dengan singkat seolah merasa enggan.


"Maksudmu? Jadi aku hantu begitu?."


"Bukan Kak Zerlyn, tapi seperti seorang mafia." Celetuk Clara dengan asal.


"Memangnya kau tau apa tentang mafia?." Tanya Zerlyn.


"Mereka jahat, suka membunuh orang kadang juga suka menyiksa orang yang tidak bersalah." Jawab Clara dengan suara pelan.


Edgar yang mendengarnya merasa tersindir, sedangkan Ken menelan ludahnya kasar secara tidak sadar Clara sudah membangunkan singa dibelakangnya. Ken merasa takut jika sewaktu waktu, amukannya kembali datang gara gara ucapan dari Clara.


Zerlyn diam sejenak mencerna ucapan Clara, dari perkataannya yang terdengar pelan dan lirih bisa Zerlyn tebak jika Clara seperti mengalami trauma dimasa lalu.


"Tidak semua apa yang ada diotakmu serta penglihatanmu itu sepenuhnya salah! Mafia tidak sejahat seperti apa yang kau pikirkan." Tegur Zerlyn.


Clara menggeleng pelan "Tidak, Kak Zerlyn saja yang tidak tau. Dan menurutku, mafia memang seperti itu serta aku melihatnya dengan jelas dengan mataku sendiri."


"Boleh aku katakan sesuatu?."


"Apa Kak? Katakan saja." Balas Clara.


"5W + 1H." Ujar Zerlyn singkat.


Clara bengong kemudian menatap Zerlyn dibelakangnya yang sedang memandang jalanan kota X "Huhh??."


"Why?." Tanya Zerlyn sekilas memandang Clara.


"Tidak!!! Ah, biar aku tebak Kakak pasti mantan mafia kan?." Tebak Clara yang membuat Edgar serta Ken terkejut.


Sekilas, Edgar menatap Zerlyn disamping yang tengah menatap tajam Clara. Edgar berpikir apa benar yang dikatakan oleh Clara? Meski Edgar sendiri tau ucapan Clara hanyalah gurauannya saja.


Zerlyn yang tadinya memandang kearah luar, kemudian membetulkan duduknya dengan memandang Visi Mirror menatap Clara tajam.


Clara tak menyadari hal itu, hanya Ken yang mengetahuinya.


"Berhentilah berbicara omong kosong! Dan berhenti mencari identitasku sebelum "SiCantik" menebas kepalamu." Kata Zerlyn berbicara dengan penegasan serta ancaman yang sontak membuat seisi mobil menjadi hening dan sedikit merinding.


Mendengar kata "Berhenti dan menebas kepala, Edgar dibuat tak berkutik. Hatinya merasa terusik dengan ucapan Zerlyn yang ia lontarkan meski itu bukanlah seutuhnya untuk Edgar.


Clara diam mendengar ancaman dari Zerlyn tubuhnya mendadak menjadi bergetar hebat, sangat takut dengan ucapan mulut tajamnya.


"Maksud Kak Zerlyn, si... SiCantik itu si-apa?." Meski takut, namun Clara dibuat penasaran masih ingin bertanya walau suaranya terdengar gemetar dan gugup.


Zerlyn tersenyum miring yang masih menatap Visi Mirrornya, Clara baru menyadari hal itu bahunya kembali bergidik melihat wajah cantik Zerlyn berubah menjadi seperti iblis yang siap menerkamnya.


Hal itu tak luput dari perhatian Edgar yang sekilas kembali teringat dengan kejadian waktu kemarin saat ia menghukum Zerlyn wajah iblisnya tak berbeda jauh seperti sekarang.


"Dia berbentuk kotak atasnya tumpul namun bawahnya sangat tajam. Warnanya putih mengkilat menandakan jika benda itu masih suci dan keramat, meski begitu sekali membelah benda keras akan langsung terbagi menjadi dua." Jelas Zerlyn dengan detail.


"Begitupun denganmu, yang berumur masih muda akan sangat mudah bagiku melepas benda lunak serta benda berwarna putih itu." Sambungnya lagi.


"Benda lunak adalah kulitmu yang akan aku kuliti hidup hidup serta benda putih adalah bagian tulangmu yang akan aku berikan nanti kepada peliharaanku."


Timpal Zerlyn kembali menjelaskannya yang sontak ia mendesis setelah mengucapkan kalimat tersebut. Membuat darah dalam tubuhnya mengalir hangat. Jiwa sikopet kembali datang setelah sekian lama tangan sucinya tidak memegang benda eksekusi.


Clara wajahnya berubah menjadi pias dan pucat, tidak mampu mengatakan apapun lagi saat mendengar penjelasan dari Zerlyn. Clara menyakini bahwa tebakannya membenarkan jika Zerlyn bukanlah sosok manusia biasa.


"Cih!! Dasar sinting!." Desis Edgar geram mendengar penjelasan Zerlyn yang begitu detail seolah Zerlyn sudah sangat pro melakukannya.


"Dari mana kau tau akan hal itu Hah? Apa kau seorang pembunuh? Apa benar yang dikatakan Clara jika kau adalah mafia?." Tebak Edgar emosi dan menuntut penjelasan.


"Saya rasa itu benar Tuan, seorang mafia serta psyco yang berpengalaman akan sangat mudah menceritakannya apalagi saat mempraktekannya." Timpal Ken.


"Katakan!." Bentak Edgar disaat Zerlyn hanya berdiam diri.


Zerlyn sedikit meyesali ucapannya yang terlalu detail, entah karna memang terlalu semangat apalagi yang awalnya hanya iseng ingin menakuti Clara, malah berujung sial pada dirinya.


"Aku hanya menonton videonya di yutub Tuan." Cicit Zerlyn mencari alasan agar Edgar tidak terlalu curiga padanya.


"Untuk apa kau melihat video seperti itu? Apa pelajaran di sekolahmu yang memintanya? Atau itu termasuk tugas yang guru berikan untukmu?."


"Tidak aku hanya iseng saja Tuan." Desis Zerlyn.


Edgar uring uringan tidak jelas, berkali kali membuang nafasnya gusar. Kepalanya menjadi pening dalam waktu bersamaan.


Zerlyn tersenyum sinis menatap Edgar kemudian kembali tersenyum kecut melihat reaksi Clara yang sudah berwajah pucat.


"Ah, sepertinya aku akan mendapatkan mangsa malam ini, serta kembali berpesta yang meriah. Aku jadi tidak sabar untuk segera mengeksekusimu Clara." Bisik Zerlyn ditelinga Clara.


Clara memejamkan matanya, keringat dingin mengucur deras dikeningnya serta bahu yang sudah bergetar sangat hebat.


Edgar melototkan matanya menatap Zerlyn dengan sorot mata yang tajam serta tangannya yang sudah mengepal kuat. "Zerlyn!."


Zerlyn hanya menatap Edgar sebentar, kemudian kembali memilih diam dan memandang ke arah luar.


Ken melihat raut wajah Zerlyn dari Visi Mirrornya, Ken menyakini bahwa ucapannya itu bukanlah hasil gurauannya semata.


Dengan membuktikan bahwa itu adalah fakta, terbukti saat Ken menatap tatapan lewat matanya yang tajam serta berbicara santai namun seolah sudah menjiwai sama halnya seperti Edgar.


Karna Ken tau bagaimana jiwa psyco, dirinya sering melihat adegan demi adegan penyiksaan yang Edgar lakukan terhadap musuhnya. Apalagi saat Ken kembali teringat waktu Edgar menyiksa Pak Syam, Zerlyn datang begitu saja tanpa ada rasa takut sedikitpun.


Ken semakin membenarkan peyakinannya bahwa benar, jika Zerlyn bukanlah gadis sembarangan. Lebih tepatnya seperti dalam level bahaya. Yang itu artinya, Ken harus lebih ekstra melindungi Edgar.


Apalagi saat mendengar ucapan dari Zerlyn yang selalu tajam, melalui dari mata sama persis apa yang dimiliki oleh Edgar. Ken tak habis pikir, siapa sebenarnya istri rahasianya tersebut?.


Mengingat, Ken sudah berusaha mencari informasi tentang Zerlyn namun tidak membuahkan hasil yang memuaskan. Bahkan sampai melacak seluruh pelosok kota, luar bahkan negri dengan menyebarkan anak buah dari Varessham di beberapa titik.


Namun hasilnya tetap sama, Ken sudah mengecewakan Edgar. Tak biasanya Ken akan sangat mudah mendapatkan informasi yang Edgar inginkan, tapi berbeda dengan Zerlyn Ken merasa sangat kesusahan.


🌿🌿🌿🌿🌿