KING MAFIA IS MY HUSBAND

KING MAFIA IS MY HUSBAND
DUA PEMIMPIN MAFIA BERSATU



AUSTRALIA.


Pukul 00:00 tempat itu masih terlihat ramai oleh banyaknya lautan manusia. Semakin malam, semakin meriah. Ditambah sebentar lagi akan ada acara yang membuat semua orang menjadi tidak sabar untuk menunggunya sejak tadi.


Merasa ada kesempatan, Zerlyn segera melangkah menuju hotel rooms.


Sessaatnya disana, Zerlyn dapat menemukan beberapa anak buah gabungan bersiaga dan berjaga disetiap pintu kamar VIP.


"Excuse me, i have an appointment with Mr.Hunter with room number 677 is this really the room?." Sapa Zerlyn kepada salah satu pengawal yang berjaga.


"Right, are you Mrs Clara? What did Mr. Hunter order?." Tanyanya.


"Right, I'm Clara." Jawab Zerlyn sedikit gugup melihat raut wajah pengawal yang serius menatap penampilannya.


"Show ID." Pinta pengawal.


Zerlyn membuka dompet mewahnya lalu mengambil kartu identitasnya.


Dengan sangat teliti dan rinci pengawal memperhatikan setiap kata apalagi scan miliknya. Membuat Zerlyn setengah panik dan gugup, namun berusaha tetap menyembunyikannya.


"Duhh mampus gue!." Batin Zerlyn.


Merasa identitasnya benar dan tidak ada yang salah, pengawal mengangguk kemudian mempersilahkannya untuk segera masuk.


"Ajalmu ada ditanganku pak tua." Gumam Zerlyn tersenyum miring.


**


Disaat semuanya tengah menikmati pesta, Fhai bersama anak buah ThristyBlood segera mengendap lewat jalur khusus.


Bik May segera menjalankan perannya, dengan berjalan pelan dan santai mengabsen setiap inci serta sudut mana yang menurutnya terdapat banyak pengawal. Dengan begitu, Bik May akan mudah mengambil jalan pintas untuk keluar.


Langkahnya berhenti tepat diruangan paling atas, dimana tersimpan para wanita ja@ yang siap untuk dieksekusi.


Bik May sejenak menatap pengawal dengan posisi tubuh tinggi dan tegap berdiri menghalangi pintu masuk.


"Excuse me, may I come in?." Tanya Bik May.


"Did you previously have an appointment with Mr. Hunter?." Jawab pengawal itu dengan menilai penampilan dari Bik May.


"Yes! It's up to you if you don't believe me, I have proof." Bik May menyerahkan kartu identitasnya kepada pengawal sebagai tanda bukti.


Pengawal mengambil identitas ditangan Bik May mengeceknya dengan benar, sekilas keduanya saling memandang satu sama lain dan kepalanya mengangguk.


"Sorry, but Mr. Hunter isn't inside if you want to see it, come back to make an appointment first." Ucap pengawal.


"Akh sial! Ayloah May, cari alasan yang lain." Batin Bik May.


"I see? But, may I take a look inside for a moment. I promised Mr. Hunter to buy one and wanted to check it out." Tanya Bik May lagi berharap dalam hatinya mereka percaya dengan apa yang diucapkannya.


"Okay wait a minute." Pengawal lantas menekan Earphonenya untuk melapor langsung kepada Hunter.


"Sorry Mr. Hunter." Sapa Pengawal.


"Yes, what is up?." Tanyanya.


"There is a potential buyer but want to check, do I need to be asked to enter?."


"First mention in whose name, who he wants to buy, and for what purpose."


Pengawal mengangangguk lalu menatap Bik May dengan intens.


"What's his name, who do you want to buy, and what's the purpose?." Tanya pengawal dengan curiga.


"Sh@! Ribet amat si botak! Pengen rasanya gue tendang kepalanya!." Geram Bik May dalam hatinya.


"Melissa, Velina, It's a personal reason because I need this moment to help my brother who wants to channel his passion immediately so please don't get in my way!." Jawab Bik May dengan dongkol.


Pengawal mengerti apalagi melihat raut wajah Bik May sedang menahan kekesalannya.


"Mrs.Meliisa end Mrs.Velina Mr.Hunter." Lapor pengawalnya.


"Hmmm.. Let him in!." Perintah Hunter disebrang telpon.


Pengawal kemudian menggeser tubuhnya dan mempersilahkan Bik May untuk segera masuk.


"Huhh!! Menyebalkan!." Batin Bik May.


Bik May lantas segera masuk beruntung acara itu sebentar lagi akan dimulai, langkah kakinya menyusuri setiap lorong demi lorong mencari keberadaan Clara.


"Sial! Dimana nomor kamarnya!." Gerutu Bik May dongkol.


"678."


Tak ingin membuang waktu, Bik May segera menerobos masuk tanpa perlu ada hambatan melalui pengawal seperti tadi.


CEKLEK!!


Bik May terkejut melihat wanita yang sedang menangis didepan meja rias, kepala yang menunduk serta rambutnya menjutai menutupi wajahnya.


Sekilas, Bik May sangat ragu dan tidak yakin jika itu Clara. Lantas menepuk bahunya pelan, membuat wanita itu berteriak histeris. Dengan sigap, Bik May membungkam mulutnya menggunakan telapak tangan.


"ARRGGHHH!!!."


"Sttt!!! Do not be noisy!." Bik May mengkode dengan telunjuk dibibirnya, wanita itu mengangguk mengerti.


"Is your name Clara?." Tanya Bik May.


Clara kebingungan dengan wanita tua didepannya, namun penampilannya sangat memukau seperti bukan orang sembarangan. Dan pikirannya, kenapa dia bisa tau namanya?.


"Do you know where my name comes from?." Jawab Clara.


"Akh, benar apa yang diceritakan oleh Zerlyn, gadis ini sangat pintar ternyata." Batin Bik May.


"I'm Maya, just call me Bik May. Now that we're out of here, we don't have much time." Jelas Bik May memperkenalkan dirinya.


"Maya? Who? Are you mean to me like that ugly old man? Do you also intend to sell me?." Clara menatap Bik May dengan segala pikiran buruknya.


Baru ingin menjelaskan sedikit kepada Clara agar bisa mempercayainya dan tidak menganggapnya buruk. Namun terlambat saat Bik May mendengar suara derap langkah kaki yang berjalan mendekati kamar itu.


Bik May panik lantas segera menyeret Clara untuk masuk kedalam lemari besar.


"why drag me? This It hurts so much, what happened Auntie?." Tanya Clara kebingungan.


"Sttt!!! Kau bisa bahasa formal?." Jawab Bik May setengah berbisik.


Clara mengangguk "Apa yang terjadi?."


"Diamlah! Jangan bersuara, turuti apa perintahku. Apa kau mengalami luka?." Tanya Bik May.


"Tidak Bik, tapi aku sangat takut mereka akan menjualku." Jawab Clara.


"Siapa?." Kening Bik May mengkerut.


"Ayah!! Si Tua bangka itu ternyata masih hidup dan menerorku." Lirih Clara.


"Sialan! Ternyata benar dugaanku!." Batin Bik May.


Bik May menenangkan Clara yang sedikit terisak "Stt!! Jangan berisik Clara, Bibi disini. Sebentar lagi mereka akan masuk." Tegurnya.


CEKLEK!!


Bik May sekilas mengintip disela sela pintu lemari yang tidak terlalu rapat.


"Frans, lihat dikamar 678 siapa mereka?." Tanya Bik May.


"Anak buah gabungan." Jawab Frans.


"Lalu, dimana Zerlyn?."


"VIP lantai paling atas, sepertinya Nona Zerlyn berhasil membunuh Hunter namun terkendala saat akan membawanya--"


"Ya, termasuk mencari data data penting miliknya." Jelas Frans.


"Lindungi dia, buknkah diluar ada pengawalan yang ketat?."


"Saya melihatnya Bik, Fhai sudah menjalankan tugasnya dengan baik."


"Bagus!." Puji Bik May.


"Mereka siapa Bik?." Tanya Clara.


Bik May menggeleng matanya tetap fokus menatap ke arah mereka.


"Arghh!! Sial! Dia kabur." Seru salah satu anak buahnya.


"Breng@! Cepat cari, dia tidak mungkin jauh dari sini." Perintah pria itu kepada anak buahnya.


Anak buahnya mengerti lantas segera memberitahukan langsung kepada anggota lainnya.


Bik May keluar dari tempat persembunyiannya mengunci pintu kamar lebih dulu, lalu mengambil selimut didalam lemari. Clara yang melihat itu kebingungan melihat Bik May dengan gerakan cepat menyatukan selimut lain ke lainnya.


"Ayo Clara, kita tidak memiliki banyak waktu!." Bik May menyeret tangan Clara menuju balkon dengan membawa tali ditangannya.


"Cepat turun sebelum anak buah situa bangka itu kembali menemukanmu, Whalter menunggumu dibawah." Tegur Bik May.


"Tapi aku takut Bik." Lirih Clara.


"Sudah cepatan! Jangan membuang banyak waktu, Bibi akan melindungimu."


Clara akhirnya mengalah dan mau tak mau mengikuti keinginannya, apalagi saat melihat tatapan matanya sangat mengerikan.


"Whlater, jaga Clara dengan baik aku mencari Zerlyn lebih dulu. Perintahkan anak buah ThristyBlood yang lain, jalankan misi yang sudah Zerlyn katakan. Nanti aku akan menyusul."


"Baik, Clara sudah bersamaku."


"Bagus, bawa dia pergi jauh kemanapun itu asalkan jangan masih berada diwilayah kekuasaannya. Bawa serta bersama Stella jika anak buah River sudah berhasil mendapatkannya."


"Baik, aku mengerti. Berhati hatilah, tidak perlu kembali mengingatkanku Bik disini ada Fhai, Frans, yang akan melindungi Bibi."


"Hmmm.. Pergilah."


BRAAKKK!!!


"Oh!Sh@!." Umpat Bik May terkejut mendengar suara pintu keras.


Tak ingin membuang banyak tenaga, Bik May membasmi empat anak buahnya.


DORRR!!


DORRR!!!


Dirasa sudah tewas, Bik May dengan langkah cepat segera melangkah keluar mencari Zerlyn.


"Dimana kau Hah!." Geram Bik May lewat Earphonenya.


"Atas Hotel Rooms, aku sudah menyelesaikan semuanya. Bibi dimana?." Tanya Zerlyn.


"Mencarimu, cepatlah keluar!."


"Tidak bisa, lift macet." Pekik Zerlyn.


"Sama! Kau menuju tangga darurat sampai lantai 1 disana Bibi menunggumu bersama lainnya."


"Baik Bik."


Zerlyn berkali kali menendang pintu Lift melampiaskan kekesalannya, alhasil memancing anak buahnya mendengar suara tersebut membuat Zerlyn panik dan berlari menuju tangga darurat.


"Akh sial!." Gerutu Zerlyn melihat anak buahnya mengejar dibelakangnya.


Zerlyn mengambil senjata milikknya lantas segera menembak ke arah mereka.


DORRR!!!


DOORR!!


Zerlyn terus berlari sesekali melompat dari jarak jauh, lantai tiga ke lantai dua begitu seterusnya.


"Gila! Dia wanita berbahaya! Otaknya sangat licik! Cepat perintahkan anggota lainnya untuk mengejar gadis itu!."


Matanya melotot terkejut melihat aksi Zerlyn saat meloncati anak tangga sampai ke lantai bawah.


"Tuan sudah tewas Bos." Ujar anak buahnya.


"Apa? Argghhh!! Sialan!." Cepat perintahkan anak buah yang berada dilantai area basemant.


"Baik Bos."


**


Disaat langkah kakinya menuju Licoreria Limantour matanya melotot terkejut melihat penampakan yang sangat kacau seperti tempat penjagalan.


"Sial! Kita terlambat!." Gerutunya geram.


"Mereka menuju Gondwana Rainforest." Bisik salah satu anak buahnya.


"Kenapa tidak mengatakannya sejak tadi Hah!."


"Maaf, saya baru mengetahuinya saat melihat mobil dari mereka menuju ke arah utara dan selatan."


"Brengs@!." Langkah kakinya dengan cepat memasuki mobil menyusul mereka.


**


"Dimana Clara? Bukannya Bibi sudah mendapatkannya?." Tanya Zerlyn kebingungan.


"Dia aman bersama Whalter, aku tidak tau Whalter menyembunyikannya dimana?." Jawab Bik May dengan tangan memegang senjata bersiap kembali menyerang.


"Lalu dimana Stella?." Tanya Zerlyn kembali.


"Tidak tau." Balas Bik May acuh.


DORRR!!!


"Akh! Shi@! Meleset!." Umpat Bik May geram.


DORR!!


DORRRR!!!


Musuh itu kembali menyerang mobil mereka sampai Fhai tidak bisa mengendalikkan mobilnya dengan baik.


Berkali kali mobil itu terus berputar sampai akhirnya berhenti tepat didasar jurang.


CKKIITT!!!


Fhai mengerem mendadak, membuat jantungnya panik seketika.


"Fhai, kondisikan mobilnya!." Teriak Bik May.


"Sial! Sepertinya mereka menembak bagian Ban. Kita cepat keluar!." Perintah Fhai dengan perlahan membuka pintu mobil.


Seketika semuanya terkejut melihat penampakan didepannya.


BAAMMM!!!


DUAARR!!!


"MUNDUURRRR!!!!." Teriak Fhai sesaat mobilnya meledak, api yang besar membungbung tinggi ke udara serta asap hitam yang begitu tebal.


Mobil mereka masuk kedalam jurang, beruntungnya Fhai bisa mengerem mendadak. Terlambat satu detik entah akan seperti apa nasib mereka.