
LOS ANGELES AMERIKA.
LAS VEGAS.
Mobil mewah itu baru saja berhenti pas didepan sebuah Bar, Bik May menggelengkan kepalanya pelan lantas melirik Frans disampingnya.
"Kau sepertinya sangat rindu dengan para jal@mu Frans? Apa kau sudah lama tidak bermain lagi?." Tanya Bik May.
"Aku ingin mencicipinya sedikit, siapa tau rasanya beda." Jawab Frans.
Bik May terkekeh lantas keluar dari mobilnya "Pandailah Frans, aku serahkan tugas ini padamu."
"Huhh??." Frans melongo menatap Bik May disamping.
Bik May acuh melihat tatapan Frans tengah menatapnya kebingungan "Akan ada bonus nanti untukmu." Bisiknya.
Frans tersenyum licik lantas segera masuk kedalam. Matanya melotot tajam melihat para buruan incarannya tengah meliuk liar diatas diiringi musik yang khas.
"Wow!! Aku tak menyangka jika tempat ini sangat berbeda dengan dugaanku." Puji Frans.
"Tempat ini sangatlah terkenal Frans, kau saja yang norak." Sindir Bik May.
"Excuse me, ladies and gentlemen, what kind of drink would you like to order?." Tanya sang Bartender.
"Brandy and Rum." Jawab Frans.
"Looks like you guys are from Indonesia?." Ucapnya seraya menyajikan dua minum ke arah mereka.
"Right, how do you know? Do you recognize me?." Sahut Bik May.
"No! It's not like that, but I've never seen someone like you around this before." Jelas Bartender.
"Do you know who owns this bar?." Tanya Frans yang langsung keintinya.
"Sir asking such a taboo subject? The whole world already knows who owns it, but why are you asking again?." Bartender mengkerut keningnya kebingungan. Dalam pikirannya, untuk apa mereka menanyakan hal itu?.
Mengetahui jika Bartender seperti sedang mengawasi gerak geriknya, Bik May segera mencari alasan.
"Sorry, we're new here. And what I heard the owner was a cruel person. Is it true?."
Bartender diam sejenak lantas mengerti dengan penjelasan dari Bik May. Apalagi, Bartender sangat menyakinkan jika mereka memang benar benar seperti pendatang baru alhasil dalam dirinya sedikit ada rasa keberanian. Dan mau tak mau Bertender memulai ceritanya.
"He is LUKE the ruler and owner of this Bar." Ujar Baretender dengan menengok kanan kirinya.
Frans dan Bik May saling memandang melihat tatapan Bartender yang menurutnya aneh. Lantas kepala keduanya mengangguk pelan sebagai kode.
"Can i meet him? I already have an appointment before." Pinta Bik May dengan raut wajah mengiba.
"Very difficult to meet with Luke, proof of appointment must use ID and the reason is clear." Jelas Bartender sedikit memperingatinya.
"ID card?." Ulang Frans kebingungan.
"It is like a special VIP room card, even if it is fake, the computer will know it immediately." Jawab Bartender kembali mengucapakannya dengan jelas.
Tak ingin kembali bertanya dan membuat Bartender semakin curiga ditambah saat sang bartender yang terkadang mengkerut kening serta mata menatap mereka dengan tajam, Bik May akhirnya mengajak Frans untuk segera keluar.
Baru saja keduanya berdiri, wanita hiled segera menghampiri Frans dengan mengahalangi jalannya.
"Hallo Baby." Bisik Wanita itu menggoda Frans meliukkan tubuhnya diatas dada bidang Frans.
Frans sekilas melirik Bik May kedua mata tajamnya saling mengkode, Frans mengangguk setuju lalu Bik May segera melangkah keluar meninggalkan Frans.
"Kau ingin bermain denganku Baby?." Bisi Frans ditelingannya.
"I don't understand your language, are you from Indonesia?." Wanita itu sedikit terkejut tetapi kemudian pikiran negatifnya ia buang jauh jauh. Ia tak ingin menyiakan kesempatan untuk melihat pria tampan meskipun asing dimatanya.
"Sial!." Gerutu Frans dalam hatinya.
"Hmmm.. Forget it! Do you want to play with me? But my price is expensive." Ujar Frans terkekeh geli.
"You are really very handsome, I like you. I can pay whatever you want."
Satu kata yang menurut Frans "cantik" dengan tubuh fropesional, kulit eksotis, bibirnya merah menyala. Ingin sekali Frans segera membabat habis.
"No problem, the most important thing is that you can satisfy me." Ujarnya dengan mengedipkan salah satu matanya.
Tanpa aba aba Frans segera mencium bibirnya kemudian mengajak wanita itu langsung masuk kedalam kamar untuk mentutaskan ha@ mereka.
Dari sudut ruang VIP bibir itu tersenyum puas melihat mangsanya masuk kedalam perangkap mereka.
**
Bik May menggerutu sebal, bisa bisanya misi kali ini gagal. Sedangkan Frans malah asyik bersenang senang.
"Oh!! Astaga!! Semoga Frans tidak ceroboh dan tidak melupakan misinya." Gumam Bik May.
Lantas segara menghubungi Luther yang menjaga dinegara A tersebut.
"Luther, kenapa kau tidak memberitahuku sebelumnya?." Tanya Bik May.
"Maaf maksudnya apa Bibi?." Jawab Luther.
"Misiku gagal untuk bertemu dengan baji@ itu. Dan kau tau Luther, dia bilang harus menggunakan kartu VIP atau tanda pengenal lebih dulu." Jelasnya.
"Setau saya tidak Bik, itu menurut siapa?." Ucap Luther.
"Bartender." Jawab Bik May singkat.
"Jangan dengarkan ucapannya, Bartender hanya mempermainkan trik licik untuk menghancurkan misi yang sekarang malah sudah terbukti gagal."
"Maksudmu apa Luther?." Tanya Bik May kebingungan.
"Bartender sepertinya sudah tau dengan kedatangan dari Bibi serta Tn.Frans sebelumnya, dan Luke dengan sengaja mengecoh informasi itu." Jawab Luther.
"Jadi, apa Frans saat ini dalam bahaya?." Tukas Bik May terkejut.
"Tn.Frans ada dimana sekarang Bik? Kenapa berada dalam sebuah kamar?." Tanya Luther sesaat melihat layar ponselnya yang secara otomatis bisa terhubung langsung dengan mereka.
Belum sempat Bik May menjawab, matanya tak sengaja melihat Luke tengah berjalan santai bersamaan dua pria berbadan besar dibelakangnya.
Lantas Luke segera menaiki mobil mewahnya dan meleset pergi jauh tanpa mengetahui mobil disampingnya.
Bik May segera bersembunyi kemudian kembali melanjutkan arah pembicaraannya dengan Luther.
"Luther kau ikuti mobil berwarna hitam dengan ciri ada lambang di belakang body mobilnya saat ini akan mengarahkan ke ujung selatan. Aku akan menemui Frans nyawanya saat inu sedang dalam bahaya." Perintah Bik May.
"Baik Bik. Segera tolong Frans sebelum mereka lebih dulu membunuhnya." Tegur Luther.
Bik May mengangguk, kemudian berjalan setengah berlari kembali memasuki bar membuat bartender kebingungan. Tapi Bik May acuh, lantas mencari nomor kamar hotel yang ditempati oleh Frans.
Dibalik rambut blonde pendek bergelombangnya Bik May menekan Walkie Talkie yang sengaja ia sembunyikan.
"Nomor berapa Luther?." Tanya Bik May.
"907 Bik. Hati hati anak buah Luke menjaga disisi kanan dan kirinya. Jangan sampai pergerakkan dari Bik May diketahui oleh mereka."
"Sial!." Gerutu Bik May.
"Berapa jarak kau dengan anak buah Luke?." Tanya Bik May.
"Sangat jauh Bik, saya berada dipusat utamanya." Jawab Luther sedikit ada rasa sesal.
"Hmmm.. Baiklah, aku cari ide konyol lainnya saja." UJar Bik May.
"Tidak perlu Bik, bergerak sekarang anak buah dari Luke sudah mulai masuk ke dalam."
"Baik Luke, kerjakan tugasmu dengan baik dan secepatnya beritahuku kemana mobil bang@ itu pergi." Perintah Bik May.
"Baik, laksanakan. Hati hati Bik." Tegur Luther.
"Hmmm.." Jawab Bik May.