KING MAFIA IS MY HUSBAND

KING MAFIA IS MY HUSBAND
SEMAKIN DEKAT BAB DUA PULUH DUA



Zerlyn sekali lagi menilai penampilannya dengan menggunakan gaun simpel yang memperlihatkan kaki jenjang, serta tidak lupa menyelipkan benda di telinga yang Zerlyn sembunyikan dibalik rambut panjangnya.


Ia sedikit terkekeh saat pikirannya kembali teringat pas mengetahui jika Edgar ketakutan melihat wajah iblisnya. Namun, kemudian kembali wajahnya murung mengingat kejadian panas waktu malam.


"Dasar cabul!." Geram Zerlyn kemudian melangkah keluar kamar bersamaan dengan Bik Nur yang akan mengetuk pintu namun kembali diurungkan saat melihat Zerlyn sudah membukanya lebih dulu.


"Bik Nur? Ngapain?." Tanya Zerlyn keheranan.


Bik Nur sedikit terpana dengan kecantikan Zerlyn, mata Bik Nur menilai penampilannya dari atas sampai bawah. Matanya melotot melihat kaki mulus nan jenjang tersebut, ia tak menyangka Nona mudanya itu memiliki kaki yang indah.


"Eh, maaf Non tadinya saya mau membangunkan Non takutnya masih tidur. Itu Nyonya sudah menunggu dimeja makan untuk sarapan lebih dulu sebelum berangkat ke bandara." Jawab Bik Nur.


"Ah baiklah Bik." Zerlyn kemudian melangkah menuruni akan tangga dengan malas bersamaan Bik Nur yang awalnya berada disamping, kini sudah sampai dilantai bawah.


"Gila, cepet amat tuh jalan." Gumam Zerlyn.


Sesaatnya dilantai bawah, Zerlyn mendekati mereka dengan berjalan yang terlihat anggun bak model. Dengan menggunakan hills sebagai andalannya, Zerlyn sudah seperti dewasa di umurnya yang masih belia.


Edgar sedikit geram saat mata mereka melihat Zerlyn tidak berkedip sedikitpun. Mereka baru menyadari hal itu, sebab selama menggunakan seragam sma Zerlyn sering menyembunyikan dibalik rok kebesarannya.


"Perhatikan mata kalian!." Teriak Edgar di meja makan hingga membuat mereka semua kembali fokus dengan aktivitasnya masih masing.


Tak terkecuali Ny.Hellen beserta Tn.Elmato yang sudah tidak aneh dengan tingkah dari Edgar terkadang suka semauanya sendiri.


"Kau sangat cantik sekali Zerlyn." Puji Ny.Hellen saat Zerlyn sudah duduk dimeja makan.


Zerlyn tersenyum samar "Terima kasih Ny.."


"Mamah." Potong Ny.Hellen cepat.


Ny Hellen sendiri merasa jengah saat mendengar Zerlyn selalu memanggilnya dengan sebutan Nyonya.


"Terima kasih Mah." Ulang Zerlyn dengan sedikit gugup.


Ny.Hellen tersenyum, lantas Tn.Elmato memperhatikan Zerlyn yang tidak biasanya itu. Dalam hatinya Tn.Elmato merasa ada yang berbeda dalam diri Zerlyn melihat penampilannya, Zerlyn tampak sangat dewasa berbanding terbalik saat mengenakan seragam sma. Serta Tn.Elmato bisa menebak jika Zerlyn bukanlah gadis sembarangan, termasuk saat matanya dengan teliti melihat samar samar benda ditelinga Zerlyn.


"Zerlyn." Sapa Tn.Elmato menatapnya dengan sorot mata menurut Zerlyn sendiri dalam mode bahaya.


"Iya Tua.. Eh, Pah." Jawab Zerlyn sedikit kikuk dan mendongkak matanya menatap mata Tn.Elmato kode menuntut penjelasan.


Pandangan Tn.Elmato bertemu dengan mata Zerlyn yang Tn.Elmato dengan mudah menebaknya. Dan merasa yakin pada pendiriannya, apalagi saat menatap bola mata Zerlyn yang dalam mode awas.


"Untuk apa kau menggunakan benda seperti itu? Apa ada seseorang yang penting untuk kau hubungi? Atau kau sudah mengetahui akan terjadi sesuatu hal yang buruk?."


Zerlyn terlonjak kaget, bagaimana bisa Tn.Elmato mengetahui hal tersebut? Padahal Zerlyn sudah berusaha menyembunyikannya. Kepanikan dari wajahnya tercetak dengan jelas, segera Zerlyn mengatur nafas kemudian membuang dengan kasar.


"Benda? Benda apa pah?." Tanya Ny.Hellen keheranan sekilas ia memandang Zerlyn namun tak mendapatkan benda yang di maksud.


"Earphone." Tukas Tn.Elmato singkat.


"Wow!! Selain cantik, Nona Zerlyn ternyata sangat berbahaya juga." Ujar Miller sedikit terkekeh.


Zerlyn menatap Miller, sampai Miller tidak bisa berkutik melihat tatapannya. Sekilas, bahunya bergidik ngeri.


Sontak semuanya terkejut, kemudian banyak pasang mata menatap Zerlyn dengan curiga termasuk para pengawalnya yang juga memakai benda yang sama seperti Zerlyn. Apalagi, diantara salah satu pengawal sekilas masih teringat dengan jelas memori saat kejadian waktu di gedung XX waktu diadakannya lomba antar sekolah. Lantas, berbagai pertanyaan menyerang otak mereka.


Edgar memicingkan mata dengan pandangan yang menatap Zerlyn tajam, ia sendiri dapat melihat dengan jelas raut wajah salah tingkah darinya serta membenarkan ucapan dari Tn.Elmato.


"Zerlyn." Tegur Tn.Elmato kembali dengan suara yang terdengar mengintimidasi.


"Ah tidak apa apa Pah, hanya iseng saja." Tutur Zerlyn menggigit bibir bawahnya.


Zerlyn sendiri benar benar merasa di meja hijau sekarang. Ditambah banyak sorot mata mengawasi dirinya, hingga suara Ezra membelanya kembali membuat Zerlyn sedikit lega.


"Pah, sudahlah cuma hal seperti itu diributkan. Ngga terlalu penting juga kan? Kalau berdebat terus, tuh si Tiffany (Clara) bakal nungguin kelamaan dan bisa terlambat menjemputnya."


"Papah tau sendirikan si Tiffany tidak suka menunggu? Dan Papah pasti masih ingat bagaimana marahnya sicerewet itu?. Tukas Ezra mengingatkan.


Tn.Elmato mengalah, memang sekarang bukanlah waktunya untuk berdebat. Tapi, lain waktu Tn.Elmato akan menanyakannya kembali kepada Zerlyn. Tn.Elmato sedikit penasaran, ingin mematai dirinya namun kembali di urungkan mengingat sorot mata tajam milik Zerlyn selalu menatapnya dengan kode bahaya. Sekilas, Tn.Elmato teringat dengan Edgar yang memiliki mata sama seperti Zerlyn.


Meja makan itu kembali hening semuanya fokus dengan sarapannya masing masing hingga Zerlyn, Ezra, Edgar, Ken serta Miller berangkat menuju bandara.


___


Sepanjang perjalanan, Zerlyn lebih memilih diam matanya menatap ke arah luar memandang pemandangan di pagi hari yang indah.


Sejenak ia melihat mobil mereka dikawal begitu banyak pengawal di belakang, Zerlyn tidak habis pikir kenapa bisa terjebak di situasi yang membuatnya muak dan jengah.


Dengan membenarkan posisi duduknya, kemudian menyenderkan kepala dikursi penumpang dengan mata yang tertutup. Menghembuskan nafas frustasi serta mengatur ritme nafasnya.


Tak lama, ponselnya berdering menandakan ada panggilan masuk. Zerlyn segera menekan Walkie talkie ditelinganya ia sendiri tidak tau siapa yang menelponnya.


"Hallo?." Sapa Zerlyn dengan mata yang masih terpejam.


"Hallo Nona, anda berada dimana?." Tanya Fhai kebingungan.


Zerlyn menelan slavinanya dan terkejut kenapa Fhai menghubunginya disaat waktu seperti ini?.


"Perusahaan saat ini membutuhkan Anda Nona, akan ada beberapa rapat penting dengan petinggi perusahaan serta ada beberapa berkas mengenai masalah soal kemarin." Jelas Fhai.


"Kapan? Dan masalah soal yang mana?." Tanya Zerlyn kembali.


"Besok, sekalian memberikan berkas persetujuan dengan Varessham group. Masalah tentang berkas laporan kerja sama dengan perusahaan HVY GROUP dan WLY GROUP." Balas Fhai.


"Apa tidak bisa kau alihkan? Besok aku sekolah?." Zerlyn tengah kebingungan, kepalanya terasa pening seketika disaat mendengar nama perusahaan tersebut membuatnya jengah sendiri.


Tanpa menyadari jika Ken serta Edgar sejak tadi memperhatikan dirinya sedang berbicara yang entah dengan siapa dan sepertinya sangat serius apalagi pas mendengar kata "alihkan." Membuat Edgar semakin penasaran.


"Tidak bisa Nona, jika anda besok sekolah tidak masalah buatlah video anda meeting didepan layar laptop seperti biasa, tapi harus menggunakan 3 bahasa. Spayol, Inggris, serta indonesia. Sebab, meeting kali ini berada di luar negri ini penting sekali Nona mengingat akan berpengaruh dengan perusahaan di negara A." Jelas Fhai memberinya usulan.


Zerlyn sejenak berpikir dan mencerna ucapan dari Fhai. Lantas kemudian membuka matanya serta sekilas melirik mereka satu persatu. Tepat saat pandangannya bertemu dengan manik hitam milik Edgar tengah menatapnya tajam.


"Baiklah, nanti kirimkan berkasnya ke emailku. Apa sekarang kau sibuk?." Bisik Zerlyn berharap Fhai bisa mendengar suara bisikannya.


"Ya Nona, sebentar lagi saya ada rapat dikota X selama satu hari, besok pagi baru kembali lagi."


"Hmm.. Baiklah." Tukas Zerlyn kembali membuang nafas, dan berpikir Fhai kali ini tidak akan bisa membantunya memantau, dirinya terlalu sibuk dengan segudang tanggung jawab yang Zerlyn perintahkan untuknya.


___


"Siapa?." Tanya Edgar singkat.


Zerlyn melirik Edgar sedikit melongo "Ya Tuan?."


"Apa kau sekarang sudah tuli? Lepaskan Walkie talkiemu lebih dulu, agar telingamu bisa jelas mendengar suaraku." Ujar Edgar sedikit membentak Zerlyn.


"Tidak ada pengaruhnya Tuan, lagian tadi hanya teman sekolahku." Ujar Zerlyn berbohong.


"Oh, hanya teman? Teman atau teman? Tapi sepertinya lebih dari sekedar itu, kau ingin menyembunyikan apalagi dariku?." Edgar tersenyum kecut mengetahui jika Zerlyn tengah berbohong.


"Memangnya kenapa? Apa saya salah? Menyembunyikan soal apa Tuan? Saya rasa, saya tidak menyembunyikan apapun dari Tuan?." Tanya Zerlyn dengan sekilas menatap Edgar serta membela dirinya sendiri berusaha agar tetap tenang.


"Kau pura pura bodoh? Atau memang sudah bodoh sekarang?." Jawab Edgar dengan sengit.


"Maksudnya?." Balas Zerlyn.


"Kau menyembunyikan identitasmu dariku, itu untuk apa?." Dengan segera, Edgar mengeluarkan segala beban dalam otaknya.


"Huhhh?? Tidak Tuan, identitas saya ada mungkin Tuan salah melihatnya." Ujar Zerlyn membantah ucapan Edgar meski ia sendiri tau bahwa perkataannya itu adalah sebuah fakta kebenaran.


Ken yang fokus mengemudi, sekilas melirik Visi Mirrornya dan bisa melihat wajah Zerlyn tampak terlihat panik. Keringat dingin mengucur di pelipis keningnya, hal itu tak lepas dari Ken dengan teliti menatap Zerlyn yang berusaha untuk tetap tenang, meski raut panik masih tercetak jelas.


Edgar tersenyum miring "Kau pikir mataku sudah buta?."


Zerlyn menatap Edgar yang tengah membuang pandangannya ke luar kaca mobil.


"Untuk apa Tuan mencari data informasiku?." Selidik Zerlyn.


"Kenapa? Jadi apa itu benar? Kau menyembunyikannya? Untuk apa? Jika kau orang biasa tidak mungkin sampai menyembunyikan segala informasi apapun itu, tak terkecuali jika kau adalah mafia." Celetuk Edgar emosi.


Deg!


Zerlyn diam mencerna ucapan Edgar yang seakan begitu menusuk hatinya, ia tidak ingin sampai Edgar memgetahui siapa identitasnya.


"Kenapa diam? Apa kau seorang mata mata untuk menghancurkan keluargaku?." Tuduh Edgar kini menatapnya dengan sengit.


Zerlyn menggeleng pelan "Tidak Tuan, itu salah. Itu tidak benar." Bantah Zerlyn dengan cepat.


"Oh ya? Aku pikir kau sangat pintar bersandiwara, tapi rupanya aktingmu sangat buruk! Aku tidak buta seperti apa yang ada di otakmu Zerlyn! Wajah panikmu menandakan sebagai tanda bukti jawabannya." Sinis Edgar.


Zerlyn merasa terpojok dan bingung ia tidak mau tinggal diam begitu saja. Lantas, kemudian Zerlyn mengambil ponsel jadulnya untuk memperlihatkan kepada Edgar mengenai identitas miliknya.


"Ini, baca Tuan. Baca yang jelas jika Tuan memang tidak buta." Ketus Zerlyn mengarahkan ponsel lipatnya kepada Edgar.


Edgar segera merebutnya ditangan Zerlyn dan membaca dengan teliti mengenai identitas dari Zerlyn. Edgar merasa heran kenapa saat ia sendiri mencari info tersebut malah menampilkan Unknwon Error?.


"Laptop Tuannya perlu dilembiru, jangan malah menuduh jika saya menyembunyikan identitas milik saya sendiri, lagian untuk apa? Saya hanya orang biasa." Ujar Zerlyn dengan mencibir Edgar.


"Apa kau bilang?." Tanya Edgar menatap tajam Zerlyn.


"Cihh!! Anda bilang sama saya kalau saya Tuli, tapi anda sendiripun juga ternyata sama." Jawab Zerlyn tak mau kalah.


Ken yang sejak tadi mendengar pertengkaran tersebut berusaha menahan tawanya.


"Beraninya kau mengatakan seperti itu?."


"Kenapa? Anda pikir saya penakut? Apa perlu saya ulang kembali ucapan saya?." Ujar Zerlyn.


"Tidak perlu, lupakan." Edgar membuang pandangannya, tidak ingin melihat Zerlyn yang tengah memandang dirinya. Edgar sedikit kecewa dengan sikap Zerlyn kenapa harus berbohong padanya? Apa yang Zerlyn sembunyikan? Batin Edgar.


🌿🌿🌿🌿🌿🌿