
Bik May segera menancapkan obat bius sesaat kedua anak buah Luke akan menyerang Frans.
"Frans! Kau baik baik saja?." Tanya Bik May melihat Frans meringkuk disudut kamar yang masih menggunakan pakaian lengkap.
Frans mengangguk kemudian berdiri dibantu oleh Bik May, sekilas Frans mengambil identitas dari wanita yang terkapar diatas ranjang.
"Kita harus pergi secepatnya sebelum mereka bertambah banyak Frans, kau bisa berjalan dengan baik? Aku akan menghapus cctv lebih dulu."
"Aku tidak lumpuh Bibi." Frans segera keluar setelah melihat situasi kanan kirinya.
"Bagaimana Frans?." Tanya Bik May.
Frans mengkode lewat tangannya untuk mengikuti langkah didepannya sampai diarea luar keduanya masih aman. Fhai segera menyeret Bik May untuk segera masuk kedalam mobil.
Frans membuang nafasnya lega dengan menyenderkan tubuh lelahnya kesandaran kursi mobil. Frans lantas memberikan identitas itu kepada Bik May yang tengah fokus dengan tab miliknya.
"Kita kemana Bibi?." Tanya Frans.
"Kearah selatan." Jawab Bik May seraya mengambil identitas itu.
"Cepat jalankan mobilnya Frans, anak buah Luke mengarah kesini." Perintah Bik May melihat ke layar tab milikknya jarak mereka dengannya hanya sekitar 2 meter.
Frans menurut lantas segera melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Membuat Bik May menatap Frans dongkol.
"Bisa lebih cepat? Musuh sudah dibelakang kita Frans." Tegur Bik May.
"Tenang Bibi." Desis Frans tersenyum miring, matanya menatap spion lalu mengeluarkan senjata miliknya.
DOORRR!!!!
"OHH!! SHI@!." Umpat Frans tembakannya meleset.
Bik May tersenyum miring mendengar umpatannya. "Kau payah!!." Cibirnya.
Anak buah Luke segera menyerang serangan dari Frans, Frans yang lengah membuat mobilnya tidak bisa dikendalikan.
DOORRRR!!!
Tembakan itu hanya mengenai body mobilnya. Lagi dan Lagi Frans menggerutu kesal.
"Hei! Frans! Kondisikan mobilnya, kau ingin membunuhku Heh?." Teriak Bik May.
"Ckk!! Cerewet sekali!!." Pekik Frans.
"Kau bilang aku cerewet?? Apa malam itu kau tidak puas dengan mangsamu?." Sindir Bik May.
DORRR!!!
Di saat mereka tengah asyik rapat adu mulut, anak buah Luke kembali menyerang mereka.
"AWw!! Argghh!!." Teriak Bik May membuat Frans terkejeut setengah mati.
"Bibi! Apa Bibi baik baik saja?." Tanya Frans dengan sekilas menatap ke arahnya, Frans masih fokus mengemudi namun dalam hatinya sangat tidak tenang.
"Ya! Aku hanya kaget Frans." Bik May terkekeh lalu kemudian duduknya berpindah menjadi ke belakang.
"Fokuslah membawa mobilnya, aku yang akan membasmi mereka." Perintah Bik May lalu mengambil senjata api yang tersimpan dibawah kursi.
Bik May fokus membidik mobil musuh didepannya tanpa menghiraukan anak buah Luke yang berkali kali sudah menyerangnya.
DOORRR!!!
DOORRRRRR!!!
"Arghhh!!! Bibi! Cepat serang, tunggu apa lagi?." Pekik Frans melihat kaca spion kanannya retak.
Bik May memutar bola matanya mendengar teriakan dari Frans yang menurutnya tidak sabaran. Setelah dirasa sudah pas dengan objeknya, Bik May segera menekan pelatuknya.
DOORRR!!!!
Dalam satu kali tembakan, sopir anak buah Luke tewas tepat mengenai kepalanya sampai mobil mereka tidak bisa dikendalikan.
Bik May tidak menyia nyiakan kesempatan emas itu, segera kembali menembak ke arah sampingnya.
DOORRRR!!!
DOORRRR!!
Tembakan yang bertepatan dan secara bersamaan oleh anak buah Luke yang mengetahui jika dirinya akan dijadikan sasaran, Bik May segera menghindar disaat peluru milik anak buah Luke meleset hanya menembus sampai kaca depan.
"FRANS! SINGKIRKAN KEPALAMU KE KANAN!." Teriak Bik May setelah jatuh diatas dudukan kursi dibawah.
BRRUGG!!!
BRRAAAKKK!!
"Aduhh!!!." Pekik Bik May saat pantatnya mendarat sempurna.
"Singkirkan bagaimana? Memangnya bis--.."
Ucapannya terhenti saat melihat peluru yang menembus kaca depan serta mobil musuh dibelakangnya mengguling lalu meledak dengan hebat. Api berkobar membungbung tinggi ke udara.
"Ohh shi@!." Frans terkejut lalu menghentikan laju mobilnya secara mendadak.
Bik May yang tadinya akan berdiri harus jatuh dan pantatnya kembali mendarat.
"AWw!!." Ringis Bik May.
Frans menoleh melihat Bik May dibelakangnya dengan raut wajah yang tak bisa Frans simpulkan.
"Bibi, apa Bibi baik baik saja?." Tanya Frans.
"Menurutmu? Harusnya kau bilang kalau mau ngerem!." Jawab Bik May dengan ketus.
"Cepat kembali lajukan mobilnya, kita harus sampai dimarkas Luke." Lanjutnya.
Frans mengangguk lalu mengerti sedangkan Bik May bibirnya masih terdengar ringisan kecil.
"Luther?." Panggil Bik May.
"Iya Bibi? Apa Bibi sudah sampai?." Tanya Luther.
"Belum, aku menyelesaikan masalah kecil dulu Luther, bagaimana disana? Ada berapa anak buah dan bagaimana kondisi penjagaannya?." Jawab Bik May menatap layar tab miliknya.
"Untuk masalah pejagaan dari luar jarak 200 meter dibagian barat dan selatan tepatnya di 90 derajat. Sedangkan anak buahnya mencapai 100 orang lebih termasuk Ezra kondisinya sudah melemah." Jelas Luther.
"Melemah? Maksudmu?." Kening Bik May mengkerut.
"Mungkin tidak biasa mendapatkan siksaan serta melihat adegan yang membuat perutnya mual." Jelas Luther kembali.
"Jadi, apa anak buah Luke sudah menyiksa mereka?." Tebak Bik May geram.
"Benar, mobil yang anda kendarai berhenti saja tepat didalam hutan sebelah barat bertepatan dengan kode X disisi batang pohon. Setelah itu saya akan menyusul." Terang Luther.
"Hmmm.. Baiklah, kau bersama siapa disana?." Tanya Bik May.
"Gallen, Edwin, Ervin Bibi." Jawabnya.
"Sebentar aku sampai, pastikan keadaan dibelakangku aman." Perintah Bik May.
"Baik."
Frans, hentikan mobilnya sebelah barat tepat disamping tulisan X itu." Tunjuk Bik May sesaat melihat tanda X didepannya.
Frans menurut lantas meghentikan mobil miliknya dengan mata menatap ke setiap keliling hutan rimbun. Hanya terdengar suara hewan saling bernyanyi.
Tangannya mengudara kemudian melihat jam ditangannya menunjukkan pukul 00:00.
"Dimana Luther?." Tanya Frans melirik Visi Mirrornya.
"Sebantar lagi dia sampai." Jawab Bik May.
Tak lama, Luther datang dengan mengetuk pintu kaca mobil.
TOK!TOK!TOK!
Keduanya lantas keluar, bersamaan dengan Frans. Luther melirik mobil mereka yang sedikit penyok dan kaca spion pecah.
"Sepertinya terjadi pesta besar besaran." Sindir Luther.
Frans sinis menatap kearahnya "Ckk!! Aku tidak akan mengajakmu kalau ada pesta kembali, kau selalu menghabisi bagian milikku."
Luther sedikit terkekeh lalu ketiganya berjalan beriringan ditengah tengahnya hutan rimbun, batang pohon besar menjulang tinggi tidak ada celah ataupun cahaya rembulan yang terlihat.
Semuanya gelap gulita ditambah baju mereka yang serba hitam. Ditambah Luther memakai dedaunan disekujur tubuhnya untuk menyamar sebagai sniper, semakin menambah peran fropesionalnya.
Luther lantas menunjukan keadaan mereka didalamnya, serta beberapa titik anak buah dari Luke.
Frans dan Bik May saling mengangguk, sekilas bibir Bik May meringis pelan melihat Ezra babak belur dihajar oleh anak buah Luke.
"Kita membagi menjadi beberapa kelompok saya bersama Edwin dipusatkan dititik depan. Ervin bersama Luther dititik belakang Tn.Frans bersama Bibi dibagian dalam." Usul Gallen.
"Bagaimana?." Sambung Gallen dengan usulannya.
"Baiklah, idemu tidak terlalu buruk." Ujar Bik May.
Mereka segara bersiap siap mencari tempat yang pas dan cocok mengenai objek musuhnya menyebabkan jarak mereka menjadi saling berjauhan dan berpisah.